Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang Nomor 7 Bersih
Tersisa dua pengawal.
"Bos! Mereka ada di dalam asap! Tolong—" sebuah teriakan histeris dari salah satu pengawal tersisa tiba-tiba terputus oleh suara letupan halus pistol berperedam Nathan.
Pfft.
Peluru menembus dahi pria itu dengan sangat akurat.
Pengawal terakhir, yang kini berdiri gemetar di dekat meja kayu tempat Robert bersembunyi, mulai kehilangan akal sehatnya akibat stres ekstrem. Ia mengangkat senapan serbunya dan melepaskan tembakan liar ke segala arah di dalam asap, mencoba mengusir hantu maut yang sedang mendekatinya.
"Keluar kamu keparat! Keluar!!!" teriaknya dengan suara serak yang dipenuhi keputusasaan mutlak.
Tembakan liarnya terhenti seketika saat magasin senjatanya habis, meninggalkan bunyi klik logam kosong yang kering di dalam keheningan gudang yang dingin.
Klik. Klik.
"Waktumu habis," sebuah suara berat dan dingin berbisik tepat di belakang telinganya.
Sebelum pengawal terakhir itu sempat berbalik untuk memukul atau mengisi ulang senjatanya, tangan kanan Nathan yang sangat kuat sudah mencengkeram kepalanya dari belakang, sementara tangan kirinya memegang dagu pria itu. Dengan satu gerakan memutar yang sangat terlatih dan bertenaga penuh, Nathan mematahkan leher pengawal terakhir tersebut dalam sekejap mata.
KRAK!
Jasad pria itu jatuh lemas di atas tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja kayu.
Hanya butuh waktu kurang dari 3 menit sejak Nathan pertama kali melempar pisau dari langit-langit rafter untuk melumpuhkan seluruh delapan pengawal taktis pilihan Robert tanpa menerima seujung kuku luka pun.
Kepulan asap abu-abu di dalam lobi gudang perlahan-lahan mulai menipis ditiup angin laut yang masuk melalui ventilasi jendela yang pecah, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruangan. Suara derai hujan di luar terasa semakin dekat dan dingin.
Di bawah meja kayu ek panjang, tubuh tambun Robert gemetar hebat. Ia merangkak mundur dengan wajah yang pucat pasi seperti mayat, celana flanelnya basah oleh keringat dingin dan air genangan semen yang kotor. Matanya yang melotot ketakutan menatap sepasang sepatu bot taktis hitam yang berjalan perlahan mendekatinya, berhenti tepat di depan tempat persembunyiannya yang hina.
Nathan Wiratama berdiri tegak di tengah ladang pembantaian yang sunyi. Ia melepaskan kacamata malamnya, membiarkannya tergantung di leher mantel panjang hitamnya. Mata gelapnya yang dingin menatap ke bawah ke arah Robert dengan ketenangan yang luar biasa mengerikan.
"Keluar," perintah Nathan lirih. Suaranya tidak keras, namun membawa tekanan psikologis yang membuat Robert merasa dadanya sesak seolah kehabisan oksigen.
Robert merangkak keluar dari bawah meja dengan sangat hina, kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas udara dalam posisi menyerah mutlak. "T-Tolong... jangan bunuh aku... aku bersumpah aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya..."
"Kamu tahu siapa aku, Robert," ucap Nathan datar seraya menarik sebuah kursi besi tua dari dekat meja, lalu duduk dengan tenang di depan Broker Timur tersebut yang kini berlutut gemetar di atas lantai semen yang dingin.
"A-Aku hanya menerima kontrak! Aku bersumpah!" teriak Robert dengan air mata yang mulai mengalir deras di wajahnya yang tambun. "Orang dalam Megantara yang memberikan perintah itu! Dia yang ingin menculik Clara Wijaya untuk mengambil alih seluruh dokumen pengalihan aset dari Elena!"
Nathan menatap Robert dengan pandangan mata sedingin es di dasar samudra terdalam. "Siapa orang dalam itu?"
"Suryadi..." bisik Robert dengan bibir yang bergetar hebat. "Suryadi... Wakil Direktur Utama Megantara Group! Dia yang membayar kami menggunakan akun kripto luar negeri! Dia yang merancang rute perjalanan Elena ke Bandar Samudra pekan ini agar rumah utama kehilangan pertahanan tim intinya!"
Nathan tidak terkejut. Analisis taktisnya bersama Rendra terbukti seratus persen akurat. Suryadi memang otak di balik konspirasi penculikan Clara Wijaya.
"Di mana dokumen atau bukti transaksi yang menghubungkanmu dengan Suryadi?" tanya Nathan dingin.
Robert dengan tergesa-gesa merangkak menuju koper kulit hitam yang terjatuh di dekat meja, membukanya dengan tangan yang gemetar, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna merah metalik dari saku terdalam koper tersebut.
"Ini! Di dalam flashdisk ini ada rekaman percakapan suara kami melalui telepon satelit, log transaksi kripto, serta dokumen rahasia perusahaan yang diberikan Suryadi sebagai jaminan!" Robert menyodorkan flashdisk tersebut dengan kedua tangannya yang gemetar di depan dada Nathan. "Ambil ini! Kamu bisa menggunakannya untuk menghancurkan Suryadi dan Elena sekaligus! Tolong... biarkan aku pergi dari tempat ini hidup-hidup..."
Nathan menerima flashdisk merah tersebut dengan tangan kirinya, memeriksa fisiknya sekilas, lalu memasukkannya ke dalam saku mantel hitamnya yang aman.
Ia kemudian berdiri perlahan dari kursi besinya, menatap ke arah Robert yang masih menatapnya dengan pandangan penuh harapan palsu akan sebuah pengampunan.
"Terima kasih atas informasinya, Robert," ucap Nathan lembut.
"K-Kalau begitu... aku boleh pergi ke kapal cepatku?" tanya Robert dengan senyuman lega yang mulai mengembang di wajahnya yang kotor.
Nathan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia merogoh pistol taktis berperedam suara kaliber 9 mm miliknya dari balik mantel hitamnya, mengarahkannya tepat ke arah kening Robert si Broker Timur dari jarak hanya satu meter.
Mata Robert melebar seketika saat melihat moncong senjata hitam yang dingin itu mengarah tepat ke arah kepalanya. Rasa dingin yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tulang belakangnya.
"T-Tunggu! Kamu bilang kamu akan melepaskanku jika aku memberikan buktinya! Kamu berjanji—"
"Aku tidak pernah berjanji apa pun padamu, Robert," potong Nathan dingin. "Dalam duniaku... satu-satunya cara terbaik untuk menjaga rahasia agar tetap aman adalah dengan memastikan pembawa rahasia tersebut tidak pernah bernapas lagi."
Pfft.
Satu letupan halus terdengar di sela gemuruh hujan badai di luar gudang.
Peluru kaliber 9 mm menembus tepat di tengah kening Robert si Broker Timur dengan presisi mutlak. Mata Broker Timur itu melotot kosong, setitik lubang merah kecil muncul di antara kedua alisnya sebelum akhirnya tubuh tambunnya ambruk ke belakang di atas lantai semen, bergabung dengan sisa-sisa pasukannya yang telah tewas mendahuluinya.
Nathan berdiri diam selama beberapa detik, menatap dingin ke arah jasad Robert yang tidak lagi bernyawa di depannya. Ia memasukkan kembali pistol berperedamnya ke dalam sarung senjata tersembunyi di balik mantel hitamnya, lalu mengeluarkan ponsel satelit terenkripsinya.
Ia menekan tombol panggilannya ke Rendra.
"Rendra," ucap Nathan begitu panggilan tersambung. Suaranya sangat tenang, seolah ia baru saja menyelesaikan patroli malam biasa tanpa ada masalah sedikit pun.
"Bos? Bagaimana situasi di pelabuhan tua?" tanya Rendra di seberang sana dengan nada penuh kekhawatiran taktis yang mendalam.
"Gudang nomor tujuh bersih. Robert dan seluruh delapan orang pasukannya telah dilumpuhkan secara permanen," jawab Nathan datar. "Aku telah mengamankan bukti fisik transaksi antara Robert dan Suryadi di dalam sebuah flashdisk merah."
"Luar biasa, Bos!" suara Rendra terdengar sangat lega sekaligus kagum. "Aku akan segera mengirimkan unit pembersih taktis Bravo Satria untuk mengamankan lokasi gudang dan menghapus seluruh jejak pertempuran di pelabuhan tua ini sebelum fajar tiba."
"Bagus. Persiapkan juga rilis data transaksi tersebut secara anonim ke media keuangan internasional dalam waktu tiga puluh menit setelah aku tiba di apartemen," perintah Nathan dingin. "Aku ingin Suryadi melihat kerajaannya hancur berkeping-keping tepat saat ia bangun besok pagi."
"Dimengerti, Bos. Semuanya akan siap dalam hitungan menit."
Nathan memutuskan sambungan komunikasi satelit tersebut, lalu berjalan tenang menuju pintu darurat belakang gudang yang mengarah langsung ke dermaga darurat pelabuhan tua yang gelap.
Di luar, badai hujan Sektor Utara kota Megapura masih menderu dengan ganasnya, menyapu permukaan air laut yang hitam pekat dan bergolak deras. Namun di dalam batin Nathan Wiratama, keheningan yang dingin kembali menguasai dirinya sepenuhnya.
Langkah kedua dari rencana balas dendam lima belas tahunnya telah selesai ditulis dengan tinta darah di pelabuhan tua, dan kini saatnya bagi sang Raja Perang untuk membawa badai yang sesungguhnya menuju jantung dewan direksi Megantara Group.
- Assalamualaikum semuanya\, jangan lupa juga membaca karya Thea "Benci di Tepian Hari\, Lindung di Balik Bayang" sebuah kisah 2 anak manusia yang saling melindungi dalam bayangan. kisah yang akan menguras emosi kalian selama mengikuti perjalanan kisah mereka\, - Terima kasih semuanya