Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Keesokan paginya, suasana di dalam ruang kelas 7 C terasa sangat berbeda dari biasanya. Jika kemarin ruangan itu riuh bak pasar malam, hari ini seluruh murid sudah duduk rapi di kursi masing-masing sejak sebelum bel masuk berbunyi. Kilat antisipasi terpancar dari wajah-wajah mereka. Mereka sudah tidak sabar menunggu kemunculan sang wali kelas baru dan menyantap pemandangan seru saat guru itu terkena kejutan dahsyat yang sudah mereka siapkan.
"Zam, gue sudah enggak sabar lihat Bu Arumi malu setengah mati gara-gara terkena lem di kursinya!" bisik Rio pelan, menyenggol lengan Azzam yang duduk di barisan belakang.
Azzam menyeringai, melipat kedua tangannya di atas meja dengan angkuh. "Elo hebat juga bisa cari lem begitu, Yo. Orang awam pun tak akan menyangka kalau di atas kursi kayu itu sudah diolesi lem perekat yang sangat kuat."
Mendengar pujian dari sang ketua geng, Tyo yang duduk tak jauh dari mereka ikut mencondongkan badan ke depan dengan senyum bangga. "Tyo gitu loh! Pokoknya lem rahasia ini enggak dijual bebas, Zam. Kita akan menyaksikan pertunjukan paling menarik tahun ini!" Tyo tertawa cekikikan, buru-buru membekap mulutnya sendiri agar tidak memancing perhatian.
Tepat saat itu, bel masuk berbunyi nyaring. Pintu kelas terbuka, menampilkan sosok Bu Arumi yang melangkah masuk dengan anggun.
"Selamat pagi, Bu Guruuu!" ucap para murid secara serempak dengan nada yang sengaja dibuat sangat manis dan kompak.
Mendapat sambutan seramah itu untuk pertama kalinya, dahi Arumi sedikit berkerut. Alih-alih senang, instingnya justru menaruh curiga. Ada yang tidak beres dengan ekspresi tegang sekaligus geli di wajah anak-anak didiknya.
Arumi melangkah menuju meja guru. Namun, ia tidak langsung duduk, melainkan hanya meletakkan tumpukan buku mata pelajaran Matematika di atas meja.
"Baiklah anak-anak, materi yang akan Ibu sampaikan hari ini adalah tentang Aritmatika Sosial," ucap Arumi lugas.
Mendengar nama bab tersebut, antusiasme palsu para murid langsung runtuh. Pelajaran Matematika bermuatan cerita dan hitungan itu adalah salah satu materi yang paling mereka benci.
"Baik, Buuuuu..." jawab mereka lemas.
Sebelum berbalik ke papan tulis, Arumi menghela napas panjang. Kakinya terasa sedikit pegal. Pagi ini ia hampir saja kesiangan karena terjebak macet total, yang memaksanya nekat turun dari ojek online dan berjalan kaki beberapa ratus meter demi tiba tepat waktu di SMP Chandrakanta.
Niat hati ingin mengistirahatkan kaki sejenak, Arumi pun melangkah mendekati kursi kerjanya. Namun, begitu jaraknya tinggal satu langkah, sebuah bau kimia yang aneh dan agak menyengat mendadak tercium oleh indra penciumannya. Arumi menghentikan gerakan. Matanya menatap tajam ke arah permukaan jok kursi kayu hitam tersebut. Warna hitam pekatnya tampak sedikit memudar dan mengilat tidak wajar.
Merasakan ada yang janggal, Arumi mengambil buku catatan kecil dari sakunya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kursi.
Prak!
Dan benar saja. Ketika Arumi mencoba menarik kembali buku kecil itu, buku tersebut sudah melekat sempurna pada permukaan kursi. Daya rekatnya begitu kuat hingga lembaran sampul belakang buku itu robek saat Arumi memaksanya lepas.
'Fyuuuh... Selamat. Untung saja indra penciumanku masih normal. Kalau tidak, rok seragamku bisa robek atau menempel di sini akibat ulah jahil mereka,' batin Arumi, menarik napas dalam-dalam.
