NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Tamat
Popularitas:714.9k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. KEGAGALAN

Langit sore di atas Kerajaan Aurelius perlahan berubah keemasan ketika Elara Ravens melangkah keluar dari gerbang Akademi Kesatria.

Biasanya, selepas pelajaran, ia akan berjalan pulang menyusuri jalan batu menuju Kediaman Duke Ravens yang menjulang anggun di distrik bangsawan. Biasanya, ia akan mengatur napasnya, mengulang teknik di kepala, atau memersiapkan diri menghadapi tatapan para pelayan yang selalu terlalu hormat dan terlalu berhati-hati.

Namun hari ini, langkah sang gadis tidak mengarah ke rumah. Kakinya berbelok menuruni jalan besar yang ramai, menuju jantung ibu kota.

Elara tidak ingin pulang lalu melihat wajah Papa yang tenang namun penuh kasih. Tidak ingin melihat Mama yang mungkin akan menatapnya dengan lembut dan itu justru lebih menyakitkan.

Elara bahkan belum mau melihat Evan dengan seragam resminya yang segera akan menerima pengangkatan sebagai kesatria kerajaan. Terutama setelah pertengkaran mereka tadi.

Gadis itu bahkan tidak tahu harus berkata apa jika mereka bertanya. Mungkin Elara sedang tidak ingin mendengar apa pun tentang dirinya.

Angin sore menyibakkan rambut hitam Elara. Pasar mulai ramai oleh pedagang yang menyalakan lentera. Aroma roti hangat, sup kaldu, dan daging panggang bercampur di udara.

Langkah Elara akhirnya berhenti di depan bangunan kayu dua lantai yang tidak mewah, namun hangat.

Papan kayunya bertuliskan: 'Kuali Besi Berderak.'

Tempat makan sederhana yang sudah ia datangi sejak beberapa tahun lalu, tanpa pengawalan, tanpa identitas sebagai putri Duke, hanya sebagai Elara. Walau semua orang tahu Elara adalah putri Duke, tapi di sini semua orang melihat Elara hanyalah seorang gadis biasa.

Elara mendorong pintu.

Bel kecil di atasnya berdenting.

Suasana di dalam riuh oleh tawa dan dentingan cangkir kayu. Bau daging panggang langsung menyambutnya seperti pelukan hangat.

Beberapa pelanggan mengenalinya, menyambut Elara dengan suka cita seperti teman dekat.

Itulah yang Elara suka.

Gadis itu duduk di meja pojok dekat jendela.

"Seperti biasa!" seru Elara pada pelayan muda yang berlari kecil menghampirinya.

Tak lama kemudian, sepiring besar daging panggang dengan kentang rebus dan roti hangat diletakkan di hadapannya.

Elara menatap makanan itu. Uapnya mengepul. Aromanya menggoda.

Namun Elara hanya menusuknya pelan dengan garpu kayu.

Pikirannya kembali pada kejadian di akademi.

Skorsing.

Pertandingan ranking.

Tatapan kecewa Kepala Akademi.

Dan wajah Evan.

Elara memejamkan mata sesaat. Ia tahu Evan tidak bersalah. Ia tahu kembarannya itu hanya khawatir. Namun kata-kata Evan tadi terasa seperti penghakiman.

Kenapa kau harus melakukan semuanya dengan kekerasan?

Karena aku lelah. Karena aku selalu kalah. Karena aku tidak pernah cukup, batin Elara.

Elara menelan ludah.

Dan untuk kini rasa bersalah menyelinap pelan di antara amarahnya. Ia tidak seharusnya melampiaskan emosinya pada Evan.

Evan tidak pernah menganggap Elara demikian. Justru dunia lah yang melakukannya.

"Elara Ravens!"

Sebuah pukulan keras mendarat di punggungnya.

"AGH!" Elara tersedak hampir menjatuhkan garpunya.

Elara berbalik dengan wajah meringis.

Seorang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut cokelat kemerahan yang digelung sembarangan berdiri di belakangnya, tangan bertolak pinggang dan senyum lebar menghiasi wajahnya. Matanya tajam seperti elang, namun penuh kehidupan.

Namanya Mirena Valen. Namun Elara memanggilnya Bibi Mirena, sang pemilik tempat makan ini.

"Kenapa kau memasang wajah murung seperti itu, Tuan Putri?" seru Mirena penuh semangat.

Elara memijat punggungnya. "Agh, Bibi! Kau itu pemilik bar atau tukang pukul sebenarnya? Kenapa pukulanmu selalu terasa sampai ke tulang?"

Mirena tertawa keras, suara tawanya memenuhi ruangan.

