NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam semakin larut. Suasana rumah mulai sunyi. Dari kamar Arjun hanya terdengar suara napas kecil putranya yang kini telah tertidur pulas setelah dibacakan cerita oleh Azel.

Sementara itu, Ibra masih duduk sendirian di balkon rumah. Secangkir teh hangat di atas meja sudah lama kehilangan uapnya.

Namun pikirannya masih terus mengulang percakapan bersama Opa Athar.

"Kalau memang suatu hari nanti kamu memiliki niat yang baik... datanglah kepada orang tua Azel. Pastikan niat itu benar-benar berasal dari hatimu. Bukan semata-mata karena Arjun."

Ibra mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar tidak tau dengan hatinya sendiri.

Azel... Atau lebih tepatnya... Acel.

Nama kecil yang dulu ia berikan kepada bayi mungil berpipi chubby yang selalu membuatnya gemas.

Dulu, Acel hanyalah seorang balita yang sering ia gendong. Yang akan berhenti menangis ketika berada dalam pelukannya. Yang setiap kali tertawa membuat semua orang di sekitarnya ikut tersenyum.

Namun waktu terus berjalan. Tanpa ia sadari, bayi kecil itu telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Gadis yang kini menjadi mahasiswanya. Gadis yang sering berdebat dengannya di kelas.nGadis yang mampu membuat Arjun kembali ceria.

Ironisnya... Azel sama sekali tidak mengingat semua kenangan itu. Baginya, Ibra hanyalah seorang dosen yang kaku dan menyebalkan.

Sedangkan bagi Ibra, Azel adalah bagian dari masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Ia menatap langit malam.

"Tidak... Aku tidak boleh melangkah sejauh itu."

Ia tidak ingin salah mengartikan perasaannya. Terlebih jika semua itu hanya berawal dari keinginan polos Arjun yang menginginkan seorang ibu. Ia tidak ingin menjadikan Azel sebagai jawaban atas kesepian putranya.

Karena itu tidak adil. Bagi Arjun Terlebih lagi, bagi Azel.

Ibra menundukkan kepalanya. Lalu tanpa sadar tertawa hambar. "Lagipula... aku ini siapa?"

Azel adalah putri seorang kiai yang dihormati. Cucu dari keluarga besar yang terpandang. Tumbuh dalam lingkungan yang hangat, penuh kasih sayang, dan menjaga nilai-nilai agama.

Sedangkan dirinya... Hanya seorang laki-laki dengan masa lalu yang berantakan. Rumah tangganya gagal. Pernah salah memilih pasangan. Membawa luka yang sampai hari ini belum benar-benar sembuh. Bahkan nama keluarganya pun pernah dipandang buruk karena kasus yang menimpa ayahnya.

Meski itu bukan kesalahannya, ia tetap merasakan bagaimana rasanya dipandang sebelah mata.

Sulit mencari pekerjaan. Sulit mendapatkan kepercayaan.nDan ketika akhirnya mulai bisa bangkit, rumah tangganya justru runtuh.

Ibra memejamkan mata. Ia masih mengingat bagaimana dulu ia mencintai istrinya dengan begitu tulus. Memberikan kepercayaan sepenuhnya. Berusaha menjadi suami yang baik. Namun yang ia terima hanyalah pengkhianatan.

Sejak saat itu, ada bagian dalam hatinya yang seolah mati. Ia tidak pernah lagi berpikir untuk membuka hati kepada perempuan lain.

Baginya... Cukup Arjun saja yang menjadi alasan untuk terus hidup.

Tetapi... Kehadiran Azel perlahan mengusik keyakinan itu. Bukan karena gadis itu melakukan sesuatu yang istimewa. Justru karena kesederhanaannya.

Cara Azel memperlakukan Arjun dengan tulus. Cara gadis itu menjaga batas sebagai seorang perempuan. Dan caranya menghormati orang lain tanpa membedakan siapa pun. Semua itu membuat hati Ibra yang selama ini tertutup perlahan kembali terusik.

Ia menggeleng pelan. "Jangan dulu, qku belum siap."

Kalaupun suatu hari nanti, Allah benar-benar membuka jalan itu. Ia ingin datang bukan sebagai laki-laki yang sedang mencari ibu untuk anaknya. Melainkan sebagai laki-laki yang telah selesai berdamai dengan masa lalunya, lalu memilih Azel dengan hati yang utuh. Sebab ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

***

Keesokan harinya, seusai sarapan, Opa Athar berkunjung ke ndalem, tempat putrinya, menantu, serta cucu-cucunya tinggal.

"Abi, kenapa harus jauh-jauh ke sini? Tinggal telepon Zura saja, nanti Zura yang datang ke rumah Abi."

Athar tersenyum kecil.n"Kamu ini. Sesekali biar Abi yang jalan-jalan."

Uma Azzura ikut tersenyum. "Ya sudah. Abi duduk dulu ya. Zura bikinin teh."

"Iya."

Athar duduk di ruang tamu, lalu matanya menyapu sekeliling rumah.

"Suami kamu mana, Nak?"

"Mas Abidzar masih siap-siap di atas, Bi. Sebentar lagi berangkat ke pesantren."

Athar mengangguk pelan. "Abi memang ada perlu sama kalian."

Uma Azzura mengernyit penasaran. "Perlu apa, Bi?"

"Nanti saja. Tunggu suamimu turun."

"Iya, Bi."

Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki menuruni tangga. "Assalamu'alaikum, Abi."

"Wa'alaikumussalam."

Kiai Abidzar menghampiri mertuanya, lalu menyalami dan mencium tangan Athar dengan penuh hormat.

"Masya Allah, Abi pagi-pagi sudah datang."

Athar tersenyum. "Abi sekalian ingin jalan-jalan. Kebetulan juga sudah lama tidak sarapan di ndalem."

Abidzar terkekeh. "Kalau begitu jangan pulang sebelum makan siang."

"Insya Allah."

Tak lama kemudian Uma Azzura datang membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa camilan.

"Silakan, Bi."

"Terima kasih, Nak."

Mereka sempat berbincang ringan beberapa saat. Hingga akhirnya Athar meletakkan cangkir tehnya perlahan.

Raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. "Jadi... kalian punya mantan murid yang namanya Ibrahim Rabbani Mahendra?"

Uma Azzura dan Kiai Abidzar saling berpandangan.

"Iya, Bi," jawab Uma Azzura. "Abi kenal Ibra?"

Kiai Abidzar mengangguk. "Baru beberapa hari yang lalu dia datang lagi ke pesantren. Dulu dia memang murid saya. Setelah pindah ke Jakarta, kami benar-benar kehilangan kabar tentang dia."

Opa Athar mengangguk pelan. "Baru beberapa hari ini juga Abi bertemu dengannya. Kebetulan Azel sering bermain dengan anaknya, Arjun. Lalu waktu Abi olahraga pagi, kami bertemu tanpa sengaja. Ibra ternyata pernah bekerja di perusahaan Malik, jadi dia masih mengenali Abi. Dan semalam, Abi juga sempat menjenguk Arjun."

Uma Azzura langsung tampak cemas. "Arjun kenapa, Bi?"

"Dia terjatuh di sekolah. Kepalanya sampai terluka dan harus dijahit."

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." Uma Azzura spontan menutup mulutnya. "Azel belum cerita apa-apa."

Athar tersenyum tipis. "Mungkin belum sempat. Semalam Azel memang menginap di rumah Abi. Dia langsung ikut Abi menjenguk Arjun setelah pulang dari rumah sakit."

Kiai Abidzar menganggukkan kepala. "Alhamdulillah sekarang kondisinya bagaimana, Bi?"

"Sudah jauh lebih baik. Lukanya memang masih harus dipantau, tapi dokter sudah mengizinkan pulang."

Athar terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Abi juga melihat sendiri. Hubungan Arjun dan Azel sudah sangat dekat. Bahkan saat di rumah sakit, Arjun hanya mau ditenangkan oleh Azel. Begitu Azel datang, baru dokter bisa menjahit lukanya."

Uma Azzura tersenyum haru. "Masya Allah... Berarti Arjun sudah benar-benar nyaman sama Azel."

Athar mengangguk. "Lalu Abi juga ingin bertanya. Ibra memang sudah tidak punya istri?"

Kiai Abidzar menghela napas pelan. "Iya, Bi. Waktu dia datang ke sini, dia hanya bilang kalau dirinya sudah bercerai. Untuk alasannya, kami tidak bertanya. Itu urusan pribadinya."

"Pantas saja..." gumam Athar pelan. "Arjun terlihat sangat merindukan sosok seorang ibu."

Athar menatap putri dan menantunya bergantian. "Bahkan semalam di depan Abi, Arjun meminta Azel menjadi mamanya."

Deg!

Uma Azzura dan Kiai Abidzar saling berpandangan. Keduanya sama-sama terdiam beberapa saat.

"Lalu... bagaimana reaksi Azel, Bi?" tanya Uma Azzura pelan.

Athar tersenyum kecil. "Anakmu menjawab dengan sangat bijak. Dia tidak memberi harapan yang keliru tetapi juga tidak melukai hati seorang anak kecil. Itu yang membuat Abi bangga."

"Saya tau, Abi datang ke sini juga karena ingin mendengar pendapat kami tentang Ibra, bukan?"

