NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 Panggilan yang Ditunda

Pagi datang lebih cepat dari yang diinginkan Arden, matahari baru saja menyingsing di balik atap-atap Aldenmere ketika ia sudah terjaga, duduk di tepi ranjangnya, surat Guildmaster Orin masih tergeletak di meja kecil di sudut kamar, belum tersentuh sejak malam sebelumnya.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dan pada seluruh timnya, bahwa ia akan menghadap hari ini. Tapi ketika ia turun ke ruang utama, mendapati Ness sudah sibuk di meja panjang dengan setumpuk kertas baru di hadapannya, sesuatu di dalam dirinya menyambut gangguan itu dengan kelegaan yang tidak seharusnya ia rasakan.

"Kontrak baru masuk semalam," kata Ness, tanpa mengangkat kepala, jelas sudah bangun sejak sebelum fajar. "Kelompok pedagang kecil butuh pengawalan menuju Hollowreach. Barang dagangan biasa, kain dan rempah, tidak ada yang istimewa. Bayarannya standar, tapi mereka butuh keberangkatan secepatnya, paling lambat dua hari dari sekarang."

Arden mendekat, mengambil kertas kontrak itu, membacanya sekilas. Hollowreach, desa perbatasan kecil di sisi timur wilayah Aldenmere, cukup jauh dari kota tapi masih dalam batas yang dianggap aman untuk perjalanan dagang rutin.

"Kau berencana mengambilnya?" tanya Ness, akhirnya menatapnya, alis terangkat sedikit.

"Kenapa tidak," kata Arden, terlalu cepat, bahkan bagi telinganya sendiri.

Di belakangnya, Corym baru saja turun dari tangga, mendengar sebagian percakapan itu, dan berhenti sejenak di anak tangga terakhir. "Bukankah kau seharusnya menghadap Guildmaster hari ini?"

"Aku akan menghadap," kata Arden, meletakkan kertas kontrak kembali ke meja, "tapi tidak ada salahnya menyelesaikan komitmen kecil ini dulu. Kontrak ini butuh keberangkatan cepat, sementara panggilan Guild tidak menyebutkan tenggat waktu pasti, hanya 'secepatnya'. Kita bisa menghadap setelah kita kembali dari Hollowreach."

Corym menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca, sebelum akhirnya melangkah mendekat ke meja. "Arden, kau tahu ini terdengar seperti alasan, bukan?"

"Ini bukan alasan," kata Arden, meski nada suaranya sendiri kurang meyakinkan. "Ini prioritas. Kita sudah berkomitmen menjaga reputasi kita dengan klien-klien kecil, Corym. Kita tidak bisa membiarkan mereka menunggu hanya karena Guild memanggil."

"Guildmaster Orin bukan seseorang yang suka menunggu," kata Corym, pelan.

"Dia akan mengerti," kata Arden, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri.

Corym tidak membantah lebih jauh, tapi tatapannya, sesaat sebelum ia berpaling menuju dapur untuk sarapan, menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawatiran biasa, seolah ia mengenali dengan jelas apa yang sedang dilakukan sahabatnya, meski tidak memaksanya mengakuinya secara terbuka.

...----------------...

Persiapan untuk kontrak Hollowreach berjalan lebih cepat dari biasanya, sebagian karena keterbiasaan tim menangani misi rutin semacam ini, sebagian lagi, meski tidak diucapkan siapa pun, karena semua orang tampak lega bisa kembali pada sesuatu yang terasa normal setelah dua hari yang penuh ketegangan.

Doran sudah bersiap di halaman belakang bersama Ashe, memeriksa peta rute menuju Hollowreach yang disiapkan Ness, menandai titik-titik yang perlu diperiksa dari udara sebelum keberangkatan.

"Rutenya cukup sederhana," katanya pada Arden, yang mendekat untuk melihat peta itu sendiri. "Jalur dagang utama, biasanya ramai dilalui, jarang ada masalah berarti selain cuaca atau perampok kecil sesekali."

"Kapan kau bisa mulai pengintaian?" tanya Arden.

"Sekarang, kalau kau mau," kata Doran, sudah mengelus bulu Ashe yang bertengger di bahunya. "Aku bisa memetakan sebagian besar rute dalam beberapa jam, memastikan tidak ada kejutan di sepanjang jalan sebelum kita berangkat besok."