"Itu karena kau kurang makan! Ototmu tidak ada! Makan banyak daging! Baru bisa kuat! Lihat ini!" Mirena menepuk lengannya sendiri yang kekar.

Elara menghela napas panjang. Namun tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.

Senyum pertama Elara hari ini.

Mirena memerhatikannya dengan mata menyipit. "Nah, itu baru wajah Elara yang kukenal. Sekarang katakan, kenapa kau yang biasa tidak diam kini wajahnya ditekuk seperti roti basi?"

Elara mendelik. "Kau membuatku terdengar seolah aku biang keributan di sini, Bibi."

Mirena menyeringai. "Bukankah memang seperti itu?"

Beberapa pelanggan tertawa kecil mengejek Elara.

Elara menatap para pelanggan yang justru semakin tertawa. "Diam kalian!"

Mirena duduk di hadapannya tanpa izin. "Jadi, apa yang terjadi? Biasanya kau datang kemari dengan cerita tentang duel yang hampir kau menangkan atau bagaimana kau mengalahkan pria dua kali ukuranmu."

Elara terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, "Aku diskors."

Mirena membelalak. "Kau apa?"

"Diskors," ulang Elara.

"Kenapa? Bukankah tiga hari lagi ada ujian kenaikan ranking?" tanya Mirena.

Elara menusuk dagingnya lagi, tapi tak benar-benar memakannya. "Aku memukuli seniorku."

Mirena mengangguk pelan. "Bukankah itu sudah biasa."

Elara menatap Mirena dengan air muka protes. "Dan aku juga memukul seorang guru," tambahnya.

Hening.

Beberapa detik yang terasa panjang.

Lalu Mirena tertawa keras hingga hampir terjatuh dari kursinya.

"Benar-benar seperti dirimu!"

"Bibi!" Elara mendesis malu.

Mirena menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. "Biar kutebak. Mereka meremehkanmu lagi?"

Elara mengangguk pelan. "Dan kali ini mereka membawa-bawa soal ibuku."

Senyum Mirena perlahan memudar. Wajahnya berubah serius. Tangannya terlipat di dada.

"Oh. Kalau begitu kau tidak salah memukul mereka," kata Mirena pelan namun tegas,

Elara terkejut.

"Jika aku di sana, aku juga akan memukul mereka. Tidak peduli itu guru sekali pun," lanjut Mirena.

Beberapa pelanggan yang mendengar mengangguk setuju.

"Bukan soal mereka meremehkanmu saja. Tapi mereka berani mengungkit Duchess Liora Ravens. Salah satu pahlawan kerajaan ini," kata Mirena.

Elara menunduk. Dadanya terasa hangat sekaligus berat.

"Tapi tetap saja aku diskors," ucap Elara.

Mirena mendecak pelan. "Elara."

"Bibi, bagaimana jika aku berhenti saja menjadi kesatria? Kepala Akademi mengatakan secara tidak langsung aku tidak pantas jadi kesatria," kata Elara.

"Kau salah makan hari ini? Sejak kapan kau jadi pesimis seperti ini?" Mirena memasang wajah terkejut.

Elara mengangkat bahu lemah. "Mungkin aku memang tidak cocok. Staminaku lemah. Aku selalu kalah kalau melawan lebih dari tiga orang. Semua orang membandingkanku dengan Evan. Kurasa aku jadi pemilik bar sepertimu saja," katanya setengah bercanda.

Mirena mendengus keras. "Kalau begitu kurasa aku harus menjejalkan seluruh panggangan dagingku ke mulutmu sampai kau sadar."

Elara terkekeh.

"Menyerah bukan seperti dirimu. Bukankah kau yang berdiri di atas meja ini setahun lalu dan berteriak bahwa kau akan menjadi kesatria terhebat sepanjang masa?" lanjut Mirena.

Wajah Elara langsung memerah. "Bibi! Jangan ingatkan kejadian memalukan itu!"

Pelanggan di meja sebelah ikut tertawa.

Mirena tertawa lagi dan memukul punggung Elara sekali lagi.

"AGH! Bibi!" protes sang gadis.

"Kalau kau menyerah, aku akan benar-benar memukulmu sampai sadar! Menyerah bukan gayamu, Tun Putri!" kata Mirena.

Elara tertawa. Tawa yang lebih tulus dari sebelumnya.

Untuk sesaat, beban di dadanya terasa lebih ringan.

Namun sebuah getaran aneh menjalar di lantai kayu.

Elara mengerutkan kening. "Apa itu?"

Gelas-gelas di rak mulai bergetar.

Lentera bergoyang.

DUARR!!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan.

Dinding kayu hancur. Kaca jendela pecah berkeping-keping.

Elara tidak sempat berpikir. Tubuhnya terlempar ke belakang. Dunia berputar dalam sekejap.

Suara kayu patah, jeritan orang, dan debu memenuhi udara.

Lalu gelap.

Beberapa detik atau menit kemudian.

Elara membuka mata perlahan, tubuhnya terasa berat.

Debu mengaburkan pandangan gadis itu.

Elara menyadari dirinya tergeletak di lantai, tertimpa meja yang pecah dan serpihan dinding.

Sakit menjalar di seluruh tubuh Elara ketika ia mencoba bergerak

"Bibi?" suara Elara serak ketika melihat Mirena tak jauh darinya

Gadis itu memaksakan diri mengangkat meja yang menindihnya. Dengan susah payah, ia merangkak keluar.

Elara mendapati Mirena tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala berlumur darah.

"Bibi?!"

Elara merangkak mendekat.

Namun sebelum ia sempat menyentuh Mirena ... bayangan besar menutupi cahaya senja.

Tanah kembali bergetar.

Elara menoleh perlahan.

Dan napasnya terhenti ketika netranya menatap yang tidak pernah ia sangka.

Sosok raksasa berdiri di tengah reruntuhan bar. Tubuhnya menjulang lebih tinggi dari bangunan dua lantai yang kini setengah hancur. Kulitnya kelabu seperti batu, dengan retakan merah menyala di sela-selanya. Mata kuningnya menyala buas. Taring panjang menyembul dari rahangnya.

Monster.

Bukan sekedar binatang liar. Ini makhluk kelas tinggi. Sesuatu yang biasanya hanya muncul di perbatasan kerajaan, bukannya di tengah ibu kota.

Elara melangkah maju. Setiap langkahnya menghancurkan batu dan kayu di bawahnya.

Elara membelalak. Tubuhnya gemetar, namun bukan karena takut tapi karena ia tahu keadaan terburuknya.

Gadis itu sedang diskors. Ia dilarang bertarung apalagi membawa pedang, bahkan bukan kesatria resmi.

Namun di belakang Elara, Mirena tak sadarkan diri. Dan di sekitar, orang-orang berteriak ketakutan.

Darah Ravens mengalir panas di nadi Elara. Staminanya mungkin lemah. Rankingnya mungkin rendah, namun ia tetap putri Duke Alaric Ravens.

Elara perlahan berdiri.

Tangan Elara gemetar, tapi ia menggenggam pecahan kayu panjang seperti tombak darurat. Matanya menatap monster itu tanpa berkedip.

"Kalau kau ingin menghancurkan tempat ini, kau harus melewatiku dulu," ujar Elara

Angin berhembus membawa debu dan bau asap.

Dan monster itu mengaum.

Suara yang mengguncang sisa-sisa dinding. Bersama Elara yang berada di sana.

1
Ari Yani
bagus banget
SunShine Kinanti
kangen dia😄😍🤣
Ray Aza
pas korban pertama elara lg duel sm leonhart alibi sgt kuat
Wisnu Mahendra
jaman kerajaan kok manggil papa mama? lebih pantas ayah ibu, atau ayahanda bunda
mooociii
ini termasuk novel keren yg gue baca,
mooociii
kok edgar bisa mati
SunShine Kinanti
wooo... Lilolaa pastiii iniiii
SunShine Kinanti
kenapa dadaku yang sesak Othor??? 😭😭😭😭
Syalari sholeh
"Liora"
Syalari sholeh
gak habis²,huh
mooociii
la kan bisa sihir ngapain beli, tar jg balik gede lagi bu daria 🤣
SunShine Kinanti
apa Edgar ya???
SunShine Kinanti
yaa ampuunn kenapa ikutan haru dan banggaa 😍😍😍😍😍
SunShine Kinanti
Ksatria Ravens kah?? waaahhh... reunii niihh.. Duke Arram sama Duke Alaric
SunShine Kinanti
Senior Edgar kemana ya??
SunShine Kinanti
maksudnya Yang "Mulia" ya Thor?
Siska Sasmita
Keseluruhan ceritaa sangat sangat baguss, mendetail , bahasa nya yg di gunakan pun pass.. tidak kaku, tidak membosankan.. berasa sedang di tempat kejadian.. baca nya sambil deg degan wkwk.. keren bgt❤️
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Alejandra
👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Bela Viona
duh bnyak banget teka teki nya ?
di antara para senior dan teman.
mana yg musuh dalam selimut ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!