Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Aroma manis mentega yang terpanggang dan gurihnya bumbu ayam ungkep memenuhi setiap sudut rumah sederhana berukuran mungil itu. Di ruang tengah yang menyatu langsung dengan dapur, Adinda (33 tahun) sedang berdiri tegak di depan meja kayu panjang. Tangannya yang mungil namun cekatan memegang piping bag, dengan penuh konsentrasi membentuk kelopak bunga mawar dari buttercream di atas sebuah kue tart dua tingkat.
Peluh membasahi keningnya, sesekali ia menyeka keringat itu dengan ujung lengannya agar tidak menetes. Rumah ini memang sangat sederhana, hanya memiliki satu kamar tidur, sehingga ruang tengahnya terpaksa merangkap menjadi tempat Adinda memproduksi pesanan katering rumahan dan kue online-nya. Kardus-kardus kemasan bertumpuk rapi di pojokan, berdampingan dengan mixer besar dan oven listrik yang masih terasa hangat.
"Ibu, ini kotak dus untuk katering besok subuh sudah aku lipat semua. Totalnya ada lima puluh kotak," ucap seorang anak laki-laki remaja yang baru saja bangkit dari lantai ruang tamu. Dia adalah anak tunggal laki-laki Adinda yang kini sudah duduk di bangku SMP. Wajahnya yang polos tampak lelah, namun senyumnya tetap merekah demi membantu sang ibu.
Adinda menoleh, menatap putranya dengan binar mata penuh kasih tangga. "Terima kasih banyak ya, Sayang. Kamu hebat banget. Sekarang kamu mandi terus belajar ya, jangan malam-malam tidurnya."
"Siap, Bu!" Anak laki-lakinya itu segera melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Adinda yang kembali menghela napas panjang, menatap modal usahanya yang berputar tipis demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya yang makin besar.
Tepat saat Adinda meletakkan mawar terakhir di atas kue, pintu depan rumah terbuka dengan kasar. Bagas masuk dengan langkah gontai, namun wajahnya memancarkan binar penuh gairah yang aneh. Ia baru saja pulang dari pertemuan rutin dengan kakak-kakaknya di rumah sang Kakak Pertama.
Bagas melemparkan tas kerjanya ke atas sofa kain yang sudah mulai menipis busanya, lalu mendudukkan diri di dekat meja kerja Adinda tanpa berniat membantu atau sekadar menyapa istrinya yang sudah seharian berdiri.
"Din, seminggu lagi kita ada acara besar," buka Bagas, suaranya terdengar menggebu-gebu penuh ambisi. "Tadi aku habis kumpul sama Mas Broto dan kakak-kakak yang lain. Ibu kan mau ulang tahun yang ke-70. Kita sepakat mau bikin pesta kejutan besar-besaran. Pokoknya harus serba mewah, biar Ibu senang dan tetangga-tetangga tahu kalau anak-anak Ibu itu sukses semua!"
Tangan Adinda yang sedang merapikan pinggiran kue seketika terhenti. Dadanya berdesir perih setiap kali mendengar kata acara besar atau kumpul keluarga dari mulut suaminya. Itu selalu berarti satu hal pengeluaran yang tidak masuk akal.
"Pesta mewah lagi, Mas?" Tanya Adinda, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang meski hatinya mulai bergemuruh. "Bukannya dua bulan lalu kita baru saja patungan untuk biaya syukuran rumah baru Mbak Yanti?"
Bagas langsung mengibaskan tangannya, tidak suka dengan nada keberatan dari istrinya. "Itu kan beda, Din! Ini ulang tahun Ibu yang ke-70, angka keramat. Mas Broto bilang, semua kado, dekorasi, sampai kue ulang tahunnya harus dipesan dari vendor terkenal. Gengsi dong kalau biasa-biasa saja. Tadi dihitung-hitung, per kepala alias satu anak diminta iuran 450 ribu rupiah. Mas Broto minta uangnya harus ditransfer paling lambat besok malam."
