NovelToon NovelToon
Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.

Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.

Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.

"Tolong jangan lakukan itu!"

"Tolong..."

"Tolong...."

Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.

"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.

Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.

Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.

Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 Hambar

Zena baru saja pulang kerumahnya dengan langkahnya yang begitu menekan beberapa nomor pada pintu Apartemennya.

Sampai akhirnya pintu itu terbuka, tetapi tiba-tiba saja Zena kaget dengan seseorang yang berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang dan siapa lagi jika bukan Samudra.

"Kak....." ucapnya lirih.

"Jangan mentang-mentang kita berdua yang tinggal di rumah ini dan kamu memiliki kebebasan sesuka hati kamu tanpa aturan, jangan kamu menjadikan diamnya saya sebuah hal untuk kamu tidak perlu aturan!" tegas Samudra.

"Kak maksudnya bagaimana?" tanya Zena dengan kebingungan.

"Darimana kamu?" tanya Samudra.

"Zena dari kantor," jawabnya.

"Kantor, kamu itu perempuan kamu tidak melihat waktu dan bisa-bisanya pulang di jam seperti in .... Oh iya saya lupa bukankah kamu itu wanita yang memang tidak punya aturan, wanita liar dan pulang jam seperti ini sudah biasa bagi kamu," ucap Samudra.

"Kak, kenapa harus berpikiran buruk seperti itu kepada Zena, kenapa tidak mempertanyakan dulu kenapa pulang malam?" ucapnya.

"Apa ada hal positif yang dilihat dari kamu hah! Kamu hanya menutupi diri kamu seperti orang yang paling suci, tetapi pada kenyataan kamulah wanita yang paling buruk yang pernah saya temui!" tegas Samudra.

Lagi dan lagi hati Zena terluka dengan perkataan Samudra yang tidak pernah menghargai perasaannya. Merasa sudah cukup berbicara dengan Zena membuat Samudra langsung pergi.

"Kak tunggu!" Zena memanggil dengan memegang tangan Samudra.

Mata tajam Samudra melihat genggaman tangan itu.

"Lepaskan!" ucapnya terdengar begitu dingin.

"Kamu tidak mendengar apa yang saya katakan? Lepaskan, saya tidak sudi kamu menyentuh tangan saya seperti ini!" tegas Samudra.

"Kak....!" lirih Zena merasa kata-kata itu benar-benar kasar, karena tidak kunjung dilepaskan Zena membuat Samudra melepaskan sendiri, kemudian langsung pergi dari hadapan Zena.

"Ya Allah, sampai kapan semuanya akan seperti ini, kenapa marahnya Kak Samudra tidak kunjung reda, kenapa beliau terus menghukum hamba dengan cara seperti ini," batin Zena dengan raut wajahnya yang tampak sedih.

Bahkan ini sudah satu minggu lebih dari pengakuan yang telah dilontarkan Zena kepada suaminya dan ternyata suaminya tidak kunjung memberikan maaf kepadanya, tetapi justru Samudra memberikan kata-kata kasar tanpa ampunan, seolah-olah Zena memang pantas mendapatkan semua itu.

*****

Zena saat memasuki kamar melihat bagaimana Samudra memasukkan pakaiannya ke dalam koper.

"Kakak ingin ke luar kota?" tanyanya tanpa mendapatkan respon apapun.

"Atau ada tugas ke luar negeri?" Zena terus berusaha untuk membangun komunikasi dengan Samudra.

Zena lagi-lagi diabaikan yang membuatnya hanya bisa kesulitan menelan ludah.

"Zena akan bantu kak ...." Zena menghampiri Samudra berniat untuk membantu mengemasi pakaian tersebut tetapi sayang sekali Samudra dengan kasar langsung menepis tangannya.

"Jangan menyentuh barang-barang dengan tangan kotor kamu, saya tidak suka sama sekali!" tegas Samudra.

"Maaf kak, Zena tidak bermaksud untuk melakukannya dan hanya ingin membantu Kakak," ucapnya.

"Kamu tidak mengerti juga ya, saya sudah mengatakan dari awal, jangan pernah berusaha untuk apapun kepada saya karena apa yang terjadi kepada kamu tidak akan mengubah apapun dari pandangan saya, kita tinggal satu rumah, tetapi hidup kita punya masing-masing, saya tidak peduli kamu ingin melakukan apapun dan melanjutkan kebebasan kamu, begitu juga dengan saya, jangan pernah membuat saya emosi dengan tingkah kamu!" tegas Samudra.

"Kak....."

"Saya benar-benar jijik mendengar suara lembut yang keluar dari mulut kamu, bagi saya kamu adalah seorang yang paling munafik pernah terdengar oleh saya, telinga saya benar-benar sakit!" tegas Samudra.

