“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: lamaran kerja
Kevin tak pernah lelah menatap foto gadis manis itu di layar ponselnya, pikirannya terus melayang pada sosok Alya. Haruskah aku mendekatinya pelan-pelan saja? Membuat hubungan ini tumbuh alami, perlahan terisi rasa sayang satu sama lain? Hatinya berdegup tak menentu, ia geleng-geleng kepala sendiri. Aneh sekali... sudah sebesar ini umurku, kok rasanya bisa semabuk cinta seperti anak SMA yang baru pertama kali jatuh hati ya?
Ia berdiri di balkon apartemennya yang megah, menatap gemerlap lampu kota yang membentang jauh ke bawah. Dulu ia sengaja memilih tinggal di tempat tinggi dan sepi, menjauh dari keramaian yang tak ia butuhkan. Namun kini, kesunyian itu justru terasa hampa tanpa sosok gadis polos yang entah bagaimana caranya merasuk ke dalam setiap sudut hatinya. Setiap teguk anggur merah yang ia minum, tak bisa menghapus bayangan wajah Alya yang selalu teringat—terlalu cantik, terlalu tulus, dan terlalu berharga baginya.
Tiba-tiba suara notifikasi memecah hening: Ting! Ting! Ting!
Matanya langsung berbinar. Itu darinya! Akhirnya Alya menghubunginya juga. Rasa rindu yang dipendam seketika meluap, ia segera membuka pesan itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
Alya: "Tuan, apakah tawaran pekerjaan sebagai sekretaris itu masih ada?"
Kevin: "Masih ada, Alya. Tentu saja masih ada."
Tak butuh waktu lama, ia langsung membalas dan memberikan arahan dengan senyum yang tak kunjung hilang.
Kevin: "Baik, alamatnya di Jalan Cempaka Putih, Tower 1, Blok nomor 32. Kamu datang besok jam 8 pagi langsung ke ruanganku saja. Bilang saja ke Pak Andi resepsionis, kamu sudah ada janji sama saya."
Alya: "Baik Tuan, terima kasih banyak."
Kevin: "Sama-sama, Alya."
Kevin tersenyum lebar, perasaan bahagia menyelimuti seluruh dadanya. Ia begitu senang bisa membantu gadis yang ia sayangi. Pikirannya kini melayang penuh harapan: Mulai besok hari-hariku pasti akan jauh lebih indah. Karena sosok yang kucintai akan selalu ada di dekatku.
Alya menghela napas panjang, ada rasa lega yang perlahan mengusir sebagian gelisah di dadanya. Meski sisa rasa takut masih membayangi, setidaknya sekarang ia punya pekerjaan baru. Ia tak perlu lagi membebani orang lain, tak perlu merasa terhutang budi berlebihan pada siapa pun demi bertahan hidup.
Dalam hati ia bergumam pelan: Ternyata Tuan Kevin... tidak seburuk yang kukira. Dia selalu bersikap baik, tak pernah memaksaku melakukan apa pun yang tak kuingin. Setiap kali ingin melakukan sesuatu, dia selalu bertanya dulu, memintaku berpendapat, tak pernah semena-mena.
Namun logikanya kembali berbisik keras, mengingatkan pada kenyataan pahit. Dia itu Kevin Mahendra, CEO dari Grup Mahakarya Putra. Sosok yang namanya disegani, punya segalanya, dan pasti dikelilingi banyak wanita cantik yang berbondong-bondong ingin menarik perhatiannya. Apa mungkin dia benar-benar tulus sama aku? Atau ini cuma sebatas kebaikan sesaat? Atau mungkin dia cuma ingin bermain-main dengan gadis biasa sepertiku?
Alya memeluk dirinya sendiri, berusaha meneguhkan hati. Aku harus tetap waspada. Jangan sampai aku terlena oleh perhatian manisnya, lalu jatuh hati padanya sendirian. Aku harus kuat, harus menjaga hati ini sebaik mungkin.
Aku menghela napas panjang, lalu mengangguk tegas pada diriku sendiri. Tak ada lagi tempat untuk ragu atau terbawa perasaan yang belum tentu jelas. Sekarang fokusku hanya satu: membangun masa depan dan menyelamatkan Ibu.