"Empat ratus lima puluh ribu?" Suara Adinda naik satu oktav. Angka itu mungkin kecil bagi Mas Broto yang seorang manajer atau kakak-kakak Bagas yang lain yang ekonominya mapan. Tapi bagi Adinda, uang senilai itu adalah keuntungan bersih dari tiga hari ia begadang membuat kue. Uang itu juga yang rencananya akan ia simpan untuk membeli sepatu sekolah baru anaknya yang sudah jebol.
"Mas, kondisi keuangan kita lagi seret. Uang di dompetku sekarang itu uang modal untuk belanja daging katering besok subuh. Kenapa kamu langsung mengiyakan tanpa diskusi sama aku dulu?" protes Adinda, matanya mulai berkaca-kaca menatap suaminya yang tampak acuh tak acuh.
"Halah, cuma 450 ribu, Din! Masa buat Ibu sendiri kamu perhitungan begitu? Kakak-kakakku yang lain saja langsung bayar tanpa protes. Cuma aku yang belum setor karena nunggu pulang kerja!" Bagas mulai menyolot, tidak mau kelihatan kalah atau miskin di depan saudaranya.
Adinda menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari jalan tengah agar suaminya tidak perlu mengeluarkan uang sebesar itu. Matanya beralih menatap kue tart dua tingkat yang baru saja ia dekorasi dengan sangat indah.
"Mas, kalau memang tujuannya untuk merayakan ulang tahun Ibu dan biar hemat budget, bagaimana kalau untuk kue ulang tahunnya biar aku saja yang buatkan?" usul Adinda dengan nada memohon. "Kamu lihat sendiri kan, kue buatanku ini gak kalah bagus dari toko-toko besar. Rasanya juga enak, banyak pelanggan kateringku yang ketagihan. Kalau aku yang buat, kita bisa potong iuran itu. Kita tinggal belikan Ibu kado yang sederhana saja. Uang 450 ribu itu besar banget buat kita sekarang, Mas..."
Mendengar usulan Adinda, bukannya luluh atau bangga, wajah Bagas justru berubah masam. Ia menatap kue tart hasil kerja keras Adinda dengan pandangan meremehkan, lalu mendengus sinis.
"Kamu mau bikin kue buat acara ulang tahun Ibu yang ke-70? Hahaha, jangan bikin malu aku di depan keluarga besar, Din!" ejek Bagas dengan tawa yang merendahkan.
Kalimat itu bagai hantaman gada yang telak menghujam dada Adinda. "Maksud kamu apa, Mas?"
"Ya sadar diri dong, Din! Kue buatanmu itu cuma kelas kue rumahan, kue murahan yang dijual online buat orang-orang biasa! Mas Broto itu mau pesan kue di pastry shop terkenal di pusat kota yang harganya jutaan, yang ada sertifikat dan kotaknya mewah! Kalau kamu yang bikin, nanti dipajang di meja utama, apa gak malu-maluin aku? Nanti dikira aku gak modal dan cuma bisa ngasih kue bikinan istri yang kuenya standar begini!"
Bagas menunjuk kue tart di atas meja dengan jarinya, menghina setiap tetes keringat yang Adinda tumpahkan sejak siang tadi. "Sudahlah, gak usah sok mau bantu kalau malah bikin aku jatuh gengsi di depan kakak-kakakku. Tugas kamu itu cuma siapin uangnya. Jangan sampai besok malam aku dihujat di grup WhatsApp keluarga karena cuma aku yang belum bayar iuran!"
Adinda membeku di tempatnya berdiri. Tangannya gemetar memegang meja kayu, menahan rasa sakit luar biasa yang menjalar di hatinya. Suami yang seharusnya menjadi pelindung dan pendukung utamanya, justru menjadi orang pertama yang menginjak-injak harga diri dan hasil kerja kerasnya demi sebuah gengsi buta yang dipaksakan.
Di balik tirai kamar, anak laki-laki mereka yang baru saja selesai mandi tegak berdiri. Tangan remajanya mengepal kuat mendengarkan setiap kalimat hinaan yang keluar dari mulut ayahnya sendiri kepada ibunya yang telah bekerja mati-matian setiap hari.