Sudah pasti ada air mata yang jatuh di balik cadarnya dengan semua perkataan jahat suaminya. Samudra tidak mengatakan apa-apa lagi dan kemudian melanjutkan pekerjaannya dengan buru-buru memasukkan pakaian itu ke dalam kopernya.

Zena tetap terdiam paku di tempatnya berdiri, melihat bagaimana dinginnya Samudra, dengan tatapan yang sangat membencinya, nada suara yang selalu terdengar berat, penuh penukaran dan seolah-olah dirinya tidak pantas untuk diperlakukan dengan baik.

Samudra menyelesaikan pekerjaannya menurunkan koper tersebut dan melewati begitu saja Zena yang masih tetap mematung.

Samudra benar-benar melakukan aktivitasnya di kamar itu tanpa melihat adanya Zena. Hukuman yang diterima Zena, benar-benar adalah hukuman yang paling sakit.

Samudra memang mendapatkan tugas di luar negeri, di area perbatasan, meninggalkan Jakarta dalam beberapa bulan bukanlah hal yang tabu dan sudah menjadi kebiasaan, tetapi bagaimana jika sang suami hanya pergi begitu saja membawa kopernya keluar dari apartemen itu tanpa berpamitan, tanpa ada janji yang diucapkan, tanpa ada perkataan manis untuk memintanya menunggu pulang.

Kepergian Samudra benar-benar sangat dingin, pergi begitu saja meninggalkan Zena yang hanya berdiri terpaku, sampai suaminya sudah keluar dari apartemen tersebut tanpa bayangan.

"Ya Allah, kenapa waktu itu engkau tidak mencabut nyawa hamba saja, dengan begitu maka luka ini tidak akan ada, kenapa memberi kesempatan hidup, jika pada akhirnya tidak satupun orang yang bisa menerima masa lalu hamba, menjadikan masa lalu hamba suatu hal yang menjijikan tanpa melihat apakah hamba menginginkannya atau tidak? Mengapa ini benar-benar kejam," ucapnya kembali berurai air mata di balik cadarnya.

*****

Samudra menjalankan tugasnya di area perbatasan, sebagai tentara angkatan Laut dan sementara Zena juga menjalankan aktivitasnya di Jakarta yang terus melanjutkan karirnya dalam mendesain perhiasan.

Saat ini Zena bersama dengan Anggi sama-sama berada di dalam mobil dengan Anggi yang menyetir dan Zena duduk di sebelahnya, sesekali Anggi menoleh ke arah sahabatnya yang tampak murung dengan fokus wajah tetap lurus ke depan.

"Zena, kalau kurang enak badan, tidak apa-apa kamu istirahat, jangan dipaksakan seperti ini," ucap Anggi.

"Tidak Anggi, aku baik-baik saja dan lagi pula kita akan menemui klien besar hari ini," sahut Zena.

"Kamu yakin kamu baik-baik saja?" tanya Anggi terus memastikan.

"Iya," jawab Zena.

"Ya sudah kalau memang kamu baik-baik saja, kita akan menyelesaikan pertemuan ini, semoga saja semuanya diberi kelancaran," ucap Anggi yang membuat Zena menganggukkan kepala.

Tidak lama mobil itu akhirnya berhenti di salah satu Restaurant.

"Kliennya ingin bertemu di sini?" tanya Zena.

"Iya benar! Ayo masuk!" ajak Anggi membuka sabuk pengamannya yang diikuti oleh Zena.

Keduanya akhirnya sama-sama memasuki Restaurant tersebut. Anggi terlihat mencari-cari seseorang yang ingin dia temui dan penge Zena memang tidak mengenali orang tersebut.

"Zena ayo kesana!" ajak Anggi membuat Zena mengganggukan kepala.

Mereka menghampiri salah satu meja yang terlihat seorang pria tampak tenang membaca buku di sana. Pria tersebut menyadari bahwa ada orang yang sudah berada di dekatnya membuatnya mengangkat kepala.

"Mohon maaf...." Anggi tampak ragu.

"Saya Mahendra putra dari nyonya Samila!" ucap pria tersebut langsung to the point berdiri dengan mengeluarkan tangan.

"Astagfirullah, ternyata ini memang meja yang sudah saya pesan bersama dengan nyonya Samila," ucap Anggi.

"Benar. Mama saya tidak bisa hari ini datang, kebetulan ada hal mendadak yang membuat saya mau tidak mau harus mewakilkan beliau daripada janji harus ditunda," ucap pria tersebut dengan tangannya masih berharap untuk disambut.

"Begitu, ya tidak masalah sama sekali yang terpenting Anda berada di sini," sahut Anggi.

