Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Gema Lonceng Perbatasan dan Langkah Menuju Daratan Tengah
Cahaya fajar menyapu bersih sisa-sisa kegelapan di atas platform batu hitam yang kini telah kembali suci. Hembusan angin pagi membawa kesegaran alam liar, menghapus seluruh bau belerang dan darah yang sempat mencekam area Pusaran Kabut Abadi. Di hadapan Kaelen, Lyra, dan Mo Xingchen, horison timur membentang luas tanpa batas, menawarkan pemandangan pegunungan hijau yang bergelombang menyatu dengan kabut tipis lembah. Lembaran babak baru dalam sejarah dunia kultivasi resmi terbuka, ditandai oleh ketenangan absolut yang menyelimuti reruntuhan kuno tersebut.
Kaelen berdiri di tepi jurang, membiarkan angin sejuk memainkan helai rambut hitamnya. Di dalam dantian-nya, esensi murni dari Jantung Bayangan berputar selaras dengan inti jiwa miliknya, menghasilkan aliran energi hangat yang meresap ke setiap pembuluh darah, memperkuat basis kultivasinya hingga menembus batasan fana. Pedang baja gelap di pinggangnya tidak lagi sekadar artefak tempur; ia telah menjadi perpanjangan dari tekad mutlak pemuda itu untuk menegakkan keadilan di atas reruntuhan dunia yang korup.
Mo Xingchen melangkah mendekat dengan bantuan tongkat kayunya. Pria tua itu menatap lurus ke arah cakrawala timur, tempat jalur perdagangan tua membentang menuju wilayah daratan tengah—pusat kekuasaan absolut dari aliansi sekte-sekte besar.
"Perjalanan kalian menuju daratan tengah tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, pendekar muda," suara Mo Xingchen terdengar berat namun sarat akan pengalaman hidup. "Wilayah yang kalian tuju bukan lagi daerah perbatasan terpencil yang dikuasai oleh faksi-faksi kecil seperti Sekte Kuno. Di sana, para tetua agung dari sekte-sekte tingkat atas menguasai formasi pertahanan kosmik, memiliki ribuan murid elit, dan memegang kendali penuh atas hukum dunia persilatan."
Lyra merapikan tali tas perbekalannya, lalu melangkah berdiri di sisi kiri Kaelen. Wajahnya yang semula diliputi ketegangan kini memancarkan keyakinan yang kokoh. "Kami tahu risiko yang harus dihadapi, Kek Mo. Selama ini, para penguasa daratan tengah menikmati kedamaian di atas penderitaan orang-orang buangan dan penghancuran sejarah sekte lain. Sudah saatnya seseorang mengetuk gerbang mereka untuk mengingatkan bahwa kejahatan pasti akan mendatangkan balasan setimpal."
Kaelen mengangguk menyetujui perkataan gadis di sampingnya. Ia menoleh menatap Mo Xingchen dengan sorot mata penuh rasa terima kasih. "Lalu, bagaimana denganmu, Kakek Mo? Apakah kau berniat ikut bersama kami menyeberangi perbatasan, atau memilih tinggal di tanah leluhur ini untuk memulihkan reruntuhan Sekte Langit?"
Mo Xingchen tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Tubuh tua ini sudah terlalu rapuh untuk ikut menerjang badai politik di daratan tengah, Kaelen. Tugas dan sumpahku di tempat ini telah selesai. Aku akan tinggal di sini, merawat sisa-sisa arsip sejarah yang terselamatkan, dan menyambut para pencari kebenaran sejati yang mungkin datang di masa depan. Jalan kalian masih panjang; pergilah dan selesaikan takdir yang telah digariskan oleh langit."
Meskipun berat untuk berpisah dengan sosok tua yang telah banyak membantu dan membimbing mereka melewati labirin bawah tanah, Kaelen dan Lyra memahami sepenuhnya keputusan tersebut. Mereka bertiga berjalan berdampingan meninggalkan ruang kendali utama, menyusuri kembali lorong-lorong batu yang kini terasa damai hingga akhirnya keluar melalui gerbang perunggu purba dan menembus permukaan tanah di lereng bukit luar.
