Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghadapi Badai Bersama
Malam itu, setelah kepergian Clarissa, aku dan Aldo tidak langsung beranjak pulang. Kami masih duduk diam di pojok kafe Senjakala hingga jarum jam hampir menunjuk pukul sembilan malam, hanya berdua di tengah keramaian yang mulai menipis. Sesekali Rendra, pemilik kafe itu, melirik ke arah kami dari balik meja kasir—tatapannya penuh rasa ingin tahu namun disertai kekhawatiran yang halus, seolah ia ingin mendekat namun enggan mengganggu keheningan kami.
Di sela‑sela hening itu, aku bercerita panjang lebar mengenai apa yang kurasakan saat Clarissa melontarkan tuduhannya. Aku mengaku, saat itu aku sama sekali tidak terkejut karena merasa dikhianati atau curiga pada Aldo, melainkan terkejut karena mendapati betapa tidak masuk akalnya klaim yang disampaikan wanita itu.
“Aku langsung teringat perkataanmu waktu itu,” ujarku sambil memainkan gagang sendok kecil di atas meja, menatap cairan teh yang sudah mulai dingin di dalam cangkir. “Kamu pernah bilang kalau hubungan kalian sudah berakhir lebih dari setahun yang lalu. Jadi begitu Clarissa menyebutkan usia kandungannya baru empat minggu, aku langsung tahu—itu tidak mungkin benar.”
Aldo menatapku lekat‑lekat, sorot matanya menyelami ke dalam mataku. “Dan kamu sama sekali tidak ragu padaku?”
“Tidak,” jawabku tegas tanpa berkedip.
“Bahkan sedikit pun tidak?” desaknya lagi, seolah ingin memastikan hal itu benar‑benar nyata.
Aku membalas tatapannya dengan tenang namun penuh keyakinan. “Aldo, sejak hari pertama kita saling mengenal, kau selalu bicara apa adanya dan terbuka padaku. Lalu untuk apa aku harus ragu atau curiga?”
Aldo tersenyum—senyum yang melegakan hati, yang membuat garis‑garis halus di sudut matanya tampak lebih lembut dan hangat dari biasanya. “Kamu sungguh berbeda, Tari. Berbeda dari siapa pun yang pernah kukenal.”
“Berbeda bagaimana?” tanyaku penasaran.
“Berbeda dalam cara kamu mempercayai orang lain,” jawabnya perlahan. “Reza… kakakku itu, dia tidak pernah mau percaya padaku. Dulu, setiap kali aku berkata jujur bahwa aku tidak melakukan sesuatu yang dituduhkan padaku, dia selalu saja curiga dan meragukanku. Padahal aku adik kandungnya sendiri.”
“Reza memang berbeda,” kataku pelan.
“Ya… Reza berbeda.” Aldo menghela napas panjang, membiarkan pandangannya melayang ke arah jendela kaca yang masih dibasahi sisa gerimis. “Dia tumbuh besar di lingkungan yang mengajarkannya bahwa dunia ini penuh dengan orang‑orang yang hanya ingin menjatuhkannya. Sejak kecil dia selalu merasa harus bersiap bertahan, selalu mencurigai orang lain, dan pada akhirnya… dia selalu hidup sendirian di tengah keramaian.”
Aku terdiam sejenak. Tak pernah sekalipun terlintas di benakku bahwa Reza—yang dulu sering membuatku merasa lelah dan kesal karena sikapnya yang terlalu posesif dan keras kepala—mungkin sebenarnya juga merupakan korban dari keadaan dan lingkungan tempat ia dibesarkan.
“Jangan salah paham, aku tidak bermaksud membelanya,” kata Aldo secepat kilat, seolah ia bisa membaca apa yang sedang berputar di dalam kepalaku. “Aku hanya… berusaha memahami sisi lain dirinya. Sebab jika aku tidak mencoba mengerti, aku takut akan tumbuh rasa benci di hati ini selamanya.”
“Dan kamu tidak ingin membenci kakakmu sendiri, bukan?” tanyaku lembut.
Aldo menggeleng pelan. “Dia tetaplah kakakku. Darah dagingku. Aku boleh merasa kecewa dan sakit hati atas segala perbuatannya, tapi aku sama sekali tidak sanggup membencinya seumur hidup.”
