Saat kamu datang, hatiku masih penuh bertahta nama Carissa. Gadis cantik impian setiap pria, punya karir mandiri dan pintar.
Awalnya aku melihatmu sebagai gadis yang urakan, pecicilan, cerewet dan sangat menyebalkan dan bukan kriteria ku.
Namun..kisah kita membawaku pada jiwa yang lain. Kamu adalah wanita yang berbeda dari apa yang aku lihat. Kamu hanya bersembunyi pada kesakitan dan keluguan diri.
Kamu dan Carissa sungguh sangat berbeda. Perlahan nama Carissa menghilang dan berganti dengan namamu. Teriring doa terucap namamu. Dalam detak nadiku, ada dirimu
Love by Lettu Arben and Nadira Anjani.
Bersama dalam cinta Abrian dan Ariela ( Lilan )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Perjuangan seorang ayah.
Brian dan Shisi masuk ke asrama, berkas pernikahan mereka berdua telah selesai dan tinggal menunggu akad nikah saja. Lilan pun sudah resmi di lamar Hilman.
Sebenarnya Brian tidak masalah jika Lilan mau melangkahi dirinya untuk menikah lebih dulu. Tapi begitu bersama dengan Shisi, ia berubah pikiran.
"Ini Shisi atur di kamar saja ya bang?" tanya Shisi sambil menata atribut Brian di dalam lemari kamar.
"Iya, aturlah sesuka hatimu" Brian memeluk Shisi dari belakang dan mencium tengkuknya yang wangi."
"Sabar bang, nikahnya nggak lama lagi" cegah Shisi yang sebenarnya tau keinginan Brian.
"Abang tahan dek, tapi tetap ada yang protes" bujuk Brian pada Shisi.
"Sabar Abang!!" Shisi melepaskan pelukan Brian dan segera keluar kamar.
"Dek..sini aja sama Abang!"
"Nggak mau" tolak Shisi sambil berlari. Brian pun mengejar Shisi.
"Aaww.." Mereka berdua bercanda di dalam rumah sampai Shisi terpeleset di kamar mandi. Brian bisa menangkap Shisi.
Suara jantung mereka bergemuruh. Kedua mata itu saling menatap. Brian mendekatkan bibirnya pada bibir Shisi.
"Kita ke kamar ya?" ajak Brian dengan suara tercekat.
Shisi mengangguk dengan sedikit menyimpan wajah ragu.
***
Arben mondar mandir di ruang tengah menunggu Dira yang sedang mencuci piring sehabis makan malam. Sudah lewat dari satu bulan bahkan hampir dua bulan sejak kejadian itu. Terus terang Arben menginginkan Dira lagi, tapi ia sedikit ragu bagaimana cara mengajak istrinya lagi. Sebab setiap tidur saja jika Arben salah memeluknya pasti Dira akan ketakutan.
"Abang kenapa?" tanya Dira melihat Arben yang tidak seperti biasanya.
"Kenapa apanya?"
"Abang kelihatan sedih. Apa ada masalah di kantor?"
"Nggak ada, Abang kangen kamu aja" jawab Arben jujur.
"Dira tetap sama Abang disini. Kenapa masih kangen juga?"
Arben tidak menjawabnya tapi matanya mengarah pada box bayi di dalam kamarnya. Rasa sedih, bingung, dan kecewa beradu menjadi satu.
"Abang sudah pengen ada anak di tengah kita ya?"
"Setiap orang yang sudah menikah pasti pengen dek. Punya anak dan istri itu jadi semangat untuk cari rejeki. Juga suatu kebanggaan untuk Abang kalau sudah punya anak" jawab Arben sambil terus menatap bola mata Dira.
"Insya Allah dia segera hadir di tengah kita ya Bang. Semoga Dira segera hamil"
Mendengar ucapan polos istrinya, Arben mendesah, bingung harus mulai bicara darimana.
"Dek, bagaimana kita bisa punya anak kalau kamu setakut itu sama Abang. Ya Abang sadar, Abang yang salah kemarin sudah kasar sama kamu. Tapi kalau kita nggak melakukannya lagi, nggak akan bisa punya anak dek"
Dira melihat sekilas wajah suaminya, masih ada rasa ragu dan trauma dengan perlakuan Arben padanya. Namun istrinya dengan polos masih bisa bersikap ketus terhadapnya.
