Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi Kulkas yang Runtuh di Atas Sajadah
Deru mesin mobil sedan hitam itu terdengar mengerang pelan membelah jalanan kota yang mulai temaram oleh lampu-lampu jalan. Di balik kemudi, dr. Adrian mencengkeram lingkar setir kulitnya dengan sangat erat, begitu erat hingga urat-urat maskulin di punggung tangannya menegang kaku. Kemeja hitam legam yang digulung hingga siku—kemeja yang sengaja ia pilih untuk tampil maksimal di acara syukuran ruko baru Kirana sore tadi—kini terasa mencekik lehernya.
Ekspresi wajah tampannya sekaku papan tulis. Sepasang manik mata teduhnya yang biasa memancarkan ketenangan seorang dokter, malam ini tampak bergemuruh hebat karena badai cemburu yang gagal ia jinakkan. Setiap kali ia berkedip, bayangan Kirana yang tersenyum anggun berbalut gamis moka di depan Gus Yusuf terus berputar seperti kaset rusak.
Namun, yang paling meremukkan dada dr. Adrian bukanlah kedekatan fisik mereka sore tadi, melainkan untaian kalimat santun Gus Yusuf yang menghujam tepat di ulu hatinya.
“Ketetapan itu... hanya bisa kita ketuk melalui doa-doa sujud kita yang panjang di sepertiga malam, Dokter Adrian.”
"Sial," umpat dr. Adrian lirih, suara baritonnya terdengar serak di dalam keheningan mobil.
Kalimat itu terus terngiang, berkejaran dengan nasihat Ibu Sarah yang tempo hari menyuruhnya menikung di sepertiga malam. Sebagai pria dewasa yang mapan dan rasional, Adrian selalu percaya pada tindakan nyata yang bisa dihitung secara logika. Dia bisa mengejar Dimas sang mantan kekasih pengkhianat Kirana hingga urat jarinya memutih demi menyelamatkan wanita itu dari penculikan. Dia bisa memesan katering bintang lima dalam sekejap untuk mendukung usaha Kirana. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, dr. Adrian dipaksa sadar bahwa ada satu wilayah kekuasaan yang tidak bisa ia beli dengan uang atau status sosialnya sebagai dokter umum terpandang: yaitu wilayah hati Kirana yang digenggam oleh Sang Pemilik Semesta.
Waktu berputar dengan sangat kejam. Jam dinding besar di ruang tengah kediaman dr. Adrian sudah menunjukkan pukul tiga dini hari ketika pria itu terbangun dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak. Kamarnya teramat sunyi, hanya menyisakan embusan pendingin ruangan yang menusuk tulang.
Adrian bangkit dari tempat tidur dengan napas berat. Didorong rasa panik yang teramat akut di sekujur tubuh karena takut kehilangan Kirana, ia melangkah kaku ke kamar mandi. Air wudu yang dingin menyentuh kulit wajahnya yang bersih, perlahan meredakan hawa panas yang membakar ulu hatinya sejak sore tadi.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, dr. Adrian membentangkan sajadah beludru hitam di sudut kamarnya. Pria kulkas yang biasanya selalu menjunjung tinggi harga diri dan gengsi itu kini berdiri tegak, takzim, menghadap kiblat. Saat kedua tangannya terangkat melakukan takbir, pertahanan egonya runtuh tanpa sisa.
Allahu akbar...
Dalam sujud terakhirnya yang teramat sangat panjang, dr. Adrian tidak lagi mampu menahan gejolak di dadanya. Bahunya yang tegap tampak terguncang pelan di atas sajadah. Air mata ketakutan dan ketulusan menetes, membasahi kain beludru di bawah wajahnya.
“Ya Allah... Hamba tahu hamba bukanlah seorang ahli agama seperti dia. Hamba hanyalah seorang pria biasa yang baru berniat memperbaiki jarak sujud hamba kepada-Mu,” bisik dr. Adrian di dalam hatinya dengan kepasrahan tingkat akut.
“Namun ya Allah, demi Dzat yang membolak-balikkan hati, hamba benar-benar mencintai wanita itu. Kirana... ketuklah hatinya untuk hamba. Jangan biarkan hamba kalah sebelum berperang, ya Allah. Jika ia baik untuk dunia dan akhirat hamba, maka mudahkanlah jalan hamba untuk melindunginya secara nyata...”
Malam itu menjadi saksi bisu, bagaimana seorang dokter kulkas yang angkuh mengetuk pintu arsy dengan sujud yang paling panjang dalam sejarah hidupnya.
Keesokan siangnya, sinar matahari yang cerah menyiram ruko konveksi baru milik Kirana. Aroma kain katun baru dan benang jahit kembali memenuhi udara siang yang sibuk. Suara deru mesin jahit yang menderu pelan terdengar bersahut-sahutan di lantai bawah.
Kirana sedang sibuk memeriksa beberapa gulungan kain premium di meja potong pola ketika pintu kaca ruko tiba-tiba didorong terbuka dari luar. Langkah kaki yang tegap dan berwibawa terdengar melangkah masuk.
Kirana mendongak, dan seketika itu juga gerakannya terhenti kaku.
