NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 — Pulang Kampung dan Mata Tembus

Dona menunggu Surya memohon.

Yang datang justru surat resmi dari yayasan: komitmen keluarganya boleh ditarik tanpa syarat, seluruh komunikasi disimpan untuk audit, dan pelayanan pasien tidak akan dijadikan alat tawar hubungan pribadi.

Leo Tan menutup kekurangan itu melalui dana penyangga yang sah. Tiga perusahaan lain menyusul setelah melihat laporan publik.

Jalur Level Tujuh tetap utuh.

Surya mematikan ponsel selama perjalanan ke Desa Karanganyar. Sudah lama dia tidak pulang menemui ibunya tanpa ambulans, operasi, atau misi berwarna merah mengejarnya.

Ibu Surya memeluknya di teras rumah, lalu memeluk Anindya dua kali lebih lama.

"Kamu makin kurus," katanya kepada putranya.

"Saya kepala IGD sekarang, Bu."

"Kepala IGD tidak makan?"

Anindya mengangguk serius. "Itu juga pertanyaan saya setiap hari."

Tetangga berdatangan. Seorang ibu yang sejak dulu suka membandingkan anak memamerkan seekor sapi baru milik keluarganya.

"Surya dokter besar, masa ibunya masih cuma punya kebun kecil?"

Anindya tersenyum sopan. "Benar, Bu. Karena itu peternakan sapi di ujung desa sudah saya beli untuk Ibu."

Sendok di tangan tetangga itu jatuh ke piring.

"Satu sapi?"

"Seluruh peternakan. Pengelolanya tetap bekerja, kepemilikan dan bagi hasilnya atas nama Ibu."

Ibu Surya memukul pelan lengan anaknya. "Kenapa pacarmu lebih nekat daripada kamu?"

"Saya juga baru tahu, Bu."

Surya kemudian mengetahui bahwa Anindya tidak membeli peternakan itu demi pamer. Tiga puluh dua keluarga menggantungkan penghasilan di sana, tetapi pemilik lama berniat menjual tanah kepada gudang logistik dan memberhentikan semuanya.

Anindya mempertahankan manajer, menaikkan standar kebersihan kandang, dan membuat perjanjian agar sebagian laba masuk ke beasiswa anak pekerja. Ibu Surya menerima kepemilikan hanya setelah namanya tidak dibebani utang tersembunyi.

"Kalau cuma mau membungkam tetangga, satu sapi memang cukup," kata Anindya. "Aku membeli alasan agar orang-orang ini tetap bekerja."

Surya menatapnya lama.

"Jangan mulai," kata Anindya.

"Mulai apa?"

"Wajah terharu yang berakhir dengan kamu lupa makan."

Rasa syukur para pekerja dan warga mengalir ke panel: tiga ratus persen, lalu lima puluh, lalu empat puluh. Surya tidak menganggapnya sebagai pujian pribadi. Dia memastikan kontrak pekerja, pakan, dokter hewan, dan pembagian laba tercatat jelas.

Malamnya, dia mengunggah tulisan berjudul Jika Organ Bisa Berbicara. Jantung meminta orang berhenti merokok. Ginjal memprotes obat pereda nyeri sembarangan. Hati mengeluh tentang jamu tanpa izin edar.

Tulisan itu ringan, tetapi semua saran memiliki sumber medis.

Dalam dua hari, jumlah suka melewati enam ratus ribu.

Nilai Pahala meluap.

『Syarat Level Tujuh terpenuhi.』

Cahaya memenuhi kamar masa kecil Surya.

『Poin Atribut +1.000. Detektor Medis menjadi tanpa batas. Ilmu Pengobatan Kuno tingkat dasar dibuka. Mata Tembus ×5. Dimensi baru: Reputasi.』

Surya baru hendak memeriksa panel ketika Arga mengetuk pintu.

Seorang perempuan desa bernama Bu Sari dirawat berulang kali karena muntah, rambut rontok, gangguan hati, dan penurunan sel darah. Suaminya selalu membawa obat herbal yang sama dan bersikeras menjawab semua pertanyaan.

Surya memisahkan wawancara dengan persetujuan pasien. Bu Sari mengaku gejalanya selalu memburuk setelah minum kapsul dari suaminya.

Laboratorium menemukan ekstrak Tripterygium wilfordii dosis tinggi, tanaman beracun yang dibeli daring. Arga memeriksa riwayat transaksi dan polis asuransi baru atas nama Bu Sari.

Suaminya mengaku dalam lima menit setelah diperlihatkan bukti pembelian, pesan dengan penjual, dan rekaman kamera dapur.

Rumah sakit tetap mengirim sampel ke laboratorium toksikologi forensik. Pengakuan bukan pengganti bukti, terutama jika perkara akan masuk pengadilan. Hasil kromatografi mengonfirmasi senyawa aktif yang sama di kapsul, darah Bu Sari, dan wadah yang disita dari dapur.

Surya juga menolak menyebut semua jamu berbahaya.

"Asal tanaman tidak membuatnya aman," jelasnya kepada warga. "Dosis racun, kebohongan pada pasien, dan niat membunuh menjadi masalahnya. Obat modern juga berbahaya kalau dipakai seperti itu."

"Kami proses percobaan pembunuhan dan penipuan asuransi," kata Arga. "Bukan urusan medis lagi."

Bu Sari mendapat terapi suportif dan perlindungan. Surya tidak perlu memakai kemampuan baru untuk membuktikan kejahatan.

Dia baru mencoba Mata Tembus setelah kembali ke rumah sakit, pada boneka anatomi dan kemudian pada pasien dewasa yang memberi persetujuan khusus.

Kemampuan itu dapat menembus pakaian, kulit, bahkan dinding tipis. Sistem memberi peringatan keras: setiap aktivasi dihitung, penggunaan nonmedis adalah pelanggaran, dan kemampuan tidak menggantikan pemeriksaan penunjang atau persetujuan.

"Bagus," kata Anindya. "Kalau kamu iseng, saya sendiri yang menurunkan levelmu."

"Saya kepala IGD yang bermartabat."

"Itu belum lolos telaah sejawat."

Penggunaan pertama terjadi pada bayi laki-laki berusia enam bulan dengan suara serak dan sumbatan napas berulang. Endoskopi menunjukkan massa kecil di laring. Patologi awal membuat seluruh tim bingung: selnya menyerupai kanker serviks terkait HPV.

"Bayi laki-laki tidak punya serviks," kata Rizki.

"Karena itu jangan sebut ini kanker serviks pada bayi," jawab Surya. "Ini sel kanker dengan asal yang harus dibuktikan."

Mata Tembus memperlihatkan batas massa tanpa merusak jalan napas. Sampel genom kemudian cocok dengan tumor serviks yang diderita ibu saat persalinan. Dugaan terkuat adalah transmisi sel tumor maternal ketika bayi lahir pervaginam, kejadian yang sangat langka.

Tim mengangkat massa, mengamankan jalan napas, dan menyusun terapi anak bersama pusat kanker. Privasi ibu dilindungi. Satu penggunaan Mata Tembus habis, tersisa empat.

Kasus terakhir lebih gila.

Seorang pasien gagal ginjal tanpa donor manusia yang cocok masuk protokol riset xenotransplantasi. Bukan operasi biasa: izin etik nasional, persetujuan regulator, pengawasan penyakit infeksi, dan sumber hewan bebas patogen wajib lengkap.

Rizki ditugaskan mengambil babi donor hasil rekayasa genetik dari fasilitas riset biosekuriti.

"Gue dokter," protesnya melalui panggilan video. "Bukan tukang jagal!"

"Makanya jangan bawa pisau," kata Bayu. "Bawa dokumen rantai dingin."

Operasi baru dimulai setelah semua izin diverifikasi. Pembuluh ginjal donor disambungkan ke pembuluh iliaka pasien. Saat klem dibuka, organ berubah dari pucat menjadi merah muda dan menghasilkan urine.

Sebelum reperfusi, tim penyakit infeksi sekali lagi memeriksa daftar patogen babi, status fasilitas, dan sampel arsip. Komite independen mempunyai hak menghentikan prosedur. Keluarga memahami status pasien sebagai peserta riset berisiko tinggi. Ia dapat mengundurkan diri kapan saja sebelum anestesi.

Surya membacakan time-out operasi dengan suara jelas. Identitas pasien, organ, kecocokan pembuluh, rencana imunosupresi, dan jalur pelaporan kejadian tidak diinginkan dikonfirmasi seluruh tim.

Ruangan menahan napas.

Surya tidak menyebutnya kesembuhan. Risiko penolakan, infeksi lintas spesies, dan kegagalan jangka panjang masih besar. Pasien tetap dalam isolasi dan pemantauan ketat.

Namun untuk malam itu, dialisis bukan satu-satunya harapan.

Panel Reputasi bergerak sampai dua puluh delapan persen.

Lalu tugas berikutnya muncul.

『Buat 305 peserta konferensi akademik di Jakarta mengingat nama Surya Pratama. Syarat Level Delapan: Nilai Pahala dan Reputasi harus penuh bersamaan.』

Surya menatap angka 28%.

Tiga ratus lima orang belum mengenalnya.

Dalam tiga hari, mereka harus mengingatnya.

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!