Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 - Bau Asing dari Kain Kafan
Gulungan kain kafan putih yang dibawakan Bu Retno kini terbentang di atas tikar pandan di dalam ruang tamu. Udara pagi yang kian meninggi sama sekali tidak membawa kehangatan ke dalam rumah.
Justru, aroma yang keluar dari serat-serat kain putih itu mendadak membebankan atmosfer ruangan, seolah-olah kain itu bukan baru dibeli dari toko perlengkapan jenazah di pasar, melainkan baru digali dari tempat penyimpanan yang teramat lembap dan lapuk.
Mbah Sastro merentangkan tiga lembar kain kafan secara berurutan, disusul tali-tali pengikat dari perca kain yang sama. Di sekeliling ruangan, beberapa pelayat berdiri merapat ke dinding.
Tidak ada yang berani bersuara keras. Semua orang menahan napas, terpaku oleh kombinasi bau yang bertabrakan di udara: wewangian kayu cendana yang ditabur warga, bercampur dengan bau kemenyan yang sangat pekat dan jelut tanah basah yang kian menguat.
"Mbah ... ini bau kemenyan dari mana?" bisik Pak RT yang berdiri di dekat pintu depan, dadanya kembang-kempis menahan mual. "Di rumah ini tidak ada yang menyalakan tungku perapian atau membakar dupa, kan?"
Mbah Sastro tidak menjawab. Jemarinya yang gemetar sibuk merapikan serbuk cendana dan irisan daun pandan di atas kain kafan. Namun, matanya terus melirik tajam ke arah jasad Pak Broto yang baru saja dibopong masuk dari pelataran belakang dan dibaringkan di atas bentangan kain.
Galang berdiri paling dekat dengan sisi kepala ayahnya. Hidungnya berkedut pelan. Bau kemenyan itu tidak bertiup dari luar rumah, tidak pula berasal dari sudut ruangan tempat Bu Retno terduduk kaku. Bau itu merembes langsung dari pori-pori kulit Pak Broto sendiri.
Setiap kali uap dingin menguar dari dada jasad yang membeku itu, bau asap kemenyan yang manis-mencekam bertambah pekat, melapisi aroma tanah basah yang menyengat.
"Mas Bayu, Mas Galang ... bantu saya membalutkan lapisan pertama," titah Mbah Sastro dengan suara pelan yang terdengar sangat tertekan.
Bayu memegang lipatan kain bagian kanan, sementara Galang memegang bagian kiri. Saat kain putih itu ditarik melingkupi tubuh Pak Broto, kain itu mendadak terasa begitu dingin dan berat—seperti kain kasa tebal yang disiram air es.
Begitu kain kafan menyentuh kulit dada Pak Broto, serat-serat kain putih yang mulus itu secara perlahan mulai menampakkan noda. Bukan noda darah, melainkan rembesan cairan keruh berwarna kecokelatan yang menyerupai air tanah liat yang pekat. Noda itu merembes meluas dari bagian tengah dada, membentuk pola melingkar yang kian melebar.
"Lho, ini kainnya kok basah?" Bayu tersentak, refleks menarik jemarinya mundur.
"Jangan dilepas, Mas Bayu!" tegur Mbah Sastro cepat, nada suaranya ketus dan panik. "Tarik terus! Tutup cepat!"
Galang mencoba mengabaikan rembesan air keruh itu dan membalutkan kain bagian kiri hingga menutupi lengan ayahnya. Namun, tatkala kain itu menutupi leher Pak Broto, bau kemenyan mendadak merebak begitu keras hingga beberapa tetangga wanita di ambang pintu terbatuk-batuk sambil menutupi hidung dan mulut mereka.
"Aneh ... baunya kok menyengat banget ya?" bisik seorang warga di pojokan. "Kaya bau di makam-makam tua kalau malam Kliwon."
"Hush! Jangan bicarakan yang enggak-enggak di depan jenazah!" bisik Pak RT menepis cepat, meski wajahnya sendiri sudah memucat.
Galang menatap kain yang menutupi wajah ayahnya. Sebelum Mbah Sastro mengikat simpul bagian atas kepala, kain putih tipis di atas wajah Pak Broto mendadak menegang.
Dari bentuk lekukan kain di area mulut, Galang bisa melihat jelas bahwa bibir ayahnya di bawah sana kembali tertarik lebar—membentuk senyuman ganjil yang kaku dan tidak alami. Bahkan, bagian kain di sekitar mata sedikit melekuk masuk, seolah-olah mata di balik kain itu sedang terbelalak menatap lurus ke arah serat kain kafan yang menghalanginya.
Klek.
Suara itu terdengar sangat tipis dari dalam dada Pak Broto. Sebuah getaran kecil merambat dari jasad tersebut ke lantai papan, membuat ujung jemari kaki Galang yang bertelanjang merasakan sensasi seperti ada sesuatu yang bergerak melingkar di bawah tanah rumah mereka.
"Ikat bagian kakinya dulu, Mas Galang," instruksi Mbah Sastro dengan tangan bergetar hebat. Pria tua itu meraih tali kafan pertama, lalu melilitkannya di area pergelangan kaki Pak Broto.
Saat simpul mati diikatkan pada pergelangan kaki, kain kafan di bagian itu mendadak mengerut kencang. Bau tanah basah yang tadinya samar kini menjelma menjadi bau yang sangat menusuk—seperti bau lumpur pembusukan dari dalam liang kubur tua yang tergenang air hujan bertahun-tahun.
"Ibu ...." Pertiwi, anak kedua yang berdiri di dekat pintu lorong, mendadak menangis lagi. Namun kali ini bukan tangisan duka biasa. Tangannya menunjuk ketakutan ke arah bawah bale-bale tempat kain kafan dibentangkan.
"Ibu ... itu apa di bawah?"
Semua mata seketika tertuju ke arah yang ditunjuk Pertiwi.
Dari celah kain kafan bagian bawah yang menjuntai menyentuh tikar pandan, tampak tetesan air keruh berwarna cokelat kehitaman menetes bertahap.
Tes ... tes ... tes ....
Cairan itu merembes merusak tikar pandan yang bersih, membentuk genangan kecil di atas lantai semen.
Yang mengerikan, genangan air itu tidak melebar secara acak, melainkan terserap cepat ke dalam semen lantai, seakan-akan ada celah ghaib di bawah rumah yang siap menampung setiap tetes cairan dari jasad Pak Broto.
"Ibu, ini kenapa?" Galang akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia berbalik memandang ibunya yang sejak tadi diam seperti patung batu di sudut ruangan.
Bu Retno mengangkat wajahnya pelan. Matanya yang sembap tidak menatap Galang, melainkan menatap lurus pada tiga simpul ikatan kain kafan yang baru saja selesai diikat oleh Mbah Sastro.
"Itu kainnya ... tidak menolak," suara Bu Retno terdengar sangat datar, hampir tanpa nada emosi. "Kainnya cuma merekam apa yang dibawanya dari luar."
"Bicara apa sih, Bu?!" Bayu memotong dengan nada tinggi yang dilandasi rasa takut yang amat sangat. "Bapak itu meninggal kena serangan jantung! Kenapa jadi aneh begini semua?! Kenapa kainnya juga bau kemenyan begini?!"
Bu Retno tidak menjawab pertanyaan Bayu. Ia hanya mengusap kain sampingnya dengan telapak tangan yang kurus kering, lalu berbisik sangat pelan pada dirinya sendiri, "Kemenyan itu bukan buat Bapak kalian ... kemenyan itu buat menyambut yang menjemputnya."
Mbah Sastro dengan tergesa-gesa menyiramkan sedikit minyak wangi non-alkohol ke atas kain kafan yang sudah terikat sempurna. Namun bukannya tersamarkan, wewangian bunga itu justru terkikis habis, kalah total oleh dominasi bau tanah liat basah dan asap kemenyan yang terus menguar dari tubuh kaku itu.
Kini, jasad Pak Broto sudah terbungkus rapi seperti pocong di atas tikar. Bentuk tubuhnya di dalam balutan kain tampak begitu kaku dan aneh—bahu kanannya agak terangkat ke atas, sementara dadanya membusung tidak wajar, menciptakan siluet yang mengerikan di bawah pendar lampu ruang tamu yang remang-remang.
"Keranda! Bawa masuk kerandanya sekarang!" seru Mbah Sastro kepada para pemuda di luar rumah. Suaranya penuh kepanikan yang coba ditutupi. Ia tampak sudah tidak tahan ingin segera memindahkan jasad ini keluar dari dalam rumah.
Keranda kurung besi berlapis kain hijau berlafaz ayat suci dibawa masuk oleh empat orang warga. Saat jasad Pak Broto dibopong untuk dimasukkan ke dalam keranda, kejadian berat yang tak masuk akal itu terulang lagi.
Keranda besi itu mendecit sangat keras tatkala tubuh kaku berselimut kain kafan itu dibaringkan di dalamnya. Salah satu batang besi penyangga keranda bahkan sedikit melengkung ke bawah, seolah-olah jasad di dalamnya terbuat dari besi padat.
"Astagfirullahaladzim ...," bisik salah satu pemuda pembawa keranda sambil menyapu dahi dengan lengan bajunya. Wajah pemuda itu mendadak pucat pasi. "Kenapa berat banget ya Allah ...."
Galang memegangi tepi keranda besi itu saat kain hijau ditutupkan ke atasnya. Bau tanah basah dan kemenyan itu kini terperangkap di dalam kurungan keranda, namun baunya tetap merembes keluar melalui serat-serat kain hijau, menusuk hidung siapa saja yang berdiri di sekitarnya.
Di luar rumah, matahari pagi telah sepenuhnya terbit di atas pepohonan jati, memancarkan sinar kuning cerah.
Namun di dalam ruang tamu rumah keluarga Pak Broto, kegelapan dan aroma masa lalu yang kelam terasa begitu pekat menyelimuti udara—menandakan bahwa perjalanan menuju liang lahat baru saja dimulai, dan teror sesungguhnya belum sedikit pun berkurang.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya