NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Di teras belakang rumah, Tara menghampiri ibunya yang sedang menikmati angin malam. Perlahan ia duduk di samping Nina, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu seperti yang sering ia lakukan sejak kecil. "Bu..."

"Hm?"

Tara tersenyum kecil. "Gimana? Ibu sekarang sudah tenang setelah lihat Bang Sarif?"

Nina menoleh kepada putrinya. Senyum hangat perlahan menghiasi wajahnya. "Iya."

Jawaban itu singkat, tetapi cukup membuat Tara ikut tersenyum lega.

"Tadi Ibu memperhatikan dia diam-diam. Cara bicaranya sopan, menghargai orang tua, dan yang paling membuat Ibu tenang... dia tidak terlihat seperti orang yang memandang rendah keluargamu."

Tara mengangguk pelan.

"Ibu masih sedih karena kamu menikah di usia yang sangat muda." Tangan Nina meraih tangan putrinya, menggenggamnya erat. "Tapi kalau memang ini jalan yang Allah pilih untukmu, Ibu akan belajar mengikhlaskan."

Mata Tara mulai berkaca-kaca.

"Ibu akan terus mendoakan kamu." Nina mengusap punggung tangan putrinya dengan lembut. "Ibu akan terus salat hajat."

Tara menoleh.

"Karena pernikahan itu bukan hanya tentang hari lamaran atau hari akad." Nina tersenyum penuh kasih. "Pernikahan adalah ibadah yang panjang, Tara." "Di dalamnya ada kebahagiaan, ada ujian, ada air mata, ada kesabaran, dan ada perjuangan yang tidak sebentar. Ibu tidak bisa selalu berada di sampingmu nanti. Karena itu, yang bisa Ibu lakukan adalah terus mengetuk pintu langit. Meminta kepada Allah agar suamimu menjadi imam yang baik, rumah tanggamu dipenuhi keberkahan, dan kamu selalu diberi kekuatan dalam setiap keadaan."

Air mata Tara akhirnya jatuh. Ia memeluk ibunya erat.."Terima kasih, Bu."

Nina membalas pelukan putrinya sambil mengecup puncak kepalanya. "Kalau suatu hari nanti kamu sedang lelah menjalani rumah tangga, ingatlah satu hal."

"Apa, Bu?"

"Pulanglah. Rumah ini akan selalu menjadi tempatmu pulang. Dan doa Ibu... tidak akan pernah berhenti menyertaimu."

Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, Tara merasa jauh lebih tenang. Karena ia tahu, ke mana pun langkahnya nanti setelah menjadi istri Sarif, ia akan selalu memiliki seorang ibu yang tak pernah lelah mendoakannya.

***

Pagi itu, Tara baru saja pulang mengantar pesanan katering. Motor tuanya berhenti di halaman rumah. Ia melepas helm, mengibaskan pelan rambut yang sedikit berantakan, lalu mengambil tas berisi uang hasil pembayaran pelanggan.

Belum sempat melangkah masuk, Ratna sudah berdiri di depannya. Rupanya, sejak tadi ia memang sengaja menunggu. "Aku mau ngomong sebentar."

Tara mengangguk santai. "Boleh."

Ratna menarik napas sebelum akhirnya berkata, "Kamu tahu, kan... gaji tentara itu nggak besar."

Tara hanya tersenyum. "Terus?"

"Yakin kamu mau nikah sama Bang Sarif?".Ratna sengaja menekankan kata yakin, berharap sepupunya mulai ragu.

Namun, reaksi Tara benar-benar di luar dugaan. Ia malah tertawa kecil. "Nggak apa-apa."

Ratna mengernyit.

"Aku udah biasa hidup susah."

Jawaban itu membuat Ratna terdiam.

Tara menyandarkan motornya ke standar, lalu melanjutkan dengan nada ringan seolah sedang menceritakan hal biasa. "Kami memang tinggal di rumah besar." Ia menunjuk bangunan megah keluarga Bani di belakangnya. "Tapi itu kan rumah Nenek." Tara nyengir. "Ekonomi keluargaku ya... biasa aja."

Ratna mulai kehilangan kata-kata.

"Bahkan dulu pernah ada masa Ibu sakit sampai nggak bisa menerima pesanan katering." Tara masih tersenyum, meski matanya sedikit menerawang mengingat masa itu. "Waktu itu kami pernah puasa... bukan karena lagi pengin cari pahala."

Ratna menatapnya bingung.

"Tapi karena memang nggak ada yang bisa dimakan di rumah." Tara mengangkat bahu, lalu terkekeh pelan. "Alhamdulillah sekarang sudah lewat." Senyumnya tetap lebar, seolah kenangan pahit itu hanyalah cerita lama yang tak perlu disesali.

Sementara Ratna... Dadanya mendadak terasa sesak. Ia baru sadar selama ini hanya melihat rumah besar tempat mereka tinggal, tanpa benar-benar memahami kehidupan Tara di dalamnya. Sindiran yang tadi ingin ia lontarkan justru berbalik menampar dirinya sendiri.

Tara sama sekali tidak sedang menyombongkan kesabaran. Ia hanya menceritakan kenyataan hidupnya. Dan kenyataan itu membuat Ratna tak mampu berkata apa-apa lagi.

Rumah keluarga Bani memang berdiri megah dari luar. Siapa pun yang melihatnya pasti mengira seluruh penghuninya hidup berkecukupan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sejak suami Nina meninggal dunia, perlahan terbentuk kesenjangan yang tak pernah diucapkan secara terang-terangan. Nenek Bani memang mewajibkan kedua putra laki-lakinya beserta keluarga masing-masing tetap tinggal di rumah besar itu.

Di sayap depan rumah ditempati putra sulung beserta istrinya, Ani, dan putri mereka, Ratna. Sementara di bagian paling belakang tinggal Nina bersama ketiga anaknya: Tara, Taufan, dan Akmal. Dulu, bagian itu juga dihuni ayah Tara sebelum beliau meninggal dunia.

Meski tinggal di bawah satu atap, kehidupan kedua keluarga berjalan dengan cara yang berbeda. Keluarga Ani memiliki kondisi ekonomi yang lebih mapan. Sementara Nina harus berjuang menghidupi ketiga anaknya melalui usaha katering rumahan setelah kehilangan suami.

Perbedaan keadaan itu lambat laun menciptakan jarak yang tidak terlihat. Bukan berupa tembok atau pagar, melainkan kebiasaan, perlakuan, dan cara pandang. Mereka makan di meja yang sama saat acara keluarga, tetapi beban hidup yang dipikul masing-masing tidak pernah benar-benar sama.

Tara tumbuh dalam keadaan itu tanpa banyak mengeluh. Baginya, rumah besar itu tetaplah rumah. Hanya saja, sejak kecil ia belajar bahwa tinggal di tempat yang sama tidak selalu berarti menjalani kehidupan yang sama.

Sebenarnya, kehidupan Tara dahulu tidak selalu seperti sekarang. Saat ayahnya masih hidup, keluarga kecil mereka hidup dengan cukup. Tidak berlimpah, tetapi juga tidak pernah kekurangan. Ayah Tara dikenal sebagai pria pekerja keras, bahkan sedikit demi sedikit ia sudah mengumpulkan uang untuk membeli rumah sendiri.

Namun, rencana itu tidak pernah terwujud. Ketika ayah Tara menyampaikan niatnya untuk pindah, Nenek Bani langsung menolak keras. Beliau bahkan sempat histeris. "Tidak ada anak laki-laki Ibu yang boleh keluar dari rumah ini!" Bagi Nenek Bani, rumah besar itu adalah simbol persatuan keluarga. Semua anak laki-lakinya harus tetap tinggal bersama agar keluarga besar tidak tercerai-berai.

Akhirnya, ayah Tara mengurungkan niat membeli rumah dan tetap tinggal bersama keluarga besarnya. Takdir berkata lain. Beberapa tahun kemudian, ayah Tara meninggal dunia. Sejak saat itu, seluruh beban keluarga jatuh ke pundak Nina.

Sebenarnya, Nina pernah mendapat tawaran bekerja di luar kota dengan penghasilan yang jauh lebih baik daripada menerima pesanan katering di kampung. Ia sempat tergoda, karena pekerjaan itu bisa membuat kehidupan anak-anaknya lebih terjamin.

Nenek Bani tidak melarang. Beliau bahkan mengizinkan. Namun, ada satu syarat. "Tara, Taufan, dan Akmal tetap tinggal di rumah ini."

Nina terdiam. Bagaimana mungkin ia pergi jauh, sementara ketiga anaknya yang saat itu masih kecil harus tumbuh tanpa ayah dan juga tanpa ibu? Hatinya tidak sanggup.

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!