Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan Telak Sang Primadona dan Ujian di Tengah Malam
Hari-hari Ceira di Universitas Metropolitan perlahan-lahan memiliki warna baru berkat kehadiran Viona, Bella, dan Rara. Ketiga sahabat barunya itu berhasil menciptakan benteng pelindung kecil yang membuat Ceira bisa bernapas sedikit lebih lega di antara bayang-bayang ketakutan terhadap keluarga Sterling. Namun, kedamaian kecil itu tidak ditakdirkan bertahan lama.
Siang itu, saat jam istirahat kuliah tiba, Ceira memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak ke taman belakang kampus yang rimbun dan agak sepi demi menghindari kebisingan kantin. Langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar suara gaduh, hantaman benda tumpul, dan erangan kesakitan di balik deretan dinding batu bata tua dekat area gudang terbengkalai.
Didorong rasa penasaran, Ceira mengintip dari balik pilar. Jantungnya seketika berdegup kencang.
Di tengah lapangan kecil itu, seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam berantakan tengah dikepung oleh empat orang preman berbadan besar yang membawa tongkat besi. Pria yang dikeroyok itu adalah Zayn Al-Fayed—sosok misterius pewaris sindikat bawah tanah independen yang kekuasaannya bahkan ditakuti dan tidak bisa disentuh sembarangan oleh keluarga Sterling karena wilayah kekuasaan mereka yang berbeda. Zayn terkenal sebagai pria dingin, kejam, tidak pernah sudi disentuh oleh wanita manapun, dan tidak pernah tertarik pada kaum hawa.
Namun, meski melawan dengan sengit, Zayn tampak mulai kewalahan akibat luka tusuk di lengan kirinya dan jumlah pengeroyok yang tidak seimbang.
Tanpa berpikir panjang akan keselamatan dirinya sendiri, mata Ceira menyipit tajam. Tanpa ragu, gadis itu melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Selama bertahun-tahun hidup dalam kurungan keluarga Sterling, salah satu hal diam-diam yang ia kuasai untuk melindungi diri adalah teknik tinju dan bela diri jarak dekat yang mematikan.
"Hei, banci! Keroyokan ya?" panggil Ceira dingin.
Salah satu preman bertubuh besar menoleh sambil tertawa meremehkan. "Wah, ada mangsa baru yang mau ikut—"
Bugh!
Belum sempat preman itu menyelesaikan kalimatnya, Ceira sudah melesat cepat. Sebuah pukulan telak straight tangan kanan yang terarah sempurna mendarat dengan kekuatan penuh tepat di rahang preman tersebut, membuat tubuh besar itu terpelanting jatuh ke tanah dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Zayn, yang sedang bersandar pada dinding bata sambil menahan luka, langsung tertegun di tempatnya. Manik mata tajam pria itu membelalak tak percaya melihat seorang gadis berdandan rapi berkacamata melayangkan pukulan tinju yang begitu bertenaga dan profesional.
Tiga preman lainnya terkejut, lalu bergegas menyerempak Ceira secara bersamaan. Alih-alih takut, postur tubuh Ceira berubah sigap layaknya petinju profesional. Saat preman pertama mengayunkan tongkat besi, Ceira meliukkan badannya dengan anggun, menepis serangan itu, lalu melepaskan kombinasi hook kiri dan uppercut telak yang menghantam ulu hati musuhnya hingga tersungkur lemas.
Dalam hitungan detik, dua preman terakhir berhasil dilumpuhkan oleh tendangan memutar dan pukulan bertubi-tubi dari Ceira yang bergerak lincah. Suasana sekitar seketika mendadak sunyi.
Ceira mengibaskan tangannya pelan, merapikan letak kacamata berbingkai tipis di hidungnya, lalu menoleh ke arah Zayn yang masih terpaku menatapnya dengan pandangan campur aduk antara takjub dan terpesona.
