Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. KEHEBOHAN REBECA
"Papa harus mengizinkan aku ke Korea pas libur semester minggu depan. Aku mau ketemu Mama," jawab Rebeca lantang dan mantap.
Robinson tampak sedikit terkejut. Ia sempat terdiam beberapa detik. Bukannya langsung menjawab, ia justru kembali mengajukan pertanyaan. "Papa mau tanya sekali lagi, Beca."
"Apa lagi sih, Pa?"
"Kamu benar-benar nggak keberatan kalau Papa menikah lagi?"
Rebeca mengangguk tanpa ragu. "Enggak. Tapi syaratnya itu tadi. Izinin aku ke Korea."
"Kalau Papa menikah minggu-minggu ini ... kamu juga tidak keberatan?"
Kali ini Rebeca mengernyitkan dahi. "Tunggu dulu." Ia memutar badan hingga menghadap ayahnya sepenuhnya. "Memangnya ... calonnya sudah ada?"
"Ada."
Jawaban singkat itu membuat Rebeca sedikit terkejut. Selama ini, setahunya sang ayah tidak pernah terdengar dekat dengan perempuan mana pun. Bahkan setelah bertahun-tahun hidup terpisah dari ibunya, Robinson seolah hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan mengurus dirinya. "Siapa?" pertanyaan itu nyaris keluar dari bibirnya. Namun rasa penasarannya kalah oleh keinginannya yang jauh lebih besar. "Papa dulu jawab pertanyaanku. Jadi boleh aku ke Korea atau nggak?"
Robinson tersenyum tipis. "Oke. Papa izinkan."
Mata Rebeca langsung berbinar. "Serius?"
"Iya. Tapi ..." Robinson kembali menatap putrinya lekat-lekat. "Papa ingin memastikan sekali lagi. Kamu benar-benar mengizinkan Papa menikah lagi?"
Rebeca mendecak kesal. "Ih, bawel banget sih, Pa. Dari tadi juga aku udah bilang ... boleh." Ia mengibaskan tangannya asal. "Silakan aja Papa mau menikah sama perempuan mana pun. Aku nggak keberatan."
Ucapan itu membuat Robinson menarik napas panjang. Seolah beban besar di dadanya perlahan terangkat. Beberapa detik ia terdiam, lalu berkata dengan suara tenang. "Papa akan menikah dua minggu lagi."
Rebeca sama sekali tidak menunjukkan reaksi berarti. Ia hanya mengangkat bahu acuh. "Terserah." Lalu sambil mengambil sisir, ia berkata santai, "Yang penting aku jadi ketemu Mama di Korea."
Robinson hanya memandang putrinya dalam diam. Ia sempat berpikir Rebeca akan bertanya siapa perempuan yang akan menjadi istrinya nanti. Namun ternyata tidak.
Gadis itu malah sibuk menyisir rambutnya.
Robinson kembali mengembuskan napas panjang. "Semoga nanti ... kamu bisa menerima kenyataan itu, Beca," batinnya lirih. "Ya sudah, sabtu depan Papa akan pesankan tiket untuk kamu."
"Makasih, Pa." Rebeca membalas tanpa melirik sedikit pun ke arah ayahnya.
"Papa ke kamar dulu." Robinson berbalik meninggalkan kamar putrinya.
Setelah ayahnya keluar dari kamar, Rebeca langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya. Tak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung. "Halo, Mil!"
"Halooo ..." jawab Mili dengan suara serak.
"Woy, gue dapat izin ke Korea!" seru Rebeca antusias. "Libur semester minggu depan gue bakal ketemu Mama!"
"Serius? Wah, selamat, Bestie!" Mili ikut terdengar senang. "Akhirnya keinginan lo terkabul juga."
"Iya dong." Rebeca tersenyum lebar. Namun beberapa detik kemudian ia menyipitkan mata. "Eh ... bentar."
"Kenapa?"
"Jangan bilang ... lo masih mesra-mesraan sama Putra?"
Di seberang terdengar tawa kecil. "Iya. Gue masih sama bebeb gue."
Rebeca langsung memekik. "Ya ampun, Mil! Pantesan suara lo serak banget!"
Mili kembali tertawa geli. "Iya, soalnya gue nggak berhenti mendesah."
"Astaga ... kalian ini memang pasangan hyper ya."
Belum sempat Mili menjawab, terdengar suara Putra. "Sayang, udah dulu lah neleponnya. Tanggung nih, bentar lagi aku mau keluar."
Rebeca langsung menutup wajah dengan sebelah tangan. "Sialan!" Ia pun mematikan panggilan itu lalu bergidik geli. "Dasar pasangan cabul!" rutuknya.
Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja rias. Senyum di wajahnya masih belum hilang. Pikirannya kini hanya tertuju pada satu hal.
Korea.
Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, ia akan kembali bertemu dengan sang ibu. "Mama," bisiknya bahagia. Tanpa pikir panjang, ia mengambil lagi ponselnya dan beranjak dari depan meja rias, lalu duduk di atas ranjang.
Rebeca membuka Instagram. Ia mengunggah fotonya dan membubuhi dengan caption:
"Korea, aku datang."
Belum sampai satu menit, notifikasi mulai berdatangan. Puluhan. Lalu ratusan. Teman-teman kampus, sahabat, hingga beberapa kerabat memberikan tanda suka dan komentar.
Rebeca membalas beberapa komentar sambil tersenyum puas. Namun tiba-tiba matanya membulat. "Eh?" Ia mengucek kedua matanya, memastikan tidak salah lihat.
