Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Toko Bangkrut
Pagi berikutnya, Rian kembali berdiri di depan ruko tua itu.
Cat temboknya kusam. Papan nama supermarket lama menggantung miring. Dari kaca yang buram, rak-rak kosong tampak seperti tulang rusuk bangunan yang kelaparan.
Rian menatapnya dengan mata berbinar.
Tempat ini bukan toko.
Ini mesin rugi.
Ia menekan nomor yang kemarin ia foto dari kaca pintu.
Telepon tersambung setelah nada keempat.
"Halo?"
"Oh, ruko bekas supermarket itu? Bisa, bisa. Saya pemiliknya. Nama saya Slamet."
"Saya Rian, Pak. Saya ingin lihat tempatnya hari ini."
"Hari ini juga?" Pak Slamet berhenti sejenak. "Mas serius mau usaha di sana?"
"Serius, Pak."
Ada tawa kecil di ujung telepon.
"Baik. Saya datang satu jam lagi."
Satu jam kemudian, Avanza hitam berhenti di depan ruko. Pak Slamet turun dengan batik lengan pendek, jam tangan emas, dan mata yang langsung menilai Rian.
Pak Slamet tersenyum.
"Mas Rian, ya?"
"Betul, Pak."
"Saya terus terang saja. Ruko ini strategis. Dekat jalan utama, parkir lumayan, dulu supermarket ini ramai sekali."
Rian melirik ke dalam. Lantai berdebu, kulkas mati, rak bengkok, bau lembap. Kalau ini ramai, kuburan pun bisa disebut pusat hiburan.
Ia tetap mengangguk. "Saya percaya, Pak."
Pak Slamet membuka rolling door. Besi tua itu menjerit panjang ketika ditarik ke atas. Debu langsung terbang, membuat Rian batuk sekali.
Bagus. Suasananya makin meyakinkan.
Mereka masuk. Lantai lengket. Di pojok, satu kulkas minuman mengeluarkan aroma plastik panas dan jamur.
"Kondisinya tinggal dibersihkan sedikit. Rak masih banyak. Lokasi sudah dikenal warga."
Rian menahan senyum. Tinggal dibersihkan sedikit? Kalau kecoa di sini bisa bicara, mungkin dia sudah jadi kepala gudang.
"Untuk sewanya bagaimana, Pak?" tanya Rian.
Mata Pak Slamet langsung menyala.
"Normalnya ruko sebesar ini saya sewakan 250 juta per bulan. Tapi karena lokasinya bekas usaha, saya kasih harga khusus. Tiga bulan pertama 1,2 miliar, dibayar di muka. Deposit 300 juta. Jadi total 1,5 miliar."
Harga itu jelas terlalu tinggi untuk ruko tua yang baru saja ditinggalkan penyewanya.
Namun Rian hanya berkedip.
1,5 miliar untuk tiga bulan.
Mahal sekali. Indah sekali.
"Saya ambil, Pak."
Senyum Pak Slamet membeku setengah detik.
"Langsung ambil?"
"Iya. Kalau bisa, kontrak hari ini."
Pak Slamet menatapnya seperti baru menemukan dompet jatuh di tengah jalan.
"Mas tidak mau cek dulu? Atau tanya keluarga?"
"Tidak perlu, Pak. Saya sudah cocok."
Cocok untuk hancur, maksudnya.
Pak Slamet cepat-cepat mengeluarkan map dari mobil.
Mereka duduk di meja kasir lama. Pak Slamet menulis data ruko, masa sewa tiga bulan, jumlah pembayaran, deposit, dan beberapa pasal standar. Rian membaca perlahan, memastikan tidak ada hal ilegal atau biaya aneh.
Panel biru muncul.
[Kontrak sewa terdeteksi. Status: legal. Penggunaan Dana Sistem: diizinkan.]
Rian hampir menghela napas lega.
"Pembayaran transfer ke rekening atas nama Bapak?" tanyanya.
"Betul, Mas. Ini rekening saya."
Rian membuka aplikasi perbankan yang terhubung dengan rekening bisnis sistem. Angka 50 miliar di sana masih terasa tidak nyata. Ia memasukkan nominal 1,5 miliar, menekan konfirmasi, lalu melihat saldo Dana Sistem berkurang.
Untuk pertama kalinya, uang sistem benar-benar keluar. Rian merasakan sensasi hangat di dada.
Pak Slamet menerima notifikasi. Matanya melebar.
"Sudah masuk," katanya, suaranya lebih halus dari sebelumnya. "Mas Rian ini gercep juga, ya."
"Saya hanya ingin semuanya cepat selesai, Pak."
Pak Slamet tertawa kecil. Mungkin ia sedang menghitung untung dari ruko yang seharusnya susah disewakan. Rian juga merasa menang.
Mereka menandatangani kontrak. Satu lembar untuk Pak Slamet, satu lembar untuk Rian.
Setelah itu, Pak Slamet memberikan satu set kunci.
"Pemilik usaha lama namanya Surya Atmaja. Orangnya masih di sekitar sini. Kalau Mas mau beli rak dan mesin kasir, hubungi saja. Dia sudah capek urus barang-barang itu."
"Boleh minta nomornya, Pak?"
"Boleh."
Pak Slamet mengirim kontak itu lewat WhatsApp. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Rian.
"Semoga usahanya lancar, Mas Rian."
"Terima kasih, Pak."
Dalam hati, Rian menjawab: Jangan lancar-lancar amat, Pak. Nanti saya repot.
Pak Slamet pergi dengan wajah puas.
Rian berdiri sendirian di tengah toko kosong. Satu setengah miliar sudah keluar. Masih jauh dari 50 miliar, tapi setidaknya kerugian pertamanya mulai berbentuk.
Ia segera menghubungi nomor Pak Surya Atmaja.
Pria itu datang menjelang siang dengan motor bebek tua dan helm yang warnanya sudah pudar. Pak Surya berusia sekitar lima puluhan, tubuhnya kurus, dan matanya punya lelah orang yang pernah menjaga toko bertahun-tahun sampai akhirnya menyerah.
Begitu melihat Rian, ia tampak terkejut.
"Mas yang sewa ruko ini?"
"Iya, Pak. Rian."
"Masih muda sekali." Pak Surya menghela napas. "Saya dulu buka di sini delapan tahun. Biaya naik, pelanggan pindah, supplier makin ketat. Lama-lama saya tidak sanggup."
Rian bersikap hormat. "Saya dengar Bapak masih punya peralatan. Saya ingin beli semuanya."
"Semuanya?"
"Rak, kulkas, freezer, mesin kasir, troli, CCTV kalau masih ada. Saya ambil satu paket."
"Mas sudah cek kondisinya?"
"Sudah lihat sekilas."
"Banyak yang tua. Kulkas dua unit harus servis, mesin kasir kadang macet. Kalau Mas punya modal, lebih baik beli baru."
Rian nyaris menggeleng terlalu cepat. Beli baru? Tidak, Pak. Itu jalan menuju toko bagus.
"Saya justru ingin memakai yang ada dulu," kata Rian dengan wajah serius. "Biar cepat buka."
Pak Surya diam sebentar.
"Saya dulu mau lepas semua 500 juta. Tapi kalau Mas merasa kemahalan, kita bisa bicara."
"500 juta saya ambil."
Untuk kedua kalinya hari itu, seorang pria dewasa kehilangan ekspresi karena Rian terlalu cepat setuju.
"Mas, saya tidak mau menipu. Barang-barang ini memang banyak, tapi sudah bekas."
"Saya paham, Pak."
"Kalau nanti rusak, biaya perbaikan bisa lumayan."
Semakin bagus.
"Tidak apa-apa. Saya tanggung."
"Baiklah. Kalau begitu, saya buat daftar barangnya."
Mereka berjalan ke gudang belakang. Bau kardus lembap dan plastik lama langsung menyambut. Pak Surya menunjuk rak besi, timbangan digital, freezer, komputer kasir, CCTV, dan troli kecil. Rian tidak terlalu mengerti mana yang bagus. Yang penting semuanya terlihat cukup tua untuk membuat masa depan bisnis ini kelihatan suram.
Setelah transfer 500 juta selesai, Pak Surya duduk di kursi plastik dekat gudang.
"Delapan tahun, Mas," katanya pelan. "Ternyata usaha ritel tidak semudah yang orang lihat."
"Terima kasih sudah menjaga tempat ini sampai sekarang, Pak."
Pak Surya tersenyum pahit. "Kalau Mas benar-benar mau buka lagi, saya sarankan cari orang operasional yang patuh dan teliti. Dulu saya punya manajer, namanya Darmawan. Orangnya jujur, rajin, tapi..." Ia berhenti, mencari kata. "Terlalu nurut. Apa pun yang saya bilang, dia kerjakan. Jarang kasih pendapat sendiri."
