"Jangan dekat rawa itu!"
semenjak banyak yang meninggal karena memasang jebakan ikan di malam hari, rawa kecil itu di jauhi oleh banyak orang karena sudah banyak yang meninggal dunia.
Apa yang sudah terjadi?
Siapa penghuni rawa kecil itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Pertengkaran
Pemakaman Pak Sapto dilakukan dengan suasana yang begitu sedih sekali karena mereka sama sekali tidak menyangka kalau orang tua ini juga akan menjadi korban, Terutama ketika mereka mendengar isak tangis dari Bu Ita yang sangat kehilangan sosok suami dia itu, jadi semua warga memang ikut menangis bila mengingat bagaimana kebaikan Pak Sapto selama ini.
Memang pasangan ini memiliki reputasi yang begitu bagus di desa Pandan Arum sehingga bisa dikatakan tidak ada yang membenci mereka berdua, jadi ketika sedang berduka seperti ini maka semuanya merasa kehilangan dan ingin terus membantu bila Bu Ita memang membutuhkan bantuan dari mereka semua untuk melupakan kesedihan ini.
Sedikit pun mereka tidak pernah menyangka kalau iblis Rawa itu akan berkeliaran di malam hari untuk mendatangi rumah warga seperti ini, dan lagi-lagi tentu saja hanya Purnama yang akan terus didesak oleh puluhan warga agar dia segera bertindak untuk mencari tahu siapa pelaku ini sebenarnya di desa mereka.
Purnama kalau menuruti emosi maka saat ini dia pasti sudah sangat meledak karena terus didesak oleh puluhan warga hanya karena dia belum mampu menyelesaikan kasus iblis dalam rawa, tapi bagaimana lagi karena dia juga harus berusaha untuk tetap anteng agar warga yang meminta tolong bisa sedikit mendapat ketenangan diri.
''Pur, kenapa sampai sekarang masih belum ada pergerakan dari dirimu?!'' Bambang selaku RT kembali berbicara kepada Purnama.
''Eh Kau pikir aku tidak bergerak Mencari tahu siapa iblis itu?'' Purnama langsung mendelik marah.
''Lalu kenapa sampai sekarang masih belum ada juga info tentang iblis? malah yang ada korban semakin bertambah seperti ini.'' Bambang berkata dengan perasaan cemas.
''Aku juga sudah berusaha namun memang belum ada hasil!'' Purnama berkata lirih.
''Ini pasti para warga sudah sangat ketakutan karena mereka merasa tidak memiliki tempat nyaman untuk berlindung!'' Bambang berkata dengan kecemasan besar.
''Itu lah yang aku pikirkan juga tapi mau bagaimana lagi karena aku juga sudah berusaha untuk mencari tahu.'' ucap Purnama.
Melda dari kejauhan melihat purnama dan Pak RT sedang bercakap-cakap seperti itu sehingga dia langsung mendekat karena sifat julid wanita ini tidak pernah bisa hilang, dia tidak tahu saja bahwa saat ini para member telah menjadikan dia adalah seorang tersangka untuk kasus iblis rawa.
Namun belum lagi dia melangkah mendekati Purnama yang sedang sibuk ngobrol, mendadak saja tangan Melda ditarik oleh seseorang dan bahkan sangking kuatnya tarikan itu sehingga membuat dia terjatuh di atas kuburan milik orang lain yang sudah cukup lama, tentu hal itu membuat dia semakin emosi saja.
''Apa yang kau lakukan?!'' Melda sangat tidak terima.
''Jangan Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau itu akan mendatangi Purnama!'' Kopsah sangat hapal.
''Memang nya kenapa kalau aku mendatangi dia?!'' Melda langsung bangkit berdiri.
''Kau itu orang baru di sini Jadi tolong kau jaga sikap dan jangan bersikap angkuh!'' bentak Kopsah.
''He memang nya kau itu siapa? aku jauh lebih kaya bila dibanding dengan dirimu sehingga tidak ada hak kau untuk mengatur aku!'' Melda berkata dengan sangat angkuh.
''Em kau kaya ya? kau kayak asli atau kaya dari pesugihan!'' Kopsah berkata dengan sangat finish sehingga membuat Melda merasa kian emosi.
Wuuuutt.
''Kurang ajar kau ya!''