Dr. Adrian berdiri di sana. Siang ini ia tidak mengenakan kemeja santai atau baju koko putih, melainkan pakaian formal kemeja formal berwarna biru navy yang melekat pas di tubuh tegapnya, lengkap dengan celana kain gelap yang memancarkan aura ketampanan pria matang yang sangat mapan. Wajahnya tampak bersih bersinar pasca sujud malamnya, tapi sorot matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa jantan. Tidak ada lagi keraguan atau ekspresi ragu-ragu di wajahnya.
Aisyah yang sedang menandai jahitan di dekat tirai langsung melotot jenaka, buru-buru menaruh kapur kainnya dan bersiap memasang telinga lebar-lebar.
"Dokter Adrian?" sapa Kirana dengan keanggunannya yang alami, meletakkan gunting pola kain. "Ada yang bisa saya bantu? Apakah ada masalah dengan pesanan mukena Ibu Sarah kemarin?"
Dr. Adrian tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah mantap, berhenti tepat dua langkah di depan meja potong Kirana. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Kirana dengan kedalaman emosi yang membuat dada Kirana tiba-tiba berdegup tidak karuan.
"Tidak ada masalah dengan pesanan Ibu, Kirana," suara dr. Adrian terdengar sangat berat, tenang, bergetar oleh sebuah kesungguhan yang teramat nyata.
Adrian mengembuskan napas pelan, melempar jauh-jauh sisa gengsi kulkasnya ke dalam tong sampah terdalam. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah marun, lalu meletakkannya dengan sangat jantan di atas meja potong pola, tepat di antara gulungan kain katun moka milik Kirana.
KLIK... Kotak itu terbuka, memperlihatkan sebuah cincin berlian bermata satu yang teramat sangat indah dan berkilau mewah.
Kirana membelalak kecil, jantungnya seperti mau copot dari tempatnya. Di balik tirai pembatas, Aisyah sampai membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan demi menahan jeritan histeris yang sudah sampai di tenggorokan!
"Dokter... apa maksud dari semua ini?" tanya Kirana dengan suara yang mendadak bergetar halus.
Dr. Adrian menegakkan postur tubuhnya, menatap Kirana tanpa berkedip sedikit pun. "Saya datang ke sini bukan sebagai seorang dokter yang ingin memesan kain, Kirana. Saya datang sebagai seorang lelaki dewasa yang ingin mengutarakan niat suci saya."
Suasana ruko mendadak diselimuti keheningan yang luar biasa magis. Suara deru mesin jahit di belakang seolah meredup seketika.
"Setelah musibah yang menimpa kamu kemarin, dan setelah apa yang saya sadari sore lalu... saya tidak mau membuang waktu lagi karena ketakutan saya," lanjut dr. Adrian dengan penegasan mutlak, urat di rahang tegasnya menegang kaku.
"Kirana... di hadapan Tuhan dan disaksikan oleh ruko barumu ini, saya, Adrian, ingin melamarmu secara resmi untuk menjadi istri saya. Menjadi pendamping hidup yang akan saya jaga dan lindungi dengan seluruh jiwa dan raga saya di dunia ini secara nyata. Saya ingin membimbingmu, dan saya juga ingin belajar bersamamu untuk menyamakan arah sujud kita sampai ke surga."
DEG!!! DUARRR!!!
Kalimat lamaran yang teramat sangat jantan dan sarat akan emosi itu menghantam seluruh kesadaran Kirana. Air mata langsung menggenang di pelupuk mata anggun Kirana. Hatinya bergetar hebat. Kalimat "menyamakan arah sujud" itu mendadak memanggil kembali memori masa lalunya tentang harapan terbesarnya dulu bersama Dimas, tapi kali ini, ketulusan yang ia rasakan dari dr. Adrian terasa beratus-ratus kali lipat lebih suci dan nyata!
Kirana meremas jemarinya sendiri, mencoba mencari kekuatan di tengah rasa syok yang luar biasa. Di satu sisi, dr. Adrian adalah pria yang telah menyelamatkannya dari maut dan selalu memberikan perhatian tanpa pamrih. Namun di sisi lain, hatinya belum sepenuhnya siap menerima perubahan sebesar ini dalam waktu singkat.
Setelah keheningan yang cukup panjang dan menegangkan, Kirana akhirnya menarik napas dalam-dalam. Ia menatap dr. Adrian dengan binar mata yang dipenuhi rasa hormat yang mendalam.
"Dokter Adrian... Masya Allah," ucap Kirana, suaranya terdengar sangat lembut tapi sarat akan keteguhan jiwa seorang wanita cerdas.
"Sebuah kehormatan yang teramat sangat besar bagi saya, seorang wanita biasa ini, menerima niat suci dari pria sebaik Anda. Namun... pernikahan bukanlah perkara duniawi yang bisa saya putuskan hanya dengan getaran di dalam dada siang ini, Dokter."
Kirana menjeda kalimatnya, tersenyum sangat anggun dengan air mata yang menetes di pipi bersihnya. "Karena itu... saya memohon dengan sangat, tolong beri saya waktu beberapa hari ini. Saya ingin bersujud, memohon petunjuk terbaik melalui sholat istikharah terlebih dahulu, agar yang maha kuasa memantapkan ke mana hati ini harus berlabuh tanpa ada keraguan. Apakah Dokter bersedia menunggu?"
BOOM!!!
Dr. Adrian terdiam kaku sekujur tubuh, mengepalkan tangannya di samping paha sebelum akhirnya mengangguk hormat penuh pengertian. Lamaran jantan sang dokter kulkas premium resmi digantung di atas sajadah istikharah Kirana!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia