NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

"Tanda tangani ini, Alana. Maka seluruh tim medis terbaik di Asia akan dipindahkan ke rumah sakit privat untuk mulai mempersiapkan proses transplantasi sumsum tulang belakang Leo."

Devran melemparkan sebuah dokumen tebal bersampul kulit hitam ke atas meja kopi di ruang istirahat, tepat di hadapan Alana yang baru saja terbangun dengan mata bengkak.

 Pria itu berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada dengan keangkuhan yang kembali sepenuhnya.

Alana menatap dokumen itu dengan pandangan kabur, lalu mendongak menatap wajah dingin Devran.

 "Kontrak kerja? Di situasi seperti ini, Anda masih memikirkan bisnis, Devran? Anak kita sedang sakit!"

"Justru karena dia sedang sakit, aku memberikan penawaran ini," sahut Devran datar, suaranya tidak menerima bantahan.

 "Ini bukan sekadar kontrak desain interior biasa. Ini adalah jaminan keselamatan putraku. Baca pasal utamanya."

Alana dengan tangan gemetar membuka lembar pertama dokumen tersebut. Matanya menyusuri baris demi baris klausul hingga ia tertegun pada satu poin yang dicetak tebal.

 "Klausul Eksklusifitas Tempat Kerja. Seluruh proses pengerjaan restorasi aset Adhitama Group harus dilakukan di bawah pengawasan langsung pendiri perusahaan, dan desainer utama wajib menetap di kediaman utama Adhitama Mansion selama proyek berlangsung?!"

"Benar. Tiga bulan. Tanpa bantahan," potong Devran cepat.

"Anda gila! Ini namanya penyanderaan berkedok kontrak kerja!" Alana berdiri dari sofa, menatap Devran dengan kemarahan yang kembali menyala.

 "Saya bisa mendesain dari mana saja, Devran! Dari hotel, dari kantor, bahkan dari rumah sakit tempat Leo dirawat nanti! Kenapa saya harus tinggal di rumah Anda?!"

"Karena aku tidak memercayaimu, Alana," desis Devran, melangkah maju hingga memotong jarak di antara mereka. Tatapan elangnya mengunci manik hazel Alana dengan intensitas yang menekan.

 "Mengingat rekam jejakmu yang sangat ahli dalam melarikan diri ke Swiss, aku tidak akan mengambil risiko membiarkanmu berada di luar jangkauan pandanganku. Kamu, dan rahasia apa pun yang sedang kamu sembunyikan di Eropa, akan tetap berada di bawah kendaliku."

"Saya tidak menyembunyikan apa pun!" Alana membela diri, meskipun di dalam hatinya ia teringat pada peringatan Reno tentang penghapusan data medis Leo yang sempat ia dengar samar sebelum tertidur tadi.

 "Jika Anda ingin mengawasi saya, taruh saja pengawal di depan kamar hotel saya! Jangan paksa saya masuk ke dalam rumah Anda!"

"Pengawal bisa disuap, Alana. Tapi dinding mansionku tidak bisa ditembus," sahut Devran dengan senyuman tipis yang kejam.

 "Dan jangan lupa, statusmu saat ini masih menjadi terduga yang berkaitan dengan kebocoran data siber sore tadi, sebelum semuanya dialihkan ke Siska. Aku memiliki seribu alasan hukum untuk menahanmu."

Alana mengepalkan tangannya, merasa benar-benar terpojok oleh kelicikan pria di depannya.

"Lalu bagaimana dengan Leo? Anda pikir saya akan meninggalkan anak saya yang sedang sakit di hotel bersama Dira sementara saya bersenang-senang di mansion mewah Anda?!"

"Siapa yang menyuruhmu meninggalkan Leo?" Devran menaikkan satu alisnya, kilat kemenangan berbinar di matanya.

"Maksud Anda?"

"Leo akan ikut bersamamu. Dia akan tinggal di Adhitama Mansion," ujar Devran, suaranya mendadak melunak namun sarat akan kepemilikan yang mutlak.

 "Mansionku memiliki fasilitas sayap medis pribadi yang jauh lebih steril daripada kamar hotel murah tempat kalian menginap sekarang. Dr. Gunawan dan tim perawatnya akan berjaga di sana dua puluh empat jam untuk memantau kondisi darah Leo sebelum jadwal operasiku ditentukan."

Alana tertegun, lidahnya mendadak kelu. "Leo... tinggal di rumah Anda? Sebagai apa, Devran?"

 "Anda bahkan belum mengumumkan statusnya pada keluarga besar Adhitama!"

"Dia tinggal di sana sebagai putra mahkotaku, Alana. Apakah itu belum cukup jelas bagimu?" balas Devran, suaranya berat dan penuh penekanan.

"Keluarga besarku tidak perlu tahu apa pun sampai proses transplantasi ini selesai dan kondisi Leo stabil. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah membubuhkan tanda tanganmu di atas kertas itu, atau aku akan menunda perintah operasi sumsum tulangku besok pagi."

"Anda... Anda mengancam saya dengan nyawa anak Anda sendiri?!" Alana menatap Devran dengan pandangan tidak percaya, air mata frustrasi kembali menggenang di pelupisnya.

"Anda benar-benar monster tanpa hati, Devran Adhitama!"

"Aku adalah seorang ayah yang sedang mengklaim kembali apa yang menjadi hakku, Alana," desis Devran, menyodorkan sebuah pena emas ke tangan Alana yang gemetar.

 "Pilihan ada di tanganmu. Menjadi arsitek eksklusif di mansionku demi kesembuhan Leo, atau mempertahankan egomu dan melihat kondisi putra kita memburuk setiap harinya?"

