Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08.Pesona Berondong
Saat mereka melangkah keluar dari mobil dan berjalan beriringan melintasi halaman rumah, Evan berjalan beberapa langkah di depan mereka sambil sibuk bersiul. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh gavin untuk mendekatkan tubuhnya ke arah Aruna.
Dengan langkah yang disengaja agar selaras dengan ketukan sepatu hak tinggi Aruna, gavin mencondongkan kepalanya. Aroma parfum mint maskulin miliknya kembali menyergap, membuat Aruna otomatis menegang.
"Taktik pertama, Kak," bisik Gavin sangat lirih, nyaris tak terdengar di antara deru angin sore kompleks.
"Begitu masuk, jangan pasang muka tripleks begitu. Senyum sedikit. Tangan kiri Kakak, tolong gandeng lengan jaket gue."
Aruna hampir saja menghentikan langkahnya karena syok. Ia menoleh ketus dengan mata menyalang.
"Jangan ngadi-ngadi kamu, gavin! Kita belum masuk ke dalam rumah!"
"Justru karena belum masuk, Kak," sahut gavin santai tanpa mengalihkan pandangan dari pintu utama rumah yang mulai terbuka.
" Tante inda udah berdiri di balik jendela sejak kita turun dari mobil. Kalau Kakak kelihatan kaku begini, si PNS itu bakal ngerasa punya celah buat deketin Kakak."
Aruna melirik sekilas ke arah jendela ruang tamu. Sial, bocah itu benar. Tirai tipis di sana tampak bergerak, dan bayangan ibunya yang sedang mengintip terlihat jelas.
"Inget, kita udah deal," bisik gavin lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas, mengingatkan kesepakatan darurat mereka di mobil tadi.
"Ikuti alur gue, atau mas-mas di dalam itu bakal sukses dapet nomor telepon Kakak malam ini."
Menahan kejengkelan yang sudah sampai ke ubun-ubun, Aruna terpaksa mengalah. Dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin di depan kamera pengawas terselubung alias ibunya sendiri, Aruna mengulurkan tangan kirinya dan menyusupkannya ke sela lengan jaket denim Gavin.
Begitu telapak tangannya menyentuh lengan kokoh pria itu, gavin sengaja menepuk punggung tangan Aruna dengan lembut, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang saling menguatkan mental.
"Pintar, Kak Calon Pacar," puji gavin lirih dengan kekehan rendah yang sangat menyebalkan di telinga Aruna.
"Sekarang, mari kita buat pertunjukan ini dimulai."
Evan yang berjalan tiga langkah di depan mendadak menghentikan siulannya tepat di undakan teras rumah. Merasa ada yang aneh karena suara ketukan sepatu hak tinggi Aruna tiba-tiba melambat, Evan memutar tubuhnya ke belakang. Detik itu juga, sepasang mata Evan melotot sempurna hingga kunci mobil di genggamannya hampir saja terlepas ke lantai marmer teras. Ia menatap kosong ke arah tangan kiri Aruna yang melingkar erat di lengan jaket denim Gavin, lalu beralih menatap wajah Gavin yang memasang ekspresi terlampau santai.
Evan berkedip tiga kali, mengira penglihatannya mendadak buram akibat radiasi layar ponsel sepanjang hari.
"Bentar, bentar... ini gue lagi kesambet atau gimana?" celetuk Evan dengan suara tertahan, menunjuk-nunjuk ke arah tautan tangan mereka.
"Aruna? Gavin? Ini konsepnya gimana ya? Perasaan baru lima menit lalu di mobil lo berdua kayak singa sama macan mau cakar-cakaran. Kok sekarang udah nempel kayak prangko?!"Aruna seketika menegang.
Jantungnya berpacu cepat, bingung harus menyusun alibi apa di depan sepupunya yang bermulut ember ini. Namun, sebelum Aruna sempat membuka suara untuk membantah, gavin dengan sigap mempererat jepitan lengannya pada jemari Aruna.
"Biasa, Van. Adek lo tadi pas mau turun mobil mendadak pusing karena vertigo-nya kambuh," dusta gavin dengan wajah super polos tanpa dosa, seolah ia adalah adik sepupu teladan yang sangat berbakti.
"Dari pada Kak Aruna jatuh pingsan di halaman dan bikin malu di depan tamu nyokap lo, ya mending gue papah dia sampai dalam. Ya kan, Kak?" gavin sengaja menoleh ke arah Aruna, menaikkan sebelah alisnya seolah meminta persetujuan atas kebohongan instan yang baru saja ia rakit. Aruna terpaksa mengangguk kaku demi menyelamatkan mukanya.
"Iya, Ka. Kepala aku tiba-kira muter banget. Untung... teman kamu ini sigap." Aruna menekan kata 'teman kamu' dengan penekanan yang sangat tajam. Evan menyipitkan matanya, menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan yang sangat sangsi.
"Vertigo? Sejak kapan lo punya riwayat vertigo, Run? Perasaan hobi lo dari dulu itu cuma workaholic sama ngomelin anak magang."
Meskipun curiga bahwa ada konspirasi aneh yang sedang disembunyikan oleh sahabat dan sepupunya itu, Evan tidak punya waktu untuk menginterogasi lebih lanjut.
Pintu utama rumah berkayu jati itu sudah terlanjur terbuka dari dalam, menampilkan sosok Ibu Aruna yang sudah siap menyambut mereka dengan senyum yang mendadak membeku di bibir.
"Udah ah, tanyanya nanti lagi. Tuh, Kanjeng Ratu udah mantau," bisik Evan pelan sambil buru-buru membalikkan badannya lagi untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Aruna dan gavin yang kini harus bersiap menghadapi target interogasi yang jauh lebih berat.
Inda menyambut anak gadisnya dengan senyum lebar mendadak mematung. Matanya melotot, beralih dari tangan Aruna yang menggandeng lengan Gavin, lalu naik menatap sosok pria asing di sebelah anaknya tersebut. Di sofa ruang tamu, si pria PNS bernama Bagas yang tadinya sedang duduk tegak sambil membetulkan kerah kemeja batiknya, ikut berdiri.
Senyum percaya diri yang sejak tadi menghiasi wajah Bagas seketika luntur, digantikan oleh ekspresi syok yang tidak bisa disembunyikan. Bagas menatap Gavin dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang sedikit meremehkan, khas pria yang merasa posisinya sebagai abdi negara sudah paling aman.
Ibu Aruna menatap Gavin dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan menilai yang sangat tajam. Meskipun Gavin hanya mengenakan jaket denim kasual dan celana jin, postur tubuhnya yang tinggi tegap, atletis, dan bahunya yang bidang membuat kemeja batik longgar milik Bagas terlihat sangat mengempis. Ditambah lagi, wajah gavin yang tampan dengan rahang tegas dan tatapan mata karismatik khas keluarga Dominic, dan barang branded yang di pakai di tubuh gavin langsung membuat ketampanan standar pas-pasan milik Bagas tenggelam tanpa sisa.
."A-Aruna..." Inda membuka suara, suaranya agak bergetar karena syok sekaligus bingung.
"Ini... siapa? Katanya kamu pulang bareng Evan dan Ray? Kok... malah gandengan sama... mas ini?"
Bagas yang berada di samping Ibu Aruna berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak runtuh.
" aku disini Mah" ucap Evan yang menghampiri inda dan bersalaman.
" papah mana?" tanya evan mencairkan suasanya
" panggil papah gih di belakang" ucap inda dan evan langsung meninggalkan ruang tamu.
Bagas, Ia menatap Gavin dengan pandangan mata yang menyipit penuh permusuhan dan rasa minder yang ditutupi ego.
"Sore, Mbak Aruna. Saya Bagas. Wah, rupanya Mbak Aruna pulang bawa... adik sepupu yang lain ya?"
Bagas sengaja menekankan kata 'adik sepupu' karena melihat wajah Gavin yang tampak jauh lebih muda.
Sebelum Aruna yang mendadak gugup sempat menjawab, Gavin sudah mengambil langkah serang terlebih dahulu. Dengan gerakan yang sangat jantan namun tetap sopan, Gavin melepaskan gandengan tangan Aruna, lalu maju satu langkah ke depan Inda sambil mengulas senyum ramah yang sangat memikat.
"Selamat sore, Tante. Perkenalkan, nama saya Gavin" ucap Gavin dengan suara beratnya yang terdengar sangat berwibawa, jauh dari kesan anak kuliahan yang malas. Ia mengulurkan tangan untuk menyalami Inda.
"Maaf kalau kedatangan saya mengejutkan Tante. Saya ke sini mau mengantar Aruna pulang, sekaligus mau memperkenalkan diri secara resmi sebagai kekasih Aruna."
Jedarrr!
Kalimat santai yang keluar dari mulut Gavin bagaikan petir di siang bolong bagi seisi ruangan tersebut. Inda sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena saking syoknya.
Suasana canggung di ruang tamu terasa begitu pekat saat mereka semua akhirnya duduk di sofa marmer beludru. Inda masih menatap Gavin dengan pandangan menyelidik, sementara Bagas si pria PNS terus-menerus membetulkan posisi jam tangannya untuk menutupi rasa minder.
Tepat saat gavin menyandarkan punggungnya dengan santai di sebelah Aruna, ponsel di saku jaket denimnya bergetar panjang. Gavin merogoh sakunya, membuka layar, dan mendapati sebuah pesan teks rahasia dari Dominic, kakaknya yang merupakan bos mafia dingin tersebut.
“Anak buahku melapor kamu baru saja masuk ke rumah keluarga target perjodohanku empat bulan lalu. Jangan mempermalukan nama keluarga kita di depan mas-mas PNS itu, Vin. Kalau kamu butuh bantuan untuk melenyapkan sainganmu malam ini dari rumah itu, katakan saja. Max sedang berjaga dua blok dari sana dengan tiga mobil. Gunakan otak bisnismu untuk menjinakkan ibunya. Tapi kalau cara halus gagal, biar cara bumiputera-ku yang bertindak. Selesaikan dengan cepat.”
Gavin hampir saja mendengus geli membaca pesan dari kakaknya yang selalu memiliki definisi "menyelesaikan masalah" secara ekstrem.
Garis darah mafia Dominic memang selalu condong pada aksi fisik yang cepat dan senyap. Gavin dengan cepat mengetik balasan singkat di bawah meja dengan satu tangan, menjaga agar senyum miringnya tidak terlalu kentara di depan Ibu Aruna.
“Santai, Kak. Nggak usah pakai kekerasan dulu. Masih bisa diatasi pakai taktik pesona berondong. Suruh Max beli kopi aja dulu di depan kompleks.”
Setelah mengunci ponselnya kembali, Gavin menegakkan tubuh. Ia sengaja menoleh ke arah Aruna, menatap syal sutra di leher wanita itu sambil melemparkan senyuman tipis yang membuat Aruna seketika merinding karena tahu Gavin pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar setelah menerima pesan tersebut.
***