NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Rahasia yang Terungkap

Hari-hari berlalu dengan lebih tenang setelah kejadian fitnah yang berhasil dibuktikan kebohongannya. Ibu Aldo mulai sering berbicara dengan Naura, perlahan melihat ketulusan di balik kesederhanaan gadis itu. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama—sebuah rahasia yang tersimpan selama dua puluh tahun akhirnya mulai terungkap, membawa dampak tak terduga bagi kehidupan mereka.

Suatu sore, saat Aldo sedang memeriksa dokumen lama di ruang kerja ayahnya yang telah meninggal, ia menemukan sebuah kotak kayu yang terkunci di sudut lemari besi. Rasa penasaran membuatnya membukanya, dan di dalamnya terdapat surat-surat lama serta sebuah dokumen penting yang membuat matanya terbelalak kaget.

Sementara itu, Naura sedang membantu membereskan barang-barang di gudang rumah. Di antara tumpukan kotak lama, ia menemukan sebuah foto usang yang terlihat sangat tua. Foto itu menampilkan sepasang suami istri muda yang sedang menggendong seorang bayi, dan di sampingnya terlihat ayah Aldo yang masih muda. Di balik foto itu tertulis tulisan tangan yang sudah memudar: Teman seperjuangan, Arka dan Lila, 20 tahun yang lalu.

Jantung Naura berdebar kencang. Nama itu—Arka dan Lila—adalah nama ayah dan ibunya. Ia segera membawa foto itu ke ruang kerja Aldo. Begitu masuk, ia melihat Aldo sedang memegang selembar kertas dengan wajah terkejut.

"Aldo, lihat ini. Saya menemukan foto ini di gudang. Ini orang tua saya, tapi kenapa ada ayahmu di samping mereka?" tanya Naura dengan suara bergetar.

Aldo menoleh, lalu mengambil foto itu dan membandingkannya dengan dokumen yang ada di tangannya. Perlahan, raut wajahnya berubah dari kaget menjadi terharu. "Naura... dengar baik-baik. Ayahmu adalah mitra bisnis terbaik ayahku. Dua puluh tahun yang lalu, mereka mendirikan perusahaan ini bersama-sama. Namun, terjadi kecelakaan yang diduga disengaja, dan ayahmu meninggal. Ayahku selamat, tapi kehilangan ingatan sebagian. Ia selalu merasa bersalah, tapi tidak bisa mengingat detailnya."

Naura tertegun, tidak percaya mendengarnya. "Jadi... perusahaan ini milik kedua keluarga kita?"

Aldo mengangguk, lalu menyerahkan dokumen itu. "Ini adalah perjanjian pendirian perusahaan. Sahamnya dibagi sama rata—50% milik ayahku, 50% milik ayahmu. Selama ini, saham milik keluargamu disimpan dalam rekening khusus dengan nama yang dirahasiakan, sesuai perjanjian agar aman dari orang-orang yang berniat jahat."

Air mata Naura menetes perlahan. Selama ini ia mengira orang tuanya meninggal dalam kecelakaan biasa dan tidak meninggalkan apa-apa, ternyata ada warisan besar yang tersimpan untuknya. Namun, di balik itu semua, ada hal yang lebih penting: keterkaitan takdir yang telah mempertemukan mereka.

Tidak lama kemudian, mereka memanggil pengacara keluarga untuk memverifikasi dokumen itu. Setelah diperiksa dengan teliti, ternyata semuanya asli. Naura resmi menjadi pemegang saham terbesar kedua di Grup Pratama, dengan aset yang nilainya sangat besar—melebihi apa yang pernah ia bayangkan.

Berita ini mengejutkan banyak orang, terutama ibu Aldo dan lingkungan sosial mereka. Wanita yang sebelumnya memandang rendah Naura kini tertegun, menyadari bahwa gadis sederhana itu ternyata memiliki hak yang sama besarnya dalam perusahaan keluarga itu.

"Jadi... selama ini kamu sebenarnya adalah pewaris yang sah dari separuh kekayaan ini?" tanya ibu Aldo dengan suara lembut, tidak lagi terdengar merendahkan.

Naura mengangguk perlahan. "Saya tidak tahu apa-apa tentang ini. Orang tua saya tidak pernah menceritakannya, mungkin demi keamanan saya."