Athar tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Iya. Abi memang ingin mendengar pendapat kalian. Bagaimana menurut kalian tentang Ibra sekarang?"

Kiai Abidzar dan Uma Azzura saling berpandangan sejenak. Abidzar yang lebih dulu membuka suara.

"Kalau ditanya sebagai mantan gurunya, saya mengenal Ibra sebagai anak yang baik. Dari dulu dia pendiam. Tidak banyak bicara tapi kalau diberi amanah, selalu berusaha menyelesaikannya sebaik mungkin."

Athar mendengarkan dengan saksama.

"Selama menjadi santri, dia juga tidak pernah membuat masalah. Rajin mengaji. Sopan kepada guru. Dan sangat menyayangi keluarganya terutama ibunya."

Uma Azzura ikut mengangguk. "Saya juga ingat sekali sama Bu Zulfa. Beliau wanita yang sangat lembut. Sering datang ke ndalem..Waktu Ibra pindah ke Jakarta, beliau juga sempat berpamitan."

Athar mengusap pelan janggutnya. "Tapi itu kan Ibra yang dulu. Bagaimana dengan Ibra yang sekarang?"

Kiai Abidzar tersenyum kecil. "Justru saya melihat tidak banyak yang berubah, Bi. Mungkin hidupnya saja yang membuat dia lebih banyak diam. Matanya berbeda, ada rasa lelah yang tidak dia ceritakan. Tapi adabnya masih sama. Kerendahan hatinya juga masih sama."

Uma Azzura menimpali pelan. "Kemarin waktu datang ke ndalem, dia berkali-kali meminta maaf karena baru berani bersilaturahmi. Padahal kami sama sekali tidak pernah menyimpan rasa kecewa. Kami justru senang dia akhirnya kembali."

Athar mengangguk pelan. "Lalu bagaimana menurut kalian sebagai orang tua Azel?"

Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening.

Uma Azzura tersenyum tipis. "Kalau sebagai orang tua, tentu Zura tetap khawatir, Bi. Ibra memang anak baik. Tapi dia pernah gagal berumah tangga. Azel juga masih sangat muda. Jadi sebagai ibu, wajar kalau Zura ingin semuanya dipikirkan baik-baik. Meski begitu... pada akhirnya jodoh anak bukan urusan kita. Kalau memang Allah menakdirkan siapa pun tidak akan bisa menghalangi. Kalau bukan, sebanyak apa pun kita menginginkan, tetap tidak akan terjadi."

Kiai Abidzar mengangguk membenarkan. "Saya juga tidak ingin terburu-buru menilai. Apalagi hanya karena Arjun dekat dengan Azel. Kasihan kalau nanti keputusan orang dewasa justru dibebankan kepada anak kecil."

Athar tersenyum tipis. "Itu juga yang Abi pikirkan. Abi sudah bicara langsung dengan Ibra semalam. Abi bilang jangan pernah mendekati Azel kalau alasannya hanya karena Arjun membutuhkan seorang ibu."

Uma Azzura menatap ayahnya. "Lalu... apa jawaban Ibra, Bi?"

"Dia tidak membantah malah dia diam cukup lama. Abi rasa dia memang sedang berperang dengan dirinya sendiri."

Kiai Abidzar menghela napas pelan. "Itu pertanda yang baik. Orang yang masih mau berpikir sebelum melangkah biasanya tidak gegabah mengambil keputusan."

Athar mengangguk. "Abi juga melihat begitu. Dia tidak pernah sekalipun meminta atau mengisyaratkan apa pun tentang Azel. Justru yang sering mengatakannya adalah Arjun."

Uma Azzura tersenyum geli mengingat kepolosan bocah itu. "Anak kecil memang tidak bisa menyimpan isi hatinya."

"Iya." Athar ikut tersenyum. "Tapi justru karena itu kita sebagai orang dewasa harus lebih berhati-hati. Jangan sampai kepolosan Arjun membuat kita tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu."

Kiai Abidzar menganggukkan kepala. "Biarkan semuanya berjalan sewajarnya. Kalau memang Allah sedang mempertemukan mereka tidak perlu didorong. Kalau memang berjodoh pasti akan dipermudah. Dan kalau ternyata tidak setidaknya tidak ada hati yang terluka karena harapan yang terlalu cepat tumbuh."

Athar tersenyum lega mendengar jawaban menantu dan putrinya. "Itulah yang ingin Abi dengar. Kita tidak perlu menjadi mak comblang. Cukup menjadi orang tua yang mendoakan. Selebihnya biar Allah yang mengatur jalan ceritanya."

Athar menatap putri dan menantunya bergantian. "Zura, Abidzar. Kalian masih ingat ucapan terakhir Uma kalian tentang Azel?"

Uma Azzura tampak berpikir sejenak. "Yang mana, Bi?"

