Alea Tevana merupakan seorang karyawati yang bekerja di bagian penjualan dan konsultan lapangan yang membuat perusahaan rugi 10 Miliar.
***
Bagi Alea Tevana suatu kebanggan bisa bekerja di perusahaan Xavinder Crop. Sudah hampir dua tahun dia bekerja dengan hasil yang selalu memuasakan dan berakhir selalu dipuji atasannya. Perusahaan bergensi yang memiliki pengaruh besar di perusahaan Eropa dan Asia ini dikenal karena kesuksesaan pemimpinnya yang tidak pernah Alea lihat.
Wajar saja, dia bukan karyawati yang memiliki ruang khusus di kantor karena tempatnya hanya di area touch down. Namun, kali ini ia bertemu dengan CEO-nya untuk pertama kali karena kesalahan yang membuat dia syok.
Penjualan dress yang dia lakukan di New York menimbulkan kerugian sebesar 10 Miliar. Dia dituduh sebagai mata-mata dan di sinilah Alea harus dihadapkan pilihan sulit yang membuatnya terjebak dengan CEO-nya sendiri.
Mampukah Alea membuktikan tuduhan yang ditunjukkan padanya atau mampukah dia mengganti uang 10 Miliar itu atau pasrah dengan pilihan dari CEO-nya? Bagaimana kehidupan Alea yang kini harus berurusan dengan CEO-nya?
Yuk, baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss. Arogan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakitmu Adalah Sakitku
Hidup Athar bak kehilangan arah setelah kejadian satu bulan yang lalu. Ia masih mencari Alesa sesuai petunjuk Alea. Akan tetapi, gadis itu tidak ditemuinya.
Seolah hilang ditelan bumi. Hingga membuat Athar semakin kesulitan mencarinya. Padahal dia ingin membawa Alea segera keluar dari sana.
Kate mendekat dan memberikan data yang selama ini mereka cari.
"Benar, Alea memiliki saudara kembar," ucap Kate. Ia mengusap bahu Athar.
Kate melihat Athar terakhir kali sehancur ini saat kehilangan median ibunya. Sekarang pria itu kembali terpuruk.
"Bagaimana jika aku gagal lagi membuktikan kebenarannya, Kate?" tanya Athar dengan suara getir.
"Aku yakin kamu pasti bisa. Alea saja sepercaya itu padamu. Maka kamu harus lebih percaya diri," ucap Kate menyemangati Athar.
Ken yang berdiri di depan pintu bersama Edgar ikut prihatin dengan keadaan Athar. Pria itu tidak merawat diri seperti biasa. Padahal Athar selalu rapi, tetapi kini seperti bukan Athar yang dikenal mereka.
Kate memeluk Athar menangis. Ia memang tidak bisa melihat Athar hancur. Ia sudah menganggap Athar seperti kakaknya sendiri.
"Hiks, yakinlah. Aku, Ken dan Edgar akan membantumu," isak Kate.
Athar membalas pelukan Kate. Dia sendiri sebenarnya ingin bangkit, tetapi setiap hari tidak ada titik temu.
***
Sepatu hak itu menggema di ruangan Athar. Kedatangan wanita yang sangat tidak diharapkan Athar datang.
Dia memandangnya datar sampai wanita itu tersenyum ke arahnya.
"Well, Athar putraku, tidakkah kamu ingin menyambut Ibumu?" tanyanya membuat Athar mendecih.
"Keluar dari ruanganku, Molly!"
"Wow, mulutmu sangat lancang, Boy. Harusnya kamu memanggilku 'Ibu' seperti Malvin," ujarnya santai.
Athar mengambil telepon genggam dan siap menyuruh satpam menyeret wanita di depannya ini.
Tangan Molly menahan tangan Athar dan menatap serius ke arah Athar.
"Kamu perlu melihat sesuatu sebelum menyeretku keluar," ujarnya.
Dia mengirim video ke ponsel Athar sampai rahang Athar mengeras.
"Hiksas, aaaaa sakitttt!"
"Huwaaa ... hiks, ampunn."
"Hiks."
Rintihan itu membuat Athar melempar map-map di atas meja ke arah Molly hingga wanita itu menjerit kaget.
Dia menatap Athar yang kini tatapannya terlihat ingin menerkamnya. Molly segera mencari pintu keluar.
"Siksaan itu tidak seberapa, jika kau ingin menyelamatkannya maka serahkan perusahaan ini kepada Malvin," ucapnya dan menutup pintu.
"Arghhhh!"
Prang!
Prang!
Ia sangat marah melihat Alea disiksa di dalam penjara. Pasti ini semua suruhan Malvin. Pria itu memang mencari gara-gara dengannya.
Melihat wajah lembam Alea membuat Athar teriris. Ia segera mengambil jasnya dan melanjukan mobilnya ke tempat-tempat yang pernah ia tidak sengaja bertemu dengan kembaran Alea.
