NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

BROT.

Suara buang angin yang sangat nyaring dan panjang tiba-tiba terdengar dari arah kursi seorang pejabat tinggi berbadan besar.

Semua orang di aula itu langsung terdiam dan menoleh ke arah pejabat tersebut dengan wajah kebingungan.

KRIYUK KRIYUK.

Suara perut keroncongan yang sangat keras dan mengerikan mulai saling bersahutan dari puluhan perut para tamu VVIP.

Wajah para pejabat dan investor yang tadinya cerah ceria seketika berubah menjadi pucat pasi dan berkeringat dingin.

"Aduh, perutku sakit sekali seperti sedang ditusuk-tusuk pisau," erang seorang wanita sosialita sambil memegangi perutnya yang kram.

"Toilet, di mana letak toilet terdekat, aku sudah tidak tahan lagi," teriak seorang investor pria sambil melompat dari kursinya.

Kekacauan yang sesungguhnya akhirnya meledak tanpa bisa dicegah lagi di dalam aula mewah tersebut.

Puluhan tamu kehormatan itu berlarian tak tentu arah mencari kamar mandi sambil memegangi bagian belakang celana mereka.

Beberapa orang yang tidak kuat menahan rasa sakit akhirnya muntah di atas karpet merah mahal yang melapisi lantai aula.

HUEK HUEK.

Bau busuk dari kotoran dan muntahan seketika menyebar memenuhi ruangan ber-AC tersebut.

Para wartawan yang tadinya sibuk mencatat pidato kini langsung mengarahkan kamera mereka merekam bencana memalukan itu secara langsung.

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua berlarian seperti orang gila?" teriak Hendra panik dari atas panggung podium.

"Obat macam apa yang kau berikan pada kami Hendra? Kau sengaja ingin meracuni kami semua ya?" maki pejabat berbadan besar tadi sebelum akhirnya jatuh terduduk lemas di lantai.

Hendra turun dari panggung dengan wajah sepucat mayat melihat kekacauan massal yang menghancurkan acaranya.

"Matikan kameranya, jangan ada yang merekam kejadian ini, potong siaran langsungnya sekarang juga," perintah Hendra berteriak histeris pada para kru televisi.

Namun terlambat, seluruh jutaan rakyat di negara itu sudah menonton bencana buang air massal tersebut dari layar televisi mereka masing-masing.

Di ruang istirahat Klinik Bintang Abadi, tawa Indah pecah meledak dengan sangat keras hingga air matanya keluar.

HAHAHAHA.

"Astaga Rizky, perutku sakit sekali melihat mereka semua lari terbirit-birit mencari toilet di acara siaran langsung."

Indah memukul-mukul bantal sofa untuk melampiaskan rasa puasnya yang tidak terbendung.

Rizky ikut tersenyum lebar dan menyandarkan punggungnya dengan sangat santai.

"Itulah akibatnya jika serakah menelan resep palsu yang isinya adalah rasio suhu pembuatan obat pencahar tingkat dewa."

Maya yang sejak tadi berdiri di belakang sofa langsung mematung dengan mata terbelalak lebar dan mulut menganga.

Nampan kosong yang dipegangnya terlepas begitu saja dari tangannya dan jatuh berdebu ke lantai.

PRANG.

Suara jatuhan nampan itu membuat Indah dan Rizky menoleh ke arah Maya secara bersamaan.

"Oh ada apa Maya? Kenapa wajahmu terlihat sepucat Direktur Hendra di televisi itu?" sindir Indah dengan nada pura-pura peduli.

Tubuh Maya bergetar hebat menyadari bahwa dirinya baru saja dipermainkan habis-habisan oleh dua orang di depannya ini.

"Kalian berdua, kalian sudah tahu dari awal kalau aku ini adalah mata-mata?" tanya Maya dengan suara bergetar ketakutan.

Rizky berdiri dari sofanya dan berjalan pelan mendekati wanita yang kini sudah kehilangan seluruh kesombongannya itu.

"Seorang agen rahasia yang cerdas seharusnya belajar mengecek kualitas umpan sebelum nekat menggigitnya Nona Maya."

Rizky menatap lurus ke dalam mata Maya yang memancarkan kepanikan luar biasa.

"Kau pikir brankas tua yang bahkan tidak dikunci itu benar-benar berisi resep asli yang bernilai triliunan rupiah?"

"Kalian sengaja membiarkanku mencuri resep palsu itu agar perusahaanku memproduksinya secara massal?" tebak Maya dengan nada putus asa.

"Tepat sekali, dan tebak berapa banyak uang tunai yang baru saja dibuang oleh bosmu ke tempat sampah pagi ini?" bisik Rizky penuh ancaman.

Maya menelan ludahnya dengan susah payah karena ia tahu persis jawabannya.

Hendra telah menggunakan seluruh dana kas cadangan perusahaan untuk memproduksi satu juta botol pil pencahar itu.

"PT Medika Raya akan bangkrut total, dan Bos Hendra pasti akan membunuhku karena memberikan resep racun ini padanya," tangis Maya jatuh terduduk di lantai.

Rizky tidak merasakan sedikit pun belas kasihan pada wanita pengkhianat yang berusaha menghancurkan bisnisnya ini.

"Itu adalah urusan internal perusahaan kalian Nona Maya, aku sarankan kau segera kabur keluar kota sebelum pembunuh bayaran bosmu datang mencarimu."

Indah menekan tombol di interkom meja untuk memanggil petugas keamanan klinik.

"Pak Danu, tolong seret wanita penipu ini keluar dari klinikku sekarang juga, dia sudah resmi dipecat dengan tidak hormat."

Dua orang satpam bertubuh besar segera masuk ke ruangan dan menyeret Maya yang sudah lemas tak berdaya itu keluar menuju jalan raya.

Rizky kembali duduk di sofanya dan melihat berita televisi yang kini sedang menayangkan kekacauan saham di bursa efek.

Saham PT Medika Raya yang tadinya berada di puncak langsung terjun bebas menyentuh batas bawah akibat insiden memalukan di acara peluncuran produk mereka.

"Kau benar-benar monster yang mengerikan dalam berbisnis Rizky, kau menghancurkan perusahaan raksasa tanpa perlu mengeluarkan keringat setetes pun," puji Indah menggelengkan kepalanya takjub.

"Ini baru permulaan Indah, anjing yang terpojok pasti akan menggigit dengan lebih ganas membabi buta."

Rizky menatap layar televisi yang menampilkan wajah Hendra sedang diseret oleh polisi untuk dimintai keterangan.

"Direktur Hendra tidak akan tinggal diam setelah mengalami kerugian triliunan rupiah dan dipermalukan di depan publik."

"Dia pasti akan mengirim preman atau pembunuh bayaran untuk menyerang kebun utamaku secara langsung."

Indah mendadak berhenti tertawa dan wajah cantiknya berubah menjadi sangat serius dan cemas.

"Lalu apa yang akan kau lakukan Rizky? Kau dan Bang Jali tidak akan mungkin menang melawan ratusan preman bayaran bersenjata."

Rizky tersenyum miring dan mengusap saku celananya dengan pelan, mengingat senjata biologis yang baru saja ditanamnya semalam.

"Biarkan saja mereka datang Indah, aku sudah menyiapkan karpet penyambutan yang sangat dingin dan mematikan untuk mereka semua."

Di dada Rizky, tato daun hijau zamrud itu kembali berdenyut pelan seolah ikut menantikan waktu panen bencana yang akan segera tiba.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!