NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.1k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Si Budi Kena Lagi

Raka tersenyum dingin, lalu memutus panggilan.

Telepon itu berdering lagi sebelum ia masuk ke Alphard.

Ia menolak.

Berdering lagi.

Ia menolak lagi.

Pada panggilan keempat, pesan masuk beruntun.

Budi: Mas, angkat!

Budi: Ini darurat!

Budi: Kalau gue kenapa-kenapa, Ratna sama Ibu bakal salahin lo!

Raka membaca pesan terakhir itu sambil membuka pintu mobil.

Mereka masih memakai pola lama.

Seseorang membuat masalah, lalu Raka harus membayar agar semua orang bisa berpura-pura keluarga masih baik-baik saja.

Ia menyalakan mesin.

Ponsel kembali bergetar.

Kali ini Bu Sumini.

Raka membiarkan layar menyala sampai gelap.

Dalam perjalanan pulang, ia tidak mengebut. Jalanan Surabaya padat, matahari memantul di kaca toko dan helm pengendara motor. Di kursi sebelah, map hitam berisi salinan dokumen dari Hendra tergeletak tenang.

Di dalam map itu ada perang yang rapi.

Di luar, Budi membawa kekacauan yang bau keringat.

Saat Raka tiba di apartemen, Budi sudah menunggu di dekat lobi. Kaosnya kusut, rambutnya berantakan, dan matanya terus bergerak ke arah jalan seperti orang yang dikejar.

"Mas!" Budi berlari mendekat. "Akhirnya lo pulang."

Raka mengunci Alphard. "Aku pulang ke rumahku. Bukan ke posko masalahmu."

Wajah Budi berkedut. Ia masih mencoba tersenyum.

"Mas, gue cuma pinjam. Nanti gue balikin."

"Berapa?"

Budi menelan ludah. "Lima puluh juta."

Raka menatapnya.

Satu detik.

Dua detik.

"Judi online lagi?"

"Bukan judi, Mas. Investasi kecil. Teman gue bilang ada putaran cepat."

"Namanya judi."

"Ya udah, kalau mau disebut gitu, terserah. Yang penting sekarang gue harus bayar."

"Bayar sendiri."

Nada Budi langsung naik. "Lo punya mobil miliaran! Lima puluh juta buat lo apa sih?"

"Batas."

"Apa?"

"Lima puluh juta itu batas antara masalahmu dan masalahku. Aku tidak akan melewatinya."

Budi melirik ke sekitar. Beberapa penghuni apartemen mulai memperlambat langkah. Ia tampak malu, lalu malu itu berubah menjadi marah.

"Lo jangan sok suci, Mas. Dulu juga lo makan dari keluarga kami."

Raka hampir tertawa.

"Ulangi."

Budi sadar kalimatnya buruk, tetapi sudah terlanjur.

"Maksud gue, lo kan suami Mbak Ratna. Keluarga harus saling bantu."

"Keluarga tidak menjual utang judi sebagai kewajiban orang lain."

"Gue bilang pinjam!"

Ia mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar, membuka layar chat, lalu menyodorkannya ke wajah Raka. Ada pesan ancaman, foto KTP, daftar kontak keluarga, dan kalimat-kalimat kasar yang dikirim oleh nomor tak dikenal.

"Lihat sendiri! Mereka udah pegang data gue. Kalau gue nggak bayar hari ini, mereka sebar ke semua kontak. Nama keluarga bisa hancur."

"Nama keluarga siapa?"

"Kita!"

"Kamu yang daftar judi online pakai datamu. Kamu yang pinjam dari rentenir. Kamu yang membuat mereka punya akses ke kontakmu."

Budi mengusap wajah. "Mas, gue panik. Gue cuma butuh satu kali ini."

"Satu kali ini sudah pernah terjadi berkali-kali."

"Dulu cuma kecil!"

"Dulu aku yang menutup lubang kecil. Itu sebabnya lubangmu jadi Rp 50 juta."

Budi menggertakkan gigi. Matanya basah, tetapi bukan karena menyesal. Itu air mata orang yang marah karena pintu gratis ditutup di depan wajahnya.

"Kalau gue dibawa, Mbak Ratna bakal benci lo."

Raka melihatnya tanpa berkedip.

"Kamu masih berpikir itu ancaman?"

Budi terdiam.

Untuk sesaat, wajahnya menunjukkan kebingungan murni. Dulu, nama Ratna cukup untuk menarik tali di leher Raka. Cukup satu kalimat dari istrinya, Raka akan mengambil motor, mencari pinjaman, atau meminta kasbon ke kantor.

Sekarang tali itu sudah putus.

"Pinjaman harus punya niat bayar."

Budi maju satu langkah. Napasnya bau rokok dan minuman energi murah.

"Lo pikir karena sekarang punya duit, lo bisa hina gue?"

"Tidak. Kamu sudah cukup menghina dirimu sendiri."

Tangan Budi melayang ke dada Raka.

Ia mendorong.

Atau mencoba mendorong.

Tubuh Raka tidak bergeser.

Mata Budi melebar.

Sebelum ia sempat menarik tangan, Raka menangkap pergelangan itu. Tidak keras. Tidak perlu. Dengan kekuatan sepuluh kali tubuh biasa, sedikit tekanan saja membuat wajah Budi berubah pucat.

"Aduh! Mas, lepas!"

"Kamu yang menyentuh dulu."

"Sakit, anjing!"

Raka memutar pergelangan itu setengah lingkaran, cukup untuk membuat lutut Budi turun.

Budi jatuh berlutut di lantai lobi.

Suara orang-orang kecil terdengar di sekitar mereka.

"Itu adik iparnya, ya?"

"Kok sampai berlutut?"

"Tadi dia yang dorong dulu."

Budi mendengar bisikan itu. Wajahnya merah karena sakit dan malu.

"Mas, jangan begini. Banyak orang."

"Bagus. Banyak saksi."

Raka menunduk sedikit. Suaranya rendah, hanya cukup terdengar oleh Budi.

"Mulai sekarang, kalau kamu menyentuhku lagi, aku akan lapor polisi. Kalau kamu membawa orang untuk menagih utangmu kepadaku, aku akan serahkan semua bukti judi online-mu."

Budi gemetar. "Lo... lo nggak punya bukti."

"Kamu yakin?"

Raka melepaskan tangannya.

Budi langsung memeluk pergelangan sendiri, napasnya tersengal. Tidak ada memar besar, tidak ada luka. Hanya rasa sakit dan pelajaran yang bersih.

Lift terbuka.

Bu Sumini keluar dengan wajah merah padam, di belakangnya Ratna tampak kesal dan malu.

"Raka!" Bu Sumini berteriak. "Kamu apakan anak Ibu?"

Raka menoleh. "Anak Ibu mencoba menyerang saya."

"Dia minta tolong! Kamu malah mempermalukan dia di depan orang!"

"Dia mempermalukan dirinya dengan utang judi."

Bu Sumini menunjuk wajah Raka. "Kamu itu sudah kaya sedikit langsung sombong. Dulu waktu nikah sama Ratna, kamu datang ke keluarga kami bukan siapa-siapa!"

Beberapa tetangga semakin jelas menonton.

Ratna menggertakkan gigi. "Raka, cukup. Masuk. Jangan bikin malu."

"Yang bikin malu bukan orang yang menolak membayar judi."

Bu Sumini maju, hendak meraih lengan Raka.

Raka hanya mengangkat pandangan.

Tidak ada gerakan besar.

Tidak ada ancaman kosong.

Namun Bu Sumini berhenti.

Entah karena melihat Budi masih memegangi tangannya, entah karena akhirnya sadar tubuh Raka tidak lagi seperti menantu kurus yang dulu bisa ia bentak setiap hari.

"Bu Sumini," kata Raka.

Panggilan itu membuat wajah perempuan tua itu menegang. Bukan Ibu. Bu Sumini.

"Saya tidak membayar utang Budi. Tidak hari ini. Tidak besok. Tidak pernah."

"Kalau mereka bawa Budi?"

"Itu akibat dari pilihan Budi."

Budi berdiri tertatih. "Mas, mereka bukan orang baik. Mereka bisa mukul gue."

"Berarti lapor polisi."

"Lo gila? Gue ikut judi online. Gue juga bisa kena!"

"Akhirnya kamu paham."

Budi terdiam.

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tekanan di pergelangan tangannya.

Ratna menarik napas tajam. "Kamu benar-benar berubah jadi orang kejam."

Raka menatapnya.

Di kepalanya, map hitam di jok mobil terasa lebih berat daripada seluruh tuduhan Ratna.

"Tidak, Ratna. Aku hanya berhenti menjadi bodoh."

Bu Sumini hendak membalas, tetapi suara motor berhenti kasar di depan apartemen.

Tiga pria turun. Jaket hitam, sandal, rokok di mulut, dan mata yang langsung menilai barang mahal sebelum menilai manusia. Salah satu dari mereka melihat Alphard hitam, lalu melihat Raka.

Budi memucat seperti kertas.

"Itu mereka," bisiknya.

Pria paling depan berjalan mendekat sambil tersenyum tipis.

"Bos," katanya kepada Raka, salah sasaran dengan sangat percaya diri. "Adik ipar Bapak hutang sama kita Rp 50 juta. Bayar sekarang atau kita bawa dia."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!