Athar mengusap pelan tasbih di tangannya. "Waktu sebelum beliau wafat. Beliau pernah berkata... Suatu hari nanti, Azel akan menjadi penyembuh bagi luka seorang anak kecil. Dan dari anak itu, Allah akan membukakan sebuah takdir yang tidak pernah kalian sangka."

Ruangan mendadak hening. Kiai Abidzar dan Uma Azzura saling berpandangan. Perlahan, ingatan mereka kembali pada sosok almarhumah Uma.

"Iya..." Uma Azzura mengangguk pelan. "Zura ingat. Waktu itu Zura bahkan sempat bertanya apa maksud ucapan Uma."

"Tapi beliau hanya tersenyum. Lalu berkata... Kalau waktunya tiba, kalian akan mengerti sendiri."

Athar mengembuskan napas pelan. "Dulu Abi mengira itu hanya nasihat biasa. Tapi setelah melihat sendiri bagaimana Azel dan Arjun... Entah kenapa Abi jadi teringat lagi dengan ucapan Uma kalian."

Kiai Abidzar tersenyum kecil. "Memang sulit memahami takdir Allah sebelum semuanya terjadi."

Athar mengangguk. "Abi juga tidak ingin buru-buru menyimpulkan apa pun. Mungkin saja yang dimaksud Uma memang hanya sebatas itu. Bahwa Azel menjadi penyembuh bagi hati Arjun..Atau... Justru ada takdir lain yang sedang Allah siapkan."

Uma Azzura tersenyum lembut. "Kalau memang itu pesan Uma biarlah Allah sendiri yang menyempurnakannya. Kita tidak perlu menebak-nebak."

Kiai Abidzar ikut mengangguk. "Karena takdir bukan untuk didahului. Takdir hanya perlu dijalani."

Athar menatap keluar jendela. Senyumnya tipis.

"Paling tidak... Sekarang Abi mengerti satu hal. Azel benar-benar mampu menjadi tempat pulang bagi seorang anak kecil yang sedang terluka. Dan itu saja sudah menjadi kebaikan yang luar biasa."

Ruangan kembali hening. Tak seorang pun berani menyimpulkan lebih jauh. Karena mereka semua memahami takdir tidak pernah bisa dipaksa.

Jika memang Allah telah menuliskan sebuah pertemuan sebagai awal dari perjalanan yang baru, maka pada waktunya nanti semua akan menemukan jawabannya sendiri.

***

Pagi itu, suasana kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang baru datang. Beberapa berjalan tergesa menuju kelas, sementara yang lain masih berbincang di pelataran fakultas.

Ibra baru saja turun dari mobilnya.

Tas kerja tersampir di bahu, sementara langkahnya mengarah ke gedung tempat ia mengajar. Namun langkahnya mendadak melambat.

Di bawah rindangnya pohon rindang, ia melihat Azel sedang berdiri bersama Fariz. Keduanya tampak mengobrol santai. Entah apa yang sedang dibicarakan.

Sesekali Azel tertawa kecil, membuat matanya menyipit dan lesung pipinya terlihat jelas. Fariz pun ikut tersenyum menanggapi.

Pemandangan itu seharusnya biasa saja. Fariz adalah senior sekaligus ketua BEM. Sedangkan Azel memang aktif dalam berbagai kegiatan kampus.

Tidak ada yang salah. Namun entah mengapa ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Ibra.

Langkahnya kembali berjalan. Meski pandangannya sempat kembali mengarah kepada keduanya.

"Kenapa mereka terlihat akrab?"

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Padahal ia sendiri tau hubungan mereka sangat mungkin hanya sebatas senior dan junior.

Lagi pula... Apa urusannya?

Ibra mengembuskan napas pelan. "Kenapa aku memikirkan hal seperti ini?"

Ia menggeleng kecil, seolah ingin mengusir pikiran yang mulai mengganggunya. "Fariz mau bicara dengan siapa pun bukan urusanku. Azel juga bebas berteman dengan siapa saja."

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tetapi, saat melihat Azel kembali tertawa karena ucapan Fariz. Ada rasa tidak nyaman yang kembali menyelinap.

Bukan marah. Bukan pula cemburu yang ingin ia akui. Hanya... Perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang tidak ia sukai.

Ibra memejamkan mata sesaat. Lalu teringat ucapan Opa Athar semalam. "Pastikan niat itu benar-benar berasal dari hatimu. Bukan semata-mata karena Arjun."

Ia tersenyum hambar. "Jadi....ini jawabannya?"

Pertanyaan itu hanya bergema di dalam hati.

Tanpa ia sadari perasaannya terhadap Azel perlahan mulai berubah. Dan perubahan itu... Justru membuatnya semakin berhati-hati menjaga jarak.

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!