NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Labirin Tulang dan Bayangan

​Gelap gulita. Sejak langkah pertama mereka menuruni anak tangga stasiun kereta bawah tanah, cahaya matahari pagi seolah terpotong paksa oleh tabir tak kasat mata. Tidak ada satu pun lampu darurat yang menyala. Bau busuk daging yang membusuk, bercampur dengan aroma besi dari genangan darah dan air kotor, menusuk hidung dengan sangat kuat.

​Yoo Ji-Ah harus menutup separuh wajahnya dengan kerah kemeja. Tangan kanannya menggenggam erat gagang Pedang Panjang Besi Hitam-nya, sementara tangan kirinya menahan tubuh Ji-Hye agar tidak merosot dari punggungnya.

​Kiik... Kiik... Kihekkk...

​Kekehan serak dan melengking itu kembali bergema, memantul-mantul di dinding ubin stasiun yang retak. Suaranya terdengar seperti kuku tajam yang digesekkan ke atas papan tulis.

​Ji-Ah menyipitkan mata, berusaha melihat menembus kegelapan absolut tersebut, namun usahanya sia-sia. Matanya belum beradaptasi.

​"Do-Yoon, aku buta sama sekali di sini," bisiknya tegang, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak memicu serangan mendadak. "Haruskah kita menyalakan obor atau semacamnya?"

​"Jangan," jawab Do-Yoon pelan dari depannya. Suara langkah sepatunya terdengar sangat tenang, tidak ragu sedikit pun. "Cahaya di wilayah kegelapan hanya akan menjadikan kita target panah yang paling terang. Tetaplah di belakangku. Jangan gunakan matamu, gunakan aliran energi anginmu untuk merasakan pergerakan udara di sekitarmu."

​Bagi Ji-Ah, kegelapan ini adalah teror. Namun bagi Han Do-Yoon, stasiun bawah tanah ini seterang siang hari.

​Dengan Mata Kehampaan yang aktif secara pasif, dunia di depan Do-Yoon terpetakan dalam bentuk garis-garis energi abu-abu dan merah. Di matanya, langit-langit terowongan dan pilar-pilar beton peron tidaklah kosong.

​Ada puluhan, bahkan ratusan sosok bungkuk yang merayap di sana layaknya cicak raksasa. Mereka adalah Pemakan Mayat, namun dengan wujud yang lebih mengerikan dari yang mereka temui semalam. Daging mereka membusuk hingga menampakkan tulang rusuk, dan rongga mata mereka menyala dengan api hijau yang redup.

​Mayat Hidup. Pasukan yang dikendalikan oleh sihir.

​Dan di ujung peron, berdiri diam mengawasi lautan monster tersebut, adalah sesosok makhluk berjubah hitam compang-camping. Makhluk itu melayang beberapa sentimeter di atas lantai, tangan kerangkanya menggenggam sebuah tongkat yang terbuat dari susunan tulang belakang manusia dewasa.

​[Peringatan! Anda telah memasuki wilayah kekuasaan 'Pemanggil Tulang' (Tingkat D+)!]

[Misi Sampingan: Pembersihan Terowongan Kematian]

Keterangan: Sarang Mayat Hidup telah terbentuk di jalur Kereta Bawah Tanah Seoul. Musnahkan pusat kendali sarang tersebut untuk membuka jalan.

Hadiah: 1.000 Koin Emas, Buku Keahlian (Acak).

​"Kau membawa dua camilan segar untukku, eh?" Suara serak itu tiba-tiba bergema, bukan di telinga mereka, melainkan langsung di dalam pikiran. Pemanggil Tulang itu berbicara menggunakan telepati tingkat rendah. "Daging wanita dan anak kecil itu... akan menjadi hidangan pembuka yang manis untuk raja kita."

​Do-Yoon menghentikan langkahnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sama sekali tidak berniat mencabut senjatanya.

​"Raja, ya?" Do-Yoon tersenyum mengejek. "Tikus tanah yang bersembunyi di kegelapan kini berani menyebut dirinya raja? Kalian bahkan tidak pantas menjadi keset di depan pintu rumahku."

​Provokasi itu sukses. Mata hijau sang Pemanggil Tulang menyala terang karena amarah. Makhluk itu mengangkat tongkat tulang belakangnya dan menghentakkannya ke udara.

​"CABIK MEREKA!" raung makhluk itu di dalam kepala Do-Yoon.

​Serentak, ratusan Mayat Hidup yang merayap di dinding dan langit-langit melepaskan cengkeraman mereka, menjatuhkan diri layaknya hujan daging busuk ke arah Do-Yoon dan Ji-Ah. Cakar-cakar berkarat dan gigi kuning berniat merobek mereka menjadi kepingan daging.

​"Do-Yoon! Di atas!" jerit Ji-Ah, merasakan perubahan drastis aliran udara di atas kepalanya. Ia bersiap mengayunkan pedangnya membabi buta.

​"Diam di tempatmu," perintah Do-Yoon mutlak.

​Sang Pewaris Ketiadaan menatap hujan monster itu dengan mata kelamnya. Ia merendahkan postur tubuhnya, lalu menginjak genangan air kotor di lantai stasiun dengan sangat kuat.

​"Kalian pikir kegelapan adalah sekutu kalian?" gumam Do-Yoon. "Kalian salah. Kegelapan adalah pelayanku."

​Energi Sihir hitam pekat meledak dari tubuh Do-Yoon, menyebar melalui bayangan yang menyelimuti seluruh ruangan tersebut. Tiba-tiba, genangan bayangan di lantai, di dinding, dan di pilar-pilar beton menggeliat hidup.

​"Keahlian Kelas: Manipulasi Bayangan (Tingkat 1)."

​JLEB! JLEB! JLEB! CRAT!

​Ratusan paku dan tombak berwarna hitam pekat yang terbuat murni dari bayangan padat melesat keluar dari lantai dan dinding secara serentak. Ujung-ujungnya setajam silet, menusuk ke atas dengan kecepatan peluru.

​Makhluk-makhluk Mayat Hidup yang sedang melayang di udara jatuh tepat ke atas hutan tombak bayangan tersebut. Tubuh mereka tertusuk tembus dari dada hingga ke punggung. Suara tulang patah dan daging terkoyak mendominasi keheningan stasiun. Darah busuk berhamburan layaknya hujan badai.

​Hanya dalam kurun waktu tiga detik, lebih dari seratus Mayat Hidup tewas tergantung di ujung-ujung tombak bayangan, tidak bisa bergerak seinci pun.

​Yoo Ji-Ah yang berdiri di belakang Do-Yoon terbelalak kaget. Ia tidak bisa melihat wujud serangannya dengan jelas, namun suara rintihan monster yang mati serentak di sekelilingnya sudah cukup untuk menjelaskan betapa mengerikannya pembantaian sepihak tersebut.

​[Anda telah melakukan Pembantaian Massal mutlak!]

[Tingkat Anda telah naik!]

[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' menahan napas! Ia terpesona oleh kendali energi Anda!]

[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' merasa ngeri sekaligus kagum dengan kedalaman kegelapan Anda!]

​Di ujung peron, sang Pemanggil Tulang bergetar hebat. Ia melayang mundur, rasa takut yang seharusnya tidak dimiliki oleh makhluk undead mulai merayapi sisa-sisa jiwanya. Pasukan kebanggaannya musnah hanya dengan satu hentakan kaki manusia itu.

​"S-siapa kau sebenarnya?!" teriak makhluk itu panik.

​Pemanggil Tulang itu memutar tongkatnya, merapal mantra sihir terkuatnya. Tengkorak raksasa berwarna hijau yang terbuat dari gas beracun dan energi kematian terbentuk di udara, lalu melesat dengan raungan mengerikan ke arah Do-Yoon.

​Kutukan Kebusukan. Sihir yang akan melelehkan daging siapa saja yang disentuhnya dalam hitungan detik.

​Namun, Do-Yoon tidak menghindar. Ia berjalan santai menyongsong tengkorak hijau raksasa itu. Tangan kanannya terulur ke depan, diselimuti oleh aura hitam yang berputar seperti pusaran air kecil.

​"Trik murahan," cibir Do-Yoon.

​Saat tengkorak gas beracun itu menghantam telapak tangannya, tidak ada ledakan. Tidak ada daging yang meleleh. Aura hitam di tangan Do-Yoon bertindak seperti lubang hitam yang rakus, menyedot seluruh energi kutukan itu hingga tandas tanpa sisa, meninggalkan ruang hampa yang sunyi.

​Mata hijau Pemanggil Tulang membelalak hingga nyaris keluar dari rongganya. Sihir absolutnya ditelan mentah-mentah!