Alana memandang pena di tangannya, lalu beralih menatap dokumen hitam di atas meja. Di dalam benaknya, wajah ceria Leo yang genius namun rapuh karena penyakit genetik itu terbayang dengan sangat jelas.

 Jika ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan darah Rhesus negatif milik Devran demi menyambung nyawa putranya, maka ia tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan dirinya ke dalam sangkar emas yang telah disiapkan sang predator.

Dengan tarikan napas yang terasa sesak, Alana membungkuk dan menggoreskan tanda tangannya di atas baris kontrak kerja eksklusif Adhitama Group.

 Sret... sret.

"Pilihan yang sangat bijaksana, Alana," gumam Devran, langsung menyambar dokumen yang telah ditandatangani itu dengan senyuman penuh kemenangan.

 Pria itu berbalik menatap Reno yang sejak tadi berjaga di dekat pintu. "Reno, siapkan kendaraan utama. Kita berangkat ke Hotel Grand Inna sekarang untuk menjemput Leo dan memboyong seluruh barang-barang mereka ke mansion."

Satu jam kemudian, iring-iringan tiga mobil SUV hitam mewah milik Adhitama Group telah terparkir di pelataran parkir privat Hotel Grand Inna. Dira yang sudah dihubungi sebelumnya oleh Alana, tampak berdiri di lobi lantai 9 dengan wajah cemas, memeluk Leo yang masih setengah mengantuk dalam gendongannya.

"Mommy!" Leo langsung terbangun sepenuhnya begitu melihat sosok Alana melangkah keluar dari lift, namun matanya segera menyipit curiga saat melihat sosok tinggi tegap Devran yang berjalan tepat di samping ibunya.

 "Lho, kenapa Om seram yang kemarin kirim tulisan emas di laptop ikut sama Mommy?"

Alana segera mengambil Leo dari gendongan Dira, memeluk tubuh mungil putranya erat-erat seolah takut kehilangan.

"Leo sayang... mulai malam ini, kita akan pindah tempat tinggal ya. Kita tidak di hotel lagi."

"Pindah ke mana, Mommy? Ke rumah robot besar milik Om seram ini?" tanya Leo polos, jemari mungilnya menunjuk tepat ke arah wajah Devran.

Devran melangkah maju, memotong jarak hingga berdiri tepat di depan Leo. Pria yang biasanya memancarkan aura membunuh itu kini membiarkan gurat wajahnya melunak, menatap sepasang mata bulat Leo yang sangat mirip dengan matanya sendiri saat kecil.

"Bukan rumah robot, Leo. Itu namanya Adhitama Mansion," sahut Devran, suaranya terdengar hangat, sebuah nada yang belum pernah didengar oleh Reno maupun Alana sebelumnya.

"Di sana ada laboratorium komputer yang jauh lebih besar dari laptop tantemu, dan ada taman luas untukmu bermain. Kamu mau ikut?"

Leo tidak langsung menjawab. Bocah lima tahun itu menatap Devran dengan pandangan menyelidik yang teramat tajam, meniru gaya analisis siber yang biasa ia lakukan.

 "Om seram tidak sedang berbohong kan? Di sana ada internet yang cepat?"

"Internet paling cepat di negeri ini, Leo. Dan tidak ada yang akan mematikan laptopmu lagi seperti tadi sore," janji Devran dengan kekehan rendah, melirik sekilas ke arah Alana yang membuang muka.

"Oke, Leo ikut! Tapi Tante Dira harus ikut juga!" seru Leo, menepuk bahu Dira.

"E-eh? Tante juga ikut?!" Dira terbata-bata, langsung menatap Alana dengan pandangan meminta penjelasan.

"Dira akan tetap tinggal di hotel ini dengan seluruh biaya yang ditanggung oleh Adhitama Group, Leo," potong Devran tegas sebelum Alana sempat menjawab.

"Tante Dira memiliki urusan pekerjaan yang harus diselesaikan di sini. Hanya kamu dan Mommy yang akan tinggal di mansionku."

"Tapi..." Alana hendak memprotes, namun tatapan peringatan yang tajam dari Devran langsung mengunci mulutnya kembali.

"Mobil sudah siap di bawah, Tuan Besar," sela Reno dengan takzim dari belakang mereka.

Devran mengangguk, lalu secara alami mengulurkan kedua tangan kekarnya ke arah Leo.

"Ayo, Leo. Naik ke pundakku. Biarkan Mommymu beristirahat karena dia sangat lelah malam ini."

Alana sempat menahan tubuh Leo, namun bocah kecil itu justru tampak terpukau dengan postur tubuh Devran yang tinggi besar.

Tanpa rasa takut sedikit pun, Leo menyambut uluran tangan Devran dan berpindah ke dalam gendongan kokoh sang Chairman.

"Wah, tinggi sekali! Dari sini Leo bisa melihat seluruh koridor!" seru Leo gembira, duduk tegak di atas lengan kekar Devran sembari tertawa kecil.

Devran tersenyum lebar, sebuah senyuman tulus yang sangat langka, sembari mendekap tubuh putranya dengan proteksi yang teramat erat.

Ia membalikkan tubuhnya, melangkah memimpin jalan menuju lobi bawah, meninggalkan Alana yang berjalan di belakangnya dengan perasaan yang campur aduk.

Saat mereka melangkah keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil limosin hitam yang telah menunggu, Alana menatap siluet punggung Devran dan Leo yang tampak begitu serasi dari arah belakang.

Sangkar emas itu kini telah benar-benar tertutup rapat, membawa mereka semua masuk ke dalam wilayah kekuasaan mutlak Adhitama Mansion, tempat di mana rahasia masa lalu dan konspirasi besar dari Swiss siap menanti mereka di setiap sudut dindingnya.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!