Untuk pertama kalinya seumur hidup, Zayn Al-Fayed merasakan jantungnya berdegup tak normal. Biasanya, ia akan merasa risih jika didekati atau diselamatkan oleh wanita. Namun, kombinasi antara kecantikan dingin, ketenangan, dan keahlian tinju Ceira yang luar biasa brutal sekaligus elegan berhasil meruntuhkan benteng es di hatinya seketika.
"Lain kali kalau tidak bisa jaga diri, jangan sok jalan sendirian ke tempat sepi," ucap Ceira dingin namun terdengar manis di telinga Zayn.
Sebelum Zayn sempat membuka suara untuk bertanya siapa nama gadis penolongnya, dering ponsel di saku Ceira yang tiba-tiba bergetar keras menampilkan nama Kaiser Sterling berhasil membuyarkan ketegangan di area taman belakang kampus. Tatapan tajam Zayn Al-Fayed yang masih terpesona tak dihiraukan lagi. Ceira langsung memutar badan dan berlari kecil meninggalkan tempat itu, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang menggila akibat rasa takut dan panik yang bercampur menjadi satu.
Aku harus menyiapkan mental, batin Ceira gemetar, mengatur napasnya yang tersenggal-senggal saat tiba di gerbang utama kampus.
Sesuai dengan titah mutlak Kaiser bahwa Ceira wajib diantar dan dijemput oleh mereka—sebuah mobil sedan mewah berkeamanan tinggi sudah terpakir rapi menanti. Pintu terbuka dari dalam, menampilkan sosok King—atau Lucid sang manipulator dingin—yang mengenakan setelan jas putih tulang dengan raut wajah tanpa ekspresi. Begitu Ceira masuk dan duduk di kursi belakang, atmosfer di dalam kabin seketika membeku.
King menatap tajam ke arah Ceira, manik mata peraknya menyiratkan bara api kecemburuan yang membakar setelah mendengar laporan anak buahnya mengenai insiden di taman belakang kampus tadi.
"Rupanya pahlawan kesiangan kita sudah selesai beraksi," suara dingin King meluncur pelan namun mematikan. Pria itu mendekatkan wajahnya tanpa memberi kesempatan Ceira untuk menghindar, lalu langsung merengkuh tengkuk gadis itu.
Ciuman penuh kepemilikan yang menuntut langsung merampas napas Ceira. King melumat bibirnya kasar, menghisapnya tanpa ampun hingga rasa perih menjalar di bibir Ceira. Tidak berhenti di situ, King beralih menciumi leher jenjang Ceira, meninggalkan jejak-jejak kecupan merah keunguan yang panas dan mencolok sebagai tanda klaim mutlak.
"Itu hadiah pertama karena kamu berani mempertaruhkan nyawa untuk pria lain," bisik King tajam tepat di telinga Ceira yang bergetar ketakutan.
Perjalanan sore itu terasa begitu mencekam hingga mobil akhirnya memasuki basement Sterling Corp. Sesuai aturan, Ceira wajib mendatangi kantor Kaiser terlebih dahulu sebelum sore itu beranjak semakin petang.
Begitu pintu ruang CEO lantai atas terbuka, King mendorong pelan tubuh Ceira masuk ke dalam, lalu meninggalkan mereka berdua. Di dalam ruangan yang mulai temaram, Zero—sifat buas dan posesif dari Kaiser yang telah mengambil alih kendali sepenuhnya—sudah berdiri tegak menanti mangsanya untuk mengeksekusi hukuman.
"Kemari, Kucing Kecil," geram Zero rendah, manik mata hitam kelamnya berkilat bagai predator kelaparan.
Ceira tahu ia tidak boleh pasrah begitu saja. Adrenalinnya melonjak. Mengandalkan keahlian bela diri dan tinju yang diam-diam ia kuasai, Ceira mengepalkan tangan kanannya erat-erat. Saat Zero melangkah mendekat untuk menangkapnya, Ceira langsung melayangkan sebuah pukulan telak (straight) ke arah wajah pria itu.
Bugh!
Sayangnya, kekuatan fisik Zero berada di luar batas nalar manusia biasa. Pria itu sama sekali tidak bergeming. Dengan gerakan kilat, Zero menangkap kepalan tangan Ceira dengan satu tangan besarnya, lalu memutar tubuh gadis itu hingga terhantam ke dinding kaca dengan keras.
"Permainan fisik yang menarik," seringai Zero berbahaya, menatap Ceira yang terengah-engah kehabisan tenaga. "Tapi kamu tidak akan pernah bisa menang dariku, Sayang."
Hukuman langsung dimulai tanpa ampun. Zero menyerang bibir Ceira dengan ciuman brutal bertubi-tubi yang membuat gadis itu menangis sesenggukan memohon ampun. "Ampun... Kak, kumohon jangan..." rintih Ceira di sela-sela ciuman yang meremukkan kewarasannya.
Namun Zero menutup pendengaran. Tangannya yang kasar merobek kancing kemeja Ceira, membebaskan buah dada gadis itu dari balutan pakaian dalamnya. Zero langsung melumat dan menghisap benda kenyal Ceira rakus, membuat Ceira mendesah keras melengkungkan punggungnya akibat gelombang nikmat dan siksaan yang melebur jadi satu.
Tidak cukup sampai di situ, Zero menggunakan kombinasi jemari tangan dan ciuman panasnya untuk memicu tubuh Ceira hingga gadis itu terpaksa mencapai klimaks berkali-kali dalam isak tangis frustrasi yang memalukan. Seluruh tubuh Ceira terkulai lemas, bermandikan peluh, tanpa menyisakan sedikit pun sisa tenaga.
Meskipun hukuman penetrasi belum diberikan dan hasrat gelap Zero kian membara, ia menuntut kepuasan lain. Dengan napas memburu dan tatapan menggelap, Zero menarik tangan lemas Ceira dan memaksanya untuk menyentuh serta membelai Zero mini yang sudah mengeras sempurna di balik celana.
"Jika kamu tidak mau aku memilikimu seutuhnya sekarang, manjakan aku dengan mengusap milikku, Kucing Kecil..." bisik Zero serak penuh tuntutan.
Dan begitu sentuhan tangan Ceira mulai mengusap dan mengelus miliknya, Zero langsung membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang begitu liar hingga erangan tertahan akhirnya lolos dari tenggorokan pria itu.
Beberapa jam kemudian setelah hukuman dari Zero.
Di dalam mobil mewah yang membelah jalanan kota menuju Kediaman Sterling, Ceira duduk lemas di atas pangkuan Zero. Pria itu sedikit pun tidak membiarkan Ceira lepas dari dekapannya. Zero mencium bibir Ceira sebentar, lalu berbisik tajam tepat di depan bibirnya.
"Jangan pernah bermimpi untuk kabur dariku, Kucing Kecil, karena kamu sepenuhnya milik kami... Buang jauh-jauh mimpimu itu."
Mobil akhirnya berhenti di halaman utama mansion. Saat gerbang mobil terbuka dan Ceira bersiap melangkah turun dengan sisa-sisa tenaga yang tipis, tangan besar Zero tiba-tiba kembali mencengkeram pinggangnya erat-erat, menahan gerakannya.
"Malam ini Kaiser dan King pergi ke dunia bawah..." bisik Zero dengan manik mata merah yang menyala dalam gelap. "...Tapi ingat, bahkan saat aku tidak di sampingmu, jejakku ada di setiap jengkal tubuhmu. Jangan berani-berani mencoba keluar dari kamar ini, atau akibatnya akan jauh lebih mengerikan dari apa yang kau bayangkan."
Ceira menelan ludah, tubuhnya membeku. Pintu kamar di lantai atas mansion seolah memanggilnya, menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak ia ketahui—bahwa malam ini, pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai.
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏
Semangat