"Lakukan," kata Arden. "Lebih baik kita tahu lebih awal daripada terkejut di tengah jalan."

Doran mengangguk, dan tak lama, Ashe sudah meluncur ke udara, sayapnya membentang lebar mengambil arah menuju timur, meninggalkan jejak bayangan kecil yang bergerak cepat di atas atap-atap kota sebelum menghilang ke arah hutan dan padang terbuka yang mengarah ke Hollowreach.

Petra, yang sudah cukup pulih dari luka di lengannya berkat perawatan Sister Yuna, sibuk memeriksa perlengkapannya sendiri di dekat rak senjata, meski gerakannya masih sedikit lebih hati-hati dari biasanya. Halden mengawasinya sesekali, tidak mengoreksi, hanya memastikan.

Brann sibuk di sudutnya sendiri, kali ini bukan mencoba formula baru, melainkan memeriksa sampel debu kristal dan kain gelap yang mereka temukan dua hari lalu, mencatat pengamatannya di buku catatan kecil dengan wajah serius yang jarang ia tunjukkan saat bekerja dengan ramuan.

Ilena, di sisi lain ruangan, sudah berdiri di dekat Arden sejak beberapa saat lalu, menunggu jeda yang tepat untuk berbicara. Ketika akhirnya Arden selesai memeriksa persediaan bersama Ness, ia mendekat.

"Kau ingat janjimu semalam," katanya, bukan pertanyaan.

Arden menoleh, dan untuk sesaat, ada kelelahan yang terlihat jelas di wajahnya, kelelahan yang tidak sepenuhnya berasal dari kurang tidur. "Aku ingat, Ilena."

"Kau bilang kita akan bicara hari ini."

"Aku tahu." Arden menghela napas, matanya melirik sekeliling ruangan yang sibuk dengan persiapan, seolah mencari alasan lain untuk menunda percakapan ini sedikit lebih lama. "Tapi dengan kontrak Hollowreach yang perlu kita persiapkan, dan panggilan Guild yang masih menunggu setelah itu, aku..."

"Kau selalu punya alasan, Arden," potong Ilena, suaranya tidak keras, tapi jelas menyimpan kekecewaan yang mulai sulit ia sembunyikan. "Kemarin kau bilang butuh waktu semalam. Sekarang kau bilang butuh menyelesaikan kontrak ini dulu. Kapan sebenarnya waktu yang tepat menurutmu?"

Arden diam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang bisa meredakan kekecewaan di mata sahabatnya tanpa harus membuka sesuatu yang belum siap ia ceritakan. "Setelah kontrak Hollowreach selesai," katanya akhirnya, "aku janji, kita akan duduk berdua, dan aku akan menjelaskan semua yang aku tahu, sejauh yang bisa aku jelaskan."

"Sejauh yang bisa kau jelaskan," ulang Ilena, matanya menyipit sedikit, menangkap kualifikasi kecil dalam kalimat itu. "Artinya masih ada yang tidak akan kau ceritakan."

"Ilena—"

"Aku tidak memaksamu," katanya, cepat, meski nada suaranya menunjukkan sebaliknya, sebuah kekecewaan yang tertahan rapi di balik profesionalisme yang biasa ia jaga. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku memperhatikan setiap kali kau menunda ini, Arden. Dan setiap kali kau menunda, aku semakin khawatir bahwa apa pun yang kau sembunyikan ini lebih besar dari yang bisa kau tangani sendirian."

Arden menatapnya, ada sesuatu di matanya yang goyah sesaat, sebelum ia kembali menegakkan diri, membangun kembali ketenangan yang biasa menjadi perisainya. "Aku janji, Ilena. Setelah Hollowreach."

Ilena menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, meski jelas tidak sepenuhnya puas. "Baiklah. Aku akan menagihnya."

Ia berbalik, kembali ke mejanya sendiri untuk memeriksa perlengkapan pemindaian yang perlu ia bawa, meninggalkan Arden berdiri sendirian sejenak, merasakan beban dari janji yang baru saja ia buat, sebuah janji yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya yakin bisa ia tepati sepenuhnya.

...----------------...

Sore harinya, ketika sebagian besar persiapan sudah selesai dan sinar matahari mulai miring ke barat, Doran kembali dari pengintaiannya, Ashe mendarat di bahunya dengan gerakan yang lebih terburu-buru dari biasanya, bulu-bulunya sedikit berantakan karena penerbangan panjang.

"Arden," katanya, langsung menuju ruang utama, suaranya membawa nada waspada yang tidak biasa untuk laporan pengintaian rutin. "Ada sesuatu yang perlu kau lihat."

Arden, yang sedang membahas jadwal keberangkatan dengan Ness, segera mendekat, diikuti Corym dan Tomas yang kebetulan berada tidak jauh dari sana.

Doran membentangkan peta rute menuju Hollowreach di atas meja, menunjuk pada sebuah area sekitar sepertiga perjalanan dari Aldenmere, tempat jalur dagang utama melewati sebidang hutan kecil sebelum kembali terbuka menuju padang rumput yang mengarah langsung ke desa perbatasan itu.

"Di sini," katanya, "biasanya area paling sepi dari seluruh rute. Aku sudah melewatinya berkali-kali dalam pengintaian sebelumnya, jarang ada apa pun selain jejak binatang liar sesekali."

"Dan sekarang?" tanya Arden, meski sesuatu di nada suara Doran sudah cukup untuk membuatnya waspada sebelum jawaban itu keluar.

"Sekarang," kata Doran, jarinya menelusuri garis-garis kecil yang baru saja ia gambar di atas peta berdasarkan pengamatannya dari udara, "ada jejak pergerakan yang cukup besar melintasi area itu. Bukan binatang. Formasi yang terlalu rapi, terlalu teratur untuk itu. Kelompok besar, bergerak dalam garis yang jelas, sepertinya melintasi hutan itu dari arah utara menuju selatan, memotong tepat jalur dagang yang akan kita lalui."

"Berapa banyak?" tanya Corym, sudah menatap peta dengan serius.

"Sulit dipastikan hanya dari udara," kata Doran, "tapi berdasarkan lebar dan kepadatan jejaknya, aku menduga setidaknya dua puluh orang, mungkin lebih. Dan mereka bergerak dengan hati-hati, menghindari jalur terbuka, tetap dalam naungan pepohonan sepanjang mungkin."

Tomas mendekat, memeriksa peta itu sendiri dengan mata yang sudah terlatih membaca tanda-tanda semacam ini. "Itu bukan pola perampok biasa. Perampok biasanya bergerak lebih acak, mengincar target yang lewat, bukan bergerak dalam formasi seteratur ini melintasi wilayah yang jarang dilalui."

Arden menatap peta itu lama, pikirannya mulai berputar cepat, mencoba menghubungkan apa yang baru saja mereka temukan dengan segala hal yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir: jejak dan kain gelap di lantai menengah Menara Verlanth, altar tersembunyi yang memicu keruntuhan, dan sekarang, sebuah kelompok besar tak dikenal yang bergerak diam-diam tepat di jalur yang akan mereka lewati esok hari.

"Kau yakin ini tepat memotong rute kita?" tanya Arden, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan di dalam.

"Cukup yakin," kata Doran, menunjuk titik persilangan di peta. "Kalau kita berangkat besok seperti rencana, kita akan melewati area ini sekitar tengah hari kedua perjalanan. Tepat waktu untuk berpapasan dengan siapa pun yang meninggalkan jejak itu, kalau mereka masih bergerak dengan kecepatan yang sama."

Keheningan menyusul kata-kata itu, seluruh rombongan yang berkumpul di sekitar meja saling bertukar pandang, kekhawatiran yang sama mulai tumbuh di antara mereka, dibungkus dalam pertanyaan yang belum bisa dijawab siapa pun malam itu.

Arden menatap peta itu sekali lagi, jejak-jejak kecil yang digambar Doran melintasi jalur dagang yang seharusnya aman, dan untuk pertama kalinya sejak keputusannya menunda panggilan Guild pagi tadi, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih tajam dari sekadar kelelahan atau keraguan.

Firasat bahwa keputusannya untuk menunda satu masalah besar mungkin baru saja membawa mereka langsung menuju masalah besar yang lain.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!