Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 | Demam (+)
Jantung Luna berdegup semakin cepat. "Aku serius, Orion! Lepasin aku!"
Tidak ada jawaban. Luna kembali mendorong tubuh pria itu dengan sekuat tenaga. Anehnya, Orion tetap diam. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi bisikan, bahkan pelukannya perlahan terasa mengendur. "Orion?"
Sunyi. Tidak ada suara sama sekali dari pria yang masih memeluknya itu. Kali ini Luna memberanikan diri untuk mengangkat wajah Orion. Begitu melihatnya, napas Luna langsung tercekat. "Orion!"
Kedua mata Orion terpejam. Kepalanya terkulai lemas di bahu Luna, sementara napasnya terdengar berat dan tidak beraturan. Rasa takut yang semula memenuhi dada Luna perlahan berubah menjadi kepanikan yang berbeda. "Orion!" panggilnya lagi dan masih tidak ada respon.
Luna buru-buru menopang tubuh pria itu sebelum benar-benar ambruk. Berat badan Orion membuatnya cukup kewalahan hingga keduanya hampir kehilangan keseimbangan. "Orion, bangun!"
Luna baru sadar bahwa saat tangannya menangkup wajah Orion, telapak tangannya merasakan suhu tubuh yang seharusnya tidak segitu. "Panas..."
Suhu tubuh pria itu jauh lebih tinggi dari yang seharusnya. Barulah Luna teringat ucapan Maya beberapa menit lalu.
"Orion belum sarapan dari pagi. Dia juga nolak makan siang..."
"Astaga..."
Luna menggigit bibir bawahnya. Tatapannya jatuh pada wajah Orion yang kini tampak jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bibirnya pun terlihat kering, sementara napasnya terdengar berat. "Kamu ini..." gumam Luna lirih, masih berusaha menyangga tubuh Orion yang nyaris sepenuhnya bersandar padanya. "Kamu kabur dari rumah sakit dalam keadaan begini?"
Sebagai psikiater, insting Luna langsung mengambil alih rasa takutnya. Ia tahu satu hal pasti. Apapun yang baru saja terjadi, Orion membutuhkan pertolongan medis secepatnya. Tubuh Orion yang semula bersandar padanya terasa semakin berat. Luna menggigit bibir bawahnya, berusaha menopang pria itu seorang diri. Namun perbedaan postur tubuh mereka membuat usahanya sia-sia. "B-beratnya..." keluhnya sambil terus berusaha menopang Orion.
"Orion... bangun dulu, Orion." Tetap tidak ada respons. Luna segera merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Jemarinya bergerak cepat mencari satu nomor yang sudah sangat dikenalnya.
"Iya, Nona Luna?" suara seorang pria paruh baya terdengar dari seberang sana.
"Pak Darto, bapak masih di belakang rumah?"
"Masih, non."
"Tolong ke ruang tamu sekarang. Cepat ya pak!"
Mendengar nada bicara Luna yang berubah serius, Pak Darto tidak banyak bertanya. "Baik, nona."
Tak sampai dua menit, pak Darto langsung sampai dan tercengang. "Astaga..." Pak Darto membelalakkan mata saat melihat seorang pria asing terkulai lemas di pelukan Luna. "Nona, ini..."
"Nanti saya jelasin. Tolong bantu saya angkat dia ke kamar tamu."
"Baik."
Pak Darto segera meraih salah satu lengan Orion, sementara Luna menopang sisi tubuh yang lain. Dengan susah payah mereka membawa pria itu ke sebuah kamar yang letaknya cukup jauh, untungnya tidak di lantai dua. Setiap langkah terasa berat. Kepala Orion terus terkulai, membuat Luna beberapa kali harus membetulkan posisinya agar tidak terbentur sesuatu.
Sesampainya di kamar tamu, mereka perlahan membaringkan Orion di atas kasur. "Hati-hati..." Tubuh Orion akhirnya terbaring sempurna. Luna langsung merapikan posisi kepalanya di atas bantal sebelum kembali menyentuh dahi Orion untuk mengecek suhu tubuhnya. Suhunya belum juga turun.
"Pak, boleh ambilin baskom sama handuk kecil? Air dingin juga sekalian."
"Siap, non!"
Pak Darto bergegas keluar kamar. Sementara itu, Luna membuka lemari kecil di sudut ruangan. Di dalamnya tersusun rapi beberapa perlengkapan medis yang memang selalu tersedia di rumah sejak dulu. Ia mengambil satu set infus, cairan infus, kapas alkohol, plester, dan beberapa peralatan lain yang dibutuhkan. Tak lama kemudian pak Darto kembali membawa baskom berisi air dan selembar handuk bersih.
"Nona, perlu bantuan saya lagi?"
Luna menggeleng pelan. "Ngga perlu, pak. Biar saya yang tangani sisanya. Terimakasih, ya, pak."
Pak Darto tersenyum lalu mengangguk sebelum meninggalkan kamar dan menutup pintu perlahan. Kini hanya tersisa Luna dan Orion. Luna mengembuskan napas panjang, lalu kembali memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh pria itu. "Demam tinggi..." gumamnya pelan.
Tatapannya beralih pada wajah Orion yang tampak pucat. Bibir pria itu terlihat kering, sementara napasnya masih terdengar lebih berat dari biasanya. "Kamu benar-benar bikin orang repot, Orion."
Meski masih kesal karena Orion nekat datang ke rumahnya, sisi profesional Luna sebagai dokter mengambil alih. Dengan gerakan yang sudah terbiasa, ia mulai menyiapkan infus untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan Orion sebelum pria itu sadar kembali.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat.
Langit yang semula masih memancarkan semburat jingga kini perlahan berubah menjadi biru gelap. Cahaya matahari yang tadi menyelinap melalui sela-sela gorden sedikit demi sedikit menghilang, berganti dengan temaram lampu taman yang mulai menyala di halaman rumah.
Di luar, suara kendaraan terdengar semakin jarang. Sesekali hanya terdengar gesekan dedaunan yang tertiup angin malam, menciptakan suasana yang jauh lebih sunyi dibanding beberapa jam sebelumnya. Jam dinding yang tergantung di ruang tamu menunjukkan pukul 20.17.
Rumah keluarga Keller tetap terasa lenggang. Papahnya masih belum pulang dari tempat kerjanya, sementara pak Darti memilih beristirahat di kamar belakang setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu dibantu.
Di sisi lain, kamar tamu masih dipenuhi keheningan. Orion tetap terbaring di atas ranjang dengan infus yang masih menetes perlahan. Demamnya memang mulai turun, tetapi wajahnya masih terlihat pucat. Napasnya terdengar lebih beraturan dibanding sebelumnya, menandakan tubuhnya mulai beristirahat dengan baik.
Sementara itu, di dapur, Luna berdiri sambil menyiapkan makan malam sederhana. Sesekali pandangannya melirik jam yang terpajang di dinding, memastikan Orion tidak terlalu lama tertidur tanpa mengisi perutnya. Ia kemudian menyusun semangkuk bubur hangat, segelas air putih, beberapa potong buah, serta obat penurun demam ke atas sebuah nampan.
Kelopak mata Orion bergerak samar. Beberapa detik kemudian, pria itu perlahan membuka matanya. Pandangan pertamanya hanya tertuju pada langit-langit kamar yang asing. Ia mengernyit pelan. Di mana ini...?
Kepalanya masih terasa berat. Tubuhnya pun lemas, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Saat hendak bangun, sebuah rasa tertarik di punggung tangan kirinya membuat Orion spontan menoleh. Tatapannya mengikuti selang bening itu hingga menuju kantong cairan yang tergantung di samping tempat tidur.
Orion kembali memandangi ruangan di sekelilingnya. Tempat tidur berwarna abu-abu, lemari kayu berukuran sedang, meja kecil di samping ranjang. Semuanya terasa asing.
Namun... perlahan sebuah ingatan muncul di kepalanya. Nanae. Dirinya kabur dari rumah sakit lalu pergi ke rumah psikiaternya. Ia memeluk Luna dan setelahnya? Pingsan?
Ceklek!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Orion langsung mengalihkan pandangannya. Luna masuk sambil membawa sebuah nampan kayu. Di atasnya tersusun semangkuk bubur hangat, segelas air putih, beberapa potong buah, serta obat yang sudah dipersiapkan. Begitu melihat Orion sudah terbangun, langkah Luna sempat terhenti. "Kamu udah sadar?"
Orion tidak menjawab. Tatapannya hanya mengikuti setiap langkah Luna hingga wanita itu meletakkan nampan di atas nakas. Luna mengembuskan napas pelan sebelum meraih pergelangan tangan Orion untuk memeriksa denyut nadinya. "Masih pusing?"
Mulut Orion tetap tertutup rapat tapi matanya yang seperti berbicara. Ia menatap Luna seperti saat di rumah sakit, dalam. Luna menghela napas kecil. "Kalau kamu cuma diem, saya mana tau kondisi kamu gimana," ujarnya balas menatap pria itu.
Beberapa detik berlalu, barulah Orion membuka suara dengan nada pelan. "Nanae..."
"Hm?"
"Kamu... yang nolongin aku?"
Luna menghentikan kegiatannya sejenak. "Bukan, orang lain." Orion menatapnya lekat.
Luna kembali sibuk mengecek suhu tubuh Orion menggunakan termometer. Wanita itu kemudian menghela napas. "Kalo bukan saya, siapa lagi, hm?"
Orion menatap wajah Luna tanpa berkedip sedikit pun. Lalu... senyum tipis perlahan terukir di sudut bibirnya. "Aku senang," katanya.
Luna mengernyit. "Kenapa?"
"Karena orang pertama yang aku lihat waktu bangun..." Tatapan Orion tidak pernah lepas dari Luna. "...itu kamu," lanjutnya pelan nyaris seperti bisikan.
Luna hanya menghela napas pelan, memilih mengabaikan ucapan tersebut. Ia mengambil mangkuk bubur dari atas nampan, lalu menyodorkannya ke arah Orion. "Makan."
Orion melirik bubur itu sekilas. "Aku ngga mau."
"Tamu ngga boleh pilih-pilih makanan," ucap Luna tegas.
Pria itu kembali mengalihkan pandangannya pada Luna. "Suapin."
Luna memejamkan mata sejenak. Dalam hati, ia benar-benar ingin mengusir pasien keras kepala itu saat juga. Namun melihat wajah Orion yang masih pucat dan suhu tubuhnya yang belum sepenuhnya normal, Luna tau satu hal. Kalau Orion tidak makan sekarang... kondisinya bisa semakin memburuk.
Luna mengambil semangkuk bubur, mengaduknya perlahan agar uap panasnya sedikit berkurang. "Mulut."
Orion langsung membuka mulutnya tanpa membantah. Luna menyuapkan sesendok bubur dengan gerakan yang hati-hati. Begitu Orion selesai menelan, Luna kembali mengambil sesendok bubur berikutnya. Sambil mengaduk pelan, bibirnya mulai bergumam pelan, lebih terdengar seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri. "Udah tau demam, malah kabur dari rumah sakit. Mana kaburnya ke rumah psikiaternya lagi."
Sendok berikutnya kembali ia sodorkan. "Mulut." Orion menurut. Luna kembali bergumam. "Pas sadar bukannya minta maaf malah minta disuapin." Ia menggeleng pelan. "Pasien paling nyusahin yang pernah aku tangani," tambahnya sambil terus mengaduk bubur.
Anehnya, sudut bibir Orion malah terangkat membentuk senyum tipis. Apakah dirinya tidak sadar bahwa Luna baru saja melabelinya pasien paling menyusahkan? Melihat Orion tersenyum, Luna langsung menyipitkan mata. "Ngapain senyum? Suka, ya, bikin orang kerepotan?" gerutu Luna seraya menyuapkan sesendok bubur lagi ke mulut Orion.
"Lucu."
"Apanya yang lucu?"
"Kamu lucu kalo ngomel gitu."
Luna menghentikan kegiatannya. Sendok yang semula hendak ia sodorkan perlahan berhentI di udara. Tatapannya beralih ke wajah Orion. Kedua mata pria itu masih terlihat sedikit sayu karena demam, tetapi tatapannya tetap tertuju lurus padanya. Tidak ada sedikit pun kesan bercanda di sana.
Entah mengapa, Luna justru merasa canggung lebih dulu. Ia segera berdeham pelan, lalu kembali menyodorkan sesendok bubur. Luna langsung mengernyit karena Orion tidak membuka mulutnya. "Loh? Kok mulutnya ngga dibuka?"
"Kamu udah pernah ciuman?"
Tubuh wanita itu mendadak membeku. Kenapa pasien merepotkannya itu malah menanyakan pertanyaan konyol begitu?
"Kenapa nanya gitu?" tanya Luna sembari mengembalikan ekspresi wajahnya.
"I want to be your first kiss."