Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suara gemericik air hujan yang menetes dari bocoran atap seng menjadi satu-satunya irama yang menemani malam-malam Kyra. Di balik bilik bambu yang lembap dan berbau tanah basah, gadis itu meringkuk di sudut kamar sempitnya.
Tangan Kyra yang kasar memeluk erat kedua lutut, menahan gigilan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tidak ada selimut tebal atau tempat tidur empuk di tempat ini, hanya ada selembar tikar pandan tua yang sudah robek di sana-sini.
Sejak mata indahnya pertama kali terbuka menatap dunia, dunia tidak pernah menyambut Kyra dengan kehangatan. Kampung tempat ia dibesarkan terletak jauh di pedalaman, terisolasi dari peradaban kota yang riuh. Di rumah panggung sederhana milik Paman Dion dan Bibi Lista inilah Kyra menghabiskan seluruh ingatannya tentang kehidupan.
Bagi anak-anak lain di desa, masa kecil adalah tentang berlarian di pematang sawah, tertawa bersama teman sebaya dan pulang ke rumah untuk menyantap masakan hangat seorang Ibu. Namun bagi Kyra, masa kecilnya adalah lembaran trauma yang tak bertepi, sejak kecil, tugas-tugas berat sudah dibebankan ke pundaknya, seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci bahkan bekerja.
"Kyra! Bangun, anak malas!" teriakan lengking Bibi Lista memecah kesunyian subuh yang masih pekat.
Belum sempat Kyra mengumpulkan kesadarannya, pintu kamar terbuka dengan keras. Bibi Lista berdiri di ambang pintu dengan wajah berkerut penuh amarah, menggenggam sebilah sapu lidi dan tanpa ragu, ujung sapu itu mendarat di betis Kyra yang kurus dan meninggalkan rasa panas yang menyengat.
"Ambil air di sumur! Kayu bakar di dapur sudah habis! Kalau sebelum matahari terbit pekerjaanmu belum selesai, tidak usah bermimpi bisa menyentuh makanan hari ini!" bentak wanita itu tanpa belas kasihan.
Kyra meringis, menahan rasa perih yang teramat sangat. Dengan tubuh gemetar, ia segera bangkit dan mengangguk pelan. "Iya, Bi...," jawabnya lirih, hampir tak terdengar.
Kyra melangkah keluar menuju belakang rumah dengan ember seng yang berat, udara pagi yang menusuk kulit tak dihiraukannya. Menimba air dari sumur tua setinggi puluhan meter bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang anak perempuan, namun ketakutan akan hukuman jauh lebih memotivasi fisiknya yang rapuh untuk terus bergerak.
Setiap kali Kyra bertanya dalam hati mengapa perlakuan yang diterimanya begitu berbeda dengan orang lain, ia selalu teringat pada satu alasan yang kerap diucapkan Paman Dion dan Bibi Lista. Orang tua Kyra sangat sibuk bekerja di kota besar, mereka menyerahkan Kyra kepada pasangan suami istri tersebut, yang tak lain adalah orang kepercayaan keluarga agar Kyra bisa tumbuh dengan baik.
Namun, harapan polos seorang anak selalu dipatahkan oleh kenyataan. Bertahun-tahun berlalu, tak pernah sekalipun orang tua kandungnya datang berkunjung. Tidak ada kabar, tidak ada surat, bahkan sekadar foto wajah ayah dan ibunya pun Kyra tidak pernah tahu. Yang ia tahu hanyalah bayangan samar bahwa mereka adalah orang terpandang, berpendidikan dan bergelimang harta di luar sana.
Setiap kali malam tiba dan siksaan fisik maupun verbal reda sejenak, Kyra sering menatap langit-langit kamarnya yang kelam. Di dalam benaknya, ia terus bertanya dengan nada keputusasaan yang membendung rasa sakit yaitu tentang siapa Ayah dan Ibunya, lalu alasan mereka membiarkan Kyra hidup di tempat bak neraka dan tidak pernah datang untuk melihat Kyra.
Seiring berjalannya waktu, dan bertambahnya usia Kyra tidak membawa perubahan nasib bagi gadis itu. Dimana, beban hidupnya justru bertambah berkali-kali lipat, Paman Dion yang merupakan kepala rumah tangga seharusnya menjadi penopang keluarga, tetapi ia justru mengundurkan diri dari segala bentuk tanggung jawab.
Paman Dion adalah seorang pengangguran yang menghabiskan waktunya di lapak judi tepi desa, tabiat buruknya membuat perekonomian keluarga hancur berantakan. Jika uang simpanan habis, Paman Dion tidak ragu untuk melampiaskan kekesalannya pada Kyra.
"Mana uang hasil jualanmu hari ini?" bentak Paman Dion pada suatu sore, pria itu berdiri di depan pintu dapur dengan mata merah dan bau alkohol yang menyengat.
Kyra yang baru saja pulang dari pasar desa menyerahkan beberapa lembar uang yang sudah kusam dengan tangan gemetar, "Cuma dapat segini, Paman. Hari ini dagangan sayur sedang sepi," jawabnya.
Paman Dion menyambar uang itu, menghitungnya sejenak, lalu mendengus kasar. "Hanya segini? Kamu mau membuat Paman mati kelaparan, Hah!" Tanpa peringatan, satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Kyra, membuatnya tersungkur menghantam meja kayu.
Bibi Lista yang menyaksikan kejadian itu dari ambang pintu sama sekali tidak melerai, ia justru bersedekah kata-kata makian dan menyalahkan Kyra yang dianggap kurang gigih mencari uang untuk menopang kebutuhan dapur mereka. Bagi kedua orang tua angkatnya itu, Kyra tidak lebih dari pekerja paksa yang membiayai hidup mereka.
Penyiksaan yang datang bertubi-tubi dari hari ke hari perlahan menghancurkan kesehatan mental Kyra. Bekas luka memar di kulitnya mungkin bisa sembuh dalam hitungan minggu, tetapi rasa sakit di jiwanya mengendap menjadi trauma yang teramat dalam.
Pernah di suatu malam yang pekat, saat dingin kembali merasuk ke dalam tulang dan rasa sakit akibat pukulan Paman Dion belum reda, Kyra berjalan pelan menuju sungai di batas desa. Langkah kakinya berat, dipenuhi kehampaan yang tak bertepi.
Kyra berdiri di tepi jurang dangkal yang mengalirkan air sungai deras di bawahnya. Kyra memejamkan mata, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang kusam.
"Jika aku melompat, apakah rasa sakit ini akan berakhir?" gumam Kyra.
Keinginan untuk mengakhiri hidup bukan lagi sekadar terlintas, melainkan menjadi bayangan hangat yang terus menggoda benaknya setiap kali rasa putus asa memuncak.
Namun, ketakutan akan ketidakpastian dan sepercik harapan kecil bahwa suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan orang tua kandungnya membuat jemari Kyra kembali mencengkeram rumput liar di tepi sungai. Ia mengurungkan niatnya, kembali melangkah pulang ke rumah panggung yang menyerupai neraka itu dengan air mata yang mengering di pipi.
Saat usia Kyra genap 18 tahun, sebuah kebenaran pahit terungkap dan meremukkan sisa-sisa harapan yang selama ini ia genggam. Pagi itu, sebuah piring pecah di dapur karena ketidaksengajaan Kyra yang kelelahan setelah bekerja semalaman.
Bibi Lista murka besar, wanita itu mendekati Kyra dan menjambak rambut panjangnya yang kusam hingga kepala Kyra terdongak ke atas.
"Dasar anak pembawa sial! Tidak ada satupun pekerjaan yang bisa kamu lakukan dengan benar!" jerit Bibi Lista meluapkan amarahnya.
"Maaf, Bibi... Aku tidak sengaja...," tangis Kyra memohon ampunan.
"Maaf? Kamu pikir maafmu bisa mengganti piring ini? Dari dulu sampai sekarang kamu memang hanya membuat sial!" Bibi Lista mendengus penuh kebencian, lalu melepaskan jambakannya dengan kasar hingga Kyra terjerembap.
"Kamu mau tahu kenapa orang tuamu tidak pernah datang ke tempat ini?" lanjut Bibi Lista dengan senyum sinis yang menggidikkan.
"Mereka tidak sibuk! Mereka membuangmu karena kau itu pembawa sial!" bentak Bibi Lista.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