NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Masuk. Ke. Kamar. Sekarang."

Suara Akram terdengar seperti desisan ular berbisa. Tangannya dengan sigap menyambar lengan Almeera, mendorong cewek itu ke arah lorong. Wajah tenang sang Ketua OSIS telah sirna, digantikan oleh mode waspada tingkat tinggi.

"S-sepatu gue!" Almeera menunjuk sepasang kets putih-birunya yang tergeletak sembarangan di dekat pintu masuk.

"Biar gue yang urus! Masuk dan jangan keluarin suara sedikit pun, atau rahasia kita tamat hari ini juga!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Almeera melesat masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut suaranya bisa menembus pintu kayu jati tersebut. Ia merosot di balik pintu, memeluk kedua lututnya. Di luar, ia bisa mendengar suara langkah kaki Akram yang serabutan membereskan barang-barang Almeera di ruang tamu, sebelum akhirnya melangkah mendekati pintu utama.

Akram menarik napas panjang. Ia mengacak-acak rambutnya, sengaja memicingkan mata dan memasang ekspresi lesu, lalu menekan kenop pintu. Ia membukanya perlahan, namun hanya sebatas celah kecil, cukup untuk menampilkan wajahnya dan menghalangi pandangan Heera ke dalam apartemen.

"Heera?" sapa Akram dengan suara parau yang sengaja ia buat-buat. "Lo... kok bisa di sini?"

Di balik pintu, Heera berdiri dengan senyum termanisnya, menyodorkan sebuah paper bag berlogo restoran ternama. "Kan tadi gue udah bilang di intercom, Tante Jihan yang ngasih tahu. Lo sakit, Kram? Kok nggak bilang gue sih? Pucat banget muka lo."

Pucat karena jantungan, Ra, batin Akram meringis.

"Ah, iya. Cuma... radang tenggorokan sama agak demam," dusta Akram lancar, tangannya memegang kenop pintu erat-erat, bersiap menahan dorongan jika Heera nekat masuk. "Nyokap agak lebay makanya ngasih tahu lo. Sori jadi ngerepotin."

Heera melongokkan kepalanya sedikit, berusaha mengintip ke dalam celah pintu. "Gue masuk ya, Kram? Gue pindahin supnya ke mangkuk sekalian gue bikinin teh anget bu—"

"Jangan!" potong Akram cepat, refleks menahan pintu dengan bahunya.

Heera terkesiap, mundur selangkah karena kaget. "Kenapa?"

"B-berantakan, Ra." Akram buru-buru menetralkan suaranya, memasang senyum lemas. "Apartemen gue berantakan banget, gue belum sempet unpacking barang. Belum disapu juga. Gue malu kalau lo masuk. Lagian gue gampang nular, ntar lo ikutan radang."

Raut kekecewaan jelas tergambar di wajah cantik Heera. Namun, gadis itu berusaha memaklumi. Ia menyodorkan paper bag itu ke tangan Akram. "Ya udah deh kalau gitu. Nih, dimakan ya supnya selagi hangat. Habis itu lo langsung minum obat dan istirahat."

"Pasti. Makasih banyak ya, Ra. Lo hati-hati pulangnya," kata Akram, perlahan mulai menutup pintu.

Namun, tepat sebelum pintu itu tertutup sempurna, gerakan Heera terhenti. Hidung mancungnya mengendus udara yang keluar dari celah pintu apartemen Akram. Keningnya berkerut dalam.

"Kram," panggil Heera, menahan ujung pintu dengan tangannya.

Jantung Akram rasanya nyaris anjlok ke usus buntu. "Y-ya? Kenapa, Ra?"

"Lo... habis mandi?" mata Heera memicing curiga.

"Iya, baru aja selesai. Kenapa?"

"Wanginya..." Heera menatap Akram dari atas ke bawah, mencoba mencari tahu. "...wangi sabun stroberi? Sejak kapan lo suka wangi manis begitu? Bukannya lo selalu pakai sabun mint-musk?"

Di balik pintu kamar yang terkunci, Almeera yang sedari tadi menempelkan telinganya di daun pintu langsung membelalakkan mata. Mati gue! Itu bau sampo gue!

Otak Akram berputar secepat kilat. Ia tertawa pelan, tawa serak yang terdengar sangat natural. "Oh, itu. Tadi gue kehabisan sabun, Ra. Gue belum belanja bulanan. Jadi gue pakai sabun cuci tangan yang disediain pihak apartemen, kebetulan wanginya stroberi. Nyengat banget ya? Bau cewek abis."