"YA AMPUN!!" Rebeca spontan meloncat dari tempat tidur. "ELGAR NGE-LIKE FOTOKU!!" Ia kembali melihat layar ponselnya.
Benar.
Bukan halusinasi.
Nama itu benar-benar terpampang di daftar penyuka unggahannya.
Rebeca memekik girang sambil berputar-putar di dalam kamar. "Aaaaa ... akhirnya dinotice juga!" Jantungnya berdegup lebih cepat.
Namun beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi baru muncul.
1 pesan baru.
Rebeca buru-buru membukanya. Matanya langsung membesar. Ia sampai menahan napas. "Tunggu ... tunggu ... ini seriusan Elgar nge-DM aku?" Tangannya mendadak dingin.
Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka percakapan itu. Dan ia semakin terkejut. Elgar benar-benar membalas DM-nya yang pernah ia kirim tiga bulan yang lalu.
Saat itu Rebeca hanya mengirim satu kalimat sederhana.
"Hi, Kak Elgar. Aku penggemar kamu. Semoga suatu hari bisa ketemu langsung."
Selama tiga bulan, pesan itu hanya berstatus terkirim tanpa pernah dibalas.
Ia bahkan sudah hampir melupakannya. Namun kini, di bawah pesan lamanya muncul balasan baru.
Elgar Jeverson: Maaf baru sempat balas. Terima kasih sudah mendukung. Semoga kita bisa bertemu kalau ada kesempatan.
Rebeca mematung selama beberapa detik. Lalu ia menjerit sekeras-kerasnya sambil meloncat-loncat di atas kasur. AAA! ELGAR BALES DM AKU!" Wajahnya memerah karena terlalu senang. Tanpa sadar ia memeluk bantal erat-erat. "Ya Tuhan ... ini mimpi apa bukan sih?" Jantungnya masih berdebar tak karuan. Senyumnya bahkan tak kunjung hilang saat ia mulai berpikir. "Aku harus balas apa, ya? Jangan sampai kelihatan terlalu agresif, tapi juga jangan terlalu dingin."
Rebeca menarik napas panjang berkali-kali. "Tenang ... tenang, Rebeca. Jangan sampai kelihatan norak," gumamnya, meski senyumnya sama sekali tidak bisa disembunyikan. Ia mengetik, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Hampir lima menit berlalu sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengirim pesan.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku malah nggak nyangka bakal dibalas. Makasih banyak ya. Semoga karier Kak Elgar makin sukses."
Begitu pesan terkirim, Rebeca langsung meletakkan ponselnya. "Oke ... udah. Nggak usah berharap dibalas lagi."
Namun baru beberapa detik berlalu, notifikasi baru muncul. Rebeca sontak meraih kembali ponselnya. Matanya membelalak. "Dibalas lagi?" Dengan jantung berdegup kencang, ia membuka DM tersebut.
Elgar Jeverson: Aamiin. Terima kasih atas doanya. Semoga kuliahmu juga lancar ya.
Rebeca menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Oh My God!" Ia membaca pesan itu berulang-ulang. Sampai sepuluh kali. "Dia ... dia mendoakan kuliahku." Rebeca sampai tersenyum sendiri di depan layar.
Ia lalu melihat kembali foto profil Elgar di ruang obrolan. "Orangnya ternyata ramah juga." Tanpa sadar, pipinya memerah. Ia baru saja hendak membalas pesan Elgar, namun keburu ada pesan baru lagi. Jantung Rebeca berdegup lebih cepat, ia membuka pesan itu.
Elgar Jeverson: Oh ya, aku lihat caption Instagram kamu. Kamu mau ke Korea ya?
Rebeca langsung membalas. "Iya, Kak. Minggu depan aku mau ke Korea. Mau ketemu Mama yang tinggal di sana."
Pesan itu baru terkirim beberapa detik.
Lalu balasan kembali datang.
Elgar Jeverson: Wah, kebetulan banget. Minggu depan aku juga ada jadwal ke Korea buat pekerjaan.
Rebeca membelalak. "Hah ...?" Ia membaca ulang pesan itu. Belum sempat rasa terkejutnya hilang, gelembung chat baru kembali muncul.
Elgar Jeverson: Kalau jadwal kita cocok, gimana kalau sekalian ketemuan?
Rebeca membeku. Matanya membulat sempurna. Mulutnya perlahan terbuka.
"Hah ...?" Ia berkedip berkali-kali. Lalu membaca ulang kalimat itu. "Elgar ngajak ketemuan?" Rebeca spontan mencubit lengannya sendiri. "Aduh! Sakit." Ia meringis. "Berarti ini bukan mimpi." Ia menutup mulut dengan kedua tangan, napasnya mulai memburu. "Ya Tuhan ... Ya Tuhan ... Ya Tuhan ..." Belum sempat ia menenangkan diri, pesan berikutnya kembali masuk.
Elgar Jeverson: Kalau berkenan, boleh minta nomor WhatsApp kamu? Biar lebih mudah komunikasi soal waktu dan tempat ketemunya.
Detik itu juga Rebeca merasa dunia seakan berhenti berputar. Ponsel di tangannya nyaris terlepas. "Kyaaaaaa ...!" Ia menjatuhkan diri ke atas kasur sambil memeluk bantal sekuat tenaga. "Elgar minta nomor WhatsApp aku?" Wajahnya memerah sampai ke telinga. Jantungnya berdegup sangat cepat. "Ya ampun ... aku ... aku kayak mau pingsan."