Perpisahan di Batas Lembah
Matahari telah merangkak naik setinggi tombak ketika mereka tiba di batas terluar wilayah Lembah Bintang Kelabu. Di tempat di mana jalan setapak berbatu mulai terhubung dengan jalur perdagangan utama menuju timur, Mo Xingchen menghentikan langkah kakinya. Pria tua itu menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai bentuk penghormatan terakhir.
"Hati-hati di jalan, kalian berdua. Ingatlah bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada seberapa hebat pedang yang kau ayunkan, melainkan pada ketulusan niat yang melandasinya," pesan Mo Xingchen dengan suara serak bergetar.
"Terima kasih atas segala bimbingannya, Kakek Mo. Jaga kesehatanmu di sini," balas Lyra tulus, membungkuk sedikit untuk membalas salam perpisahan tersebut.
Kaelen menepuk bahu pria tua itu pelan. "Kami akan kembali suatu hari nanti, setelah dunia ini bersih dari para pengkhianat."
Tanpa membuang waktu lebih lama, Kaelen dan Lyra membalikkan badan, melangkah mantap menyusuri jalur setapak yang mengarah langsung ke timur. Mo Xingchen berdiri terpaku di tempatnya, memandangi punggung kedua anak muda itu yang semakin lama semakin mengecil di telan debu jalanan, hingga akhirnya benar-benar hilang dari pandangan di balik rimbunnya pepohonan perbatasan.
Perjalanan menyeberangi distrik perbatasan memakan waktu selama tiga hari penuh. Selama perjalanan tersebut, mereka menghindari kota-kota besar untuk mencegah perhatian yang tidak perlu dari mata-mata aliansi sekte. Kaelen memanfaatkan waktu luang di setiap tempat peristirahatan malam untuk menyempurnakan penguasaannya atas Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa, sementara Lyra meracik berbagai jenis penawar racun baru menggunakan bahan-bahan herbal langka yang mereka temukan di sepanjang hutan pegunungan.
Pada hari keempat, siluet megah dari gerbang perbatasan daratan tengah mulai tampak di balik kabut pagi. Tidak seperti pos pemeriksaan kumuh di Kota Lumina, gerbang perbatasan daratan tengah—yang dikenal sebagai Gerbang Langit Besi—berdiri sangat megah, dibangun dari batu pualam putih setinggi tiga puluh meter yang diukir dengan simbol-simbol elemen pelindung tingkat tinggi. Puluhan murid elit berzirah perak berkilau berdiri tegak di setiap pos penjagaan, mengawasi setiap orang yang melintas dengan tatapan arogan penuh kebanggaan sekte besar.
"Kita sudah tiba di wilayah inti," bisik Lyra saat mereka berhenti di balik rumpun semak belukar besar berjarak seratus meter dari gerbang utama. "Penjagaan di sana jauh lebih ketat. Mereka menggunakan cermin pendeteksi spiritual untuk memeriksa aura setiap kultivator yang masuk. Jika mereka mendeteksi esensi artefak purba di dalam dantianmu, kita pasti akan langsung dikeroyok oleh seluruh pasukan penjaga."
Kaelen mengamati situasi di pos pemeriksaan dengan saksama. Aliran kultivator yang antre masuk tampak cukup padat: para pedagang kaya yang menaiki kereta kuda berlapis emas, pendekar pengembara membawa pedang panjang, hingga para utusan sekte menengah yang membawa surat izin khusus.
"Kita tidak perlu melewati pemeriksaan itu dengan cara menyamar atau menyerahkan diri pada sistem mereka," ucap Kaelen tenang, tangannya terulur menyentuh gagang pedang baja gelap di pinggangnya.
"Lalu bagaimana cara kita masuk?" tanya Lyra bingung.
"Kita masuk sebagai tamu terhormat yang datang untuk menagih janji," jawab Kaelen singkat dengan senyum tipis penuh misteri.
Gema Lonceng Perbatasan
Tanpa ragu-ragu, Kaelen melangkah keluar dari balik semak belukar, berjalan berdampingan dengan Lyra menyusuri jalan utama menuju Gerbang Langit Besi secara terbuka. Penampilan mereka yang sederhana—mengenakan jubah perjalanan abu-abu tanpa lambang sekte apa pun—langsung menarik perhatian para prajurit penjaga berzirah perak yang berjaga di pos terdepan.
Seorang kapten penjaga berambut kepang rapi dengan lencana emas di dada kirinya maju menghalangi jalan mereka. Pria itu menyipitkan mata, menatap Kaelen dan Lyra dengan nada suara meremehkan.
"Berhenti, orang asing! Tunjukkan lencana izin masuk sekte kalian, atau bayar biaya retribusi sebesar seratus batu roh kualitas tinggi per orang!" bentak sang kapten penjaga dengan suara menggelegar.
Kaelen berhenti tepat di hadapan sang kapten. Ia tidak mengeluarkan batu roh, tidak pula menunjukkan lencana sekte apa pun. Sebaliknya, pemuda itu mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu melepaskan sedikit saja gelombang aura kosmik dari Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa secara terkendali.
Duar!
Tekanan spiritual yang mendadak melompat keluar dari tubuh Kaelen menciptakan gelombang kejut tak kasat mata yang langsung membuat seluruh prajurit penjaga berzirah perak di pos tersebut terhuyung mundur beberapa langkah. Cermin pendeteksi spiritual yang tergantung di atas gerbang bergetar hebat, lalu pecah berkeping-keping mengeluarkan suara letupan nyaring yang mengejutkan para pelancong lain di sekitar gerbang.
Wajah sang kapten penjaga memucat pasi dalam sekejap. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya saat ia merasakan tingkat kultivasi Kaelen yang berada jauh di atas kapasitasnya—sebuah jurang perbedaan kekuatan yang membuat perlawanan menjadi hal yang mustahil untuk dilakukan.
"K-kau... Siapa kau sebenarnya?!" teriak sang kapten terbata-bata, mencabut pedang panjang dari sarung pinggangnya dengan tangan yang gemetar hebat. "Berani membuat kekacauan di Gerbang Langit Besi! Pasukan, bersiap!"
Puluhan prajurit penjaga lainnya segera menghunus senjata, mengepung Kaelen dan Lyra dalam formasi tempur rapat. Suasana di sekitar gerbang mendadak ricuh; para pedagang dan pelancong berlarian menyelamatkan diri menjauhi area pos pemeriksaan, menciptakan ruang kosong yang luas di sekitar kelompok Kaelen.
Lyra bersiap merogoh kantung ramuannya, namun Kaelen memberi isyarat agar gadis itu tetap tenang. Pemuda tersebut melangkah maju satu langkah, mengangkat suaranya hingga bergemema keras menembus seluruh dinding pualam gerbang perbatasan.
"Katakan kepada para tetua agung di istana aliansi sekte daratan tengah, bahwa Kaelen dari Lembah Bintang Kelabu telah datang untuk membawa perhitungan masa lalu!" seru Kaelen, suaranya dipenuhi oleh tenaga dalam yang menggetarkan udara dan memecahkan kaca-kaca pos penjagaan.
Gema suara Kaelen melambung tinggi ke angkasa, merambat melewati dinding perbatasan dan memicu bunyi lonceng peringatan raksasa yang tergantung di menara pusat daratan tengah. Bong... bong... bong... Suara lonceng darurat itu berdentang keras berulang-ulang, menandakan bahwa wilayah inti daratan tengah sedang menghadapi ancaman luar biasa besar dari seorang musuh tunggal.
Para penjaga di gerbang tertegun ngeri mendengar dentang lonceng darurat tersebut, menyadari bahwa pemuda di hadapan mereka bukanlah buronan biasa, melainkan badai besar yang siap meruntuhkan fondasi kekuasaan para penguasa tertinggi.
Kaelen menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke jalan panjang beraspal batu putih yang membentang menuju jantung daratan tengah. Langkah demi langkah mereka mulai bergerak maju melewati puing-puing pos penjagaan yang hancur, menembus gerbang perbatasan, dan resmi menginjakkan kaki di pusat peradaban kultivasi yang paling ditakuti di seluruh penjuru dunia. Perjalanan untuk menuntut keadilan sejati kini resmi dimulai.