Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 17
"Mommy boleh minta sesuatu sama kamu?" pinta Netta yang membuat Ace sedikit kebingungan namun tetap diangguki oleh cowok itu.
Lady melirik Netta dan Ace sekilas sebelum kembali fokus menguncir rambut Leon di atas sofa.
"Waktu kamu dijodohin sama Lady, mama kamu pasti udah ngasih tau kalau Mommy lagi ngidap penyakit arteri koroner, kan?" ucap Netta pelan. Sangat pelan.
"Kata dokter, kemungkinan kalau Mommy bisa sembuh cuman dikit," ucap Netta seraya mengusap pelan air matanya.
Netta menghela panjang nafasnya dengan tangan yang terus-terusan mengusap air matanya. "Mommy mau bilang makasih sama kamu karena udah ngewujudin impian Mommy buat ngeliat Lady menikah saat Mommy masih ada. Dulu, Mommy pernah ngira kalau Mommy nggak bakal punya kesempatan buat ngeliat salah satu anak Mommy menikah."
"Mommy nggak tau berapa lama lagi waktu Mommy buat hidup. Sekarang, Mommy nggak permasalahin itu lagi karena apa yang Mommy dan almarhum Daddy kamu mau, udah kecapaian."
"Mom-" tegur Lady yang berusaha mengakhiri percakapan itu, namun tangannya dicegat oleh Leon.
Ace tersenyum tipis. Tangan kekarnya terulur dan mengusap air mata Netta yang terus-terusan menetes.
"Mommy mau minta sesuatu sama kamu, Ace." Merta menghela panjang nafasnya dan diangguki oleh Ace.
"Kalau misalnya Mommy udah nggak ada, tolong jagain anak Mommy, ya? Mommy masih ingat banget waktu Lady masih kecil, dia pernah nangis-nangis seharian bahkan sampai berhari-hari cuman karena Mommy tinggal selama seminggu buat berobat ke singapore."
"Sebelum itu, Mommy mau ngucapin makasih sama kamu yang sedalam-dalamnya karena udah mau menerima wasiat almarhum Daddy Lady buat ngejodohin kalian. Pasti suami saya sudah sangat tenang di alam sana. Meskipun tidak bisa melihat pernikahan kalian, namun setidaknya beliau sudah menyerahkan putri kesayangannya ke tangan yang tepat. Daddy sama Mommy percaya banget sama kamu, Ace."
Lady mengusap air matanya. Bahkan, Leon pun hanya bisa terdiam mendengar ucapan maminya itu.
Leon mendudukkan badannya di salah satu kursi lapuk yang ada di parkiran rumah sakit sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.
Saat ini, cowok berambut ikal itu lebih memilih untuk menyendiri dan meninggalkan Lady serta maminya di kamar inap.
"Ngapain lo di sini?"
Pertanyaan itu membuat Leon langsung menoleh, menatap sosok Ace yang sedang menghampirinya.
"Lo mau ngerokok juga?" tanya Leon. Ia menggeser sedikit badannya saat Ace ikut duduk di sampingnya dan mengeluarkan sebungkus rokok.
"Gue lupa bawa korek. Lo bawa korek?" tanya Ace seraya menyodorkan tangannya di depan Leon.
Leon mengangguk dan menyerahkan koreknya itu kepada Ace.
"Ngapain lo di sini?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Ace dengan manik hazelnya yang fokus menatap orang-orang yang sedang bermain di taman rumah sakit.
Leon mengangkat bahunya acuh. "Cuman nyari udara segar doang. Pengap di dalam mulu."
Ace memperhatikan Leon yang sedang menghisap asap rokok dan kemudian menghembuskannya kembali. Wajah ketua geng Thunder sekaligus kakak iparnya itu terlihat seolah memiliki banyak beban, tapi tidak ingin menceritakannya.
Leon yang sadar bahwa Ace terus memperhatikannya, ia lantas berbalik sambil menatap Ace dengan serius.
"Lo mau nge-gay?" tanya Leon menaik turunkan alisnya.
"Najis!"
PLAK!
"Anjing!" umpat Leon ketika Ace secara tiba-tiba memukul kencang kepalanya.
"Amit-amit gue nge-gay sama lo!" Membayangkannya saja sudah membuat Ace jijik setengah mampus.
"Terus ngapain lo natap gue mulu dari tadi?" Leon mengusap-usap kepalanya yang terasa sedikit ngilu. Tenaga Ace memang sangat tidak bisa diragukan.
