Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bel sekolah menandakan jam istirahat pertama berbunyi nyaring, memecah kesunyian koridor SMA Nusa Bangsa. Suasana di dalam kelas 11 IPA 1 yang tadinya tenang seketika berubah menjadi bising. Murid-murid mulai berhamburan merapikan alat tulis mereka, bersiap menyerbu kantin.
Alya menghela napas lega, merenggangkan jemarinya yang pegal setelah dua jam penuh mencatat rumus biologi. Namun, sebelum Alya sempat berdiri dari kursinya, bayangan tubuh tinggi tegap berdiri tepat di ambang pintu kelas yang terbuka lebar.
Bukan hanya satu orang, melainkan empat orang cowok paling populer di sekolah berdiri berjejer di depan kelas IPA 1. Devan Narendra berdiri paling depan dengan jaket hitam tersampir di bahunya, disusul oleh Bimo, Reno, dan Raka—geng legendaris sekolah yang biasanya bersikap acuh tak acuh dan tidak pernah mau berbaur dengan kelas lain.
Seketika itu juga, seisi kelas IPA 1 mendadak hening. Murid-murid yang berniat keluar kelas terpaksa menghentikan langkah mereka, menatap rombongan Devan dengan mata membelalak tak percaya.
"Wah, beneran disamperin dong..." bisik Jesica gembira, menyenggol lengan Alya dengan siku kakinya.
Devan melangkah masuk ke dalam kelas tanpa memedulikan tatapan puluhan pasang mata yang mengarah padanya. Langkah kakinya yang mantap berhenti tepat di samping meja Alya. Di belakangnya, Bimo dan Raka menyusul dengan cengiran lebar nan jahil.
"Sesuai janji tadi pagi," ujar Devan halus, matanya menatap Alya lekat-lekat dengan ukiran senyum tipis di bibirnya. "Ayo ke kantin bareng."
Alya seketika salah tingkah. Pipi mulusnya mulai merona merah. Ia melirik ke sekeliling kelas, di mana teman-teman sekelasnya masih menonton dengan mulut setengah terbuka. "Devan... kalian ngapain ramai-ramai ke sini? Aku... aku bisa ke kantin sendiri kok sama Adel dan Jesica."
"Yakin bisa sendiri?" timpal Bimo cepat, memotong ucapan Alya sembari menopang kedua tangannya di atas meja Adel. Bimo melempar senyuman manis nan tebar pesona ke arah Adel. "Kantin hari ini ramai banget, Del. Jalur khusus cuma dibuka buat rombongan Bos Devan. Lagian, kasihan kan Bos kita udah capek-capek jalan dari gedung IPS cuma buat jemput Ratu Kuenya?"
Adel yang biasanya galak dan ceplas-ceplos mendadak tertegun sejenak disenyumi oleh Bimo—cowok humoris berwajah rupawan yang dikenal sebagai kapten tim basket sekolah. Namun, bukannya gugup, Adel justru tertawa geli menyadari kesempatan emas di depan matanya.
Adel langsung merangkul lengan Alya erat-erat, memprovokasi sahabatnya itu. "Al! Gak usah sok jual mahal deh! Kapan lagi kita dikawal empat pangeran sekolah ke kantin?! Ayo, berangkat! Gue udah lapar banget nih, dan kayaknya ada yang mau nraktir kita!"
"Setuju banget!" timpal Jesica tak kalah heboh. Matanya melirik ke arah Raka, cowok berpenampilan rapi dengan kacamata minus yang berdiri di sebelah Bimo. "Ayo Al, kasihan Devan udah berdiri lama tuh!"
Alya menatap dua sahabatnya dengan pandangan pasrah. Hasutan dan desakan dari Adel serta Jesica benar-benar menutup celah baginya untuk menolak. Dengan helaan napas pasrah diiringi senyuman tipis, Alya akhirnya berdiri dari kursinya. "Ya udah deh... tapi kalian jangan heboh-heboh ya."
Devan menyunggingkan senyum puas. Ia mundur satu langkah, memberi jalan bagi Alya untuk berjalan di sampingnya, sementara gengnya dan sahabat Alya mengekor di belakang.
Perjalanan dari lantai dua menuju kantin utama sekolah menjadi momen paling menghebohkan sepanjang sejarah SMA Nusa Bangsa.
Setiap koridor yang mereka lewati mendadak riuh oleh bisik-bisik dan pekikan kagum dari para siswa. Pemandangan ini benar-benar tidak lumrah: Alya Saraswati—gadis sederhana yang biasanya berjarak dari kehidupan sosial atas sekolah—berjalan bersisian dengan Devan Narendra. Ditambah lagi, Adel dan Jesica yang biasa jalan bertiga kini berjalan beriringan dengan geng Devan yang terkenal dingin.
Suasana semakin menghangat ketika Bimo mulai melancarkan aksi modusnya kepada Adel sepanjang jalan menyusuri tangga.
"Del, lo tau gak bedanya es teh kantin sama lo?" tanya Bimo santai dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
Adel menaikkan sebelah alisnya, menahan tawa. "Apaan? Gak usah sok ngasih gombalan garing ya, Bim!"
"Kalau es teh kantin manisnya pas haus doang," jawab Bimo mengedipkan sebelah matanya. "Kalau lo manisnya bikin tenggorokan gue haus terus pengen liat lo tiap hari."
"EUYYYY!" sorak Raka dan Reno heboh dari belakang, membuat Adel yang biasanya tangguh seketika tersipu malu dengan wajah memerah.
"Bisa aja lo, Bimo! Belajar gombal dari mana lo?!" seru Adel menutupi rasa salah tingkahnya dengan pukulan pelan ke lengan Bimo, yang justru disambut tawa renyah dari cowok itu.
Sementara itu, Raka yang biasanya pendiam dan irit bicara perlahan menyesuaikan langkah kakinya di samping Jesica. Dengan nada suara yang tenang dan berwibawa, Arya membuka percakapan. "Jes, catatan Biologi Pak Joko minggu lalu lo lengkap gak? Gue denger catatan lo paling rapi se-angkatan."
Jesica menoleh, agak kaget karena Arya—sang juara umum kelas IPS—bertanya padanya. "Eh? Lengkap kok, Kenapa? Lo mau pinjam?"
Raka tersenyum tipis, menatap Jesica dari balik kacamatanya. "Kalau boleh pinjam sekalian minta ajarin pas jam kosong nanti, bisa? Nanti gajinya gue traktir es krim paling mahal di kantin."
Jesica yang mendapat perlakuan manis nan elegan dari Raka langsung menahan jeritan gemas di tenggorokannya. "B-boleh banget, Rak! Nanti gue kasih catatannya!"
Di barisan paling depan, Devan menyadari betapa cair dan bahagianya suasana di sekitar mereka. Ia melirik Alya yang berjalan di sampingnya. Alya tampak tersenyum pelan memperhatikan tingkah konyol sahabat-sahabat mereka.
"Lihat tuh, sahabat kamu kayaknya seneng banget," bulik Devan pelan agar hanya Alya yang mendengar.
Alya mendongak, menatap Devan dengan pendar mata yang hangat. "Iya... aku gak pernah liat Adel sama Jesica salah tingkah kayak gitu. Makasih ya, Devan. Teman-teman kamu ternyata ramah-ramah banget."
"Mereka cuma ramah sama orang yang berharga buat aku, Al," sahut Devan santai namun sarat akan makna yang dalam, membuat jantung Alya kembali berdebar kencang.
Sesampainya di kantin utama yang dipadati ratusan murid, kehadiran rombongan gabungan itu seketika memaku perhatian seisi ruangan. Kebisingan kantin mereda sejenak, berganti dengan tatapan takjub.
Tanpa memedulikan pandangan orang lain, Devan menuntun Alya menuju meja besar di sudut VIP kantin—meja yang selama ini terkenal hanya boleh diduduki oleh geng Devan. Dengan sangat protektif dan gentleman, Devan menarikkan satu kursi untuk Alya duduk, lalu duduk di sebelahnya.
Bimo dengan sigap menarik kursi untuk Adel, sementara Raka duduk di samping Jesica.Dengan lesu Rano bertanya “Al,Lo gada sahabat satu lagi gitu,buat gua“ mendengar itu Bimo dan Raka langsung ketawa dan mengejek Reno. “ siapa cepat dia dapat,Lo kelamaan si Ren“ ejek Bimo
"Oke! Hari ini Bos Devan yang ultah rasa jatuh cinta, jadi seluruh makanan di meja ini gratis ditanggung Devan Narendra!" seru Bimo nyaring sambil melambaikan tangan memanggil petugas kantin, disambut sorak riang dari Adel dan Jesica.
Di sudut kantin yang berseberangan, Clara bersama Siska sedang duduk memegang cangkir minuman mereka. Melihat bagaimana Alya dispesialkan, dikawal, dan diratukan oleh Devan serta gengnya di tengah kantin yang ramai, tangan Clara gemetar hebat menahan amarah yang membakar dada. Cangkir es di tangannya diremas kuat hingga retak. Rasa malu dan kekalahan telak kembali menghantam harga dirinya, saat menyaksikan Alya kini berada di puncak perhatian sekolah—di tempat yang paling sangat Clara inginkan.