​Sebelum makhluk itu bisa merapal mantra pelarian, Do-Yoon menggunakan Langkah Petir Hitam. Kilatan listrik kelam menyambar udara, dan dalam sepersekian detik, Do-Yoon telah berdiri tepat di belakang Pemanggil Tulang tersebut.

​Pedang Bilah Penebas Malam sudah berada di tangannya, terbentuk murni dari bayangan kematian.

​"Kembalilah ke tanah," bisik Do-Yoon.

​SYRIIING!

​Satu tebasan horizontal yang anggun dan tanpa cela memenggal kepala Pemanggil Tulang. Kepala berjubah itu terlempar ke udara, sementara tubuh kerangkanya hancur menjadi debu yang berserakan di atas ubin peron.

​[Anda telah mengalahkan Pemimpin Sarang: Pemanggil Tulang (Tingkat D+)!]

[Misi Sampingan diselesaikan!]

[Anda mendapatkan 1.000 Koin Emas.]

[Anda mendapatkan Rampasan: Buku Keahlian 'Penglihatan Malam'.]

[Tingkat Anda telah naik!]

[Tingkat Anda saat ini adalah 18.]

​Do-Yoon mengibaskan pedang bayangannya hingga pudar kembali ke udara. Ia menatap tumpukan debu di bawah kakinya dan menendang tongkat tulang belakang yang tersisa hingga hancur.

​Sebuah buku bersampul kulit hitam dengan lambang mata bercahaya jatuh dari tumpukan debu tersebut. Do-Yoon memungutnya tanpa minat. Itu adalah Buku Keahlian kelas menengah. Sangat berharga di pasar, tapi ia sudah memiliki Mata Kehampaan yang beribu kali lipat lebih superior.

​Do-Yoon berbalik dan berjalan menghampiri Ji-Ah yang masih membeku di tempatnya.

​"Tangkap," ucap Do-Yoon santai sambil melemparkan buku tersebut ke dada gadis itu.

​Ji-Ah menangkapnya dengan kikuk. "Apa ini?"

​"Buku keahlian. Robek halaman pertamanya dengan niat untuk mempelajarinya, maka kau tidak akan pernah buta di dalam kegelapan lagi," jelas Do-Yoon.

​Ji-Ah mengikuti instruksi itu. Ia merobek halaman pertama. Seketika, buku itu hancur menjadi serpihan cahaya yang masuk ke kedua matanya. Sensasi dingin yang menyegarkan menyapu pupilnya. Saat ia membuka mata, terowongan kereta bawah tanah yang tadinya gelap gulita kini terlihat jelas dalam nuansa warna kebiruan.

​Matanya langsung disuguhi pemandangan ratusan mayat monster yang tergantung mengenaskan di atas tombak bayangan tajam. Ji-Ah menelan ludah, menatap Do-Yoon dengan rasa takjub yang campur aduk dengan kengerian.

​Pria ini... adalah perwujudan dari bencana itu sendiri.

​"Ayo jalan. Jalurnya sudah bersih," kata Do-Yoon, mengabaikan tatapan gadis itu, lalu mulai berjalan menyusuri rel kereta bawah tanah yang panjang menuju ke utara.

​Mereka berjalan menyusuri terowongan dalam keheningan selama kurang lebih tiga puluh menit. Beberapa tikus mutan tingkat rendah berlarian menjauh, terlalu takut pada aura pembunuh yang tertinggal di tubuh Do-Yoon untuk berani mendekat.

​Akhirnya, mereka tiba di Stasiun Ichon. Papan nama stasiun yang berkarat menggantung di atas peron. Di atas mereka, tepat di permukaan tanah, adalah letak Museum Nasional Korea.

​Namun, jalan menuju anak tangga stasiun itu tertutup rapat.

​Bukan oleh reruntuhan beton, melainkan oleh sulur-sulur raksasa berwarna merah daging yang saling melilit, menutupi seluruh akses menuju permukaan. Sulur-sulur itu tebalnya seukuran batang pohon beringin kuno, berdenyut pelan seolah memompa darah layaknya jantung makhluk hidup.

​"Apa... apa itu?" tanya Ji-Ah ngeri, mencium bau tanah dan darah yang sangat kental dari sulur tersebut.

​Mata kelam Do-Yoon memancarkan kilau antisipasi yang jarang terlihat. Senyum buas perlahan mengembang di wajahnya.

​"Akar Darah pelindung pusaka," gumam Do-Yoon. "Sepertinya artefak yang kucari telah sepenuhnya bangkit."

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!