Di sana, di rumah sakit, Ibu masih terbaring lemah, masih butuh perawatan dan perjuanganku. Selama nyawanya masih ada, aku harus bangkit, bekerja lebih keras, dan belajar lebih tekun. Urusan perasaan, cinta, atau apa pun yang bisa membelokkanku—kusingkirkan dulu sejauh mungkin. Yang terpenting saat ini hanyalah aku mampu menjadi sandaran bagi Ibu, mampu memberinya kesembuhan, dan membuktikan bahwa perjuanganku tak sia-sia demi wanita yang melahirkanku ke dunia ini.
Pagi buta aku sudah berada di rumah sakit, duduk setia di samping tempat tidur Ibu. Dengan telaten aku menyuapkan bubur kesukaannya—sedikit kecap, ditambah potongan daging ayam kecil agar rasanya lebih gurih.
"Makan yang banyak ya, Bu... biar Ibu cepat kuat dan sembuh," ucapku lembut sambil menatap wajah Ibu yang masih terlihat lemas.
"Iya sayang... tapi perut Ibu rasanya sudah agak kenyang," jawab Ibu pelan, nama Helena terucap lembut dari bibirnya.
"Tetap harus ditambah sedikit lagi ya, Bu. Semangat demi kesembuhan Ibu," bujukku sambil tersenyum hangat, berusaha menyembunyikan rasa sedih melihatnya begitu.
Setelah memastikan Ibu sudah nyaman dan perawat siap menjaganya, aku segera bergegas menuju alamat kantor yang diberikan Kevin. Perasaan campur aduk menyelimuti—antara haru, semangat, dan sedikit rasa bangga karena akhirnya aku punya jalan yang lebih layak untuk berjuang.
Sesampainya di lobi, aku mendekat ke meja resepsionis. "Permisi, Pak... saya Alya, sudah ada janji bertemu dengan Tuan Kevin."
Petugas itu tersenyum ramah mengenalinya. "Nona Alya ya? Pelamar sekretaris pribadi Tuan Kevin?"
"Iya benar, Pak. Saya Alya."
"Baik Nona, silakan langsung ke lantai enam. Ruangan nomor lima."
"Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama, Nona."
Dengan hati yang berdebar penuh harapan, aku melangkah menuju lift. Rasanya luar biasa dipercaya oleh seseorang sebesar Kevin. Langkahku terasa lebih ringan saat menuju ruangan nomor lima di lantai enam—tempat di mana perjuangan baruku akan dimulai.
Aku mengetuk pintu pelan sekali, dan tak lama suara berat namun tenang terdengar dari dalam.
"Masuk, Alya."
Langkahku ragu melangkah masuk. Ruangan itu begitu hening, seolah tak ada suara dari luar yang bisa menembus masuk. Segalanya tertata sangat rapi, berkelas, dan memancarkan wibawa yang luar biasa. Kevin mengisyaratkan aku duduk di sofa tamu yang empuk. Saat mataku menyapu sekeliling, aku terkejut melihat ada pintu kecil yang tersembunyi—ternyata itu kamar istirahat pribadi miliknya. Ya Tuhan... ruangan istirahatnya saja lima kali lipat lebih besar dari kamarku di rumah. Benar-benar indah dan mewah sekali.
"Alya, izinkan saya jelaskan tugasmu sebagai asisten pribadiku," ucap Kevin mulai membuka pembicaraan.
"Siapkan pakaian saat saya akan rapat, siapkan kopi sesuai seleraku, siapkan makanan untuk saya... dan pastikan saya bisa merasa rileks saat bersamamu."
Mendengar itu, rasanya aku ingin melongo. Ya ampun... ini kerjaan apa kok isinya semua hal pribadi begini? Apa dia kira aku pembantu pribadinya saja? gerutuku dalam hati, rasa kesal mulai menyelinap di dada.
Benar kan?! Sudah kuduga dari tadi... Ternyata dia cuma mau menyibukkanku mengurus dirinya sendiri saja! gerutuku dalam hati, rasa kesal meluap-luap. Ya ampun... kenapa aku harus jadi pengurus pribadi Om-om yang menyebalkan begini?!
Aku mengepalkan tangan erat di pangkuan, berusaha sekuat tenaga menahan amarah agar tak meledak. Wajahku berusaha tetap datar, meski di dalam dada rasanya sudah panas membara. Tapi aku sadar... aku butuh pekerjaan ini. Aku butuh uang ini untuk Ibu. Maka aku telan saja kekecewaan dan rasa kesal itu sendirian.