Heera terdiam sejenak. Matanya masih memancarkan keraguan, namun melihat wajah pucat (karena panik) Akram dan senyum lemas cowok itu, ia akhirnya mengangguk pelan.

"Oh, gitu. Pantesan. Ya udah, gue balik ya, Kram. Get well soon."

"Oke. Thanks, Ra."

Klik.

Pintu utama tertutup rapat. Bunyi kunci otomatis berdenting mengunci ganda.

Akram menyandarkan punggungnya ke daun pintu, merosot perlahan hingga duduk di lantai marmer. Ia memejamkan mata, membiarkan udara kembali mengisi paru-parunya.

Dari arah lorong, terdengar suara kunci kamar diputar. Almeera keluar dengan langkah mengendap-endap. Wajahnya sama pucatnya dengan Akram. Ia berjalan menghampiri Akram dan ikut merosot duduk di lantai, tepat di sebelah cowok itu.

Mereka berdua duduk berdampingan di lantai ruang tamu, memandangi paper bag berisi sup iga di pangkuan Akram dengan tatapan kosong. Hening menyelimuti mereka selama satu menit penuh, hanya terdengar suara dengusan napas kelegaan yang bersahutan.

"Sumpah," bisik Almeera akhirnya, memecah keheningan. "Umur gue rasanya berkurang lima tahun hari ini."

Akram menoleh, menatap wajah istrinya yang masih terlihat syok. Alih-alih marah, sebuah tawa pelan justru meluncur dari bibir Akram. Awalnya hanya kekehan kecil, lalu berubah menjadi tawa lepas yang menggema di ruang tamu.

Almeera menatapnya kesal. "Lo gila ya? Kita hampir ketahuan, dan lo malah ketawa?!"

"Gue ketawa karena mikirin betapa konyolnya kita," ucap Akram di sela tawanya, mengusap sudut matanya. "Ketua OSIS dan drummer band sekolah, sembunyi ketakutan di apartemen sendiri gara-gara sup iga dan sabun stroberi. Kalau anak-anak sekolah tahu, reputasi gue hancur lebur, Al."

Mendengar itu, pertahanan Almeera ikut jebol. Ia membayangkan bagaimana wajah ketakutan Akram saat menahan pintu tadi, sangat kontras dengan citra cool dan berwibawanya di sekolah. Almeera akhirnya ikut tertawa, memukul bahu Akram pelan.

Untuk sejenak, tidak ada tembok permusuhan di antara mereka. Hanya ada dua remaja yang sedang menertawakan kekonyolan takdir yang menjerat mereka.

Setelah tawa mereka mereda, Akram berdiri, mengangkat paper bag itu dan membawanya ke meja pantry. Ia mengeluarkan mangkuk plastik berisi sup iga yang masih mengepul, aromanya langsung memenuhi ruangan.

"Makan nih," Akram menyodorkan mangkuk itu ke arah Almeera yang baru saja menyusul ke dapur. "Dari mantan gue tersayang. Lo kan tadi belum kenyang makan keripik."

Almeera memutar bola matanya malas, perutnya yang kosong memang bereaksi melihat daging iga yang menggoda, tapi egonya jauh lebih besar. "Ogah. Nanti ada peletnya. Bisa-bisa gue tiba-tiba naksir lo lagi. Lo aja sana yang makan, kan lo yang 'radang tenggorokan'."

"Pelet apaan, ini sup dari restoran mahal, norak," Akram mengambil sendok, menyesap kuah sup itu dengan santai. Ia melirik Almeera yang sedang menelan ludah diam-diam. Senyum menyebalkannya kembali mengembang.

"Beneran nggak mau?" goda Akram, sengaja mengaduk kuah sup itu agar aromanya semakin kuat. "Dagingnya empuk banget lho, Al. Mantan gue emang paling tahu selera gue."

"Nggak peduli!" sungut Almeera, memalingkan wajahnya. "Dan tolong ya, Bapak Ketua OSIS, besok-besok kasih tahu nyokap lo buat stop sebar-sebar alamat ke cewek caper kayak dia. Gue nggak mau jantungan dua kali."

"Kenapa? Lo cemburu?"

"Najis."

Akram terkekeh. Ia mengambil mangkuk kecil dari rak, membagi separuh sup iga itu, lalu meletakkannya tepat di depan Almeera. "Makan. Lo kalau sakit, yang repot gue. Dan tenang aja, besok gue bakal tegur nyokap biar nggak ada yang bisa ganggu 'bulan madu' kita di sini."