Tangan yang masih menggantung itu berusaha untuk disambut tetapi Anggi menyatukan kedua tangannya, bukan muhrim dan tidak boleh bersalaman tetapi cukup sopan yang membuat pria tersebut mengganggukan kepala yang memahami bagaimana kedua wanita tersebut.

Jika Anggi saja seperti itu dan sudah pasti Zena yang memakai cadar juga tidak mungkin bersalaman.

"Mari silakan duduk!" Mahendra mempersilahkan membuat Zena dan Anggi mengganggukan kepala dengan keduanya mengambil tempat duduk.

"Maaf jika kami berdua datang terlambat," ucap Anggi merasa tidak enak.

"No problem, sejujurnya saya juga baru saja sampai, saya yang minta maaf karena ketidakhadiran Mama dalam pertemuan ini, tetapi sebelumnya Mama sudah memberikan arahan kepada saya tujuan pertemuan ini apa dan saya berharap kalian berdua tidak kecewa," ucap Mahendra.

"Oh tidak, kami justru senang karena adanya yang menggantikan dan dengan begitu pertemuan ini tidak sia-sia," sahut Anggi.

"Kalau begitu kita bisa langsung saja?" tanya Mahendra.

"Iya," Anggi memberi kode kepada Zena.

Zena yang kurang fokus mengeluarkan paper bag dan kemudian memperlihatkan kotak besar pada Mahendra.

"Ini cincin hasil desain dari kantor kecil kami, sejujurnya kami sudah mencari investor untuk memasarkan perhiasan kami, tetapi untuk pemula seperti kami ternyata tidak mudah untuk mendapatkannya," ucap Anggi tampak merendah diri.

Pria tersebut mengambil cincin dari dalam kotak tersebut yang terdapat beberapa model.

Bersambung....

1
Ariany Sudjana
Zena ini bodohnya kebangetan yah, demi menjaga mental Khaira, samudra disuruh meninggalkan Zena dan Khaira, dan kembali bersama Ariana? istri macam apa kamu yah? itu bukan solusi, tapi mencari masalah baru, dasar bodoh
Uthie
Walau bagaimanapun, harusnya Zena lebih bisa paham aturan, dirinya masih bersuamikan Samudera, dan harus jaga hubungan yg tidak disukai oleh suaminya saat ini ..
Uthie
Nasihat Rain betul itu... sekeras apapun Zena menentang nya, namun Takdir Tuhan lah yg menentukan untuk mereka tetap bersatu lewat anak 👍
Uthie
itulah... Zena jangan jadi egois makanya
Uthie
Wahhh.. si Samudera tohhh itu 😡
Uthie
Wahhh.. Zena parah juga dehh kayanya .. punya anak tapi di titip kan... udah gtu gak ada cerita atau merahasiakan semuanya dr orang tua angkatnya?! 🤨
Uthie
Dasar Egois 😡
Uthie
Memang salah Zena juga yg gak terus terang sedari awal 😌
Uthie
penasaran siapa yg sdh menodai Zena dulu?!???
Uthie
nexxxttt
Uthie
coba mampir 👍
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Ariana, lebih baik kamu itu dibunuh
Ariany Sudjana
harusnya Zena tetap tenang, jangan terpancing emosi karena si pelacur murahan itu. kalau kamu seperti itu, Khaira akan jadi sasaran tembak Ariana. Ariana kan ga tahu peristiwa sebenarnya seperti apa, jadi kamu jangan bodoh
Ariany Sudjana
banyak typo kak
Ariany Sudjana
kalau gini ceritanya, Khaira akan meninggal, makanya terus kasih pesan seperti itu ke orang tuanya
Ariany Sudjana
terlalu lama si pelacur murahan ini buat ulah, kenapa ga langsung saja dibawa ke jalur hukum ? dia sudah mencemarkan nama baik dan karirnya harus habis atau kalau perlu dibunuh saja si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
kamu jangan egois Zena, dengar dulu penjelasan samudra.
dan Ariana kamu salah cari lawan, kamu harus dibinasakan
anamika
the best pokoknya, semangat berkarya terus Thor👍💪
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Ariana, kamu itu harusnya dibunuh saja
Ariany Sudjana
Anggi dan Zena ini sama-sama keras kepala dan bodohnya kebangetan, apalagi Zena itu egois, hanya peduli sama Khaira, tapi ga peduli sama samudra.
nah samudra mau jalankan tugas negara kan? kak penulis buat saja ceritanya samudra dan rain itu kena tembak gitu dan koma atau buat saja meninggal sekalian, apa kedua perempuan sombong itu masih tetap sombong dan angkuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!