NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Menjelang siang, mobil yang ditumpangi Zilia akhirnya tiba di sebuah kafe bergaya modern di pusat kota.

Begitu turun dari mobil, Zilia langsung menoleh ke arah Rudi.

"Pak Rudi."

"Iya, Nona."

"Jangan ikut ke dalam ya."

"Tapi, Nona...."

"Tolong. Aku cuma mau ketemu teman-temanku. Nanti kalau mereka lihat aku terus ditempelin orang, mereka pasti banyak tanya."

Rudi tampak ragu.

"Baik, Nona. Saya akan menunggu di luar."

"Tapi jangan kelihatan ya."

Rudi tersenyum tipis.

"Siap."

Zilia mengangguk puas, lalu berjalan memasuki kafe.

Begitu pintu terbuka...

"Zilia!"

Rara langsung berdiri dan memeluknya erat.

"Kangen banget!"

"Aku juga."

Edo ikut berdiri sambil mengembangkan kedua tangannya.

"Sini, peluk juga."

"Ogah."

Zilia justru terkekeh.

"Dasar."

Edo akhirnya tertawa dan menepuk pelan kepala Zilia.

"Kamu makin susah dicari."

"Maaf."

Rara langsung mencubit pelan lengan Zilia.

"Kamu tuh ya, pergi ke kota nggak bilang-bilang."

"Iya deh, salah."

"Lain kali kabarin."

"Iya."

Mereka bertiga pun duduk sambil bercanda seperti biasanya.

Tawa mereka sesekali memenuhi sudut kafe.

Namun, Zilia memperhatikan sesuatu.

"Eh, Nisa mana?"

Rara menghela napas.

"Dia nggak jadi ikut."

"Katanya ada acara keluarga."

"Oh... kirain lengkap."

Meski sedikit kecewa, Zilia tetap menikmati kebersamaan mereka.

Sudah lama ia tidak tertawa lepas seperti itu.

Di luar kafe, Rudi memperhatikan keadaan dari kejauhan.

Ia sengaja tidak masuk agar identitas Zilia sebagai putri keluarga besar tidak diketahui sahabat-sahabatnya.

Beberapa menit kemudian...

Pintu kafe kembali terbuka. Seseorang masuk sambil menoleh ke kanan dan kiri. Saat matanya menemukan sosok Zilia, wajahnya langsung berbinar.

"Zil."

Suara itu membuat senyum Zilia perlahan menghilang.

Ia menoleh.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Vio.

Semua kejadian beberapa hari lalu kembali terlintas di kepalanya.

Wanita yang berkata, "Aku ini istrimu."

Air matanya yang sempat mengering nyaris kembali jatuh. Namun, ia menahannya.

Vio berjalan mendekat.

"Maaf ya. Aku nggak sempat ngabarin. Aku telepon kamu berkali-kali, tapi nggak pernah diangkat."

Rara dan Edo saling berpandangan.

Mereka tidak ingin mengganggu pasangan itu.

Edo langsung berdiri.

"Ra, ayo."

"Kalian mau ke mana?" tanya Zilia.

"Kita cari tempat lain dulu."

"Iya. Kalian ngobrol aja. Kapan lagi bisa ketemu."

"Ra...."

Belum sempat Zilia menghentikan mereka, Rara sudah menarik Edo pergi sambil tersenyum jahil.

Kini tinggal Zilia dan Vio yang duduk berhadapan.

Suasana berubah canggung.

Vio spontan meraih tangan Zilia. Namun, refleks Zilia langsung menarik tangannya.

Gerakan itu membuat Vio terdiam.

"Kamu kenapa, Zil?"

"Tidak kenapa-kenapa."

"Kamu marah sama aku?"

"Nggak."

"Terus kenapa kamu menghindar?"

Zilia memalingkan wajahnya.

"Aku lagi capek."

Vio menatapnya penuh heran.

"Kamu juga nggak pernah angkat teleponku."

"Aku lagi malas pegang handphone."

"Kelihatannya kamu jutek banget."

"Lagi nggak mood aja."

Vio menghela napas.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Zilia sudah mengetahui kenyataan tentang dirinya.

"Oh iya."

Vio mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Kamu bilang sekarang tinggal di rumah papamu."

"Iya."

"Rumahnya di mana?"

Zilia menatap Vio sekilas.

"Buat apa?"

"Biar nanti aku bisa datang."

Vio tersenyum.

"Sekalian jemput kamu."

Mendengar kalimat itu, dada Zilia kembali terasa sesak.

"Menjemput?"

"Untuk apa?"

"Bukankah kamu sudah punya istri?"

Namun, semua pertanyaan itu hanya bergema di dalam hatinya.

Ia tidak mengucapkannya.

Zilia menggeleng pelan.

"Nggak perlu."

"Lho, kenapa?"

"Mungkin..."

Zilia menarik napas panjang.

"...ini pertemuan terakhir kita."

Vio langsung mengernyit.

"Maksud kamu?"

"Aku mau lanjut kuliah."

"Di mana?"

"Kamu tidak perlu tahu."

Vio tampak terkejut.

"Terus?"

"Aku juga ingin fokus mengejar karier."

"Zil."

Vio menatapnya dalam.

"Kamu benar-benar aneh hari ini."

"Mungkin."

"Kamu marah karena aku jarang ngabarin?"

"Bukan."

"Lalu apa?"

Zilia menggenggam tas di pangkuannya hingga jemarinya memutih.

Ia hampir saja mengatakan semuanya. Hampir saja bertanya tentang wanita yang mengaku sebagai istrinya. Namun, harga dirinya kembali menahannya.

Baginya, tidak ada gunanya meminta penjelasan dari seorang pria yang telah memilih perempuan lain.

Zilia pun berdiri.

"Oh iya..."

"Waktuku nggak banyak."

"Aku harus pulang."

Vio ikut berdiri.

"Zil, tunggu."

Namun, Zilia tidak langsung menoleh.

Ia takut...

Jika melihat wajah Vio lebih lama lagi, air matanya akan jatuh di hadapan pria yang telah menghancurkan seluruh kepercayaannya.

Zilia melangkah menuju meja tempat Edo dan Rara menunggu.

Ia berusaha tersenyum seperti biasa, meski kedua matanya masih menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.

"Ra... Do... aku pamit dulu ya."

"Loh, cepet amat?" tanya Rara heran.

"Iya. Ada urusan di rumah."

Edo menatap wajah Zilia beberapa saat.

"Kamu nggak apa-apa, kan?"

"Aku baik-baik aja."

"Yakin?"

Zilia mengangguk pelan.

"Iya."

Rara saling pandang dengan Edo.

Entah mengapa, keduanya merasa ada yang berbeda dari sahabat mereka itu.

Biasanya, Zilia akan tertawa paling keras saat mereka berkumpul.

Namun hari ini...

Senyumnya terlihat dipaksakan.

Tatapannya pun kosong.

"Kamu kalau ada masalah, cerita ya," ucap Rara sambil menggenggam tangan Zilia.

Zilia membalas genggaman itu.

"Iya."

"Jangan dipendem sendiri."

"Iya, Ra."

Setelah berpamitan, Zilia melangkah keluar dari kafe.

Tak jauh dari pintu masuk, Pak Rudi sudah menunggu dan langsung membukakan pintu mobil.

Rara yang melihat pemandangan itu mengernyit.

"Do..."

"Hm?"

"Itu... siapa?"

Edo ikut memperhatikan.

"Lumayan sopan ya. Dibukain pintu segala."

"Mana? eh iya."

"Kayaknya bukan orang biasa, deh."

Namun sebelum sempat membahas lebih jauh, mobil yang ditumpangi Zilia sudah melaju meninggalkan kafe.

Kini, perhatian mereka berdua beralih kepada Vio yang masih berdiri mematung.

"Woi."

Edo menepuk bahu Vio.

Vio tersentak.

"Hah?"

"Kamu kenapa?"

Vio mengusap tengkuknya.

"Aneh."

"Apa yang aneh?"

"Zilia."

Rara mengangguk.

"Kami juga ngerasa."

"Dia dingin banget sama aku."

Vio mengembuskan napas panjang.

"Padahal aku nggak merasa punya salah."

Namun, beberapa detik kemudian, wajah Vio berubah.

Ia teringat sesuatu.

Hari itu...

Saat Alena tiba-tiba datang menghampirinya di depan butik.

Suara Alena kembali terngiang di telinganya.

"Aku ini istrimu, Vio. Apa salah kalau aku ingin tahu ke mana suamiku pergi?"

Mata Vio langsung membulat.

"Jangan-jangan..."

"Jangan-jangan Zilia melihatku waktu itu."

Ia bergumam pelan.

Kalau memang benar demikian...

Berarti Zilia sudah mengetahui semuanya.

"Astaga..."

Wajah Vio mendadak pucat.

Pantas saja Zilia bersikap begitu dingin.

Pantas saja ia tidak mau menerima teleponnya.

Pantas saja ia mengatakan bahwa itu mungkin pertemuan terakhir mereka.

"Vio!"

Suara Edo membuyarkan lamunannya.

"Hah?"

"Kamu dari tadi bengong."

"Kamu beneran nggak apa-apa?"

Vio memaksakan senyum.

"Nggak."

"Jangan bohong."

Rara menyipitkan mata.

"Kalian berdua habis berantem, ya?"

Vio menggeleng pelan.

"Aku juga nggak tahu."

Padahal, jauh di dalam hatinya, ia mulai menyadari bahwa kebohongan yang selama ini ia simpan mungkin telah terbongkar.

Dan jika benar Zilia telah mengetahui status pernikahannya...

Maka mempertahankan hubungan mereka tidak akan semudah yang ia bayangkan lagi.

Sesampainya di rumah, Zilia langsung berjalan menuju kamarnya tanpa banyak bicara.

"Nona, makan buah dulu?" tawar salah seorang pelayan.

"Nanti saja."

Jawabannya singkat.

Sesampainya di kamar, Zilia mengunci pintu, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.

Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar.

Semakin ia berusaha melupakan Vio, semakin jelas wajah pria itu memenuhi pikirannya.

"Kenapa harus seperti ini...."

Air matanya kembali mengalir.

Ia menggenggam erat bantal di pelukannya.

"Harusnya aku yang marah."

"Harusnya aku membencimu."

"Tapi kenapa... hatiku masih sesakit ini?"

Zilia memejamkan mata.

Tanpa sadar, ia tertidur karena kelelahan menangis.

Di sisi lain.

Vio masih terduduk di dalam kafe.

Tatapannya kosong ke arah pintu keluar yang sejak tadi dilalui Zilia.

"Dia benar-benar berubah."

Edo dan Rara kembali menghampirinya.

"Bro."

Vio mengangkat kepalanya.

"Hm?"

"Kamu sama Zilia sebenarnya ada masalah apa?" tanya Edo.

Vio menggeleng.

"Aku juga nggak tahu."

Rara menyipitkan mata.

"Jangan bohong."

"Dari tadi kelihatan jelas."

"Dia dingin banget sama kamu."

Vio mengembuskan napas panjang.

"Aku rasa... dia sudah tahu."

"Tahu apa?"

Vio menundukkan kepalanya.

Selama ini ia selalu menyimpan rapat-rapat kenyataan itu.

Namun, melihat sikap Zilia hari ini, ia merasa tidak bisa lagi memendam semuanya sendirian.

"Aku..."

Suara Vio terdengar berat.

"...sudah menikah."

"Apa?!"

Edo dan Rara hampir bersamaan membelalakkan mata.

"Menikah?"

"Iya."

"Kapan?"

"Belum lama."

Rara langsung berdiri.

"Kalau kamu sudah menikah, kenapa masih menemui Zilia?"

"Karena aku mencintainya!"

Jawaban Vio terdengar lantang hingga beberapa pengunjung menoleh.

Ia segera menundukkan suaranya.

"Aku tidak pernah ingin menikah."

"Lalu kenapa kamu menikah?" tanya Edo dengan nada serius.

Vio mengusap wajahnya kasar.

"Karena dipaksa."

"Dipaksa?"

Vio mengangguk.

"Papaku mengancam akan menghancurkan perusahaan kalau aku menolak."

"Aku dijadikan alat untuk menyelamatkan kerja sama bisnis keluarga."

Ruangan kembali hening.

"Perempuan itu..."

"Istriku."

Vio tersenyum pahit.

"Aku bahkan tidak mengenalnya sebelum hari pernikahan."

Edo dan Rara saling berpandangan.

Mereka mulai mengerti mengapa beberapa hari terakhir Vio tampak begitu tertekan.

"Aku sebenarnya ingin menjelaskan semuanya kepada Zilia."

"Tapi setiap kali aku mencoba..."

"...selalu ada sesuatu yang menghalangi."

Rara menghela napas panjang.

"Jadi... Zilia benar-benar belum tahu alasanmu?"

Vio menggeleng pelan.

"Dia hanya tahu aku sudah menikah."

"Dia tidak tahu kalau semua ini terjadi karena paksaan."

Vio mengepalkan kedua tangannya.

"Makanya dia membenciku."

"Aku bisa melihatnya dari tatapannya."

Edo menepuk pelan bahu Vio.

"Kalau memang begitu, kenapa kamu nggak jujur saja?"

Vio tersenyum getir.

"Percuma."

"Kenapa?"

"Karena statusku tetap sama."

Ia menatap kedua sahabat Zilia itu dengan mata yang dipenuhi penyesalan.

"Bagaimanapun alasannya..."

"...aku tetap seorang suami."

"Dan itu tidak akan pernah berubah."

Kalimat itu membuat Edo dan Rara sama-sama terdiam.

Mereka baru menyadari bahwa kisah cinta Vio dan Zilia bukan sekadar tentang pengkhianatan.

Melainkan tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi dipisahkan oleh keputusan keluarga yang tidak mampu mereka lawan.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!