Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melupakan sejenak
Luna masih sibuk mencari beberapa lembar desain yang hilang dari buku sketsanya. Hampir setiap sudut rumah sudah ia periksa. Laci, meja, rak buku, lemari, bahkan balkon tempat terakhir kali ia meninggalkan buku sketsa itu telah diperiksa berulang kali. Namun hasilnya tetap sama. Beberapa lembar desain kesayangannya benar-benar menghilang tanpa jejak.
"Ya Tuhan … ke mana ya?" guman Luna lirih.
Luna mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Rasa frustrasi terlihat jelas di wajahnya. Napasnya mulai memburu, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Sudah hampir satu jam ia mencari. Bara dan seorang pelayan bahkan ikut membantunya menyisir setiap sudut rumah, tetapi hasilnya tetap nihil.
"Luna," panggil Bara lembur. " Calm down. Oke."
Luna menggeleng pelan.
"Pa, aku yakin tidak pernah mengeluarkan gambar-gambar itu dari buku sketsa," ucap Luna dengan suara yang mulai bergetar. "Bagaimana bisa hilang begitu saja."
Bara ikut merasa iba dengan keadaan Luna.
"Sebaiknya kamu duduk dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Bara menuntun Luna menuju kursi yang berada tak jauh dari mereka. Begitu Luna duduk, Bara memberikan isyarat pada pelayan agar menghentikan pencarian sementara.
Pelayan itu mengangguk pelan lalu meninggalkan ruangan.
Kini hanya tersisa Luna dan Bara.
"Pa … gambar itu sangat berarti untukku," ucap Luna sambil menahan tangis.
Luna mengingat gambar yang hilang itu. Sebuah gambar gaun pengantin, sketsa mahkota dan satu set perhiasan yang ia gambar dengan penuh semangat. Dulu ia membayangkan akan mengenakan semuanya pada hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun kini, impiannya itu terasa begitu jauh, bahkan nyaris mustahil.
"Sekarang justru gambar-gambar itu menghilang begitu saja," imbuh Luna dengan suaranya yang mulai serak.
Bara kemudian menggenggam tangan Luna dengan hangat, berusaha menenangkan wanita itu.
"Nanti kita cari lagi, oke. Tidak mungkin hilang begitu saja."
Luna terdiam.
"Ini sudah malam," lanjut Bara. "Sudah waktunya makan malam."
"Aku tidak nafsu makan," tolak Luna.
Bara menggeleng pelan.
"No." Nada suaranya tetap tenang, tetapi tegas seolah tidak mau menerima bantahan. "Kamu harus makan. Jangan sampai kamu sakit."
Luna berdecak kesal. Pada akhirnya menyerah dan menghembuskan napas panjang. "Baiklah."
Meskipun begitu raut wajahnya masih dipenuhi kekecewaan.
"Kita makan dulu," ucap Bara. "Setelah itu bersiaplah."
Luna mengangkat wajahnya lalu menatap Bara dengan kening yang mengerut. "Bersiap untuk apa?"
"Besok malam tahun baru, kan? Ayo kita habiskan waktu di luar."
Luna tidak langsung merespon ucapan Bara. Ia nampak mempertimbangkan ajakan ayah mertuanya itu.
"Tapi ..." Luna menggigit bibir bawahnya pelan. "Apa Papa tidak pergi dengan teman dekat Papa?" tanya Luna dengan hati-hati. "Maksudku ... pacar?"
Luna tersenyum kikuk.
Mendengar itu, Bara terkekeh pelan.
"Aku tidak punya. Makanya aku mengajakmu," jawab Bara.
"Ohw." Luna tampak sedikit malu.
"Jadi ... kita pergi?"
"Hmmmm." Luna bergumam sambil mempertimbangkan kembali ajakan Bara. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk pelan. "Boleh."
Senyum Bara mengembang. "Good."
Bara lantas mengangkat tangannya, mengacak-acak rambut Luna.
Luna sendiri tersenyum kecil. Merasakan sebuah kehangatan di dadanya.
Bara sendiri merasa senang karena Luna kembali tersenyum. "Begitu lebih baik."
Luna mengangguk. Perhatikan Bara entah mengapa membuat dadanya terasa menghangat.
"Baiklah, kita lupakan dulu desainmu yang hilang. Kita makan dulu setelah itu kita pergi," ucap Bara.
Luna pun mengangguk. "Ayo."
Bara lantas mengulurkan tangannya. Sementara Luna menatap uluran tangan itu beberapa saat sebelum akhirnya menyambutnya.
Keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan makan. Baru beberapa langkah, Luna menyadari bahwa tangannya masih berada dalam genggaman Bara.
Anehnya, Luna tidak merasa canggung. Genggaman itu justru memberinya rasa aman yang selama ini jarang ia rasakan.
Sesampainya di ruang makan, Bara lebih dulu menarik salah satu kursi untuk Luna. "Duduklah."
"Terima kasih, Pa." Luna tersenyum lalu duduk.
Tatapannya tanpa sadar tertuju pada kursi yang biasa ditempati oleh Raka. Kursi itu kini kosong. Sama kosongnya dengan ponselnya yang sejak tadi tak kunjung menerima pesan dari sang suami.
Tanpa sadar sebuah sebuah pertanyaan kembali memenuhi pikirannya.
Kenapa mas raka tidak pernah memperlakukanku sehangat apa?
Apa sebenarnya selama ini hatinya memang belum terbuka untukku?
Atau ... memang ada wanita lain yang benar-benar dia cintai?
"Luna."
Suara Bara membuyarkan lamunannya.
"Eh iya, Pa."
Bara menghela napas berat, tahu jika wanita di hadapannya sedang melamun.
"Memikirkan suamimu?" tebak Bara.
Luna tak bisa berbohong, ia pun mengangguk. "Iya, Pa. Sampai sekarang dia belum kasih kabar."
Bara menghembuskan napas pelan.
"Lupakan anak itu." Ia mulai menambahkan lauk ke piring Luna. "Lebih baik kita makan dan setelah itu kita pergi bersenang-senang."
Luna mengangguk. "Baik, Pa."
-
-
-
Selesai makan, Luna pergi ke kamarnya untuk bersiap. Ia membuka lemari pakaian, lalu memilih dress warna navy yang dibelinya beberapa waktu yang lalu bersama dengan Bara.
Gaun sederhana itu dipadukan dengan sepatu berhak rendah serta tas kecil berwarna senada.
Luna tidak membawa banyak barang. Hanya koper kecil berisi pakaiannya dan beberapa alat make up miliknya. Setelah itu Luna keluar dari kamar.
"Sudah siap?"
Luna spontan menoleh. Di ujung lorong terlihat Bara berjalan menghampirinya.
Malam itu penampilan Bara nampak berbeda. Jika biasanya sang ayah mertua memakai kemeja formal, kini pria itu memakai kaos ketat berkerah yang warna hitam yang pas dan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna. Dipadukan dengan celana bahan berwarna cream yang nampak pas di kakinya, seolah celana itu sengaja dibuat hanya untuknya.
Penampilan sederhana itu justru membuat wibawanya semakin terpancar.
Janggut tipis yang tumbuh rapi di wajahnya menambah kesan dewasa dan berkarisma.
Luna sempat terpaku beberapa detik. Namun ia segera mengalihkan pandangannya. Ia merasa tidak sopan terus memerhatikan ayah mertuanya.
"Berikan kopermu. Aku yang akan membawanya."
"Tidak usah. Aku bawa sendiri saja."
Tanpa menunggu persetujuan Luna, Bara mengambil koper dari tangan Luna. "Jangan merasa sungkan padaku."
Luna merespon ucapan Bara dengan senyuman kecil.
Keduanya lantas melangkah bersama menuju mobil milik Bara yang telah terparkir di halaman rumah. Udara malam langsung menyambut mereka. Terlihat lampu taman menerangi jalanan menuju mobil itu.
Sesampainya di samping mobil, Bara membuka pintu penumpang depan lalu mempersilahkan Luna masuk. "Silahkan."
Luna masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan Luna duduk dengan nyaman, Bara pergi ke belakang mobil, meletakkan barang-barang mereka di bagasi. Ia lantas berjalan masuk ke mobil lalu duduk di kursi kemudi.
"Ready?" tanya Bara.
Luna mengangguk penuh semangat.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah itu.
Sesaat kemudian, mobil jenis SUV berwarna hitam itu melaju gagah di tengah kota yang padat. Lampu-lampu gedung berkilauan seperti bintang, sementara kendaraan memenuhi setiap ruas jalan.
Semua orang nampak antusias menyambut malam pergantian tahun.
Bara terus berkonsentrasi mengemudi di tengah kemacetan. Sesekali ia melirik spion sebelum kembali mengarahkan mobil melewati kemacetan.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka tiba di pintu gerbang jalan bebas hambatan.
Bara akhirnya bisa melajukan mobilnya dengan leluasa saat masuk ke dalam jalan tol.
Luna menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Matanya menatap ke luar mobil. Gemerlap cahaya kota perlahan berganti dengan pemandangan jalan tol yang panjang.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun terakhir dadanya terasa lebih ringan. Meski Raka sama sekali belum menghubunginya , setidaknya malam itu ia tidak sendiri lagi.
"Pa ..."
"Hmmm?"
"Sebenarnya kita mau ke mana?"
Bara tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Vila," jawab Bara. Ia menoleh sekilas ke arah Luna.
"Vila?"
Bara mengangguk. "Aku yakin kamu akan suka."
Mata Luna berbinar, membuat Rasa pensaran tumbuh di dadanya.
Ia sama sekali tidak tahu kejutan apa yang telah dipersiapkan ayah mertuanya itu untuk menyambut malam pergantian tahun.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man