"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Nadia di Balik Jeruji
Nadia memilih jalan gelap malam itu, dan jalan gelap selalu meminta bayaran.
Beberapa bulan setelah malam amal Lintang Foundation, berkas perkara yang selama ini bergerak pelan akhirnya masuk ruang sidang pidana Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Penipuan. Pemalsuan dokumen. Penghasutan untuk menjerat Dewi. Surat utang palsu. Peran dalam rangkaian dokumen Mega Awan. Meski tidak semua dosa Nadia bisa dijerat sekaligus, cukup banyak yang bisa dibuat berdiri di depan majelis hakim.
Surya tidak duduk di kursi pengacara.
Ia duduk di belakang, sebagai saksi, korban, dan pria yang pernah hampir dikubur hidup-hidup oleh rumah tangganya sendiri.
Di depan, Nadia memakai kemeja putih dan blazer gelap. Rambutnya rapi. Namun, wajahnya sudah kehilangan cahaya perempuan yang dulu memerintah rumah Kusuma seperti istana kecil. Setiap kali jaksa membaca bagian bukti, bibirnya bergerak seolah ingin membantah. Namun, pengacaranya menahan lengannya.
Hakim membaca pertimbangan cukup lama.
Nama Dewi disebut. Nama Benny Halim disebut. Bukti dari brankas Mega Awan disebut. Pengakuan Bu Wati disebut. Transfer Kevin tidak dijadikan dasar utama putusan, muncul sebagai konteks bahwa Nadia tidak bergerak sendirian.
Jaksa juga membacakan bagaimana Nadia memakai posisi emosionalnya sebagai mantan istri untuk menekan orang-orang kecil di sekitar Surya. Bu Wati yang takut kehilangan pekerjaan. Staf Permata Kreasi yang disuruh menandatangani memo mundur tanggal. Kurir yang diminta membawa amplop tanpa tahu isinya. Setiap orang kecil itu dulu hanya angka di rencana Nadia. Namun, di ruang sidang mereka berubah menjadi suara yang menusuk balik.
Pengacara Nadia mencoba menyebut semuanya sebagai kesalahpahaman rumah tangga yang membesar.
Hakim menutup dalih itu dengan satu kalimat.
"Rumah tangga tidak memberi izin kepada siapa pun untuk memalsukan dokumen dan merusak hidup orang lain."
Surya menunduk. Ia tidak mendapatkan seluruh keadilan hari itu. Rencana kecelakaan belum bisa dibuktikan sampai putusan. Polis asuransi masih menjadi petunjuk motif. Donor ginjal belum masuk dakwaan utama. Kevin belum duduk di kursi terdakwa.
Tetapi untuk pertama kalinya, negara mencatat bahwa Nadia bukan korban drama perceraian.
Ia pelaku yang akhirnya dicatat negara secara resmi.
"Terdakwa Nadia Kusuma terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan dan pemalsuan dokumen secara bersama-sama, serta melakukan penghasutan yang menimbulkan kerugian terhadap korban."
Wajah Nadia memucat.
Surya mendengar napas beberapa orang tertahan.
Ketika hukuman dibacakan, lutut Nadia benar-benar kehilangan tenaga. Dua petugas mendekat, bukan kasar, cukup tegas untuk membuatnya tidak jatuh ke lantai.
"Tidak..." Nadia berbisik. "Ini salah. Ini semua salah."
Surya tidak tersenyum.
Kemenangan yang terlalu lama ditunggu kadang datang seperti udara bersih setelah ruangan penuh asap.
Di luar gedung pengadilan, Maya menunggu di kursi roda.
Satu minggu sebelumnya, mobil sport yang dikendarainya terseret dalam kecelakaan beruntun lima kendaraan di jalan tol dalam kota. Berita resmi menyebut balap liar dan kegagalan pengereman salah satu mobil. Maya selamat. Namun, kaki kirinya belum bisa digerakkan dengan baik. Dokter bicara tentang rehabilitasi panjang. Ada kemungkinan pulih. Ada juga kemungkinan tidak.
Wulan sudah mengirim dua foto awal kepada Surya. Bekas rem yang terlalu pendek. Mobil boks yang tiba-tiba pindah jalur. Kamera tol yang pada menit krusial justru buram karena gangguan teknis. Belum cukup untuk menuduh siapa pun. Namun, cukup untuk membuat Surya tidak percaya kata "kecelakaan" begitu saja.
