Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Siang itu, Arina berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk kembali ke Regulus. Teresa sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa senangnya, sementara Julius justru tampak memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Ayah?" tanya Arina setelah menyadari tatapan ayahnya yang terasa sedikit berbeda dari biasanya.
Julius melangkah mendekatinya. Seketika itu juga, Saiph dan para prajurit yang mengawal Arina memasang kewaspadaan. Mereka siap bergerak kapan saja jika terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan Arina.
"Apa ada seseorang yang menyakitimu?" tanya Julius. Tatapannya tertuju pada goresan tipis di leher Arina.
Arina merutuk dalam hati.
Kali ini aku terlalu ceroboh. Seharusnya aku menyembunyikan bekas luka ini.
Sekilas ia melirik Saiph, yang ternyata juga sedang memperhatikan goresan tersebut.
"Ini hanya luka kecil karena aku terpeleset saat mandi tadi, Ayah," jawab Arina dengan tenang.
Julius mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan itu tanpa bertanya lebih jauh.
"Kalau begitu, aku berangkat sekarang."
Arina membungkukkan badan memberi hormat kepada ayahnya.
"Jangan membuat masalah di Regulus," pesan Julius sambil mengantarkan kepergian putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Arina tersenyum tipis.
"Jangan khawatir, Ayah. Aku tidak akan membuat masalah yang bisa menyeret nama keluarga Volans."
Setelah mengucapkan itu, Arina naik ke dalam kereta dan menutup pintunya perlahan. Kereta pun segera bergerak meninggalkan kediaman Volans, diikuti oleh para prajurit pengawal yang mengiringinya kembali menuju Regulus.
Perjalanan menuju Regulus terasa lebih singkat. Tepat saat tengah malam, rombongan Arina tiba dengan selamat di manor.
"Bagaimana perjalanan Anda, Nona?" tanya Rigel yang telah menunggu di gerbang utama. Ia segera membukakan pintu kereta untuk Arina.
"Perjalanan ini cukup menyenangkan, Rigel," jawab Arina sambil turun dari kereta.
"Tadi siang, Yang Mulia Putri Vega mengirimkan undangan untuk Anda," lapor Rigel sembari mengikuti Arina yang berjalan memasuki manor.
"Undangan apa? Kapan aku harus datang?" tanya Arina.
Mereka menyusuri lorong panjang manor. Namun, alih-alih langsung menuju kamarnya, Arina berbelok ke arah ruang kerja Orion.
"Besok sore, Nona. Yang Mulia Putri Vega mengadakan pesta teh yang dihadiri para bangsawan Regulus."
Rigel dengan sigap membukakan pintu ruang kerja untuknya.
"Sebagai istri Tuan Orion, Anda wajib menghadiri pesta teh tersebut."
"Tentu. Aku akan datang."
Pesta teh? Kedengarannya menarik, batin Arina.
"Tolong panggilkan Saiph kemari," perintahnya sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Baik, Nona."
Rigel membungkukkan badan hormat, lalu segera berbalik untuk menjalankan perintah Arina.
Arina duduk di kursi di balik meja kerja. Ia menarik setumpuk surat yang tampaknya baru saja dikirim hari itu. Satu per satu surat dibukanya. Sebagian besar berisi laporan keamanan dari berbagai kota di Kerajaan Elarion.
Namun, ada satu surat yang langsung menarik perhatiannya.
Surat itu berasal dari Wali Kota Asterra.
> Jenderal Orion,
Kota Asterra terpaksa kami isolasi sementara. Wabah aneh telah menyebar ke seluruh kota. Saya berharap Anda dapat segera datang atau mengirimkan bala bantuan. Saat ini tidak seorang pun diizinkan keluar dari Asterra karena dikhawatirkan wabah tersebut akan menyebar ke kota-kota lain.
Arina mengerutkan kening.
Ini masalah yang mendesak.