Jemari tangan Arumi mengepal kuat di balik punggungnya. Kelakuan anak-anak ini sudah benar-benar keterlaluan dan berbahaya. Ia harus memutar otak dengan cepat, membuat murid-muridnya mendapatkan efek jera yang setimpal tanpa harus mengamuk tak terkendali.
Arumi menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. Sementara di bangku murid, ketegangan memuncak. Mereka yang sedari tadi menanti sang guru duduk mulai cemas karena umpan mereka meleset.
Mengulas senyum lebar yang sangat ramah namun misterius, Arumi membalikkan badannya menghadap kelas.
"Oh iya, Anak-anak... Sebelum kita mulai masuk ke materi pelajaran, Ibu ingin membuat sebuah permainan kecil terlebih dahulu, agar proses belajar kita hari ini tidak membosankan," ujar Arumi, matanya menyapu seisi kelas dengan tatapan yang membuat bulu kuduk merinding.
Tanpa diduga, Arumi mengangkat kursi kerjanya itu dengan satu tangan, menampilkan kekuatan fisiknya yang lagi-lagi membuat murid melongo lalu memindahkannya ke area kosong tepat di bagian tengah kelas. Di atas kursi tersebut, buku catatan kecil yang robek tadi sengaja tetap ia biarkan menempel erat sebagai bukti nyata.
"Nah, Ibu akan memanggil nama kalian satu per satu secara acak. Nanti, kalian harus berdiri mengelilingi kursi ini. Ibu akan memberikan pertanyaan acak tentang Matematika dasar. Dan... bagi siapa saja yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Ibu, hukumannya adalah..." Arumi sengaja menjeda kalimatnya, tersenyum penuh arti ke arah Azzam, Rio, dan Tyo.
"Orang itu wajib duduk di kursi ini, di depan kelas, sampai jam pelajaran Ibu berakhir. Bagaimana, setuju?"
Glek!
Secara serempak, para murid di kelas 7 C—terutama komplotan Azzam langsung menelan ludah mereka dengan susah payah. Wajah Rio dan Tyo seketika pucat pasi. Mereka baru menyadari sepenuhnya bahwa guru tangguh di depan mereka ini tidak hanya lihai bela diri, tetapi juga jauh lebih cerdas dan berbahaya daripada dugaan mereka. Rencana jebakan lem super mereka kini justru berbalik menjadi senjata makan tuan yang siap menghancurkan bokong mereka sendiri.
Arumi membuka kembali buku absen di tangannya. Sorot matanya menyapu barisan bangku murid dengan senyuman yang begitu manis, namun sanggup membuat dada siapa pun berdesir ngeri.
"Agustina, Amelia, Azzura, Fika, Dikta, Tyo, Rio, Rizal, Jonas... dan yang terakhir, Azzam." Arumi menjeda kalimatnya, lalu menutup buku absen dengan ketukan pelan. "Kalian semua adalah murid yang beruntung pagi ini karena terpilih mengikuti permainan paling seru dari Ibu. Ayo, semua yang namanya Ibu panggil, segera maju ke depan!"
Suara Arumi terdengar selembut mungkin, bernada riang seolah ia benar-benar tidak tahu tentang jebakan lem di kursi itu. Ini adalah taktiknya untuk memberikan pelajaran psikologis yang akan membuat pelaku utama jera sekaligus menjadi peringatan bagi murid lainnya.
"Nanti Ibu akan memberikan hadiah spesial untuk pemenangnya. Tapi besok, ya, Ibu siapkan dulu hadiahnya!" lanjut Arumi sembari mengedipkan sebelah matanya ramah.
Dengan langkah berat dan wajah masam, kesepuluh murid itu terpaksa melangkah maju ke depan kelas, membentuk lingkaran mengelilingi kursi maut tersebut. Di barisan paling belakang, Azzam mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celananya. Ia sangat membenci permainan konyol ini. Namun, egonya menuntutnya untuk tetap maju, jika ia menolak atau berontak sekarang, sang guru pasti akan langsung tahu bahwa dialah otak di balik semua ini.
Permainan pun dimulai. Arumi melemparkan pertanyaan Matematika dasar satu per satu. Pertanyaannya tidak begitu sulit, sehingga satu demi satu murid berhasil menjawab dengan benar dan bernapas lega saat dipersilahkan kembali ke bangku mereka masing-masing.
