Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Perburuan Sepuluh Kristal
Malam itu, Arga menyadari bahwa musuh paling berbahaya bukanlah pria berjubah hitam yang hampir membunuhnya. Musuh sesungguhnya adalah waktu yang terus bergerak, mengikis setiap keunggulan yang ia miliki sejak kembali ke masa lalu. Jika ia terlambat selangkah saja, seluruh pengetahuan dari kehidupan sebelumnya akan berubah menjadi kenangan yang tak lagi berguna.
Jam dinding di kamar kos berdetak pelan, mengiringi cahaya monitor laptop yang memantulkan warna kebiruan ke wajahnya. Di atas meja berserakan hard drive hasil curian, dokumen penelitian, kartu akses laboratorium, serta beberapa lembar catatan yang telah dipenuhi coretan tinta hitam. Aroma kopi yang mulai dingin memenuhi ruangan, tetapi matanya tetap tajam menelusuri setiap baris laporan.
Tik...
Tik...
Tik...
Arga mencolokkan hard drive ke laptopnya. Folder-folder terenkripsi bermunculan satu demi satu, tetapi berkat pengalaman panjang menghadapi markas ilmuwan dan kelompok riset pada kehidupan sebelumnya, ia cukup memahami struktur penyimpanan data semacam itu. Beberapa berkas memang terkunci, namun sebagian laporan penelitian ternyata masih dapat dibaca tanpa autentikasi tambahan.
Judul pertama yang menarik perhatiannya membuat napasnya sedikit tertahan.
PROJECT AWAKENER ALPHA
Tanpa ragu, ia membuka dokumen tersebut. Ratusan halaman berisi grafik, hasil eksperimen, dan foto-foto subjek uji memenuhi layar laptop. Hampir seluruh laporan membahas bagaimana kristal dapat memengaruhi tubuh manusia setelah dikombinasikan dengan serum virus sintetis dan berbagai senyawa kimia laboratorium.
Semakin jauh membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. "Mereka benar-benar tidak mengerti sifat kristal..." gumam Arga lirih, nyaris tenggelam oleh dengung kipas laptop. Laporan uji coba menunjukkan angka yang mengerikan. Dari seratus sukarelawan—atau lebih tepatnya korban eksperimen—lebih dari delapan puluh orang meninggal dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam karena jaringan tubuh mereka tidak mampu menahan energi kristal yang dipaksa menyatu melalui bahan kimia.
Mereka yang berhasil bertahan hidup pun tidak lagi dapat disebut manusia. Sebagian kehilangan seluruh rambut dengan kulit berubah menyerupai sisik hitam, sebagian memperoleh kekuatan fisik luar biasa tetapi menyerang siapa saja tanpa mampu membedakan kawan dan lawan, sementara yang lain hanya mampu menjerit tanpa henti hingga akhirnya mati akibat kerusakan otak. Arga memejamkan mata sejenak, membiarkan bayangan para korban itu memenuhi pikirannya.
Dalam kehidupan sebelumnya, banyak penyintas percaya bahwa menjadi Awakener membutuhkan teknologi canggih dan peralatan medis mahal. Tidak ada yang mengetahui bahwa para ilmuwan sebenarnya hanya memperumit sesuatu yang sejak awal telah memiliki jalannya sendiri. Arga mengambil buku catatan yang selalu berada di sampingnya, lalu mulai menulis dari ingatan yang selama ini tidak pernah berani ia lupakan.
Pulpen di tangannya bergerak mantap, menuliskan formula yang selama bertahun-tahun menjadi harapan terakhir umat manusia. Kristal dengan tingkatan yang sama berjumlah sepuluh buah dipadukan dengan daun mint segar, garam dapur, dan air murni, kemudian direbus selama satu jam—tidak lebih dan tidak kurang. Setiap kata yang ia tulis terasa seperti sedang menyusun kembali masa depan, karena resep sederhana itu bukan berasal dari laboratorium mana pun, melainkan hasil penelitian puluhan tahun para penyintas setelah kiamat berlangsung.
Banyak nyawa dikorbankan demi menemukan formula tersebut, dan Arga mengingatnya dengan sempurna. Ia menatap kembali catatan yang baru selesai dibuat. Dibandingkan laporan Project Awakener Alpha yang dipenuhi istilah ilmiah rumit, resep itu tampak begitu sederhana hingga terasa mustahil. Namun justru di situlah letak kesalahpahaman terbesar manusia.
