Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat yang Bertopeng Sajadah
Suara gemericik air wudu di sudut mushola privat lantai lima gedung Pratama Group terdengar begitu jernih, membelah keheningan sore yang dingin. Cahaya matahari barat menembus kaca patri, membiaskan garis-garis keemasan di atas karpet beludru hijau tebal.
Reza berdiri di atas sajadah, merapikan peci hitamnya. Ia memutar tubuh, menyunggingkan senyuman paling teduh dan santun saat melihat Arga melangkah masuk sambil melipat lengan kemejanya.
"Eh, Ga... mau sholat Ashar juga?" sapa Reza dengan nada suara yang begitu lembut, hangat, dan sarat akan kesan spiritual yang matang. "Ayo, biar aku yang jadi imamnya."
Arga menghentikan langkahnya sejenak.
Matanya menatap sosok pria di hadapannya. Reza—sahabat yang kerap menghadiri pengajian bersama, pria yang selalu menyelipkan doa-doa indah dalam setiap pembicaraan mereka, dan pria yang baru saja dua hari lalu menandatangani dokumen perampokan aset Arga sembari meniduri istrinya.
Betapa mengerikannya manusia yang bisa menjadikan Tuhan sebagai topeng paling luar dari busuk jiwanya, batin Arga. Dada Arga bergemuruh oleh rasa muak yang menjalar hingga ke tenggorokan. Namun, raut wajahnya tetap tenang bagaikan permukaan danau yang membeku.
"Baguslah, Za. Sudah lama kita tidak sholat berdua seperti zaman merintis dulu," jawab Arga halus. Ia mengambil posisi di belakang Reza sebagai makmum.
Saat Reza mengumandangkan takbir dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan, Arga bersedekap. Di dalam kekhusyukan buatan Reza, pikiran Arga melayang pada masa-masa sepuluh tahun lalu—saat Reza berlutut di atas sajadah yang sama, menangis memohon bantuan modal karena dikejar utang piutang. Saat itu, Arga percaya bahwa pria ini adalah sosok religius yang jujur dan bernasib malang. Arga membantunya, memberinya saham, membukakan jalan menuju kemewahan.
Namun sore ini, ketika Reza membacakan ayat-ayat suci dengan lantang, Arga justru merasakan hawa dingin yang mencekam. Setiap bacaan dari mulut Reza terasa seperti ejekan telanjang. Reza merasa posisinya begitu aman di mata Tuhan dan manusia, berpikir bahwa kesalehan luarannya cukup untuk menutupi kejahatannya di belakang layar.
Selesai salam, Reza membalikkan badan dan mengulurkan tangannya pada Arga.
"Semoga doa-doa kita diijabah ya, Ga," ujar Reza seraya menjabat tangan Arga erat-erat, menepuk punggung tangan Arga dengan kehangatan seorang 'saudara'. "Aku selalu mendoakan keberkahan buat perusahaan kamu dan kebahagiaan kamu sama Nabila di setiap sujudku."
Arga menatap genggaman tangan itu. Ia tidak menarik tangannya. Ditatapnya lurus-lurus ke dalam pupil mata Reza—mencari apakah ada sebersit rasa takut atau rasa bersalah di sana. Yang ada hanyalah keyakinan diri yang buta.
"Terima kasih, Za," balas Arga dengan suara yang berat dan dalam. "Doa seorang sahabat sejati... memang selalu punya tempat tersendiri di langit."
"Pasti, Ga!" Reza tertawa kecil, melipat sajadahnya dengan rapi. "Oh iya, soal dana 100 miliar yang kemarin... sebagian sudah aku alokasikan untuk pembelian material proyek utama. Tapi untuk kelancaran administrasi, aku minta bantuan Nabila lagi buat tanda tangan beberapa dokumen pencairan operasional lapangan. Boleh, kan?"
Logika perangkap Reza kembali bekerja. Ia sengaja terus memakai Nabila sebagai pelapis agar jejak transaksi ke rekening pribadi tidak mengarah langsung ke namanya.
Arga berdiri dari duduknya, merapikan celana kainnya. Senyum tipis yang penuh misteri mengukir bibirnya.
"Tentu saja boleh, Za. Apapun yang dibutuhkan untuk 'kelancaran' proyekmu," jawab Arga santai. "Lagipula, Nabila kan sangat mempercayaimu. Dia selalu bilang pada saya bahwa kamu adalah pria paling bertakwa dan paling bisa diandalkan yang pernah dia kenal."
Reza sempat tertegun, bahunya agak kaku sekejap. Namun kecerdasannya dalam bersandiwara dengan cepat menguasai situasi. "Ah... Nabila terlalu berlebihan memujiku. Aku cuma berusaha jadi sahabat yang amanah, Ga."
"Amanah..." Arga mengulang kata itu pelan, seolah sedang mencicipi rasa kata tersebut di lidahnya. Ia menepuk bahu Reza dua kali—tepatan di mana seragam jas mahal itu melekat. "Tetaplah jadi 'sahabat yang amanah' sampai akhir ya, Reza. Karena makin tinggi seseorang membawa nama baik dan agama... makin hancur jatuhnya saat topeng itu terkelupas."
Reza tertawa canggung, mengusap lehernya yang mendadak terasa hangat. "Kamu ini suka sekali perumpamaan yang berat, Ga."
"Hanya pengingat kecil antar sahabat," bisik Arga tepat di samping telinga Reza sebelum melangkah keluar dari mushola.
Di luar ruangan, Arga menghirup udara koridor yang dingin. Topeng sajadah yang dipakai Reza sore ini bukannya menyurutkan dendam Arga, melainkan makin memantapkan niatnya. Pria yang menjual kesetiaan sahabatnya demi uang dan wanita adalah penjahat biasa; namun pria yang menggunakan topeng kesalehan untuk menutup penusukan dari belakang adalah iblis yang harus dimusnahkan hingga ke akar-akarnya.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt