NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Tamat
Popularitas:582.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di balik kaca film hitam

Mobil sedan mewah itu meluncur pelan keluar dari gerbang mansion. Di kursi belakang, suasana begitu hening. Gia duduk mepet ke arah pintu, matanya menatap keluar jendela, sementara Ares duduk di sisi lain dengan tablet di tangannya, tampak sibuk dengan pekerjaan.

​Namun, fokus Ares sebenarnya tidak pada laporan keuangan di layarnya. Ia bisa melihat pantulan wajah Gia di kaca jendela. Gadis itu terlihat sangat kecil dan rapuh di dalam mobil yang luas ini.

​"Gia!" panggil Ares tiba-tiba.

"I-iya, Tuan?" Gia tersentak kecil.

"Tuan? Bukannya tadi kau memanggilku Mas?" Ares menaikkan sebelah alisnya.

"Maaf kalau tadi saya lancang Tuan. S-saya hanya tidak tau harus bagaimana ketika bersikap di depan Nyonya" Suara Gia terdengar begitu kecil seperti cicak yang terinjak kaki besar Ares.

​Ares meletakkan tabletnya. Ia mengamati jari-jari Gia yang saling bertautan dengan gelisah.

"Maafkan ucapan Mama tadi. Dia memang keras, tapi dia akan melunak kalau kamu tidak menunjukkan rasa takut padanya. Dan satu lagi, aku lebih suka kamu memanggilku seperti tadi!"

​Gia menoleh pelan, menatap mata tajam pria di sampingnya.

"Saya mengerti, Emm..Mas. Saya tahu posisi saya di rumah ini memang sulit. Saya hanya... tidak ingin menjadi beban!"

​Ares menghela napas panjang. Ia bergerak mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Bau parfum maskulin yang elegan kembali menyapa indra penciuman Gia, membuatnya sedikit pening namun juga merasa nyaman.

​"Kau bukan beban!" Ucap Ares rendah. Ia meraih tangan Gia, membuka kepalan tangan gadis itu yang kaku, lalu mengusap telapak tangannya dengan ibu jari.

"Aku yang memilih untuk melanjutkan pernikahan ini. Jadi, mulai sekarang, berhenti merasa seperti orang asing!"

​Gia merasakan getaran aneh di dadanya saat kulit mereka bersentuhan.

"Kenapa Mas membela saya di depan Nyonya tadi? Padahal semalam Mas bilang kita hanya... transaksi."

​Ares terdiam sejenak. Matanya menatap dalam ke arah mata Gia, seolah mencari sesuatu di sana.

​"Karena kamu istri Mas!" Jawab Aresta tegas.

Meleleh sudah hati Gia. Siapa yang tak melambung tinggi ketika mendapatkan sikap manis dari pria tampan dan kaya raya seperti Ares. Tapi Gia kembali disadarkan dengan kenyataan. Dia saat ini duduk bukan pada posisinya, melainkan di posisi Siska yang dia tempati.

Dia juga ingat ketika Ares memanggilnya sayang di depan Mamanya tadi. Gia menganggap itu adalah sebagian dari sandiwara yang sedang mereka mainkan sejak di altar kemarin.

"Siapa pun yang memakai nama Ardiansyah adalah tanggung jawabku. Tidak ada yang boleh merendahkanmu, bahkan Mama sekalipun!"

​Ares kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit. Ia meletakkannya di telapak tangan Gia.

​"Gunakan ini. Beli apa pun yang kamu suka. Mas tidak akan melarangnya!" Perintahnya.

​"Tapi Mas. Saya tidak butuh, saya bisa bekerja dan mendapatkan uang sen..."

​"Gia!" Potong Ares, jemarinya kini berpindah ke dagu Gia, mengangkatnya sedikit agar mereka bertatapan langsung.

"Mas tidak suka dibantah. Kamu tidak perlu bekerja lagi sekarang. Belajarlah menjadi istri seorang Aresta Ardiansyah. Kamu harus terbiasa dengan ini semua, karena mulai hari ini, itu adalah duniamu!"

​Wajah Gia memerah sempurna. Jarak mereka sangat dekat, ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Ares di kulit wajahnya. Untuk sesaat, Gia lupa bahwa pria ini sedang patah hati karena kakaknya. Yang ia lihat hanyalah seorang pria yang sangat protektif dan penuh wibawa.

​"Terima kasih, Mas!" Bisik Gia lirih.

​"Satu lagi," tambah Ares saat mobil hampir sampai di depan butik mewah.

"Jangan pernah berpikir untuk lari. Mas sudah kehilangan satu mempelai, Mas tidak akan membiarkan yang kedua hilang juga!"

​Gia tertegun. Kalimat itu terdengar seperti janji, tapi juga seperti peringatan bahwa ia kini telah terikat sepenuhnya pada pria bernama Aresta ini.

Butik mewah di pusat kota itu terasa sangat sunyi dan eksklusif saat Ares dan Gia melangkah masuk. Para pelayan langsung membungkuk hormat menyambut sang CEO Ardiansyah Group.

​"Pilih apa pun yang kamu suka, Gia. Mas akan menunggumu di sana!" Ucap Ares sambil menunjuk sofa kulit di sudut ruangan.

​Gia mulai melihat-lihat deretan gaun indah. Namun, ketenangannya terusik saat suara tawa melengking terdengar dari arah ruang ganti VVIP. Tiga orang wanita sosialita dengan tas bermerek dan perhiasan berkilau keluar dari sana. Mereka adalah teman-teman dekat Siska.

​"Oh, lihat siapa ini?" ucap salah satu dari mereka, yang bernama Fiona. Ia melipat tangan di dada sambil menatap Gia dengan pandangan menghina.

"Bukannya ini adik tiri Siska? Si anak haram yang numpang hidup di rumah Siska?"

​Dua teman lainnya tertawa kecil mendengar temannya menghina status Gia.

"Siska bilang kamu cuma pembantu di rumah mereka. Kenapa kamu bisa ada di butik sekelas ini? Jangan-jangan kamu mau maling ya?"

​Gia berusaha tetap tenang, meski tangannya dingin.

"Saya tidak mau maling, saya di sini sama suami saya!"

​"Suami?" Fiona tertawa lebih keras.

"Maksudmu Tuan Ardiansyah? Jangan mimpi. Semua orang tahu kamu cuma tambal sulam karena Siska pergi. Kamu itu seperti barang tiruan, Gia. Murahan dan tidak punya kelas!"

​Gia menarik napas dalam, mencoba mengingat kata-kata Ares tadi pagi.

"Barang tiruan atau bukan, saya adalah wanita yang berdiri di altar bersama Tuan Ares. Dan di mata hukum, saya adalah Nyonya Ardiansyah. Bukan kalian, dan bukan juga Kak Siska!"

​"Lancang kamu ya!" Fiona mengangkat tangannya, hendak mendorong bahu Gia.

​Namun, sebelum tangan itu menyentuh Gia, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Fiona dengan sangat keras hingga wanita itu meringis kesakitan.

​"Siapa yang kalian sebut murahan?" suara Ares menggelegar di dalam butik, dingin dan mematikan.

​Ketiga wanita itu seketika pucat pasi. Mereka tidak menyadari Aresta memperhatikan sejak tadi.

​"T-Tuan Ardiansyah... kami hanya bercanda!" gagap Fiona.

​Ares melepaskan tangan Fiona dengan kasar, seolah-olah baru saja menyentuh sampah. Ia merangkul pinggang Gia dengan posesif, menariknya merapat ke tubuhnya.

​"Istriku jauh lebih berkelas daripada kalian semua yang menutupi kekurangan diri dengan barang bermerek!"

Ucap Ares tajam. Matanya menatap mereka satu per satu dengan tatapan menghunus.

"Mulai hari ini, aku akan memastikan nama kalian masuk dalam daftar hitam di seluruh relasi bisnis Ardiansyah. Jangan harap kalian bisa menginjakkan kaki di acara sosial mana pun!"

​"Tuan, kami mohon... maafkan kami!" tangis mereka pecah. Di dunia mereka, dikucilkan oleh Ardiansyah berarti kehancuran status sosial.

​"Keluar!" perintah Ares pendek.

​Setelah mereka lari terbirit-birit, Ares berbalik menatap Gia. Ia melihat mata istrinya yang sedikit berkaca-kaca namun terlihat bangga karena berhasil membela diri tadi.

​Ares mengusap pipi Gia dengan lembut untuk menenangkannya.

"Kamu melakukannya dengan baik Gia. Kamu membela dirimu sendiri. Mas bangga padamu!"

​Gia menatap Ares dengan perasaan haru. Baru kali ini ada yang mengapresiasi apa yang Gia lakukan.

"Terima kasih sudah datang tepat waktu, Mas!"

​Ares tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini mencapai matanya.

"Mas akan selalu datang tepat waktu untukmu. Sekarang, ayo kita pilih gaun paling mahal di sini. Mas ingin dunia tahu bahwa istri Mas ini adalah permata yang paling berharga!"

1
febby fadila
masih penasaran sama masa lalunya aresta
febby fadila
ingat gia sekarang kamu sdah menjadi istri seorang aresta ardiansyah jadi, jangan lemah dan sellu tunduk, kamu harus tegakkan kepala kamu harus jadi wanita yg tangguh biar nggak sellu direndahkan oleh orang lain
febby fadila
apa aresta yg menyebabkan meninggalnya ibunya gia
febby fadila
wiiiw jangan bilang masa lalu akan muncul kembali dan siska juga akan muncul seakan menjadi korban
febby fadila
baru mampir lagi ke ceritanya kak sinta ♥️♥️♥️
Eltopia Pia
....
Violet
Disuruh minta apapun, hal yg Gia hrus lakukan adl meneruskan pendidikan kalo perlu extra panggil guru les bahasa asing, les coding, bljar sdkit bela diri atau kursus apapun biar ga di bodoh2in oleh org2 culas & siap memantaskan diri sbg pendamping suaminya!
Praised26
Pertama kuliah kok langsung suruh gambar? bukannya awal kuliah belajar Mata Kuliah Dasar Umum dulu satu semester dan baru di semester 3 dst baru belajar sesuai jurusannya, itu kalau kuliah di negeri Konoha ya tak tahu kalau kuliah di paman USA mungkin langsung suruh gambar
Praised26: bahkan sebelum menggambar juga akan diajarkan beberapa teori pendukung nya dan baru ke praktek nya, masa iya langsung praktek tanpa belajar teori dulu
total 2 replies
Qaisaa Nazarudin
Tadi aja baru berminggu-minggu, Sekarang udah berbulan aja, Masih belum dapat menemukan jejak Gia..good Job Gia..
Qaisaa Nazarudin
Keliatan kan disini dengan Ares gak bisa menemukan Gia,Itu berarti Ares gak punya kuasa yg tinggi, Pasti ada seseorang yang melindungi kepergian Gia,Dan orang itu lebih berkuasa dari Ares..
Qaisaa Nazarudin
Bagus Gia tdk datang kesini,Mungkin dia tau kalo dia kesini,Ares dengan mudah menemukannya..👏👏👍👍
Qaisaa Nazarudin
Hilman Hilman..Selama ini kau bertahan juga karena HARTA Sarah, Sudah Bangkrut baru mau bersikap TEGAS..Dasar PENGECUT dan LICIK, Sekarang dia milih anaknya yg KAYA MENANTU KELUARGA ARDIANSYAH,Walau harus menurunkan harga dirinya didepan keluarga Ardiansyah, Yang bisa nyicipin harta Ares lewat Anak yg tdk dia Anggap..benaran LICIK Hilman gak punya urat malu, Dan Gia dgn senang hati MEMAAFKAN..ckkk
Qaisaa Nazarudin
Aelah harta alanyay,Udah bangkrut juga,Gak sadar kah..
Qaisaa Nazarudin: Harta apanya,Udah bangkrut juga
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Potong aja burung mu pake rok leboh COCOK buat kamu Hilman..
Qaisaa Nazarudin
Kata2 yang TIDAK BISA BERBUAT APA-APA bikin aku muak..
Qaisaa Nazarudin
Hah hiduplah kamu dengan PENYESALAN Ares..
Qaisaa Nazarudin
Mantap mampos kau Ares..
Qaisaa Nazarudin
Tapi cara kamu itu SALAH,Gia punya Trauma dengan masa lalunya sebagai anak haram anak yg tdk diinginkan, Sekarang kamu juga seakan tidak menginginkan nya lagi, makanya dia kabur,ngapain juga bertahan dengan orang yang sudah tidak PERCAYA kita lagi..
Qaisaa Nazarudin
Ngapain mikirin Gia,Urus aja Ego dan Cemburu mu itu..
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!