Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
011. Episode 11
Bel sekolah berbunyi. Siswa-siswi berbondong-bondong keluar mengantri di depan pintu gerbang. Beberapa anak masih tinggal di sekolah. Untuk menyelesaikan tugas, membantu guru, piket, ekstrakurikuler, maupun sekedar ingin di sana.
Sanggar Pramuka terlihat sibuk. Beberapa anak mengusung tongkat dan perlengkapan pramuka lainnya ke lapangan sekolah. Baju lapangan ungu-hitam mereka terlihat keren dipadukan dengan celana kempol coklat dan sepatu hitam khusus yang selalu dipoles setiap minggunya.
Barisan regu anak kelas X berderet rapi dengan satu anak dari kelas XI memimpin barisan mereka. Semua peralatan telah terkumpul di lapangan dan anak dari kelas XI membentuk barisan sendiri dipimpin oleh Pradana mereka.
Bimo, mantan Pradana yang sudah menginjak kelas XII, menurut peraturan sekolah tidak diizinkan lagi ikut kegiatan apapun di sekolah, begitu juga teman-temannya, kecuali hanya mengawasi. Alasannya untuk persiapan ujian sekolah. Begitu juga Surya, selaku mantan Pemangku Adat.
Bimo menunggu Adeth yang berganti baju di kamar mandi. Sambil menunggu, ia melihat-lihat mading yang ditempatkan persis di depan kamar mandi. Jurnalistik memang menarik. Segala aktivitas sekolah diabadikan dan ditempelkan di sana. Info tentang berbagai hal dari belahan dunia juga terpampang indah di sana. Kata-kata inspiratif disuguhkan juga dengan konsep menarik.
Bimo tersenyum kecil.
Derit pintu membuatnya memalingkan muka. Didapatinya Adeth berdiri di ambang pintu kamar mandi sembari merapikan bagian belakang pakaiannya.
“Maaf membuat lama menunggu. Seharusnya tinggalkan saja aku.”
“Tidak apa-apa. Yuk, sudah hampir mulai kegiatannya.”
Bimo dan Adeth berjalan beriringan menuju lapangan yang sudah terkumpul anak-anak. Setiap barisan sepertinya diberi pesan oleh masing-masing pemimpinnya. Mata Adeth tertuju pada kumpulan juniornya. Kemudian pandangannya beralih ke kumpulan teman-teman yang familiar di matanya.
Bimo menggiring Adeth ke depan kedua barisan tersebut.
“Bisa dimengeti?” teriak Alif, si Pradana tegas.
“Siap, bisa!” jawab semuanya tak kalah kompak dan tegasnya.
Bimo membisikkan sesuatu ke telinga Alif tersebut. Lalu Alif mengangguk. Bimo kemudian berpisah berkumpul bersama teman-temannya di bangku pojok lapangan.
“Perhatian semuanya. Hari ini kita mendapat satu keluarga baru. Silahkan perkenalkan dirimu.”
Adeth maju dengan malu-malu. “Perkenalkan nama saya Widasari Adetha, biasa dipanggil Adeth. Dari kelas XI-III English. Salam kenal semuanya.”
“Salam kenal!” sahut semuanya kompak.
“Saya harap kawan-kawan semua bisa rukun dan tidak ada perselisihan. Apalagi sampai main kubu-kubuan. Bisa dimengerti?”
“Siap, bisa!”
“Bagus. Adeth, silahkan duduk.”
Bimo tersenyum dari kejauhan. Teman-temannya yang menyadari kelakuan aneh Bimo segera bersorak-sorai.
“Wiih, senyum sama siapa, tuh? Bahaya ini,” sorak Jaya, teman paling tinggi Bimo sambil menyeruput air putih di gelas.
“Haha, iya, nih. Bakalan ada korban kayaknya,” timpal salah satu temannya yang paling gemuk, Putra.
“Korban apa maksud lo?” tanya Bimo penuh selidik.
“Korban PHP.”
Seluruh temannya tertawa.
“Sialan kau.” Bimo yang tak terima langsung memukul lengan gemuk temannya. Pada akhirnya, Bimo juga ikut tertawa.
Surya kemudian berjalan mendekati Bimo. Dirangkulnya temannya dari belakang dengan tegap.
“Aaa! Tolong! Gue dirangkul homo!” teriak Bimo usil yang disambut gelak tawa lagi oleh teman-temannya.
“Homo apaan, sih. Aku mau bicara.”
“Kidding, man.”
Surya mengulangi perbuatannya. Ia lalu menempatkan mulutya sejajar dengan telinga Bimo.
“Aku tahu, kamu tersenyum pada Adeth, kan?”
Bimo serasa ditampar. Matanya melotot kaget. Nafasnya berhenti keluar-masuk paru-parunya selama beberapa saat. Surya tersenyum penuh kemenangan mengetahui kejahilannya membuahkan hasil.
“Jujur saja. Kau menyukainya, kan?”
“Apaan, sih? Baru saja ketemu tadi pagi, masa sudah langsung suka. Lagipula, aku nggak pernah suka sama orang.”
“Well, berarti ini yang pertama,” sanggah Surya tetap tak mau kalah.
Bimo yang merasa tak nyaman langsung pergi begitu saja meninggalkan Surya yang tertawa-tawa. Ia berteriak kesal memaki-maki Surya yang tertawa terpingkal-pingkal. Batu dan kerikil ditendangnya dengan kesal. Bimo menyiapkan kekuatannya saat akan menendang batu besar. Nahas, dirinya malah tersandung dan tersungkur.
Teman-teman Bimo langsung menertawakan dirinya. Dengung tawa juga terdengar dari barisan junior pramukanya. Bimo merasa konyol. Akhirnya ia ikut tertawa juga bersama teman-temannya.
“Enak, kan, ya, jatuh pas lagi marah-marah. Langsung lupa masalah,” celetuk Surya lagi.
“Iya, iya.”
Bimo kembali memandangi barisan anak ekstra tadi. Barisan itu kemudian bubar dan mengambil alat-alat pramuka yang terletak tak jauh dari tempatnya. Bimo memandangi setiap anak yang berlalu lalang. Sebagian barisan tadi berpencar ke tempat yang berbeda dari barisan lain yang lebih banyak.
Alif berjalan ke arah kardus alat pramuka. Bimo kemudian menghampirinya.
“Sudah mau dimulai, ya? Padahal masih tiga puluh menit lebih awal.”
Alif mendongak, menyamakan pandangan dengan Bimo. “Ya, Kak. Agar mempersingkat waktu. Yang di sebelah pojok sana barisan peserta L-KTP.”
“Persiapan sudah sampai mana?”
“Semua mata lomba sudah lima puluh persen, kecuali yel-yel. Sisanya tinggal pematangan dan persiapan alat-alat. Target dan progress tercapai dengan baik. Untuk mata lomba yel-yel masih dalam konsep dan percobaan gerakan. Target untuk battle yel-yel, lusa sudah mulai.”
“Bagus. Segera diselesaikan, ya. Pendaftaran sudah selesai?”
“Seharusnya sudah. Tapi ada kendala.”
“Kendala? Kendala bagaimana?”
“Untuk Regu Asoka Putri masih kekurangan satu anak, padahal lomba kurang tiga minggu lagi. Kami sudah berusaha mencari pesertanya, tapi tidak ada yang berminat. Mungkin juga, karena lomba yang berdekatan dengan ujian akhir semester, orangtua murid tidak mengizinkan.”
“Putri, ya? Ya sudah, bagian itu biar aku yang urus. Sekarang latihan saja dulu. Terimakasih laporannya. Semoga sukses.”
“Ya, Kak. Terimakasih.”
“Dih, sudah dibilangin berkali-kali jangan bicara formal jika hanya ada kita berdua. Jangan merusak tradisi antar-Pradana, dong … lo ini.”
“Oh, iya! Aduh, maaf, maaf. Lain kali nggak lagi-lagi, deh. Gue cabut dulu. Nuhun.”
Setelah mengucapkan itu, Alif pergi dengan tumpukan kardus dalam pelukannya.
“Eh, tunggu!” teriak Bimo menghentikan langkah Alif. “Bagaimana dengan anak baru tadi?”
“Oh, itu. Setelah memberikan pengarahan nanti, rencananya gue akan membawanya perkenalan dengan sistem organisasi ini.”
“Begitu. Baiklah, terimakasih.”
“Sekarang lo yang bicara formal,” ujar Alif.
Alif kembali pergi. Bimo kembali menghambur ke kumpulan teman-temannya. Entah kenapa saat ini, dirinya merasa seperti orang asing yang tersesat ke dalam sini.
___________________________________
Wah, kalian punya kecengan satu organisasi juga nggak, nih?
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,