Maya sendiri hanya berkata, "Aku pernah menendang orang sampai hidupku berubah. Mungkin karma sedang bercanda."
Surya tidak tertawa saat itu.
Hari ini, ia mendorong kursi roda Maya ke sisi pintu keluar tahanan.
"Kamu tidak harus melihat ini," kata Surya.
"Aku harus." Maya menatap lurus. "Dia perlu melihat aku masih hidup."
Surya menggenggam pegangan kursi roda lebih kuat. Dalam perang melawan Nadia dan Kevin, Maya tidak pernah meminta perlindungan. Justru karena itu, melihatnya duduk tak berdaya membuat Surya merasa ada utang baru yang belum bisa ia bayar.
Mobil tahanan menunggu. Nadia keluar dengan tangan digenggam di depan, tidak diborgol terbuka, cukup jelas bagi semua kamera kecil di sekitar bahwa statusnya sudah berubah. Dari putri keluarga Kusuma, dari perempuan yang pernah membeli nyawa suaminya lewat polis, kini ia hanya terpidana yang akan dibawa ke Lapas Pondok Bambu.
Matanya menemukan Surya.
Lalu Maya.
Untuk sesaat, Nadia lupa bernapas.
Maya tersenyum dingin. "Karma itu nyata, Nadia. Kamu menabur angin, sekarang kamu menuai badai."
Nadia berteriak.
"SURYA! INI BELUM SELESAI!"
Ia memukul kaca mobil tahanan ketika petugas menuntunnya masuk. Suaranya pecah, wajahnya merah, riasannya hilang, martabatnya jatuh di bawah roda mobil yang mulai bergerak.
"INI BELUM SELESAI!"
Surya berdiri diam sampai mobil tahanan berbelok keluar gerbang.
Di seberang jalan, Porsche Panamera hitam berhenti sebentar di bawah bayangan pohon. Kevin duduk di dalam, kacamata hitam menutupi wajahnya. Ia tidak turun. Seperti biasa, ia ingin melihat akibat tanpa menyentuh kotorannya.
Ponselnya menempel di telinga.
"Mama," katanya pelan, "Nadia sudah masuk. Kita harus bergerak cepat."
Di ujung lain sambungan, Ratna Lestari tidak langsung menjawab.
"Jangan panik karena perempuan bodoh," katanya akhirnya. "Fokus pada orang di belakang Surya."
"Meilu?"
"Bukan hanya Meilu."
Kevin melihat Surya membantu Maya masuk ke mobil.
"Irene?"
"Akhirnya kamu menyebut nama yang benar."
Surya tidak mendengar percakapan itu. Ia hanya mengantar Maya pulang ke vila Kemang. Maya duduk di kursi roda dengan tangan di pangkuan, menatap jalan tanpa bicara.
"Kamu akan berdiri lagi," kata Surya.
"Kalau tidak?"
"Maka kamu akan tetap membuat orang takut sambil duduk."
Maya tertawa pendek. "Itu hampir menghibur."
Setelah mengantar Maya, Surya mengemudi sendiri melewati jalan dekat sungai tempat dulu ia hampir menyerah. Airnya masih gelap. Beton di pinggirnya masih kotor. Kota masih bising.
Tetapi kali ini, ia tidak berbaring di sana sebagai pria hancur.
Ia melewati tempat itu sambil tersenyum kecil.
Ponselnya bergetar.
Meilu.
"Aku dengar putusan sudah keluar," katanya.
"Sudah."
"Kamu baik-baik saja?"
Surya menatap jalan di depan.
"Aku tidak tahu harus merasa apa."
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu merayakan penjara seseorang untuk tahu bahwa keadilan bergerak."
Diam sebentar.
Lalu suara Meilu melembut.
"Aku bangga padamu, Surya."
Kata-kata itu lebih hangat daripada tepuk tangan di pengadilan.
Di tempat lain, Ratna Lestari menutup telepon Kevin. Di meja kerjanya, ia membuka satu map tipis. Di sampulnya tertulis nama perusahaan yang belum pernah disebut di depan Surya.
PT Runda Perkasa.
Di bawah nama itu, ada foto Irene Tanuwijaya keluar dari Maserati perak.
Foto itu membuka perang yang lebih tua dari dendam Nadia.