"Muka lo kelihatan kasian kayak habis ditagih rentenir," ucap Ace, membuat Leon terkekeh.
"Bukan rentenir, tapi yang lebih parah dari itu," jawab Leon tanpa menatap Ace.
Ace melirik sekilas wajah Leon sebelum kembali fokus menghisap rokoknya.
"Gue seolah-olah ditagih lagi sama malaikat maut," gumam Leon sembari memejamkan matanya dengan kepala yang mendongak ke atas, menatap indahnya langit biru.
Ace masih terdiam dan memilih untuk menunggu Leon menyelesaikan ucapannya.
"Gue udah pernah ditagih sama malaikat maut tentang nyawa Daddy gue. Sekarang, gue nggak siap dan nggak akan pernah siap kalau malaikat maut itu nagih gue lagi tentang mami gue." Leon tersenyum getir.
Membayangkannya saja sudah membuatnya merasa sesak nafas.
Laki-laki tidak boleh menangis, itu yang menjadi prinsip Leon. Dan saat ini, cowok itu sedang berusaha semaksimal mungkin untuk tetap memegang prinsipnya.
"Gue bingung, Es. Gue nggak siap ngelakuin apapun sendirian. Gue masih butuh Mommy gue." Leon memejamkan matanya.
Ace enghela nafasnya. Dirangkulnya pundak Leon seraya menepuk-nepuk pelan lengan cowok itu.
Belum sempat Ace mengatakan sesuatu, satpam yang lewat di depan mereka sudah lebih dulu mengucapkan sesuatu.
"Kalian berdua ngapain di sini? Mau mesum, ya?" tuduh satpam itu sambil menatap curiga ke arah keduanya.
Masalahnya, Ace dan Leon rangkul-rangkulan di tempat sepi seperti parkiran ini.
...••••...
Subuh ini, tampak Lady yang sedang membangunkan Leo di atas kasurnya untuk ibadah pagi bersama yang pertama kalinya.
"Yuk doa pagi, Ace!" Lady menepuk-nepuk pipi cowok ganteng yang sedang tertidur pulas di sampingnya itu.
Merasa Ace tak kunjung bangun, Lady kemudian menyandarkan punggungnya ke headboard kasur sambil berusaha membuka lebar matanya yang memang masih sedikit mengantuk.
"Ace, wake up. doa bareng, yuk?" ajak Lady sambil mengguncang lengan kekar Ace.
Lady berdecak saat Ace tak kunjung bangun. "Lagi tidur apa lagi simulasi mati, sih?"
"ACE!" panggil Lady lagi.
Ace berdecak tanpa membuka matanya. "Sialan. Berisik amat lo."
"Doa pagi, Leo. Lo nggak mau ibadah sebentar aja? enak banget lo udah diberi berkat melimpah tapi gak tau mengucap syukur?" Lady menaik turunkan alisnya.
"Sembarangan!"
"Udah jam lima, Ace. Buruan, entar terlambat ke sekolahnya" ajak Lady sambil beranjak duduk ditepi kasur.
Ace mengangkat sebelah alisnya. "Udah jam lima?"
"Iya. Buruan bangun, terus kita doa bareng," ujar Lady dengan antusias.
Ace tak berbicara. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke headboard kasur sembari memijat kecil pelipisnya. Merasa sudah lebih baik, cowok itu menatap Ace, mendongakkan kepalanya.
"Apa?!" Sok Lady.
"Udah. Cepetan. " Ucap Ace sudah siap dengan posisinya untuk berdoa.
"Lo, lah Ace. Lo kan imannya." Ucap Lady menatap Ace yang sudah menghembuskan nafasnya.
"Gak apa-apa singkat atau bata-bata, yang penting, lo tulus doanya." Senyum Lady meyakinkan.
Ace menghembuskan nafasnya lagi.
"Gue belum pernah pimpin doa berdua doang, kek gini, biasa gue doa dalam hati aja. " Ucap Ace.
"Jangan ketawa, kalo Gue salah-salah, atau gagap dikit." judes Ace.
Lady memutar bola matanya malas, "Iya, pak suami, siap."
Ace mulai me-mimpin doa pagi mereka berdua sepasang suami-istri.
Hal yang baru pertama kali mereka lakukan setelah menikah. Hal yang seharusnya sudah dari awal dilakukan oleh pasutri lain, namun baru dilakukan oleh pasutri ini. Ibadah pagi bersama.
Padahal, mereka sudah Dua bulan-an menikah.