NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Tujuh

Aruna menatap Ganesha dengan tatapan tak mengerti, kedua matanya mengerjap bingung sembari mencoba mencerna ucapan anak itu.

"Apa maksudmu di keluarkan?" tanya Aruna.

"Bukankah sudah kubilang kemarin kalau ayahmu dan kakak pertamamu datang ke sekolah?"

Oh Tuhan! Apa yang mereka lakukan?

Kenapa tiba-tiba saja Aruna jadi takut mendengar kelanjutannya. Tapi ia penasaran apa yang di lakukan kedua orang itu hingga membuat Marina dan Paula dikeluarkan dari sekolah. Melihat reaksi Aruna yang hanya bisa diam membuat Ganesha langsung melanjutkan ucapannya tanpa perlu di minta lagi.

"Ketika mereka datang, seluruh siswa bahkan guru-guru menjadi gempar dan panik. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena mereka langsung masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah. Bahkan para guru di panggil ke dalam begitu saja. Saat keluar, aku melihat guru yang menyuruhmu memberikan surat pemanggilan itu tengah menangis. Bahkan Kepala Sekolah tak mengatakan apa pun dan hanya bisa menundukkan wajahnya saja. Lalu berikutnya yang aku tahu, Marina dan Paula di keluarkan dari sekolah dengan alasan melakukan kekerasan juga pembullyan," jelas Ganesha panjang lebar.

Aruna yang mendengar seluruh cerita dari Ganesha hanya bisa terdiam tak percaya. Ia tak menyangka Elvio akan melakukan hingga sejauh ini hanya demi dirinya.

"Kau tampak kaget," kata Ganesha lagi.

"Tentu saja. Kita semua tahu bagaiman sifat Tuan Adijaya sebenarnya, Ganesh. Jadi, mendengar cerita ini darimu tanpa ada bukti yang nyata membuat semuanya nampak seperti dongeng," ucap Aruna tak percaya. Mungkin sedikit takjub juga.

Mereka sungguh-sungguh berubah?

"Tapi aku berkata jujur dan kenapa kau menyebut ayahmu sendiri seperti orang asing?"

"Karena aku bukan anak kandungnya. Kau pun tahu itu, kenapa masih bertanya?" kali ini Aruna tertawa pelan. Ia hendak berjalan lagi sebelum tangannya di tahan oleh Ganesha cepat.

"Una, jujur padaku. Apa keluarga Adijaya memperlakukanmu buruk?"

Ucapan itu membuat Aruna mengerjap sejenak lalu tersenyum tipis, kalau pun iya memang apa yang bisa Ganesha lakukan untuknya? Mereka masih sama-sama kecil dan membutuhkan perlindungan orang dewasa. Meskipun Ganesha berisikeras untuk membantunya jika tak ada dukungan dari orang dewasa, maka percuma saja.

"Apa maksudmu? Jika mereka memperlakukanku buruk aku takkan di antar seperti ini oleh mereka berdua," dengusnya kesal sendiri ketika mengingat kembali semua yang telah terjadi.

Dulu ia sering di perlakukan buruk bukan hanya dengan anggota keluarga tapi juga para pelayannya. Sekarang saat ia berhasil memutar waktu lagi, ia tak menyangka semua akan kembali sesuai fungsinya begini.

Ganesha mengangguk paham, "Kau benar."

Ketika mereka berjalan memasuki kelas, semua mata langsung tertuju pada Aruna yang nampak tidak perduli. Anak itu hanya terduduk di kursinya tanpa meladeni mereka. Ganesha menyadari hal itu dan ia merasa tak tahan sama sekali. Ingin menegur tapi Aruna menahan tangannya seolah mengatakan tak apa.

"Una!"

Suara Baskara terdengar dari depan pintu kelas mereka. Anak itu masuk begitu saja dengan semangat lalu terduduk di hadapan Aruna tanpa bertanya sama sekali.

"Apa yang kau lakukan? Ini kelasku, kembali kekelasmu sana," usir Aruna.

"Aku tahu tapi aku masih ingin melihatmu. Oh, iya, apa kau tahu kalau Marina dan Paula dikeluarkan? Aku sampai takjub di buatnya. Wah! Tuan Adijaya memang hebat," kekeh Baskara dengan sengaja melantangkan ucapannya agar semua siswa di kelas mendengarnya.

"Ganesh sudah memberitahuku," ucap Aruna lagi.

"Apa Ganesha juga memberitahumu bahwa Tuan Adijaya mempermalukan kedua orang tua Marina dan Paula?"

Ucapan anak itu membuat Aruna langsung terdiam dan menatap Ganesha, meminta penjelasan anak itu tentang apa yang di maksud oleh Baskara. Ganesha sendiri langsung meringis pelan dan menatap Aruna ragu.

"Baskara benar. Bahkan Ayahmu tampak sangat marah ketika ia tahu apa yang terjadi padamu," aku Ganesha pelan.

Sebelah alis Aruna naik dengan bingung, "Bagaimana ia bisa tahu?"

"Ternyata tempat mereka membawamu kemarin ada CCTV di pojok bangunannya dan tak ada yang tahu hal itu kecuali Kepala Sekolah juga operatornya. Bahkan aku juga tak tahu soal itu. Itu berarti tak ada yang tahu juga tentang CCTV itu. Aruna kau harus lihat bagaimana Tuan Adijaya begitu marah dan membuat kedua orang tua Marina dan Paula sampai berlutut di hadapannya. Aku sampai tak bisa memalingkan mataku, kau tahu."

Mendengar hal itu membuat Aruna tak bisa berkata apa pun. Ia tak menyangka Elvio akan sampai seperti itu, tidak seperti ayahnya sekali yang lebih memilih mengabaikan hal-hal kecil begitu. Perubahan Elvio benar-benar membuatnya merasa begitu kaget.

"Aku tak tahu jika Tuan Adijaya benar-benar menyayangimu tidak seperti yang di rumorkan," celetuk Baskara lagi.

"Memang apa rumornya? Apa aku di benci dan di abaikan oleh keluarga angkatku? Begitu?" tebak Aruna dengan dengusan pelannya.

Baakara dan Ganesha saling melirik lalu menatap Aruna lagi, "Kau tahu?"

"Tentu saja. Itulah mengapa mereka sering memperlakukanku seenaknya tanpa tahu kebenaran di baliknya," kata Aruna lagi. Kali ini suaranya lebih lantang sembari memperhatikan wajah-wajah teman sekelasnya dengan seksama. Mereka mungkin tidak memperlakukannya seburuk Marina dan Paula tapi mereka menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan. Mendengar ucapan Aruna membuat wajah mereka terlihat panik. Sepertinya mereka menyaksikan apa yang terjadi pada Marina dan Paula kemarin.

Sebenarnya dugaan mereka tak salah karena memang benar adanya begitu. Ia memang di perlakukan buruk dahulu tapi sekarang tidak begitu.

Melihat reaksi ketakutan mereka menjadi hiburan tersendiri bagi Aruna. Jika saja mereka cukup meninggalkannya saja sendiri, maka tak mungkin ada terjadi seperti ini.

"Dan apa kau tahu juga kalau Tuan Adijaya membeli sekolah ini?" lanjut Baskara.

The fuck?!!

Kali ini Aruna langsung melotot syok, menatap Baskara tak percaya dan berharap anak itu hanya bercanda saja. Namun, Baskara tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya, seolah sengaja membuatnya menjadi penasaran dan berakhir harus bertanya padanya.

"Bicara yang jelas, Abas!" ucap Aruna tak sabaran.

"Ayahku yang bilang bahwa Tuan Adijaya memakai salah satu pengacara hebat dari firma hukumnya untuk memindahkan namanya sebagai pemilik sah sekolah ini. Kau tahu apa artinya itu? Mulai saat itu kau adalah puteri pemilik dari sekolah ini, Aruna! Bukankah itu hebat?!" pekik Baskara semangat.

"Baskara benar, aku tak menyangka kalau Tuan Adijaya akan sebegitu perdulinya padamu, Una! Beliau langsung membeli seluruh sekolah hanya untukmu! Aduh! Aku iri sekali~" ucap Ganesha dengan isakkan pelan di akhir.

Mendengar semua itu membuat Aruna benar-benar kehilangan kata-katanya, ia tak menyangka bahwa Elvio akan bertindak sejauh itu. Bukankah yang ia alami hanyalah masalah sepele saja? Itu kan yang Elvio pernah katakan dulu ketika ia mendapat laporan tentang apa yang dirinya alami di sekolah.

Aruna masih sangat mengingatnya ketika ia berniat untuk mengadu tapi Elvio menolak bertemu dengannya. Kemudian mengatakan padanya bahwa yang Aruna alami hanyalah masalah sepele yang harusnya tak perlu di besar-besarkan. Dulu bahkan Aruna sampai menangis seharian di kamarnya karena ia tak bisa melakukan apa pun untuk membalas mereka.

Namun, sekarang bahkan Aruna tak perlu melakukan apa pun, Elvio sudah melakukan untuknya.

Dahulu Aruna harus berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian Elvio meski berakhir gagal. Lalu sekarang ketika Aruna sudah tidak menginginkan semua itu lagi, Elvio malah datang sendiri dan menawarkannya. Ia tak menyangka semua akan berubah secepat ini.

Tak lama seorang guru masuk hingga membuat Abaskara harus keluar dan kembali kekelasnya dengan malas. Sementara sang guru yang baru saja sempat kaget saat melihat Aruna dan berusaha menghindari tatapan mata anak itu. Bahkan, guru pun jadi merasa takut padanya, padahal harusnya mereka bersikap seperti biasanya saja. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan karena yang terjadi sekarang merupakan dampak dari Elvio.

Pengaruh keluarga Adijaya memang sebesar itu.

***

Di tempat Elvio

Elvio yang tengah duduk di meja kebesarannya itu tak berhenti tersenyum sedari tadi hingga membuat beberapa karyawan yang memergokinya jadi heran sendiri. Presdir mereka yang selalu berwajah datar dan dingin seperti tak tersentuh itu kini malah tak bisa berhenti tersenyum. Saking bagusnya suasana hati Elvio, ia tak mempermasalahkan kesalahan beberapa karyawan di rapat bulanan tadi. Hal itu tak luput dari pandangan Argo yang merupakan sekretaris Elvio

"Tuan, apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?" tanya Argo penasaran ketika ia baru saja kembali dan mendapati Elvio tengah tersenyum sendiri lagi di dalam ruang kantornya sendiri.

"Tentu saja. Aku akan menghabiskan waktu bersama puteriku hari minggu besok. Aku tidak sabar," ucap Elvio semangat.

Argo mengangguk mengerti lalu menatap Elvio lagi, "Tuan, anda tak lupa jika minggu besok anda harus berangkat ke Barcelona, kan?"

Seolah teringat lagi langsung membuat Elvio mendesis tak suka, "Batalkan dan atur kembali jadwalku selain hari minggu besok. Pokoknya kosongkan jadwalku untuk hari minggu!" tegas Elvio.

"Baiklah saya paham, Tuan."

Elvio tak tahu jika ia akan sesenang ini hanya karena bisa menghabiskan waktu bersama nanti.

"Tuan, Direktur Alex ingin bertemu terkait masalah penghentian dana ke perusahaannya," kata Argo lagi.

Elvio menghela nafas dan menatap Argo datar, "Haruskah aku menjelaskan kembali apa yang mesti kau lakukan? Katakan padanya bahwa aku takkan merubah pikiranku. Itu salahnya karena tak bisa mendidik anaknya dengan baik. Berani sekali mereka menyakiti putriku dan berharap bisa hidup dengan tenang selanjutnya," gerutu Elvio.

"Baik, saya mengerti. Lalu bagaimana dengan—"

"Argo, jangan membuatku mengatakannya dua kali," desis Elvio dengan tatapan tajam.

"Baiklah Tuan. Saya akan mengurusnya," ucap Argo lalu keluar dari ruangan sang Presdir.

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!