Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Menyusun Rencana
Suara pintu rumah terbuka cukup keras. Galang masuk dengan wajah kusut dan langkah tergesa. Topi dinas yang sejak tadi berada di tangannya dilempar begitu saja ke atas sofa. Kancing paling atas seragam khaki yang dikenakannya dibuka dengan gerakan kasar, seolah ingin melampiaskan sesak yang memenuhi dadanya.
Raut wajahnya dipenuhi amarah. Sejak meninggalkan kantor sekaligus tempat tinggal Arini, emosinya belum juga mereda. Perjalanan pulang menggunakan taksi online sama sekali tidak berhasil menenangkan pikirannya. Bayangan ketika Arini berhadapan dengannya di ruang rapat di hadapan para karyawan dan petugas keamanan terus terlintas di kepalanya. Harga dirinya sebagai laki-laki seakan diinjak-injak.
"Kurang ajar..." gerutunya pelan. "Berani-beraninya dia mempermalukanku."
Mayang yang sedang menyapu ruang tamu menoleh. Melihat wajah suaminya yang merah padam, dia langsung menghentikan pekerjaannya.
"Mas, ada apa?" tanyanya hati-hati.
Namun, Galang sama sekali tidak menjawab.
Saat itulah Bu Sumarni keluar dari kamarnya. Melihat putranya sedang dikuasai emosi, matanya justru berbinar. Kesempatan seperti ini tidak ingin disia-siakannya.
"Lang, kamu kenapa? Kok marah sekali?"
Galang mengembuskan napas kasar.
"Jangan tanya, Bu. Hari ini benar-benar bikin aku emosi."
"Ibu juga lagi kesal sama Mayang."
Galang langsung menoleh. "Memangnya kenapa?"
Bu Sumarni memasang wajah sedih. "Sejak dia masuk ke rumah ini, Ibu belum pernah dikasih uang pegangan. Padahal Ibu juga punya kebutuhan pribadi. Masa setiap kali butuh apa-apa harus minta?"
Mayang tampak terkejut. "Bu, bukannya semua kebutuhan Ibu selalu saya belikan? Kalau Ibu butuh sesuatu tinggal bilang. Lagian hal ini kan pernah dibahas sebelumnya ."
"Itu beda!" sahut Bu Sumarni. "Ibu ini orang tua suamimu. Masa enggak dikasih uang pegangan?"
Emosi Galang yang sejak tadi sudah berada di puncak akhirnya meledak. "Mayang."
"Iya, Mas."
"Kenapa Ibu enggak kamu kasih uang?"
Mayang berusaha menjelaskan dengan tenang.
"Mas, uang kita kan masih harus diatur baik-baik. Baru menikah juga, masih banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Selama ini kalau Ibu butuh apa pun, selalu aku belikan."
"Itu bukan yang aku tanya." bentak Galang. "Kalau Ibu minta uang pegangan, ya kasih!"
Mayang terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka persoalan itu akan dibesar-besarkan.n"Aku hanya ingin keuangan kita tertata, Mas. Lagian kan Mas sendiri yang menyetujuinya."
"Jangan banyak alasan!" hardik Galang. "Mulai bulan depan Ibu harus pegang uang sendiri. Aku enggak mau dengar keluhan lagi."
Mayang menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Baru beberapa waktu menjalani kehidupan sebagai istri, dia sudah harus menghadapi sikap suami yang lebih memilih mempercayai ucapan ibunya daripada mendengarkan penjelasannya.
Di sisi lain, Bu Sumarni menyembunyikan senyum puas. Kemarahan Galang yang dibawa dari luar rumah kini berhasil dialihkan kepada Mayang, persis seperti yang diharapkannya.
"Terus, kamu kenapa marah-marah, Lang?" tanya Bu Sumarni dengan nada penasaran.
Galang tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, sementara napasnya masih memburu. Dengan gerakan kasar, dia meraih tas dinas yang disandangnya sejak pulang kerja. Resletingnya dibuka sedikit menghentak, lalu dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat berisi dokumen.
Brak!
Amplop itu dilemparkannya ke atas meja hingga membuat Mayang dan Bu Sumarni sama-sama terkejut.
"Silakan Ibu baca sendiri!" ucap Galang ketus.
Bu Sumarni yang sedari tadi penasaran segera mengambil amplop itu. Jemarinya bergerak tergesa-gesa membuka perekatnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen di dalamnya.
Semakin jauh matanya membaca, semakin pucat wajahnya. "Astaga..."
Tangannya sedikit gemetar. "Ini... ini surat gugatan cerai?"
Galang mengangguk singkat. "Iya."
Bu Sumarni membalik halaman demi halaman. Dadanya mulai berdebar ketika membaca nama penggugat yang tertulis jelas di sana. "Arini... menggugat cerai kamu?"
"Iya, Bu."
"Dia benar-benar mendaftarkan gugatan itu ke pengadilan?"
"Iya. Bahkan hari ini aku sudah menerima salinan resminya."
Bu Sumarni terduduk lemas di sofa. Wajahnya yang semula hanya terkejut kini berubah menjadi cemas. Berkali-kali dia menggelengkan kepala seolah tidak percaya.
"Tidak... tidak bisa begini."
Galang mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku juga enggak nyangka dia benar-benar serius."
"Tidak boleh. Jangan sampai kalian bercerai, Lang!"
Galang mengangkat kepalanya.
"Kalau sampai perceraian itu terjadi, semua bisa berantakan."
Nada suara Bu Sumarni terdengar panik. Bukan semata-mata karena memikirkan rumah tangga anaknya, tetapi juga karena teringat semua kenyamanan yang selama ini mereka nikmati dari harta dan penghasilan Arini.
"Kamu harus lakukan apa pun supaya Arini mencabut gugatan itu. Datangi dia lagi, bujuk dia, minta baik-baik kalau perlu. Pokoknya jangan sampai sidang itu berjalan!"
Galang mengepalkan kedua tangannya. Bayangan dirinya yang baru saja diusir oleh Arini dari ruang rapat kembali memenuhi kepalanya.
"Sudah, Bu. Tadi aku datang menemuinya di kantor. Bukannya mau mendengarkan, dia malah menggertakku untuk segera pulang, kalau tidak, aku akan diseret keluar. Aku dipermalukan habis-habisan."
Mendengar itu, wajah Bu Sumarni semakin tegang. Kini dia sadar, kemarahan Galang sejak pulang tadi ternyata bukan tanpa alasan. Namun, di balik kepanikannya, otaknya mulai bekerja keras mencari cara agar Arini membatalkan gugatan cerainya.
"Kamu cegah dong, Lang. Jangan sampai Arini menggugat cerai!" ujar Bu Sumarni dengan nada panik.
Galang mengembuskan napas panjang. Wajahnya masih dipenuhi rasa kesal.
"Kan aku sudah bilang, aku tadi sudah datang menemuinya. Aku minta dia membatalkan gugatan itu."
"Terus?"
"Percuma. Dia tetap dengan pendiriannya. Jangankan mau membatalkan gugatan, dia malah mengusirku dari ruang rapat di depan karyawan dan sekuriti. Malunya bukan main."
Bu Sumarni mengepalkan surat gugatan yang masih berada di tangannya. Wajahnya tampak tegang.
"Lalu sekarang bagaimana, Lang?"
Galang menggeleng pelan. "Itu yang sedang kupikirkan. Menurut Ibu, sebaiknya bagaimana?"
Bu Sumarni terdiam beberapa saat. Bola matanya bergerak ke sana kemari, seolah sedang menyusun siasat.
"Kalau cara baik-baik sudah enggak mempan..." gumamnya pelan.
Galang menunggu jawaban ibunya.
Bu Sumarni mengangkat wajah. "Kenapa kamu enggak memaksa dia saja?"
Galang menghela napas.
"Gak semudah itu, Bu. Arini sekarang tinggal di toko yang beroperasi dua puluh empat jam. Di sana selalu ada karyawan dan petugas keamanan. Tadi saja waktu aku datang, mereka langsung masuk begitu Arini memanggil."
Bu Sumarni mengernyit. Rencana yang sempat terlintas di benaknya langsung kandas.
"Hmm... berarti memang susah."
Suasana mendadak hening. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Bu Sumarni kembali bersuara.
"Baiklah. Besok biar Ibu yang menemui Arini."
Galang menoleh.
"Ibu?"
"Iya. Mungkin kalau yang bicara orang tua, hatinya bisa lebih luluh. Ibu akan membujuknya baik-baik supaya dia mau mencabut gugatan cerainya."
Galang mengangguk pelan, meski jauh di dalam hatinya dia tidak terlalu yakin. Setelah melihat sendiri sikap Arini siang tadi, dia tahu perempuan itu bukan lagi Arini yang dulu selalu mengalah. Namun, untuk saat ini, hanya itulah harapan yang masih bisa mereka pegang.
_________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.