Kristal bukanlah benda kimia yang dapat dipaksa tunduk melalui reaksi laboratorium. Benda itu merupakan inti energi biologis yang terbentuk secara alami melalui kondensasi Necrovirus Sapiens. Semakin banyak campuran buatan yang ditambahkan, semakin kacau keseimbangan energi yang tersimpan di dalamnya. "Sederhana..." gumam Arga pelan. "Karena memang seharusnya sesederhana itu."
Ia mengulurkan tangan ke dalam Ruang Dimensi hingga kristal abu-abu itu kembali berada di telapak tangannya. Cahaya redup memancar lembut dari permukaannya, seolah benda kecil itu memiliki napas yang hidup. Tatapan Arga berubah semakin serius. "Satu," bisiknya pelan. "Aku masih membutuhkan sembilan lagi."
Keesokan paginya, bahkan sebelum matahari benar-benar meninggi, Arga telah meninggalkan kamar kos dengan ransel kosong di punggung. Peta Jakarta yang dipenuhi lingkaran merah terselip di saku jaketnya, sementara parang beserta perlengkapan tempur sederhana tetap tersimpan aman di dalam Ruang Dimensi. Berdasarkan dokumen yang diperoleh dari Sektor-9, ia kini mengetahui beberapa lokasi infeksi awal yang sama sekali tidak pernah tercatat dalam kehidupan pertamanya. Jika bergerak cukup cepat, ia masih memiliki kesempatan memperoleh lebih banyak kristal sebelum Organisasi Hitam membersihkan seluruh jejak.
Perhentian pertama adalah sebuah klinik penelitian swasta di kawasan industri yang telah lama ditinggalkan. Dari luar, bangunan itu tampak biasa saja. Pintu depannya bahkan masih terkunci rapi, seolah tidak pernah terjadi sesuatu di dalamnya. Namun begitu Arga memasuki lorong belakang, aroma busuk yang samar langsung menyambutnya. Ia mengenali bau itu dengan sangat baik. Bau kematian yang hanya sedang menunggu waktunya.
Di salah satu ruang pemeriksaan, seorang perawat masih mengenakan pakaian dinas yang dipenuhi bercak darah kecokelatan. Kepalanya tertunduk, sementara tubuhnya bergoyang perlahan seperti boneka yang talinya hampir putus. Ketika mendengar suara langkah Arga, terdengar bunyi retakan mengerikan.
Krak...
Leher perempuan itu berputar hampir seratus delapan puluh derajat. Mata putih keruhnya langsung menatap Arga sebelum geraman serak keluar dari tenggorokannya.
"Grrraaa..."
Zombie Tier 1 itu menerjang tanpa ragu. Arga hanya menggeser tubuh setengah langkah. Tubuh mudanya memang belum sekuat dahulu, tetapi naluri bertarung yang ditempa selama sepuluh tahun tetap berada pada tingkat yang sama.
Sret!
Parang berkilat membelah udara. Tubuh zombie kehilangan keseimbangan, lalu palu besi menghantam pelipisnya dengan keras.
Brak!
Sebelum makhluk itu sempat bangkit kembali, parang Arga telah menghancurkan bagian belakang tengkoraknya.
Plak.
Tubuh itu roboh tanpa sempat mengeluarkan geraman kedua.
Pertarungan hanya berlangsung beberapa detik, tetapi ketika selesai membelah kepala zombie untuk mengambil kristalnya, Arga merasakan napasnya jauh lebih berat daripada yang seharusnya. Keringat mulai membasahi pelipisnya hingga ia terpaksa menyandarkan punggung ke dinding sambil mengatur ritme napas.
"Sial..." desisnya pelan.
Tubuh berusia dua puluh tiga tahun ini memang lebih muda, tetapi belum pernah ditempa oleh latihan bertahan hidup bertahun-tahun. Otot-ototnya masih jauh lebih lemah dibanding tubuh yang ia miliki sebelum mati. Pengalaman memang mampu mengalahkan teknik, tetapi pengalaman tidak pernah bisa menggantikan stamina.
Arga meneguk sedikit air mineral sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Menjelang sore, ia berhasil membersihkan fasilitas kedua yang ukurannya jauh lebih kecil, tetapi dihuni empat Zombie Tier 1 yang tersebar di beberapa ruangan sempit. Ia harus memancing mereka keluar satu per satu agar tidak terkepung. Pertarungan berlangsung jauh lebih melelahkan dibanding sebelumnya. Beberapa kali napasnya nyaris terputus, sementara lengan kanannya mulai bergetar setiap kali mengayunkan parang.
Meski demikian, ketika matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung kota, empat kristal baru telah tersimpan rapi di dalam Ruang Dimensi. Kini total kristal yang berhasil ia kumpulkan berjumlah lima buah, tepat separuh dari kebutuhan untuk meracik ramuan Awakener.
