Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Aroma karbol bercampur uap air hangat memenuhi kamar mandi kecil yang berada di sudut kamar 101. Di bawah guyuran air pancuran yang mengalir pelan, La Bonna berdiri mematung.
Setiap tetes air yang mengenai kulitnya terasa bagai tusukan ribuan jarum tipis pada luka lebam dan bekas sundutan cerutu yang melepu.
Alena berdiri tak jauh di sampingnya, memegang sehelai handuk bersih dengan raut wajah yang diliputi rasa bersalah yang teramat sangat. Jemari Alena bergetar saat ia mencoba membantu menyudahi basuhan air pada bahu Bonna.
"Biar aku saja," bisik Bonna dengan suara yang serak dan parau.
Ia mengambil handuk itu dari genggaman Alena, membalut tubuhnya yang terasa lemas tanpa bertenaga. Berada di dekat Alena membuat Bonna merasa aneh.
Di satu sisi, gadis muda ini adalah penyelamat nyawanya dari eksekusi mati Lucifer. Namun di sisi lain, Alena adalah kelemahan yang justru membawa Bonna masuk ke dalam neraka yang lebih lambat dan menyiksa: menjadi mainan mati bagi Ezequiel Nolan Ashford.
Setelah Bonna mengenakan gaun kain polos berwarna abu-abu yang disiapkan di dalam lemari kamar, pintu ruangan 101 kembali berderit terbuka.
Suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Bukan Nolan yang muncul, melainkan Lucifer—pria tinggi besar berwajah dingin yang merupakan tangan kanan sang pria Iblis. Tangannya membawa sebuah papan jalan berklip besi yang menjepit beberapa lembar kertas dokumen.
Alena seketika berdiri pasang badan di depan Bonna, menatap Lucifer dengan sorot mata menolak. "Mau apa kau kemari, Kak Lucifer? Kak Nolan sudah berjanji tidak akan membunuhnya!" Tanya Alena Ketus, Karena ia masih kesal karena Lucifer selalu saja menjadi anjing yang patuh pada Nolan. Selalu menuruti apapun perintah tanpa harus berpikir dua kali.
Lucifer menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di hadapan kedua wanita itu. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan emosi sedikit pun saat menatap Alena.
"Alena, Aku kemari karena Perintah Tuan Nolan. Tuan memintaku menyampaikan beberapa hal," kata Lucifer dengan intonasi bernada formal namun dingin. "Harap kau meninggalkan ruangan ini sekarang."
"Tidak! Aku tidak mau pergi!" seru Alena tertahan, kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. "Aku tahu Kak Nolan pasti merencanakan sesuatu yang buruk padanya!"
"Alena," potong Lucifer tegas. "Jika kau menolak keluar, aku akan memanggil pengawal untuk menyeret mu kembali ke kamar. Dan percaya padaku, itu hanya akan membuat Tuan Nolan semakin tidak bersimpati pada wanita ini."
Ancaman terselubung itu berhasil membungkam Alena. Gadis muda itu menggigit bibir bawahnya, menoleh ragu ke arah Bonna yang hanya berdiri diam memeluk dirinya sendiri.
"Kak Bonna..." panggil Alena dengan mata berkaca-kaca.
"Pergilah, Alena," sela Bonna dengan raut wajah datar. "Kau sudah melakukan bagianmu. Jangan mempermudah kakakmu untuk mencari alasan membunuhku hari ini."
Dengan berat hati dan langkah yang gontai, Alena akhirnya memutar badan dan melangkah keluar dari kamar 101.
Pintu besi tebal itu membentur bingkainya, meninggalkan Bonna berdua bersama tangan kanan sang iblis.
Suasana ruangan kembali mendingin seketika. Lucifer mengalihkan pandangan mata elangnya lurus pada wajah Bonna yang dipenuhi luka dan memar.
"Tuan Nolan memberi petunjuk tegas mengenai keberadaanmu di tempat ini," Lucifer membuka suara, membaca selembar dokumen di papan jalannya. "Tempat ini bukanlah panti asuhan, dan kau bukanlah seorang tamu yang berhak mendapatkan makanan serta tempat tinggal secara cuma-cuma. Di bawah kekuasaan Ashford, setiap jiwa yang bernapas harus memberikan keuntungan finansial yang nyata."
Bonna berdecih pelan di dalam hatinya, namun bibirnya tetap bungkam. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini.
"Mulai hari ini," lanjut Lucifer tanpa belas kasihan, "namamu resmi terdaftar dalam barisan wanita bayaran di klub malam lantai bawah. Kau akan melayani pelanggan yang bersedia membayar tarif yang telah ditentukan."
Bonna mendongakkan kepalanya, menatap Lucifer lurus-lurus. Walaupun tubuhnya bergetar dan rasa takut menggerogoti dadanya, kebanggaan dirinya yang tersisa mencoba memberikan perlawanan halus.
"Pelacur?" bisik Bonna dengan senyum sinis yang retak. "Jadi Tuan Nolan berniat menjualku pada pria-pria hidung belang di luar sana?"
"Kau tidak dalam posisi untuk menawar atau melabeli statusmu sendiri," balas Lucifer dingin. "Tuan Nolan telah menetapkan bahwa kau harus menghasilkan uang untuk menutup biaya kerugian atas tindakan penyusupanmu dan membalas pengkhianatan Dorris. Jika kau menolak..."
Lucifer sengaja menggantung kalimatnya, mengedarkan pandangan ke arah dinding ruangan 101 yang dipenuhi deretan alat penyiksaan baja.
"...maka ruangan operasi milik Adrian siap menerima organ tubuhmu satu per satu untuk dijual ke pasar gelap sebelum sisanya dilempar ke penangkungan anjing pelacak."
Bonna menelan ludah yang terasa bagai cairan empedu yang pahit. Pilihan yang diberikan Nolan tidak pernah merupakan sebuah pilihan; itu adalah jalan satu arah menuju kehancuran, hanya saja dalam kecepatan yang berbeda.
Jika ia menjadi pelacur di klub, ia masih memiliki kesempatan untuk bernapas, mencari celah, dan merencanakan pembalasan dendamnya pada Dorris. Namun jika ia masuk ke meja operasi Adrian, seluruh riwayat hidupnya akan tuntas detik itu juga.
"Berapa banyak... berapa banyak pelanggan yang harus kulayani?" tanya Bonna dengan suara yang gemetar pelan.
"Sebanyak yang memesanmu," jawab Lucifer datar.
****
Tanpa memberinya waktu untuk memproses rasa sakit yang baru saja mendera fisiknya, Lucifer cengkeram lengan Bonna dengan erat. Lengannya yang kekar mengunci pergelangan Bonna bagai borgol besi yang dingin.
Pria berwajah dingin itu menyeret Bonna keluar dari ruang 101, memaksa langkah kaki Bonna yang lemas untuk terseok-seok mengimbangi langkah lebarnya melalui lorong-lorong batu yang lembap.
Lucifer membawa Bonna menuju ruang hiburan utama—sebuah aula luas yang megah namun sarat akan aura maksiat dan eksploitasi. Di sinilah tempat di mana semalam dipenuhi oleh deretan pelanggan berkantung tebal, tempat yang selalu beraroma alkohol mahal, cerutu impor, dan parfum menyengat. Tempat ini juga yang semalam menjadi saksi bisu bagaimana para penari stripper bertubuh molek meliuk-liuk di atas panggung berlampu remang, menjual ilusi kenikmatan di balik dentuman musik yang memekakkan telinga.
Saat siang hari seperti ini, ruangan itu tampak lebih lengang namun tetap menyimpan jejak kotor keheningan malam sebelumnya. Cahaya remang lampu gantung menyinari sudut-sudut sofa kulit yang dipenuhi sisa botol minum berharga ratusan Dolar dan asbak yang penuh dengan puntung rokok.
Lucifer menyeret Bonna makin dalam ke area belakang panggung, menuju ke arah sekumpulan wanita yang tengah duduk mengelilingi meja bundar besar.
Wanita-wanita itu mengenakan pakaian minim bertabur sequin yang mengkilap di bawah lampu. Mereka tampak begitu sibuk menghitung tumpukan uang kertas Dolar hasil tangkapan semalam, sembari santai menghembuskan asap nikotin dari rokok tipis di jemari mereka.
Langkah Lucifer terhenti tepat di depan meja tersebut. Dengan mata elangnya, ia menatap lurus ke arah salah satu wanita yang tampil paling glamor di sana—seorang wanita berambut merah menyala dengan riasan mata tebal dan gaun sutra ketat.
"Ajari dia dengan benar malam ini. Dia sudah harus bekerja melayani pelanggan," ucap Lucifer datar, suaranya menginterupsi denting hitungan uang di atas meja.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, Lucifer melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan Bonna dengan kasar. Sentakan itu membuat tubuh Bonna yang goyah hampir kehilangan keseimbangan, terdorong maju dan terpaksa berdiri sendirian di depan para wanita hiburan tersebut.
Bonna berdiri mematung di sana dengan perasaan bingung, canggung, dan hina.
Pakaian abu-abu longgar yang melekat di tubuhnya yang penuh lebam tampak teramat kontras dengan kilau glamor dan keterbukaan gaun-gaun wanita di sekelilingnya.
Asap rokok yang dihembuskan para wanita itu mengenai wajah Bonna, membuatnya batuk kecil namun tak berani membuang muka. Para penari itu menghentikan aktivitas menghitung uang mereka sejenak, melemparkan tatapan menilai, sinis, sekaligus iba pada sosok wanita baru yang tampak seperti mayat hidup di hadapan mereka.
Lucifer tidak membuang waktu lebih lama. Pria itu segera berbalik untuk meninggalkan Bonna di tengah kubangan calon pekerja malam tersebut. Namun, belum sempat Lucifer melangkah dua tindak, sesosok tubuh kecil tiba-tiba berlari kencang dari arah lorong, mencoba menerobos masuk untuk menghampiri Bonna.
Itu adalah Alena, yang sejak tadi ternyata membuntut dari belakang dengan wajah berderai air mata.
"Kak Bonna! Jangan biarkan mereka menyakitimu!" teriak Alena histeris, berusaha menggapai tangan Bonna.
Namun, sebelum jemari Alena berhasil menyentuh Bonna, dengan gerakan refleks yang amat cepat dan cekatan, Lucifer menyergap tubuh Alena. Tanpa ragu, Lucifer mengangkat tubuh wanita muda itu begitu saja ke atas bahunya—mengunci Alena bagai mengangkat barang bawaan tanpa usaha berarti.
Lucifer memutar balik tubuhnya, membawa Alena yang sedang mengamuk hebat dan berontak menjauh dari ruangan hiburan tersebut, memastikan gadis itu tidak akan lagi mengganggu proses persiapan Bonna yang akan dipoles untuk melayani para pria hidung belang malam nanti.
"Lepaskan aku, bajingan! Lepaskan aku, sialan!" teriak Alena melengking, suara histerisnya menggema memenuhi aula hiburan yang luas itu. Tangannya yang mungil memukuli punggung kokoh Lucifer berkali-kali secara brutal, sementara kakinya menendang-nendang udara dengan liar.
Namun, perlawanan histeris dari adik kandung tuannya itu sama sekali tidak mempengaruhi langkah Lucifer. Raut wajah pria kepercayaan Nolan itu tidak berubah sedikit pun—tetap datar, dingin, dan keras bagai guratan batu karang. Ia terus melangkah tegap menyusuri lorong, meninggalkan Bonna yang berdiri pasrah menatap punggungnya yang menjauh di bawah tatapan dingin para wanita malam.