Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Wush.
Mata Sony tiba-tiba memancarkan kilatan cahaya biru yang sangat tipis dan pudar.
Dunia di sekitarnya seketika berubah warna di dalam penglihatannya.
Dia bisa melihat aliran energi merah yang mengalir di dalam tubuh pembunuh bayaran itu.
[Memindai kelemahan target secara menyeluruh]
[Target memiliki cedera permanen di bagian tulang rusuk kiri bawah]
[Kecepatan reaksi target menurun drastis jika diserang dari arah sudut tersebut]
Sony menyeringai lebar membaca informasi dari kotak biru transparan di depannya.
Dengan Mata Dewa ini, semua musuh di dunia ini terlihat seperti selembar kertas tipis baginya.
"Mati kau bocah sombong."
Pria itu berteriak dan langsung menerjang ke arah Sony dengan kecepatan tinggi.
Dia mengayunkan pisau belatinya lurus ke arah dada kiri Sony.
Wush.
Angin berdesir tajam saat bilah pisau itu membelah udara.
Namun di mata Sony, gerakan pria itu terlihat sangat lambat seperti adegan gerak lambat di film.
Sony hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan.
Srek.
Pisau belati itu hanya memotong udara kosong satu sentimeter di sebelah dada Sony.
Pria itu terkejut melihat serangannya berhasil dihindari dengan begitu mudah.
Sebelum dia sempat menarik kembali tangannya, Sony sudah bergerak lebih dulu.
Sony mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.
Bugh.
Satu pukulan telak dan keras mendarat tepat di tulang rusuk kiri bawah pembunuh itu.
"Uhukk."
Pria itu memuntahkan darah segar dari mulutnya dan matanya membelalak lebar.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari rusuknya yang merupakan kelemahan terbesarnya.
Krek.
Suara tulang rusuk yang patah terdengar sangat jelas di dalam sel yang sempit itu.
Pisau belati terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di lantai.
Bruk.
Tubuh pria itu langsung ambruk ke lantai sambil memegangi perut kirinya.
Dia mengerang kesakitan dan tidak bisa berdiri lagi sama sekali.
Hanya butuh satu pukulan biasa bagi Sony untuk melumpuhkan pembunuh profesional itu.
Dimas yang melihat kejadian itu dari sudut sel langsung menutupi mulutnya karena ketakutan.
Dia baru sadar betapa beruntungnya dia karena Sony tidak memukulnya seperti itu semalam.
Sony berjalan santai mendekati pria yang sedang terkapar di lantai itu.
Dia berjongkok dan mencengkeram rambut pria tersebut dengan kasar.
"Sekarang, mari kita bicara baik-baik."
"Siapa nama majikanmu dan dari organisasi mana kau berasal?"
Sony bertanya dengan nada suara yang sangat pelan tapi menusuk.
Pria itu memelototi Sony dengan mulut yang masih berdarah.
"Kau bermimpi jika mengira aku akan mengkhianati organisasiku."
"Kami akan membunuhmu dan seluruh keluargamu."
Pria itu tiba-tiba menggerakkan rahangnya dengan aneh seperti sedang mencoba mengunyah sesuatu.
Sony yang masih mengaktifkan Mata Dewa langsung melihat sebuah titik merah kecil di dalam mulut pria itu.
Itu adalah kapsul racun sianida yang sengaja ditanam di gigi geraham belakang.
Pembunuh profesional selalu punya jalan keluar untuk bunuh diri jika tertangkap.
Plak.
Sony menampar pipi kiri pria itu dengan sangat keras sebelum kapsul itu sempat pecah.
Tamparan itu begitu kuat hingga membuat beberapa gigi pria itu rontok.
Ting.
Sebuah gigi palsu yang berisi kapsul racun ikut terlempar keluar dari mulutnya dan jatuh ke lantai.
Pria itu terbelalak kaget karena percobaan bunuh dirinya berhasil digagalkan dengan sangat mudah.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mati begitu saja di depanku?"
"Aku belum selesai bermain denganmu."
Sony melepaskan cengkeramannya dari rambut pria itu dan berdiri.
"Leo, periksa leher bagian belakangnya."
"Tikus-tikus bawah tanah biasanya selalu meninggalkan tanda kepemilikan di tubuh mereka."
Sony memberikan perintah tanpa memalingkan wajahnya dari pria itu.
"Baik, Tuan."
Leo melangkah maju dan langsung merobek kerah belakang seragam palsu pria tersebut.
Sret.
Di bagian tengkuk leher pria itu, terdapat sebuah tato kecil berwarna hitam dan perak.
Bentuknya menyerupai tengkorak manusia yang dililit oleh bayangan asap.
"Tuan Sony, tebakan Anda sangat tepat."
"Ini adalah tato lambang dari Sindikat Bayangan."
Leo melaporkan hasil temuannya dengan nada suara yang sedikit ditekan.
Meskipun Leo selalu tenang, menyebut nama organisasi itu tetap membuatnya sedikit waspada.
"Sindikat Bayangan."
Sony mengulangi nama itu perlahan dengan senyum menyeringai yang menakutkan.
"Akhirnya aku menemukan nama dari dalang di balik semua penderitaanku ini."
Sony menoleh ke arah Dimas yang sedari tadi hanya diam gemetaran seperti anak anjing.
"Dengar itu baik-baik, Dimas."
"Ayahmu yang bodoh itu telah berbisnis dengan iblis sungguhan demi uang proyek."
"Dan sekarang iblis itu datang untuk membungkam mulutmu selamanya."
Dimas langsung merangkak mendekati kaki Sony dan memeluk sepatu pria itu.
"Tolong selamatkan aku, Sony."
"Aku janji tidak akan pernah mengganggumu lagi."
"Biarkan aku hidup di penjara ini dengan aman, aku mohon."
Dimas menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang diincar oleh sindikat pembunuh.
Sony menendang tubuh Dimas pelan hingga pria itu terjatuh ke belakang.
"Aku tidak peduli apakah kau hidup atau mati di sini besok, Dimas."
"Urusanku denganmu dan keluarga sampahmu sudah benar-benar selesai."
Sony kembali menatap pembunuh bayaran dari Sindikat Bayangan yang masih terkapar itu.
"Leo, seret sampah ini keluar dan bawa ke gudang rahasia kita."
"Aku mau tahu di mana letak markas cabang mereka di kota ini malam ini juga."
Sony membalikkan badannya dan berjalan keluar dari sel tahanan yang bau itu.
"Baik, Tuan Sony."
Leo dengan mudah mengangkat kerah baju pria itu dan menyeretnya keluar seperti karung beras.
Brak.
Pintu sel jeruji besi itu kembali ditutup dengan keras dan digembok.
Dimas kembali ditinggalkan sendirian dalam kegelapan malam yang mengerikan.
Hanya kali ini, Dimas tahu bahwa ancaman kematian bisa datang kapan saja dari balik bayangan.
Di luar gedung kepolisian, hujan gerimis masih turun membasahi jalanan aspal.
Sony dan Leo kembali masuk ke dalam mobil van hitam tempat Nadhira menunggu.
Bruk.
Leo melemparkan tubuh pembunuh bayaran itu ke lantai mobil van.
Nadhira sedikit terkejut melihat pria yang babak belur dan berdarah itu.
"Kau menangkapnya hidup-hidup, Sony?"
Nadhira bertanya sambil menyingkirkan kakinya agar tidak terkena darah.
"Orang mati tidak bisa berbicara, Nadhira."
Sony duduk kembali di kursinya dan mengambil cangkir kopinya yang sudah mulai dingin.
"Dia adalah tiket VIP kita untuk masuk ke sarang Sindikat Bayangan."
"Mulai besok, kita akan membuat keributan yang jauh lebih besar di kota ini."
Sony menatap keluar jendela mobil yang berembun karena hujan.
Sebuah senyum dingin kembali menghiasi wajahnya yang tampan.
Balas dendamnya pada keluarga Pratama telah usai.
Namun perang yang sesungguhnya melawan penguasa kegelapan ibu kota baru saja dikibarkan.