Aldo menggenggam tangan Naura erat-erat. "Ini bukan hanya soal harta, tapi soal keadilan. Sekarang tidak ada lagi perbedaan status yang memisahkan kita. Kita sama-sama memiliki hak dan tanggung jawab yang sama."

Namun, kebenaran ini juga menarik perhatian pihak yang tidak bertanggung jawab. Beberapa direktur perusahaan yang selama ini ingin menguasai seluruh saham mendengar kabar itu dan merasa terancam. Mereka mulai merencanakan hal-hal jahat untuk menyingkirkan Naura dan menguasai sahamnya.

Suatu malam, saat Naura pulang dari menemui pengacara, mobilnya dicegat oleh sekelompok orang bertopeng. Mereka memaksa Naura keluar dan meminta tanda tangan untuk menyerahkan hak sahamnya.

"Jangan berontak! Tanda tangani surat ini, dan kami akan membiarkanmu pergi dengan selamat!" ancam salah satu dari mereka.

Naura menolak dengan tegas. "Saya tidak akan menandatangani apa pun! Ini hak saya!"

Sebelum keadaan menjadi lebih berbahaya, mobil Aldo tiba dengan cepat. Ia dan tim keamanannya segera turun dan menaklukkan orang-orang itu. Ternyata, Aldo merasa khawatir karena Naura lama tidak pulang, sehingga ia melacak keberadaannya melalui perangkat keamanan.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aldo dengan cemas, segera memeriksa keadaan Naura.

"Saya baik-baik saja... terima kasih," jawab Naura sambil mengatur napasnya.

Orang-orang itu kemudian diserahkan ke polisi, dan penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa mereka disewa oleh beberapa direktur yang serakah. Mereka kemudian diberhentikan dan diadili atas tindakan kriminal yang dilakukan.

Kejadian ini membuat Naura menyadari bahwa dengan kekuasaan dan harta juga datang risiko yang lebih besar. Namun, ia tidak takut lagi—karena ia memiliki Aldo di sisinya, dan ia juga telah menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, diadakan rapat umum pemegang saham. Naura hadir dengan percaya diri, bukan lagi sebagai gadis sederhana yang pemalu, melainkan sebagai pemegang saham yang sah dan berhak bersuara. Ia berbicara dengan tegas dan cerdas, menunjukkan bahwa meski tumbuh dalam kesederhanaan, ia memiliki pemikiran yang tajam dan hati yang adil.

Semua orang yang sebelumnya meragukannya kini tertegun. Mereka melihat sisi lain dari Naura—sosok yang kuat, cerdas, dan layak dihormati.

Setelah rapat selesai, Aldo dan Naura berjalan berdampingan di taman perusahaan. Matahari terbenam memancarkan cahaya keemasan yang menerangi wajah mereka.

"Siapa sangka, gadis yang hampir saya tabrak di jalan itu ternyata memiliki ikatan takdir yang sedalam ini dengan keluarga saya," kata Aldo sambil tersenyum lembut.

Naura tersenyum kembali. "Memang takdir itu misterius. Ia membawa saya dari penderitaan menuju kebahagiaan, dan mempertemukan saya dengan orang yang tepat."

Aldo berhenti berjalan, lalu menatap mata Naura dalam-dalam. "Naura, sejak pertama kali kita bertemu, hidup saya berubah. Kamu mengajari saya arti ketulusan, kesederhanaan, dan cinta yang sejati. Sekarang tidak ada lagi yang memisahkan kita. Apakah kamu mau menerima saya sebagai pendamping hidupmu?"

Naura merasa haru, air matanya menetes bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan. Ia mengangguk mantap. "Saya mau, Aldo. Saya mencintaimu apa adanya."

Aldo tersenyum lebar, senyum yang tulus dan bahagia—sesuatu yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Ia memeluk Naura dengan lembut, merasakan kehangatan yang selama ini ia cari.

Namun, meski semua rintangan besar telah terlewati, masih ada satu hal kecil yang ingin mereka selesaikan. Mereka ingin memastikan bahwa keadilan benar-benar tercapai, dan menemukan kebenaran penuh di balik kecelakaan yang menimpa orang tua Naura dua puluh tahun yang lalu.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!