NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemuruh Kota yang Terlupakan

Roda pesawat Airbus A320 menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan hentakan tunggal yang cukup keras, disusul deru mesin pembalik yang memecah keheningan kabin. Anya menatap keluar jendela kaca kecil di samping kursinya. Di luar, Jakarta sedang menyambutnya dengan langit sore yang diselimuti kabut polusi kelabu, hawa pengap yang samar-samar terasa bahkan dari balik dinding kabin ber-AC, dan deretan gedung pencakar langit di kejauhan yang tampak samar.

Satu tahun lebih. Tepatnya empat ratus hari sejak dia melarikan diri dari kota ini dengan koper besar dan hati yang hancur lebur. Anya menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang familier mulai merayap di dadanya.

"Wah, akhirnya sampai juga di ibu kota! Panasnya ternyata tidak jauh beda dengan Surabaya ya," seru Ririn yang duduk di kursi sebelah, sibuk merapikan tas kamera dan jaket flanelnya.

Anya memaksakan senyum tipis, menyandang tas ransel kulit hitam minimalisnya di pundak. "Iya. Ayo turun, Rin. Anak-anak tim yang lain pasti sudah mengantre di garbarata."

Penampilan Anya sore itu langsung menarik perhatian beberapa penumpang di lorong pesawat. Blus rajut pas badan berkerah rendah sewarna gading yang dikenakannya membingkai leher jenjang dan kulit putih cerahnya dengan sangat elegan. Ditambah dengan rok denim span hitam yang membentuk siluet tubuh proporsionalnya setinggi 165 cm, dia memancarkan aura seksi yang sangat berkelas. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam jatuh dengan rapi melewati belikatnya, berkilau di bawah lampu kabin. Tidak ada lagi sisa-sisa Anya remaja yang cengeng; wanita yang melangkah keluar dari pintu pesawat ini adalah perwujudan dari kemandirian yang dingin.

Begitu rombongan tim mahasiswa DKV Surabaya melewati pintu keluar area klaim bagasi dan melangkah menuju lobi kedatangan yang riuh, langkah kaki Anya mendadak melambat.

Di antara kerumunan penjemput yang membawa papan nama, berdirilah seorang wanita dengan gaun kasual bermerek berwarna pastel. Wajahnya cantik, anggun, namun tampak sangat pucat dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya.

Joana Bramantyo.

Kakak kandung Anya itu berdiri mematung saat matanya menangkap sosok adiknya di antara kerumunan. Joana menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar, air mata seketika menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak menyangka bahwa taktik ekstrem yang dilakukan Edgard benar-benar berhasil membawa adik bungsunya pulang ke Jakarta.

"Anya..." bisik Joana lirih, suaranya tercekat di tenggorokan saat dia melangkah maju memotong jarak di antara mereka.

Ririn dan anggota tim mahasiswa yang lain mendadak menghentikan obrolan mereka, merasakan atmosfer canggung yang tiba-tiba menekan di antara kedua wanita cantik tersebut. Ririn menatap Anya, menyadari bahwa perisai dingin di wajah sahabatnya itu kini mengeras sekeras batu karang.

Anya menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Joana. Dia tidak membalas pandangan haru kakaknya dengan pelukan atau tangisan. Sebaliknya, sepasang mata indah Anya menatap Joana dengan sorot mata yang teramat datar dan kosong—sebuah tatapan yang membuktikan bahwa jarak satu tahun telah menciptakan jurang pemisah yang teramat tebal di antara mereka.

"Halo, Kak Joana," sapa Anya, suaranya mengalun bariton, tenang, namun sepenuhnya formal tanpa ada riak emosi kekeluargaan sedikit pun. "Apa yang Kakak lakukan di sini? Saya rasa pihak Baskoro Group sudah menyiapkan bus khusus untuk akomodasi tim kami menuju hotel."

