Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
_BERMAIN API DENGAN CINTA_ BAB 7_PIKIRAN LIAR SANG SEKRETARIS
_BERMAIN API DENGAN CINTA_
BAB 7_PIKIRAN LIAR SANG SEKRETARIS
Siang harinya, Cinta sudah kembali duduk di balik meja kerja sekretarisnya di lantai teratas gedung Kencana Property Group. Setelah kesepakatan eksklusifnya dengan Ethan tadi pagi, suasana hati Cinta sebenarnya jauh lebih baik. Ada rasa bangga yang menggelitik dadanya karena berhasil "memelihara" seorang pria penghibur setampan dan se-atletis Ethan.
Namun, kepuasan pribadi itu tidak boleh membuatnya lupa daratan. Target utamanya tetaplah Tuan Maxim, pria sedingin es yang saat ini berada di dalam ruangan besar di hadapannya.
Waktu tiga bulan dari Valen terus berjalan, dan Cinta harus segera menyusun rencana baru yang lebih agresif untuk menggoda bosnya itu. Dia memutari pulpen di jemarinya, menatap pintu kayu mahoni ruangan Maxim dengan kening berkerut dalam.
Kenapa dia sama sekali tidak bergeming kemarin? batin Cinta frustrasi. Umpan sensualku kemarin sudah sangat sempurna. Parfum, pakaian, sentuhan fisik... pria normal mana pun pasti akan menunjukkan riak gairah. Tapi dia? Malah membahas nyamuk apartemen!
Cinta menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, melipat kedua tangan di depan dada sembari membiarkan pikirannya mulai melantur liar ke segala arah. Sebuah spekulasi gila mendadak muncul di kepalanya.
Tunggu dulu... tidak mungkin ada pria normal usia dua puluh enam tahun yang tidak tertarik pada pesonaku. Kecuali... jangan-jangan Tuan Maxim ini pria yang tidak normal? Cinta menahan napasnya sendiri, matanya melebar saat poin-poin teka-teki di otaknya mendadak terhubung ke jalur yang salah.
Ah! Benar juga! Mengapa Valen begitu putus asa ingin bercerai dari suami sekaya dan setampan Maxim sampai rela membayar sepuluh miliar? Valen bilang Maxim adalah pria posesif yang gila kendali dan membuat hidupnya seperti di neraka. Tapi, bagaimana jika alasan sebenarnya jauh lebih memalukan dari itu? Bagaimana jika Maxim sebenarnya impoten? Atau jangan-jangan dia tidak mampu memuaskan istrinya di ranjang, lalu melampiaskan kekurangannya itu dengan cara mengurung dan mengawasi Valen secara gila-gilaan karena rasa tidak percaya diri?
Cinta hampir saja tertawa terpingkal-pingkal di mejanya saat memikirkan hal itu. Senyum jemawa langsung terukir di wajah cantiknya. Oh, kasihan sekali kamu, Tuan Maxim yang terhormat. Berwajah dewa, berharta selangit, tapi ternyata 'burung'-mu tidak bisa berkicau. Pantas saja kamu sekaku patung es! pikir Cinta dengan sangat yakin, merasa telah menemukan kelemahan terbesar sang gurita bisnis.
Cinta membandingkan Maxim dengan Ethan. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Ethan-ku. Ethan boleh saja cuma pria penghibur bertopeng, tapi di ranjang... dia adalah badai yang sesungguhnya. Otot perutnya, tenaganya, kemampuannya memuaskan... benar-benar membuatku tidak rugi memeliharanya. Cinta tersenyum mesum sesaat, mengingat kembali kehangatan Ethan tadi pagi sebelum akhirnya dia menggelengkan kepala kuat-kuat untuk kembali fokus. Impoten atau tidak, Maxim harus tetap dia taklukkan demi sisa delapan miliar rupiah.
Tepat saat pikiran liar Cinta sedang berada di puncaknya, interkom di mejanya berbunyi, mengejutkannya hingga hampir melompat dari kursi.
“Nona Cinta, bawa berkas laporan kuartal ketiga ke ruangan saya sekarang.” Suara bariton Maxim yang berat dan dingin terdengar dari pengeras suara.
"Baik, Tuan," jawab Cinta seprofesional mungkin.
Cinta bangkit berdiri, mengambil map yang diminta, dan sengaja merapikan pakaiannya. Kali ini, dia sengaja melepas jaket kulitnya, membiarkan kerah kemeja putihnya sedikit terbuka untuk memancing—sekaligus ingin menguji apakah teori 'impoten' miliknya itu benar atau salah. Dengan langkah anggun yang penuh percaya diri, Cinta mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan.
Maxim sedang duduk di kursi kebesarannya, tanpa kacamata baca. Begitu Cinta melangkah masuk, sepasang mata hitam tajam milik Maxim langsung mengunci pergerakan sekretarisnya. Tatapan itu begitu intens, menyusuri tubuh Cinta dari ujung kaki hingga berhenti di leher jenjang wanita itu yang kini bebas dari bekas tanda merah karena trik kosmetik tingkat tinggi yang Cinta gunakan tadi pagi.
Maxim tahu persis apa yang terjadi tadi pagi di hotel. Dia adalah Ethan yang disumpah akan dipelihara oleh wanita serakah ini dengan uang sepuluh miliar. Mengingat bagaimana Cinta dengan percaya diri menceritakan uang sepuluh miliar itu di atas ranjang mereka, membuat Maxim ingin melihat permainan apa lagi yang akan dimainkan oleh Vera palsu ini di hadapannya sebagai Tuan Maxim.
"Ini laporan yang Anda minta, Tuan Maxim," ucap Cinta, melangkah mendekat dan meletakkan map itu di atas meja.
Cinta sengaja tidak langsung mundur. Dia menumpukan satu tangannya di tepi meja marmer Maxim, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan sehingga wajah mereka menjadi lebih dekat. Cinta menatap langsung ke dalam manik mata hitam Maxim, memberikan senyuman manis yang sarat akan penilaian dan ejekan tersembunyi.
"Apakah ada hal lain lagi yang Anda butuhkan, Tuan? Anda kelihatan sangat lelah hari ini," ucap Cinta dengan nada suara yang sengaja dibuat perhatian namun menggoda. Di dalam hatinya, Cinta membatin, Ayo, tatap aku. Tunjukkan kalau kamu pria normal. Atau kamu memang benar-benar impoten seperti tebakanku?
Maxim menangkap kilat kejenakaan dan pandangan menilai yang aneh dari mata Cinta. Seringai tipis yang sangat samar muncul di sudut bibir sang CEO. Dia bisa membaca bahwa otak manipulatif wanita ini sedang memikirkan sesuatu yang sangat konyol tentang dirinya.
Maxim perlahan bersandar di kursinya, tidak memutuskan kontak mata mereka sama sekali. Aura dominannya mendadak menguar pekat, membuat atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu terasa panas dalam sekejap.
"Saya memang sedikit lelah, Nona Cinta," jawab Maxim dengan suara beratnya yang tenang namun bergetar seksi. Dia mengetukkan jemarinya yang kokoh di atas meja dengan ritme yang lambat. "Tidur saya agak terganggu tadi malam karena... mengurusi sejenis 'serangga' yang sangat berisik dan menuntut."
Mendengar kata 'serangga' dan 'menuntut', jantung Cinta mendadak berdesir aneh. Nada suara Maxim saat mengucapkan kalimat itu entah mengapa terdengar sangat familier di telinganya. Pola bicaranya, getaran suaranya...
Cinta mengerutkan alisnya samar, menatap tajam ke arah bibir Maxim dan struktur rahangnya. Sebuah dejavu yang kuat menghantam kesadaran Cinta, memicu kembali ingatan tentang pria bertopeng tadi pagi di hotel.
Kenapa... kenapa rasanya mirip sekali? batin Cinta mulai panik, getaran aneh mulai merayap di punggungnya saat dia menatap sang bos dari jarak dekat.