Melda yang marah langsung menjambak rambut wanita itu karena dia tidak terima setelah Kopsah mengatakan bahwa harta yang dia miliki itu adalah hasil dari pesugihan, Kopsah tentu saja tidak tinggal diam ketika rambut dia telah dijambak seperti ini dan langsung memberikan serangan balik agar Melda juga merasa kesakitan.
''Rasakan ini, wanita tidak tau diri.'' Kopsah menarik ribut Melda.
''Bangsat, kau berani sekali mencari masalah dengan aku!'' teriak Melda juga marah besar.
Wuuutt..
Duaaaak.
''Aaaghh!'' Melda berteriak keras karena kepala dia di hantamkan pada batu nisan oleh Kopsah.
''Rasakan itu, kau berani sekali mencari masalah dengan aku!'' Kopsah merasa sangat puas.
Padahal saat ini sedang situasi duka karena mereka dalam acara penguburan mayat Pak Sapto, namun mau bagaimana lagi karena memang mereka tidak mampu menahan emosi yang ada di dalam diri sehingga pertengkaran itu langsung terjadi begitu saja tanpa ada niat untuk mengakhiri di dalam diri mereka masing-masing.
Para warga yang sedang sedih itu langsung melihat ke arah mereka berdua dan Purnama juga yang sedang ngobrol dengan Pak RT menjadi kaget, namun ketika dia melihat Maharani memberi kode maka Purnama memilih diam saja karena dia juga tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Ratu burung hantu itu sehingga membiarkan pertengkaran di antara dua julid.
''Kopsah hentikan, kau ini tidak tau tempat ya!'' Kinan menarik Kopsah.
''Dia yang mulai duluan, tadi dia mau mendatangi Purnama yang sedang ngobrol dengan Pak RT!.'' Kopsah menjelaskan.
''Kenapa memangnya kalau aku mendatangi Purnama?!'' Melda kembali bangkit walau Kepala dia sudah mengucurkan darah.
''Melda, kau juga harus menjaga sikap dan jangan terus bersikap angkuh seperti itu!'' Mbak Nanda memberikan peringatan kepada warga baru.
''Heh wanita klemer! kau tidak usah ikut campur dalam urusan ini karena kau akan habis aku hantam.'' Melda malah ikut memarahi Mbak Nanda juga.
''Nah kau lihat itu sekarang betapa Aku wanita ini!'' kopsah sangat kesal.
''Kau Kenapa terus marah seperti itu dan seolah bermusuhan dengan kami, Melda?!'' Kinan bertanya penasaran kepada pendatang baru itu.
''Alah tidak usah sok suci, kalian semua ini adalah penganut dukun dan akan terus memuja Purnama sebagai ketua!'' Melda malah membawa nama ratu ular itu juga.
Kinan dan juga Mbak Nanda menjadi Saling pandang satu sama lain karena mereka tidak mengerti kenapa mendadak saja Melda malah mengatakan hal seperti itu, seolah Dia sangat tidak terima ketika seluruh warga yang ada di sini menyanjung purnama dan para peminta pertolongan dari Purnama juga atas kesusahan yang telah terjadi.
''Tadi dia itu berjalan mau mendekati purnama dan aku yakin dia akan menyebabkan masalah!'' Kopsah berkata dengan keras.
''Biarkan saja kalau dia mau menghampiri Purnama, biar dia kena hajar terus!'' Mbak Nanda juga ikut emosi dengan Melda.
''Mana? kalian semua telah termakan oleh bujuk rayu wanita sialan itu dan akan terus berada di bawah kaki dia!'' teriak Melda dan dia berjalan pergi.
Para warga menatap Melda dengan pandangan yang begitu bingung karena mereka tidak tahu kenapa dia sangat tidak menyukai Purnama seperti ini, seolah Dia sangat iri dengan popularitas Purnama yang ada di desa sehingga terus menghujat dengan lantang.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author Novita Jungkook ya, hari ini autor sudah update cerita baru yang berjudul tumbal tujuh perawan.
Ayo segera mampir di cerita author yang baru dan Tolong berikan like serta dukungan kalian semua.
aneh betul dia
naferia curiga SMA siapa ya🤔🤔
Nana jg kok bisa masuk lumpur bukan nya td menghajar melda🤔🤔