Wajah Almeera seketika memerah mendengar kata bulan madu. Ia merampas mangkuk kecil itu dengan kasar. "Bulan madu mata lo! Gue cuma numpang hidup!"

Malam itu, mereka menghabiskan sup iga dari sang mantan dalam keheningan yang tak lagi terasa canggung. Ada kenyamanan aneh yang mulai menyusup di antara pertengkaran-pertengkaran kecil mereka.

......................

Keesokan Harinya, Pukul 09.00 WIB.

Jam istirahat pertama di SMA Bina Bangsa selalu riuh, tak terkecuali di koridor menuju kantin. Almeera berjalan beriringan bersama Sophia dan Nino, membahas soal daftar lagu untuk pensi saat sebuah suara melengking menghentikan langkah mereka.

"Jadi beneran, Kram? Lo udah tinggal di apartemen?!"

Almeera refleks menghentikan langkahnya. Tepat di dekat tangga, Akram sedang berdiri dikelilingi oleh Heera dan beberapa siswi lain. Heera bicara dengan nada yang sengaja dikeraskan, seolah ingin seluruh koridor mendengar "kedekatannya" dengan sang Ketua OSIS.

"Iya, nyokap gue yang nyuruh biar lebih deket ke sekolah," jawab Akram santai, tangannya dimasukkan ke saku celana. Namun matanya langsung menangkap sosok Almeera yang mematung tak jauh dari sana.

Heera tersenyum bangga, menoleh ke arah teman-temannya. "Semalam gue bawain Akram sup iga ke apartemennya lho. Kasihan dia lagi sakit. Sayang banget gue nggak bisa masuk karena apartemennya berantakan. Padahal gue mau beresin sekalian."

Bisik-bisik langsung terdengar di antara siswi-siswi. Banyak yang menatap iri pada Heera.

Sophia menyikut lengan Almeera dengan keras. "Gila! Heera agresif banget! Tapi tunggu deh, Al..."

Mata Sophia menyipit, menatap Heera yang sedang tersenyum penuh kemenangan, lalu beralih menatap Almeera.

"Kenapa, Phia?" tanya Almeera gugup.

"Semalam Heera bilang dia ke apartemen Akram..." Sophia merendahkan suaranya, nada curiga kembali menguar pekat. "Dan tadi pagi, waktu lo dateng... gue nyium wangi sabun mint-musk lagi di seragam lo. Wangi yang sama persis kayak yang nempel di jaket Akram kemarin."

Darah Almeera mendingin.

"Al," panggil Sophia pelan, menatap tajam langsung ke mata Almeera. "Lo sebenarnya... nyembunyiin apa dari gue?"

Di seberang sana, Akram juga melihat perubahan ekspresi Sophia. Rahang cowok itu mengeras. Skandal yang semalam berhasil mereka redam, kini kembali menyala layaknya bom waktu yang tinggal menunggu hitungan detik untuk meledak di tengah-tengah sekolah.

1
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Reyhan gangguin aja 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
maaf tor Almeera sama Akram kelas berapa y
Aidil Kenzie Zie: oalah kirain kls 12 jadi kan nggak perlu lama backstreet nya 🤣🤣🥰🥰
total 2 replies
Aidil Kenzie Zie
ngaku nggak ya🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
akhirnya semua kupu-kupu 🦋🦋 terbang dari jantung 💓💓 mereka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
dig dig dig dig apa Akram akhirnya keceplosan bilang kalau Almeera istrinya 🤔🤔🤔🤔🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
si mbak mantan sok berkuasa 😏😏
Aidil Kenzie Zie
si Mama gimana sih 😡😡 pengen hub anaknya terbongkar apa nggak sadar kalo Akram udah nikah dan tinggal disana sama istrinya 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Shopia udah dibilangin nyokap Al ganti parfum loundry masih aja kepo🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
si mama kok ember sich 🤭🤭🤭
Dara Sari
blm menarik banget alur cerita nya masih sedikit kaku dan kurang greget...maaf yaa Thor sedikit keritik semoga BS lbh baik kedepannya...
Moora: Makasiih tapi loh ya koreksiny... "gue suka gaya lo". Hehe jdi pelajaran kedepanny buat aku... 😊 makasiih
total 1 replies
Khusnul Khotimah
💪💪baru baca lihat bab terakhir dulu KLO menarik lanjut
Aidil Kenzie Zie
udah ngaku aja lagi PDKT 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
jantung mereka langsung dig dug dig dig🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
siap -siap makin panas dingin Akram
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!