"Tapi Dira nggak mau bang"
Arben membuang nafasnya yang terasa berat dan sesak, menyabarkan hati membujuk istrinya. Entah kenapa sejak berdekatan dengan Dira ia seakan bisa menyingkirkan bayangan Carissa dari dalam hatinya.
"Ya sudah kita ke kamar aja yuk. Main Ludo!!" ajak Arben.
"Ayo, siapa takut. Apa hukumannya" tanya Dira.
Arben menyeringai dengan senyum licik.
#
"Bang, Dira nggak mau lagi. Nanti Dira nggak pakai apa-apa nih" protes Dira sambil menutupi badannya dengan selimut.
Arben menahan senyumnya karena berhasil mengerjai istrinya.
"Abang temani nggak pakai baju" Arben melepas kaosnya lalu mulai bermain lagi.
***
Shisi menangis di bawah selimutnya. Brian menjadi merasa bersalah karena membuat Shisi menangis.
"Maaf sayang, Abang mau cuma Abang saja yang tau semuanya" kata Brian mengusap pipi Shisi yang basah.
"Tinggal satu bulan lagi bang, kenapa Abang nggak sabar" Shisi sangat kecewa dengan Brian yang sudah memaksanya.
"Iya Abang salah, Abang yang nggak bisa tahan perasaan"
"Sudah ya, bulan depan kita nikah.. Abang juga nggak akan lari. Namamu sudah tercatat sebagai istri Abang di Batalyon" jawab Brian serius.
***
"Waahh.. empat. Kamu kalah lagi, masuk penjara dek!"
"Aaaa.. nggak mau bang, masa Dira kalah terus" protesnya.
"Hukuman tetap hukuman.. ayo..!!" kata Arben sambil mengulum senyumnya. Sambil cemberut Dira menjalani hukumannya.
"Aarrgghh.. paha Abang kram dek, pijitin donk!!!" pinta Arben belaga kesakitan. Dira langsung memijat suaminya yang penuh akal bulus.
"Naik lagi!!!!!" Arben mengarahkan Dira agar memijat dan naik ke atasnya.
"Bang..!!" wajah Dira nampak panik.
"Jangan takut, Abang nggak akan nyakitin kamu lagi" janji Arben sambil perlahan membimbing Dira.
#
#
"Alhamdulillah.." Arben mencium kening Dira seusai pelepasan. Dira pun nampak tenang tanpa pemberontakan.
Dira pun tersenyum lalu memalingkan wajahnya dengan malu-malu.
"Kenapa senyum begitu" tanya Arben.
"Nggak bang" jawab Dira lirih.
"Terus kenapa senyum aneh begitu?"
"Mau lagi.." bisik Dira tak mau melepaskan Arben.
Arben tertawa geli melihat Dira.
"Iyaa.. sabar lah!!"
***
Hari ini Dira mendapatkan pembagian tugas kuliah KKN keluar kota sedangkan ia sekarang sudah menikah dan tidak mungkin Arben akan mengijinkannya kuliah keluar kota.
"Bang, Dira dapat tugas KKN di sekitar pesisir pantai daerah Jogja selama dua bulan" kata Dira setelah mencium punggung tangan suaminya saat Arben menjemputnya.
"Jauh sekali dek, LDR 2 bulan ya?" gumam Arben.
"Iya bang, mau bagaimana lagi.. namanya juga tugas kuliah, biar cepat selesai"
"Tinggal dimana nanti?" tanya Arben mulai cemas.
"Di rumah warga bersama teman yang lain bang" jawab Dira.
Arben merasa tidak nyaman. Mungkin tepatnya tidak siap jika Dira harus meninggalkannya selama dua bulan. Ada rasa cemas dan was-was karena ia dan Dira sudah melakukan hubungan suami istri. Bisa saja Dira hamil saat sedang KKN.
"Abang takut kangen sama Dira ya????"
"Biasa aja, malah enak di rumah nggak ada yang berisik. Abang juga bebas mau kemana-mana" ucapnya santai.
praaaaakk..
"Abang mau ketemu sama Rissa di belakang Dira?" Dira menepak lengan Arben membuat suaminya itu berjingkat kaget.
"Kenapa? Lagian kamu khan jauh" goda Arben dengan wajah datarnya.
"Coba aja kalau Abang berani" ancam Dira.
"Abang takuuut dek" Arben meledek Dira yang cemberut di sampingnya.
"Tambah jelek aja kalau marah, kucing Persia nya Abang ngambekan" ledek Arben yang semakin membuat Dira tambah kesal.
.
.
.
semangat Thor bkin kita jedag jedug trus 💪