Mendengar sapaan yang begitu kaku dan panggilan 'Kak Joana' yang sarat akan batasan formal, dada Joana terasa seperti diremas. Air matanya luruh melewati pipinya yang pucat. "Anya... tolong jangan panggil Kakak seperti itu. Kakak datang ke sini sebagai kakakmu yang merindukanmu, bukan sebagai perwakilan perusahaan. Mama... Mama juga sedang menunggu di rumah sakit, Anya. Kondisi Papa..."

"Maaf, Kak Joana," potong Anya cepat dengan nada suara yang teramat dingin, memutus kalimat kakaknya tanpa ampun di depan teman-teman seangkatannya. "Saya di sini terikat kontrak profesional sebagai ketua tim desain mahasiswa dari Surabaya. Agenda saya hari ini adalah memimpin tim untuk melakukan check-in di hotel Sudirman dan merapikan data maket digital sebelum presentasi besok pagi di kantor pusat. Urusan pribadi di luar kontrak... akan saya pertimbangkan setelah tugas saya selesai."

"Anya, Kakak mohon..." Joana mencoba meraih jemari lentik Anya, namun dengan sigap Anya memundurkan langkahnya, menolak kontak fisik tersebut dengan pandangan yang tegas.

Di saat ketegangan emosional itu memuncak, sebuah langkah kaki yang tegap, ritmis, dan berat memecah keheningan di belakang Joana.

Edgard Baskoro berjalan mendekati mereka. Pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia dan berahang kokoh mirip Daniel Henney itu mengenakan kemeja rajut hitam lengan panjang yang digulung rapi hingga sikut, menonjolkan bentuk tubuh tegap atletisnya. Jam tangan perak mewahnya berkilau di bawah lampu lobi bandara. Tatapan mata elangnya yang tajam langsung mengunci pandangannya pada Anya dengan sorot mata yang sarat akan kelegaan sekaligus rasa penyesalan yang mendalam.

"Joana, biarkan Anya dan timnya beristirahat dulu di hotel," suara bariton Edgard yang berat dan dalam memecah kecanggungan di antara mereka. Dia melangkah berdiri di samping Joana, bertindak sebagai penengah namun matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah cantik Anya. "Perjalanan dari Surabaya pasti sangat melelahkan. Bus komuter perusahaan sudah menunggu di pintu utama lobi lima."

Anya melirik Edgard, lalu beralih menatap Joana dengan senyum sinis yang tipis di bibirnya. Dia menyadari betapa rapinya skenario yang dibuat oleh pria ini—membawa kakaknya ke bandara untuk memicu rasa bersalahnya, sementara dia sendiri bertindak sebagai penyelamat yang bijaksana.

"Terima kasih atas informasinya, Pak Edgard," ucap Anya dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk tepat di ulu hati Edgard. "Tim saya akan segera menuju bus. Permisi."

Anya membalikkan tubuhnya dengan sentakan yang anggun, melangkah memimpin teman-temannya berjalan melewati Edgard dan Joana begitu saja tanpa menoleh lagi. Sisa wangi parfum barunya—aroma bunga lili yang dewasa dan misterius—tertinggal di udara lobi bandara yang gerah, membakar sisa-sisa kekuatan Edgard Baskoro sore itu.

Edgard memandangi punggung Anya yang menjauh di antara kerumunan penumpang dengan rasa sunyi yang kembali mencengkeram dadanya. Dia merangkul bahu Joana yang mulai menangis terisak, sambil menguatkan ketetapan hatinya sendiri di dalam lubuk hati yang membeku. Kota Jakarta ini mungkin adalah awal dari kehancuran hati Anya, namun Edgard bersumpah, selama satu bulan ke depan di bawah langit ibu kota, dia akan mempertaruhkan seluruh hidup dan egonya untuk menyembuhkan luka tersebut, mengembalikan putri bungsu keluarga Bramantyo ke tempat yang seharusnya, dan membuat wanita sedingin es itu kembali menatapnya dengan binar ketulusan seperti dulu kala.

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!