Hingga akhirnya, eliminasi permainan itu menyisakan empat orang terakhir yang belum menjawab: Azzam, Azzura, Rio, dan Tyo. Arumi mengunci pandangannya pada keempat remaja ini. Instingnya seratus persen yakin, merekalah komplotan utama yang telah melumuri kursinya dengan lem perekat.
Suasana semakin tegang. Rio dan Tyo sudah mulai gemetar, keringat dingin bercucuran di pelipis mereka karena tahu pertanyaan berikutnya akan menjebak mereka untuk duduk di kursi tersebut. Melihat kepanikan kaki tangannya serta kembarannya, jiwa "sok jagoan" Azzam meradang. Ia tidak sudi melihat Azzura atau teman-temannya dipermalukan.
"Sudah, tidak usah dilanjutkan permainannya, Bu," potong Azzam lantang, memotong kalimat Arumi. Ia melirik Rio, Tyo, dan Azzura bergantian. "Kalian bertiga kembali ke bangku. Biar gue yang duduk di kursi ini."
"Kak Azzam..." bisik Azzura cemas, mencoba menahan lengan kakaknya. Namun, Azzam menepisnya pelan. Remaja laki-laki itu justru diam-diam menyunggingkan senyum licik. Di dalam kepala ularnya, sebuah rencana busuk mendadak tercipta.
'Jika aku sengaja mengorbankan diri dan terluka karena kursi ini, aku bisa memutarbalikkan fakta. Aku akan membuat guru ini dituduh melakukan kekerasan pada murid agar dia dipecat dari sekolah!' batinnya licik
Tanpa ragu, Azzam langsung menghenyakkan tubuhnya, duduk dengan mantap di atas kursi kayu yang ditaruh di tengah kelas tersebut.
Sret... Ck!
Dan benar saja. Detik itu juga, material celana seragam sekolah Azzam langsung menyatu dan menempel sangat kuat pada permukaan jok kursi. Daya rekat lem rahasia pilihan Tyo memang tidak main-main.
Azzura yang menyaksikan hal itu langsung panik. Wajahnya pias melihat sang kakak benar-benar terjebak dan tidak bisa berdiri lagi. Sementara Rio dan Tyo buru-buru melangkah mundur dan kembali ke bangku mereka dengan tubuh gemetar.
Arumi menghembuskan napas panjang. Ia melipat kedua tangannya di dada, memandangi Azzam yang kini terduduk kaku di depannya. Meskipun sedari awal ia sudah mencurigai remaja itu, melihat pengorbanan Azzam demi melindungi adiknya dan teman-temannya membuat Arumi melihat sisi lain dari si ketua geng yang urakan ini.
"Baiklah, karena Azzam sudah dengan sukarela duduk di depan untuk menemani Ibu mengajar, permainan selesai. Kita mulai pelajaran hari ini," ujar Arumi tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Azzam hanya bisa duduk diam menahan kesal sekaligus malu. Matanya menatap tajam, memancarkan kebencian yang mendalam ke arah Arumi setiap kali guru itu bergerak. Namun, Arumi sama sekali tidak bergeming atau terpengaruh oleh intimidasi tersebut. Ia tetap melanjutkan penjelasannya di papan tulis dengan profesional, mengabaikan tatapan menusuk dari muridnya yang terjebak.
Di balik ketenangannya yang sedang menulis rumus-rumus aritmatika, otak Arumi sebenarnya sedang berputar keras. Ia tidak sedang memikirkan bagaimana cara menghukum Azzam lebih jauh. Sebaliknya, ia sedang mencari celah. Bagaimana cara meruntuhkan tembok pertahanan anak remaja ini? Bagaimana cara berbicara dari hati ke hati dengannya?
Arumi tahu, kenakalan ekstrim yang dilakukan Azzam bukanlah sifat aslinya. Anak itu hanya sedang berteriak meminta pertolongan lewat pemberontakan, karena ada kepahitan besar dan rasa dendam yang teramat dalam yang selama ini menggerogoti hatinya. Dan sebagai wali kelasnya, Arumi bertekad untuk menyembuhkan luka itu.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