" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11.Menghapus Noda dengan Noda
Langkah kaki Damian terdengar kian mendekat, mengetuk lantai marmer koridor belakang dengan ritme yang konstan dan mengintimidasi. Di bawah kegelapan sekat tangga, Aksa bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Ia melepaskan pelukannya pada Valerian, lalu dengan satu dorongan lembut namun tegas, ia mengarahkan Valerian untuk keluar dari sisi lain sekat tangga yang langsung menembus ke pintu dapur bersih.
Tepat saat Damian melangkah tikungan lorong kamar mandi, Valerian sudah berdiri di sana, pura-pura baru saja keluar dari dapur sambil memegang segelas air putih baru.
"Damian," panggil Valerian, suaranya sedikit serak namun berhasil ia kendalikan. "Aku di sini. Perutku masih agak mual, jadi aku meminta air hangat ke dapur."
Damian menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam langsung menyapu penampilan Valerian, beralih ke arah pintu kamar mandi yang kosong, lalu ke lorong dapur. Riak cemburu dan curiga di dalam dadanya tidak sepenuhnya padam, namun melihat istrinya benar-benar memegang segelas air di dekat area dapur, Damian akhirnya menahan diri.
"Kembalilah ke meja makan. Tidak sopan meninggalkan tamu terlalu lama," ucap Damian dingin, berbalik memunggungi Valerian tanpa berniat memapah atau memastikan apakah istrinya benar-benar baik-baik saja. Sikap merendahkan itu kembali hadir; Damian hanya peduli pada formalitas dan pandangan mata Clarissa serta orang tuanya.
Valerian hanya bisa menghela napas panjang, melangkah mengekor di belakang punggung tegap suaminya dengan hati yang kian tersiksa. Sementara di balik kegelapan bawah tangga, Aksa memperhatikan punggung mereka dengan rahang yang mengeras rapat.
Makan malam yang panjang itu akhirnya selesai menjelang pukul sepuluh malam. Karena badai kembali mengguyur kota dengan sangat deras dan jalanan utama menuju kediaman Narendra terendam banjir, Nyonya Zen Wardhana dengan penuh antusias meminta Clarissa untuk menginap di salah satu kamar tamu lantai dua.
Clarissa tentu saja menerima tawaran itu dengan binar mata yang penuh rencana. Wanita lulusan London ini bukanlah tipe perempuan yang lugu atau pasrah pada keadaan. Dia adalah tipe wanita ambisius yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Dan malam ini, yang dia inginkan adalah memiliki Aksa seutuhnya.
Sekitar pukul sebelas malam, suasana rumah sudah sunyi senyap. Di dalam kamar utamanya, Damian sudah tertidur pulas setelah meneguk segelas sisa minuman penenang miliknya. Valerian berbaring di sisi ranjang yang jauh, menatap langit-langit dengan pikiran yang berkecamuk dan dada yang sesak oleh rasa cemburu yang tak kunjung padam.
Di saat yang sama, di ujung koridor lantai dua, pintu kamar Aksa perlahan terbuka dari luar.
Clarissa melangkah masuk tanpa suara. Wanita itu telah menanggalkan gaun anggunnya, menggantinya dengan gaun tidur satin tipis berwarna hitam dengan potongan dada yang sangat rendah dan mengekspos lekuk tubuhnya yang sangat seksi. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, menyebarkan aroma parfum mawar yang sangat pekat dan menggoda.
Aksa yang sedang duduk di tepi ranjang hanya mengenakan celana jins panjang tanpa atasan, tersentak mendapati tamu tak diundang masuk ke dalam ruang privatnya. "Clarissa? Ada apa kau ke mari?" tanya Aksa, suaranya berat dan serak karena kantuk yang mulai menyerang.
Clarissa tidak menjawab. Dengan tatapan mata yang penuh keberanian dan gairah yang menuntut, ia melangkah mendekat. Clarissa langsung merangkak naik ke atas pangkuan Aksa, mengalungkan kedua lengannya yang halus di leher pria itu.
Aksa... aku tidak bisa tidur," bisik Clarissa dengan suara yang sengaja dibuat mendesah manja tepat di depan wajah Aksa. "Aku terus memikirkanmu. Aku tahu kau sengaja bersikap cuek padaku di depan orang tuamu, tapi aku tahu kau menginginkanku."
Aksa mencoba menarik kepalanya mundur. "Clarissa, kembali ke kamarmu. Ini salah—"
"Tidak ada yang salah, Aksa. Kita akan bertunangan bulan depan," potong Clarissa tegas. Dengan gerakan yang agresif, ia menekan tubuh seksinya ke dada bidang Aksa, lalu menundukkan kepalanya untuk mencium bibir Aksa dengan liar.
Aksa yang malam itu dalam kondisi sangat lelah akibat tekanan emosi seharian, mendadak kehilangan kewaspadaannya selama beberapa detik. Aroma alkohol samar dari parfum Clarissa berpadu dengan gesekan kulit mereka yang polos di bawah temaramnya lampu tidur. Untuk sejenak, ego maskulin Aksa sebagai seorang pria normal sempat terbuai oleh keseksian dan keliaran Clarissa yang begitu menuntut di atas pangkuannya. Sentuhan Clarissa yang panas sempat memicu gairah purba di dalam diri Aksa, membuatnya membalas pagutan itu selama beberapa sesaat dalam kondisi setengah sadar.
Namun, tepat ketika tangan Clarissa mulai bergerak nekat hendak membuka kancing celananya, bayangan wajah Valerian yang menangis di bawah tangga tadi siang mendadak terlintas di dalam benak Aksa bagai hantaman gada yang keras.
Deg!
Kesadaran Aksa seketika pulih sepenuhnya. Matanya membelalak tajam. Rasa mual dan jijik pada dirinya sendiri langsung bergejolak hebat di dalam dadanya.
Dengan kekuatan penuh, Aksa mencengkeram kedua bahu Clarissa dan mendorong tubuh seksi wanita itu menjauh hingga Clarissa terhempas ke atas kasur dengan wajah terkejut.
"Keluar," desis Aksa, suaranya terdengar begitu rendah, dingin, dan dipenuhi aura membunuh yang sangat pekat.
"Aksa? Kenapa? Bukankah tadi kau juga menikmatinya?" Clarissa bertanya tak percaya, merapikan tali gaun tidurnya yang melonggar dengan napas memburu.
"Kubilang keluar dari kamarku, Clarissa Narendra! Sebelum aku kehilangan kendali dan menyeretmu keluar ke koridor!" bentak Aksa dengan suara parau yang tertahan, matanya menyala oleh amarah yang luar biasa.
Melihat kilat mematikan di sepasang netra Aksa, Clarissa seketika ketakutan. Dengan wajah yang merona merah karena malu dan marah karena penolakan itu, ia segera bangkit dari ranjang dan berlari keluar dari kamar Aksa, menutup pintu dengan terburu-buru.
Begitu Clarissa pergi, Aksa mencengkeram rambutnya frustrasi. Ia mengumpat kasar berkali-kali di dalam kamar yang senyap. Rasa bersalah yang teramat sangat besar menghantam jiwanya. Meskipun ia tidak sampai bercinta dengan Clarissa, fakta bahwa ia sempat terbuai selama beberapa detik oleh keseksian wanita lain membuat Aksa merasa telah mengkhianati cintanya pada Valerian.
Aksa tidak bisa tenang. Mengabaikan risiko apa pun, ia langsung menyambar kaos hitamnya, membuka pintu penghubung balkon kamarnya dengan gerakan kilat, lalu memanjat pembatas besi menuju balkon kamar utama Damian dan Valerian di tengah sisa-sisa gerimis malam.
Cklek.
Pintu kaca balkon kamar utama yang kebetulan tidak terkunci rapat perlahan terbuka. Valerian yang sejak tadi memang belum bisa memejamkan mata langsung tersentak kaget. Ia bangkit dari ranjang, menatap horor ke arah siluet jangkung yang masuk dari arah balkon dengan pakaian yang setengah basah oleh tempias air hujan.
"A-Aksa? Kau gila?! Damian ada di sampingku!" bisik Valerian panik setengah mati dengan suara sesedikit mungkin.
Aksa tidak memedulikan Damian yang tertidur lelap di atas ranjang. Dengan tatapan mata yang menyala oleh campuran rasa bersalah, obsesi yang menggelap, dan gairah yang kian menuntut tebusan, Aksa langsung menyergap tubuh Valerian. Ia menarik pinggang kecil wanita itu dengan kasar, membawanya masuk ke dalam ruang pakaian (walk-in closet) kamar utama yang luas, lalu mengunci pintunya dari dalam.
"Aksa, lepas—"
Kalimat Valerian langsung dibungkam oleh pagutan Aksa yang teramat liar, menuntut, dan jauh lebih agresif dari malam-malam sebelumnya. Aksa mencium bibir Valerian dengan gairah yang meledak-ledak, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus sisa noda rasa bersalahnya dari sentuhan Clarissa tadi.
"Maafkan aku, Valerian... Maafkan aku," bisik Aksa parau di sela-sela ciuman panas mereka, napasnya memburu tajam di ceruk leher Valerian. Jemarinya yang besar merobek pelan kancing piyama sutra Valerian, mengekspos kulit halus wanita itu di bawah temaramnya lampu ruang pakaian.
Valerian terengah, ia bisa merasakan ada emosi yang berbeda dari sentuhan Aksa malam ini—sesuatu yang jauh lebih intens, posesif, dan penuh keputusasaan. Aksa seolah sedang menyembah tubuhnya, memberikan gairah yang jauh lebih membara dan memabukkan hingga membuat seluruh tubuh Valerian bergetar hebat dalam kepasrahan total. Di dalam ruang pakaian yang sempit itu, tepat beberapa meter dari suaminya yang sedang tertidur, Valerian kembali diseret ke dalam badai dosa manis yang kian mengikat jiwa dan raganya pada sang adik ipar.
Aksa terus memeluk dan mengklaim tubuh Valerian dengan gairah yang tak menyisakan celah, membisikkan kata-kata kepemilikan yang kian mengikat. "Kau satu-satunya wanita yang kuinginkan, Valerian. Hanya kau... tidak akan ada wanita lain yang boleh menyentuhku selain dirimu."