Terlalu nurut. Apa pun yang disuruh, dikerjakan. Tidak banyak pendapat. Bukankah itu bahan baku sempurna untuk proyek rugi?
"Apa beliau masih bisa dihubungi?"
"Bisa. Sejak toko tutup, dia kerja serabutan. Kalau Mas butuh, saya panggilkan."
"Tolong, Pak."
Pak Surya mengangkat alis. "Sekarang?"
"Kalau bisa sekarang."
Tidak sampai satu jam kemudian, Darmawan datang. Pria pertengahan tiga puluhan itu berdiri rapi di depan Rian, seperti terbiasa menerima perintah sebelum orang lain selesai bicara.
"Selamat siang, Pak. Saya Darmawan."
Rian merasa senang sejak kalimat pertama. Aura orang yang kalau disuruh memindahkan gunung mungkin akan bertanya gunung mana dulu, bukan kenapa.
"Mas Dar, saya Rian. Mulai hari ini saya menyewa tempat ini dan membeli semua peralatannya. Saya ingin membuka supermarket lagi."
Darmawan menatap toko kosong itu. Wajahnya tidak mengejek, hanya kaget yang ia tekan kuat-kuat.
"Baik, Pak."
"Pak Surya bilang Mas Dar pernah menjadi manajer di sini."
"Iya, Pak. Delapan tahun saya ikut Pak Surya. Saya paham supplier lama, stok, kasir, jadwal karyawan, dan pelanggan sekitar."
Bagus. Terlalu bagus.
Rian mengangguk puas.
"Saya butuh orang yang bisa menjalankan operasional harian. Saya tidak akan terlalu banyak ikut teknis."
Darmawan langsung menegakkan punggung.
"Kalau Bapak percaya, saya akan jalankan sebaik mungkin."
"Gaji awal 15 juta per bulan. Kalau toko mulai berjalan, kita evaluasi naik."
Mata Darmawan melebar. Pak Surya yang duduk di samping juga menoleh cepat. Untuk manajer toko bekas yang bahkan belum buka, angka itu bukan kecil.
Darmawan menelan ludah. "Pak... itu terlalu besar."
Rian hampir tersenyum.
Terlalu besar adalah arah yang benar.
"Saya butuh komitmen penuh," katanya. "Dan saya tidak suka orang kerja setengah hati."
Darmawan langsung membungkuk. "Siap, Pak Bos."
Pak Bos. Panggilan itu agak aneh di telinga, tapi tidak buruk.
Ia membuka tas kecil, mengeluarkan kartu debit hitam polos yang baru saja muncul setelah sistem menyetujui alokasi dana operasional.
[Kartu Operasional Garuda Mart. Saldo alokasi: 2 miliar Rupiah.]
Rian menyerahkan kartu itu kepada Darmawan.
"Ini, Pak?"
"Kartu operasional. Isinya 2 miliar. Untuk bersih-bersih, servis alat, beli stok awal, bayar vendor, dan pembukaan."
Tangan Darmawan benar-benar bergetar ketika menerima kartu itu. Pak Surya sampai berdiri.
"Mas Rian, 2 miliar untuk toko sekecil ini?"
"Kurang?"
"Bukan kurang. Ini..." Pak Surya tampak kehabisan kata. "Ini sangat besar."
Rian menatap Darmawan.
"Mas Dar, mulai besok, semua operasional toko ini saya serahkan ke Mas. Saya cuma punya satu permintaan."
Darmawan menggenggam kartu itu dengan kedua tangan.
"Apa itu, Pak Bos?"
Rian tersenyum tipis.
"Jangan terlalu hemat."
Ruangan kosong itu mendadak sunyi. Di luar, suara motor lewat terdengar jauh.
Darmawan menunduk, menatap kartu 2 miliar di tangannya, lalu menatap Rian lagi.
"Siap, Pak Bos," katanya pelan, suaranya masih bergetar. "Saya akan menjalankan amanah ini sebaik-baiknya."
Rian mengangguk puas.
Di matanya, toko bangkrut ini akhirnya punya manajer, alat tua, kontrak mahal, dan dana operasional yang siap dibakar.
Di mata Darmawan, seorang bos muda baru saja mempercayakan masa depan toko kepadanya tanpa ragu.
Mereka berdiri di tempat yang sama.
Melihat mimpi berbeda.