Sayangnya, Orion sedang berada di perbatasan. Kemungkinan besar ia baru akan kembali paling cepat satu bulan lagi. Jika konflik di perbatasan semakin memanas, bisa saja ia harus menetap di sana selama berbulan-bulan.
"Sepertinya aku harus pergi ke Asterra sendiri," gumam Arina pelan. "Tidak mungkin menunggu Orion kembali."
Ia segera mengambil keputusan.
Besok sore ia harus menghadiri pesta teh di istana. Kesempatan itu bisa dimanfaatkannya untuk membahas persoalan ini langsung dengan Raja.
Tok... tok... tok...
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
Arina melipat kembali surat itu, lalu menyimpannya di antara dokumen-dokumen penting.
"Masuk."
Pintu terbuka. Saiph melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk. Ia berhenti di depan meja kerja dan menunggu Arina berbicara.
"Kau sudah banyak membantuku, Saiph." Arina menatapnya tenang. "Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan, katakan saja padaku."
Ia tidak sedang berbasa-basi. Arina benar-benar menghargai kemampuan Saiph. Membawanya menjadi orang kepercayaannya bukan semata-mata untuk memanfaatkan kemampuannya, tetapi juga karena ia ingin membalas kesetiaan pria itu.
"Terima kasih, Nona." Saiph membungkukkan kepala singkat. "Saya bersedia menjadi orang kepercayaan Anda di manor ini."
Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan.
"Sebenarnya... saya memang sedang mencari seseorang."
"Siapa?" tanya Arina sambil memilah surat-surat yang menurutnya harus segera ditangani. "Apa orang itu berada di manor ini?"
"Saya sedang mencari seorang anggota Klan Canopus, Nona."
Gerakan tangan Arina langsung terhenti.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
"Seseorang yang sangat berharga bagi saya sedang berada di ambang kematian." Suara Saiph terdengar serak. "Menurut tabib, ada penyakit langka dalam tubuhnya. Satu-satunya harapan untuk menyelamatkannya adalah kekuatan Petir Murni milik Klan Canopus."
Arina terdiam cukup lama. Jemarinya memainkan pena di atas meja dengan gerakan perlahan dan teratur, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Boleh aku melihatnya?" tanyanya akhirnya. "Mungkin... untuk sementara, aku bisa sedikit membantu.”
"Dia tidak tinggal di Regulus, Nona. Perjalanan ke sana cukup jauh," ujar Saiph ragu-ragu. Baginya, hampir mustahil Arina bersedia pergi sejauh itu demi seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.
"Di mana dia berada?" tanya Arina.
"Saat ini saya menitipkannya kepada seseorang di Asterra, Nona."
Arina sedikit tercengang.
Kebetulan lagi.
Ia memang berencana pergi ke Asterra dalam waktu dekat, dan ternyata orang yang ingin ditemui Saiph juga berada di sana.
"Aku bisa melihatnya," kata Arina tenang. "Kebetulan beberapa hari lagi aku akan berangkat ke Asterra. Ada laporan mendesak mengenai wabah misterius yang sedang melanda kota itu."
Kali ini, Saiph pun tak kalah terkejut. Matanya membelalak sesaat sebelum ia segera mengangguk.
"Terima kasih banyak, Nona."
"Jangan berterima kasih dulu." Arina menggeleng pelan. "Aku harus memeriksanya lebih dahulu."
Ia mengambil selembar kertas dan sebatang pena, lalu menyodorkannya kepada Saiph.
"Tuliskan alamat lengkapnya di sini."
"Baik, Nona."
Saiph segera menerima kertas itu dan menuliskan alamat beserta petunjuk singkat menuju tempat yang dimaksud.
Setelah selesai, ia mengembalikannya kepada Arina.
Arina membaca sekilas isi catatan itu, lalu melipatnya dengan rapi.
"Kau boleh kembali. Tolong panggilkan Alhena kemari."
"Baik, Nona."
Saiph membungkukkan badan memberi hormat, lalu berbalik meninggalkan ruang kerja.
...***...
...Like, komen dan vote ...