Ia sudah memutari kota New York seharian dan berakhir di club. Ia masuk dan duduk minum wine.
Rasa frustasinya membuat ia lari ke sini untuk menghilangkan bayangan wajah Alea yang tengah menangis.
Percuma juga dia kelembaga karena tidak bisa bertemu dengan Alea. Mereka memang licik. Memikirkan itu membuat Athar menghabiskan banyak wine.
Pasti Alea sangat tersiksa di sana. Athar berjanji tidak akan mengampuni orang-orang yang sudah membuat Alea menderita.
"Alesa! Kenapa kau ada di sini?! Bukannya sudah aku katakan untuk meninggalkan New York sejauh mungkin!"
Athar samar-samar mendengar suara Stefi, tetapi ia merasa kepalanya pening akibat terlalu banyak minum.
Ia menoleh dan melihat dua wanita sedang bercengkrama sambil berjalan keluar. Athar mencoba menjaga keseimbangan dan mengikuti mereka.
"Aku butuh uang dan uang yang kamu berikan masih kurang," ucap Alesa.
Athar mengusap wajahnya memastikan penglihatannya tidak salah.
Ia ingin mendekat, tetapi tubuhnya oleng. Mobil yang ditumpangi Alesa pergi bersama Stefi.
Ia segera merogoh ponselnya dan sialnya baterainya habis. Ia mengumpat berkali-kali sebelum ke parkiran mengambil mobilnya.
Sebelum jalan, Athar mengambil Aqua dan meminumnya. Ia merasa kepalanya masih berdenyut, tetapi ia tidak akan membiarkan Alesa dan Stefi lolos begitu saja.
Setelah merasa sedikit baikan, ia menjalankan mobil walau tidak bisa dengan kecepatan tinggi karena bisa-bisa dia menabrak pembatas jalan atau pohon.
Namun, jejak mobil yang mereka tumpangi sudah hilang. Athar menatap ponselnya dan mengambil charger. Segera ia colok di dalam mobil.
"Sialan!" umpatnya.
***
Ken dan Kate sedang menikmati makan malam mereka. Hubungan keduanya mulai membaik. Kate tidak marah lagi kepada Ken.
"Yang, kenapa Alea dan Alesa bisa pisah?" tanya Kate.
Ken mengelus tangan tunangannya. "Kita akan cari tahu pada Ibu Alea, karena aku juga enggak tahu, Sayang."
Drtttt ....
Ken segera mengangkat saat melihat Athar yang menelepon. Ia terbelalak saat mendengar ucapan Athar.
Setelah sambungan telepon putus Ken segera minum. Ia menarik tissu dan melap bibirnya.
"Yang, Alesa ketemu. Dia bersama Stefi dan kata Athar kemungkinan mereka ke bandara sekarang, tetapi kita tidak tahu bandara mana," ucap Ken membuat Kate buru-buru minum juga.
"Ya, sudah. Sayang sekarang pergilah. Aku akan mengerahkan orang-orang Dad juga untuk membantu kita," ucap Kate.
Ken mengangguk dan segera mengambil mengambil jasnya. Stefi sendiri tetap memakai jas kedokterannya karena memang mereka baru pulang kerja dan memilih makan lebih dulu ketimbang mandi.
Kate berlari menuju mobilnya dan menempelkan erphone bluetooth di telinganya.
Tutttt ....
"Halo, Dad. Kate butuh bantuan Daddy. Tolong minta anak buah Daddy berjaga di tiga bandara terdekat di New York maupun kota di dekatnya," ucap Kate.
" ...."
"Thank you, Dad. Love you."
" ...."
"Bye. Tuttt."
***
Edgar segera keluar dari Apartemennya setelah mendapat informasi dari Ken. Ia segera menarik anak buahnya menuju bandara.
Beberapa temannya ia hubungi yang berlokasi dekat bandara. Sementara itu Athar masih berjuang di dalam mobil karena kini mobilnya malah menabrak pembatas saat ia mengangkat telepon dan suara tangis pilu Alea terdengar sukses membuat ia kehilangan kendali.
"Hiks, Athar," isak Alea.
Athar merasa ia tidak berguna sekarang. Alea tersiksa karenanya. Di seberang sana gadis itu bertahan hidup untuk melihatnya tetap berada di posisinya.
Ingin rasanya Athar menukar dirinya di sana. Biar dia merasakan setiap siksaan yang diberikan mereka kepada Alea.
***
Bersambung ....
kereennn aku suka ceritamu
Ceritanya tdk bertele" sedikit tp bkn orang tegang mewek dan ketawa.. Tdk membosankan singkat padat dan jelas👍👍👍👍
Sukses buatkamu thor semoga ada lg cerita yg lebih keren dan ter Hoooottt 😂😂
Yang sabar yaa
semangat.......💪💪💪💪💪💪
semangattttt ........