Arga duduk di tangga darurat sebuah gedung kosong sambil menghitung hasil buruannya. Lima kristal abu-abu tersusun rapi di hadapannya, memantulkan cahaya jingga senja yang perlahan meredup. Namun pikirannya justru dipenuhi kegelisahan lain. "Jumlah zombie awal bertambah..." gumamnya pelan.
Ia kembali mengingat laboratorium pertama yang seharusnya hanya memiliki satu zombie. Kenyataannya, terdapat empat. Kini dua lokasi lain juga memperlihatkan jumlah korban yang jauh lebih banyak daripada yang pernah ia ketahui dalam kehidupan sebelumnya. Satu kesimpulan mulai terbentuk di benaknya.
Timeline benar-benar berubah.
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, sebuah ruang rapat bawah tanah dipenuhi layar holografik yang menampilkan peta Indonesia. Beberapa titik merah berkedip perlahan, menandai lokasi-lokasi infeksi awal yang telah dibersihkan. Seorang pria bersetelan hitam berdiri di depan meja bundar sambil menerima laporan elektronik dari bawahannya.
"Seluruh lokasi mengalami gangguan," lapor salah seorang pria. "Beberapa kristal eksperimen hilang. Hard drive Sektor-9 juga belum ditemukan."
Ruangan itu menjadi sunyi selama beberapa detik. Pria di ujung meja mengetukkan jarinya perlahan ke permukaan meja.
Tak...
Tak...
Tak...
"Penyusup itu tidak mencuri uang," ujarnya akhirnya dengan suara berat. "Bukan pula data keuangan. Dia hanya mengambil kristal."
Kalimat itu membuat suasana ruangan berubah semakin tegang. Pria tersebut memandang seluruh bawahannya satu per satu sebelum melanjutkan, "Artinya... dia memahami nilai sebenarnya."
Seorang wanita berambut pendek mengangkat wajahnya. "Kami mengusulkan operasi pembersihan total. Semua lokasi infeksi awal akan disterilkan. Tidak boleh ada kristal yang jatuh ke tangan pihak luar."
Pria di ujung meja mengangguk tipis. "Laksanakan."
Wanita itu membuka berkas lain sebelum kembali bertanya, "Bagaimana dengan penyusupnya?"
Keheningan kembali menyelimuti ruang rapat. Beberapa detik kemudian, pria itu memberikan satu perintah yang langsung mengubah arah operasi mereka.
"Mulai hari ini..."
"Target itu menggunakan sandi Ghost Collector."
"Temukan dia."
Menjelang malam, Arga menaiki sebuah bus kota untuk kembali ke kamar kosnya. Tubuhnya terasa pegal setelah seharian bertarung tanpa henti, tetapi pikirannya masih sibuk menyusun rute perburuan berikutnya. Bus melaju perlahan menembus kemacetan sore, sementara dengung mesin berpadu dengan percakapan para penumpang yang tertawa, bermain ponsel, atau mengeluhkan pekerjaan mereka. Tidak seorang pun menyadari bahwa dunia sedang menghitung mundur menuju kehancuran.
Di tengah perjalanan, perhatian Arga tertuju pada seorang pria paruh baya yang duduk beberapa kursi di depannya. Pria itu terus batuk dengan suara yang terdengar kering, dalam, dan tidak wajar.
Uhuk...
Uhuk...
Wajah pria tersebut memerah karena demam. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara jemarinya gemetar setiap kali mencoba membuka botol minuman. Seorang penumpang hanya melirik sekilas sebelum berkomentar, "Mungkin masuk angin." Yang lain kembali sibuk memainkan ponsel masing-masing tanpa menunjukkan kepedulian.
Namun mata Arga justru menyipit.
Ia mengenali pola napas itu.
Demam tinggi.
Batuk kering.
Mata yang mulai memerah.
Gejala awal Necrovirus Sapiens.
Belum cukup untuk mengubah seseorang menjadi zombie, tetapi masa inkubasi telah dimulai.
Arga perlahan menoleh ke luar jendela. Jakarta masih dipenuhi cahaya lampu kendaraan, papan iklan yang menyala terang, serta ribuan orang yang berjalan menuju rumah tanpa sedikit pun rasa takut. Mereka masih tertawa, masih merencanakan liburan, dan masih mengeluhkan pekerjaan esok pagi, tanpa mengetahui bahwa kematian telah duduk diam di tengah-tengah mereka.
Arga mengembuskan napas panjang sambil memandang lautan manusia di balik kaca bus.
"Kalian masih punya waktu..."
Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin.
"...tapi dunia sudah tidak bisa dihentikan lagi."