Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepalaku Selamat, Tapi Reputasiku Masih Sekarat
Aku tidak pernah menyangka bahwa mempertahankan kepala tetap menempel di leher bisa terasa seperti pencapaian besar.
Dulu, pencapaianku adalah berhasil bangun pagi tanpa menekan tombol tunda lima kali. Sekarang, pencapaianku adalah tidak dipenggal di depan bangsawan satu kerajaan.
Perkembangan hidup yang sangat ekstrem.
Setelah sidang ditunda dan eksekusiku dibatalkan sementara, aku dipindahkan dari sel bawah tanah ke kamar pengawasan di sayap timur istana. Kedengarannya mewah, bukan? Jangan tertipu. Kamar itu memang punya ranjang, tirai beludru, dan jendela besar, tetapi di depan pintunya berdiri empat pengawal dengan wajah seperti patung pemakaman.
Aku bukan tamu.
Aku tahanan dengan fasilitas lebih empuk.
Mira menyebutnya “penjara bangsawan versi premium”.
“Nona, ini kemajuan besar,” katanya sambil mengibaskan debu dari tirai. “Kemarin Nona tidur bersama tikus. Hari ini Nona tidur bersama bantal angsa.”
“Dan empat pengawal.”
“Itu bonus keamanan.”
“Bonus pengawasan.”
“Perbedaannya tipis, Nona.”
Aku duduk di tepi ranjang dan memegang surat bersegel hitam yang kuterima setelah sidang. Kalimatnya masih terngiang di kepalaku.
Selamat karena selamat dari eksekusi pertama, Lady Evangeline. Sekarang permainan yang sebenarnya dimulai.
Eksekusi pertama.
Aku tidak suka kata pertama di sana. Artinya si pengirim surat menganggap kematianku seperti seri drama. Season pertama gagal, lanjut season kedua.
Mira berdiri di dekat lemari sambil membawa helm besi yang entah ia temukan dari mana.
“Nona, hamba punya solusi.”
Aku menatap helm itu. “Mira, kenapa kamu memegang helm perang?”
“Untuk menjaga kepala Nona.”
“Aku tidak akan tidur memakai helm.”
“Tapi kepala Nona aset keluarga, Nona!”
“Keluarga Arvella bahkan tidak datang membelaku.”
Mira berhenti. Wajahnya yang biasanya dramatis mendadak sedih.
Aku sadar kalimatku terlalu tajam. Tapi itu benar. Selama sidang, Marquess Arvella tidak datang. Tidak ada ayah. Tidak ada keluarga. Tidak ada pembela. Hanya Mira yang menangis, Cassian yang minum teh, dan Lucien yang terlihat seperti baru belajar menggunakan otaknya.
Ketukan terdengar dari pintu.
Mira langsung menyembunyikan helm di balik tubuhnya. Itu sia-sia. Helmnya lebih besar dari kepalanya.
“Masuk,” kataku.
Pintu terbuka. Duke Cassian North masuk dengan tenang, membawa map kulit hitam dan secangkir teh. Aku mulai curiga pria ini punya hubungan darah dengan teko.
“Lady Evangeline,” katanya. “Saya membawa laporan pertama.”
Aku menunjuk cangkirnya. “Dan teh.”
“Itu kebutuhan hidup.”
“Bagi siapa? Anda atau umat manusia?”
“Terutama saya.”
Mira berbisik kagum, “Duke North terlihat seperti pria yang bisa menenangkan perang saudara hanya dengan menyeduh teh.”
Cassian meliriknya. “Saya lebih suka mencegah perang saudara dengan dokumen.”
“Lebih menakutkan,” kataku.
Cassian menyerahkan map itu. “Ada tiga perkembangan. Pertama, Lord Blackwell ditahan tetapi menolak bicara. Kedua, Merin berada di bawah perlindungan kerajaan dan terus menangis setiap kali nama Saintess disebut. Ketiga, surat ancaman yang Anda terima memakai tinta dari wilayah selatan, bukan dari ibu kota.”
Aku membuka map. Ada salinan surat, catatan pesta, dan daftar nama tamu.
“Wilayah selatan?” tanyaku.
“Faksi pedagang dan bangsawan pelabuhan. Mereka dekat dengan keluarga Arvella.”
Aku mengerutkan kening. “Ayahku?”
“Marquess Arvella memiliki banyak hubungan dagang di sana.”
Tentu saja. Kenapa semua jalan menuju masalah selalu melewati keluargaku sendiri? Di dunia modern, keluargaku paling mentok ribut soal siapa yang lupa menutup kulkas. Di sini, keluarga baruku mungkin terlibat skandal racun, faksi gelap, dan surat gagak mahkota patah.
Aku menutup map. “Saya harus pulang ke kediaman Arvella.”
Mira menjerit. “Nona! Pulang? Ke rumah itu? Tempat semua potret leluhur memandang seperti menghakimi ukuran pinggang kita?”
Cassian mengangguk pelan. “Saya setuju.”
Aku menoleh. “Dengan Mira?”
“Dengan Anda. Rumah Arvella mungkin menyimpan informasi yang tidak ada di istana.”
“Dan jebakan.”
“Tentu.”
“Anda mengatakan itu seperti sedang membahas cuaca.”
“Jebakan lebih mudah diprediksi daripada cuaca utara.”
Aku memandangnya lama. “Saya tidak tahu apakah Anda sangat tenang atau sangat rusak.”
“Mungkin keduanya.”
Sebelum aku bisa menjawab, pintu kembali diketuk. Kali ini seorang pengawal masuk dan membungkuk.
“Lady Evangeline, Putra Mahkota meminta izin menemui Anda.”
Mira langsung panik. “Nona! Putra Mahkota! Haruskah hamba menyiapkan teh? Atau pedang? Atau saputangan untuk menangis?”
“Siapkan wajah normal.”
“Hamba tidak punya itu, Nona.”
Lucien masuk beberapa detik kemudian. Wajahnya tetap tampan dan menyebalkan, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak datang dengan amarah seperti kemarin. Kali ini ia terlihat lelah.
“Evangeline,” katanya.
“Yang Mulia.”
Matanya melirik Cassian. “Duke North.”
“Putra Mahkota.”
Udara langsung terasa seperti meja perundingan dingin. Dua pria tampan dalam satu ruangan ternyata bukan berkah. Itu tekanan sosial dengan pencahayaan bagus.
Lucien menatapku. “Aku sudah memerintahkan pemeriksaan ulang pada ruang pesta.”
“Bagus.”
“Ada saksi yang mengatakan Seraphina sempat meninggalkan aula sebelum pingsan.”
Aku mengangkat alis. “Menarik. Korban yang hampir mati ternyata sempat jalan-jalan dulu.”
Lucien tampak tidak nyaman. “Aku belum menuduh siapa pun.”
“Tenang, Yang Mulia. Saya saja yang pernah dituduh seluruh kerajaan. Saya paham rasanya menjadi hobi publik.”
Mira terisak bangga. “Nona sekarang sangat pandai menyindir dengan elegan.”
Lucien menarik napas. “Aku datang untuk meminta maaf.”
Ruangan hening.
Bahkan Cassian berhenti mengangkat cangkir.
Aku menatap Lucien. “Maaf?”
“Karena terlalu cepat percaya.”
Aku ingin langsung berkata, “Iya, itu memang bodoh,” tetapi lidahku masih punya insting bertahan hidup.
“Saya menerima permintaan maaf itu,” kataku. “Tapi kepercayaan yang sudah memenggal hampir separuh leher saya tidak bisa pulih hanya dengan satu kalimat.”
Lucien menunduk sedikit. “Aku mengerti.”
Tidak. Dia belum mengerti. Tapi setidaknya dia mulai mencoba.
Tiba-tiba dari luar terdengar keributan.
Seorang pelayan berlari melewati pintu sambil berteriak, “Saintess Seraphina pingsan lagi!”
Mira memegang dadanya. “Lagi? Saintess itu sering sekali pingsan. Apakah pingsan termasuk bakat suci?”
Aku berdiri perlahan.
Cassian menatapku. Lucien juga.
Kali ini aku tidak panik. Aku justru tersenyum kecil.
“Baiklah,” kataku. “Mari kita lihat apakah pingsannya kali ini asli, akting, atau promo simpati rakyat.”
Lucien mengerutkan kening. “Kau ingin datang?”
“Tentu.”
Aku merapikan gaunku.
“Kalau seseorang ingin melanjutkan drama, villainess-nya harus hadir di panggung.”
Dan dalam hatiku, aku menambahkan satu hal.
Kali ini, aku tidak akan menjadi korban adegan.
Aku akan menjadi orang yang mengubah naskahnya.