NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Rolls-Royce Emas

Hari ketujuh, Jessica Mahendra akhirnya diizinkan pulang.

Pagi itu, udara di depan RS Sejahtera terasa lebih cerah daripada biasanya. Mobil-mobil keluar masuk area lobi, keluarga pasien membawa tas, bunga, dan wajah lega. Jessica duduk di kursi roda dengan jaket tipis di bahunya. Wajahnya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi matanya sudah kembali hidup.

Mama Ayu berdiri di sampingnya sambil memeriksa tas obat.

"Pelan-pelan. Jangan sampai jahitannya tertarik," katanya, lalu melirik Hendry. "Kamu dengar? Jangan asal angkat seperti malam itu."

Hendry tidak membantah. "Saya dengar."

Jessica menatap ibunya. "Ma, Hendry yang membawaku tepat waktu."

Mama Ayu terdiam sesaat. Ia tidak bisa menyangkal itu. Tetapi kebiasaannya menekan Hendry belum hilang begitu saja.

"Aku tahu. Tapi hati-hati tetap perlu."

Di sisi lain lobi, Bagus berdiri memegang dua tas besar. Salah satunya berisi pakaian Jessica, satu lagi entah bagaimana sudah berisi camilan yang ia beli dari kantin rumah sakit.

Jessica meliriknya dan tersenyum kecil. "Mas Bagus, itu tas siapa?"

"Tas Bu Jessica yang kiri. Yang kanan persediaan darurat."

"Darurat apa?"

"Kalau lapar."

Hendry menatapnya. Bagus langsung berdiri lebih tegak. "Saya jaga di mobil saja, Pak Hendry."

Sebelum mereka bergerak ke pintu keluar, suara klakson pendek terdengar dari halaman depan.

Sebuah Bentley hitam mengilap berhenti tepat di depan lobi. Mobil itu sengaja diparkir sedikit miring, cukup mencolok untuk membuat beberapa orang menoleh. Pintu pengemudi terbuka, dan Yanto Mulyadi turun dengan kacamata hitam, kemeja mahal, serta senyum yang seperti dipasang untuk penonton.

"Jessica!" Ia berjalan cepat membawa buket bunga. "Syukurlah kamu sudah boleh pulang."

Mama Ayu langsung cerah. "Yanto, kamu datang?"

"Tentu, Tante. Saya sudah siapkan mobil yang nyaman. Suspensinya lembut, cocok untuk pasien pascaoperasi." Yanto melirik Hendry. "Daripada naik mobil sembarangan."

Beberapa keluarga pasien di sekitar mulai berbisik.

"Bentley ya?"

"Kaya sekali."

"Itu siapa? Pacarnya?"

Wajah Mama Ayu tampak puas. Setelah beberapa hari dibuat bingung oleh Hendry, kemunculan Yanto dengan mobil mahal membuatnya seperti menemukan tanah pijakan lama: uang yang terlihat, gengsi yang bisa dipamerkan.

"Hendry," katanya, "kamu bantu bawa barang saja. Jessica biar naik mobil Yanto. Lebih nyaman."

Jessica mengerutkan kening. "Ma, aku pulang dengan Hendry."

Yanto tersenyum seolah terluka, tetapi matanya menantang Hendry. "Tidak apa-apa, Jessica. Aku hanya ingin membantu. Lagipula, mobilku lebih luas dan aman."

Hendry menatap Bentley itu.

Mobil bagus. Mahal. Cukup untuk membuat Mama Ayu merasa punya wajah di depan orang.

Tetapi pagi ini, Yanto memilih panggung yang salah.

Ponsel Hendry bergetar singkat. Pesan dari Budiman: `Mobil sudah tiba di gerbang utama.`

Hendry memasukkan kembali ponselnya.

"Terima kasih, Pak Yanto," katanya tenang. "Tapi istri saya pulang dengan saya."

Yanto tertawa pelan. "Dengan apa? Mobil pinjaman rumah sakit? Atau mobil Pak Budiman yang kau pakai sebagai sopir?"

Mama Ayu menyikut Jessica pelan. "Jangan keras kepala. Orang sudah niat baik."

Jessica menatap Hendry. Ada sedikit kekhawatiran di matanya. Ia tahu ibunya dan Yanto akan menjadikan apa pun sebagai alasan menghina.

Hendry hanya berkata, "Tunggu sebentar."

Suara mesin halus terdengar dari arah gerbang.

Suara itu tidak kasar dan tidak memamerkan tenaga. Jalan di depan lobi mendadak terasa memberi ruang.

Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam memasuki halaman rumah sakit. Di bagian depan, patung Spirit of Ecstasy berkilau di bawah matahari pagi. Grille-nya tegak seperti pintu istana. Plat nomornya rendah dan bersih. Di belakangnya, satu Alphard hitam mengikuti seperti mobil pengawal.

Yang paling menarik perhatian adalah emblem emas kecil di sisi depan.

Orang-orang yang tadi mengagumi Bentley langsung diam.

"Itu... Rolls-Royce?"

"Gold emblem?"

"Siapa pasiennya?"

Bentley Yanto yang tadi tampak menguasai lobi mendadak terlihat seperti mobil biasa yang salah parkir.

Pintu Rolls-Royce terbuka. Seorang sopir berseragam turun, membungkuk kepada Hendry, lalu berkata dengan suara jelas,

"Pak Hendry, mobil sudah siap."

Mama Ayu membeku.

Yanto melepas kacamata hitamnya.

Jessica juga terdiam.

Hendry berjalan ke sisi kursi roda Jessica. "Kita pulang."

"Ini..." Jessica berbisik. "Mobil Pak Budiman?"

"Ya. Aku pinjam."

Jawaban itu cukup masuk akal untuk tidak membuka rahasia, tetapi cukup tajam untuk membuat Yanto kehilangan kata-kata.

Yanto memaksakan senyum. "Mobil pinjaman tetap mobil pinjaman. Jangan terlalu bangga."

Hendry menoleh padanya.

"Jangan pikir punya Bentley sudah hebat."

Kalimat itu tidak keras. Tetapi di halaman RS Sejahtera yang penuh mata, ia terdengar seperti tamparan.

Wajah Yanto berubah merah.

Mama Ayu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ingin membela Yanto, tetapi Rolls-Royce di depan matanya terlalu nyata. Bahkan ia yang tidak mengerti detail mobil tahu, mobil itu berada di kelas yang berbeda.

Bagus membuka pintu belakang Rolls-Royce dengan hati-hati. Hendry membantu Jessica masuk pelan, memastikan posisi duduknya tidak menarik luka operasi. Gerakannya hati-hati, lebih meyakinkan daripada semua kata Yanto tentang suspensi lembut.

Jessica melihat wajah Hendry dari dekat.

"Kamu makin banyak rahasia," katanya pelan.

"Aku juga makin banyak alasan untuk tidak kalah," jawab Hendry.

Jessica tidak membalas. Tetapi saat Hendry hendak menarik tangan, ia menahannya sebentar.

Hanya sebentar.

Cukup untuk membuat mata Yanto di luar semakin gelap.

Perjalanan pulang ke rumah Mahendra berlangsung sunyi. Mama Ayu duduk di kursi depan Alphard bersama sebagian barang karena ia masih terlalu canggung untuk satu mobil dengan Hendry di Rolls-Royce. Bagus ikut di mobil belakang, menjaga jarak.

Di dalam Rolls-Royce, Jessica menatap jendela. Kota Biru bergerak pelan di luar kaca gelap.

"Aku belum pernah naik mobil seperti ini," katanya.

"Aku juga jarang."

"Jarang berarti pernah."

Hendry tersenyum tipis. "Sebagai sopir."

Jessica meliriknya. "Kamu benar-benar akan memakai alasan itu terus?"

"Selama masih berguna."

Ia hampir tertawa, tetapi menahan perutnya. "Kamu menyebalkan."

Ketika mereka tiba di rumah Mahendra, Daun sudah menunggu di teras bersama pengasuh. Gadis kecil itu langsung berlari, tetapi berhenti mendadak ketika melihat Jessica turun pelan.

"Mama!"

"Pelan, sayang," kata Jessica sambil membuka tangan.

Daun memeluknya hati-hati, lalu menoleh ke Hendry. Matanya berbinar. "Papa pulang?"

"Papa pulang."

Daun memegang tangan Hendry erat-erat, seolah takut ia menghilang lagi. Hendry berjongkok dan mencium pipinya.

"Hari ini Daun sekolah?"

Daun mengangguk, tetapi wajahnya berubah murung.

Hendry menangkap perubahan itu. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Jawaban anak kecil yang terlalu cepat biasanya berarti ada sesuatu.

Sore harinya, setelah Jessica beristirahat, Hendry mengantar Daun ke TK untuk mengambil buku gambar yang tertinggal. Di halaman sekolah, beberapa anak masih menunggu dijemput. Daun berjalan sambil menggenggam tangan Hendry, lebih diam dari biasanya.

Di dekat ayunan, seorang anak laki-laki menunjuk Daun.

"Itu Daun. Katanya rumahnya kecil seperti gubuk. Mamanya sakit, papanya tidak kerja."

Anak lain tertawa. "Papanya cuma numpang di rumah Nenek!"

Daun menunduk. Genggamannya pada tangan Hendry menguat.

Hendry berhenti.

Ia tidak marah pada anak-anak itu. Anak-anak hanya mengulang kata-kata orang dewasa di rumah mereka. Tetapi melihat Daun menahan air mata membuat sesuatu di dalam dadanya kembali dingin.

"Daun," katanya lembut, "lihat Papa."

Daun mendongak. Matanya basah. "Daun tidak mau tinggal di gubuk."

Hendry mengusap air mata di pipinya.

"Rumah kita bukan gubuk."

"Tapi mereka bilang begitu."

"Kalau begitu kita buktikan mereka salah."

Daun mengerjap. "Caranya?"

Hendry menggendong putrinya. Di kejauhan, matahari sore menyentuh kaca gedung-gedung Kota Biru. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa berat membayangkan menggunakan kekayaan yang selama ini ia tolak.

"Sabar ya, sayang," bisiknya. "Sebentar lagi Papa akan kasih rumah yang paling bagus se-Kota Biru."

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!