Aku meraih tangannya yang tergeletak di atas meja, menggenggamnya erat untuk memberikan kekuatan. “Kamu sungguh berhati mulia, Aldo.”
Dia tersenyum tipis namun sendu. “Aku tidak sebaik itu, Tari. Aku hanya sudah merasa lelah. Lelah terus‑menerus merasa marah, lelah selalu kecewa, lelah hidup dalam pertentangan dan bermusuhan dengan keluarga sendiri.”
“Namun meski begitu, kamu tetap berusaha menjembatani semuanya,” sahutku.
“Ya… aku tetap berusaha. Sebab apa lagi yang bisa kulakukan selain berusaha memperbaiki keadaan?” jawabnya pelan.
Kembali keheningan menyelimuti kami, hanya terdengar suara rintik hujan di luar yang mulai makin redup, bercampur dengan bunyi gesekan alat pembersih yang dilakukan Rendra saat membereskan sisa‑sisa peralatan kopi di belakang meja.
“Aldo…” panggilku akhirnya, memecah keheningan itu.
“Iya?”
“Besok… kita harus berbicara langsung dengan Reza.”
Aldo menatapku dengan pandangan penuh tanya. “Kamu yakin kita harus melakukan itu?”
“Aku yakin,” jawabku mantap. “Memang Clarissa berjanji akan bicara jujur pada Reza, tapi aku tidak percaya dia sanggup melakukannya sendirian. Dia terlalu ketakutan, dan dia punya alasan kuat untuk merasa takut. Kamu sendiri tahu betapa sulitnya menebak apa yang ada di pikiran Reza.”
Aldo menghela napas panjang, lalu mengangguk setuju. “Kamu benar. Kita memang harus bicara langsung dengannya. Tapi biarkan hal itu dilakukan besok saja, bukan malam ini. Kita butuh waktu untuk menenangkan diri.”
“Besok, ya?”
“Ya, besok pagi. Aku akan menjemputmu tepat pukul sepuluh. Kita akan pergi ke rumah orangtuaku di Ciputat. Biasanya Reza sering ke sana saat hatinya sedang kacau atau sedang dilanda stres berat—pasti dia ada di sana.”
“Dan kamu yakin dia mau mendengarkan kita?” tanyaku sedikit ragu.
Aldo tersenyum tipis—senyum yang kali ini belum sepenuhnya sampai ke matanya. “Dia mungkin tidak mau, tapi dia tidak punya pilihan lain selain mendengar kebenaran.”
***
Keesokan harinya, tepat pukul sepuluh pagi, Aldo sudah tiba di depan kamar kosku untuk menjemput.
Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disetrika rapi dan bersih—berpenampilan sopan dan resmi persis seperti saat ia pertama kali menghadap ibunya di restoran tempo hari. Namun ada perbedaan yang jelas terlihat pagi ini: wajahnya tidak lagi setegang dan sekaku dulu. Di balik kacamata yang bertengger di hidungnya, terlihat sorot mata yang penuh tekad, seolah ia sudah menyiapkan hatinya sekuat tenaga untuk menghadapi apa pun yang mungkin akan terjadi.
“Kamu sudah siap?” tanyanya saat aku keluar menemuinya.
“Belum sepenuhnya siap, sejujurnya,” jawabku jujur sambil mengunci pintu. “Tapi rasanya aku juga tidak punya pilihan lain selain ikut bersamamu.”
Aldo tersenyum kecil, kali ini terasa lebih hangat. “Kita sama‑sama berada di posisi yang sama, Tari. Ayo kita berangkat.”
Kendaraan pun melaju meninggalkan kawasan kosan menuju rumah orangtua Aldo di Ciputat. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak mengucapkan kata‑kata. Sesekali Aldo meraih tanganku yang ada di pangkuan, sesekali menepuk bahuku perlahan—isyarat sederhana namun cukup berarti, memberitahuku bahwa ia ada di sampingku dan tidak akan pernah pergi ke mana pun.
Sesampainya di sana, rumah orangtua Aldo tampak megah dan tenang di tengah lingkungan perumahan elit. Bangunannya berdesain minimalis modern dengan dinding berwarna putih bersih dan jendela kaca berukuran besar yang membiarkan cahaya matahari masuk dengan bebas. Halaman depannya cukup luas, tertata rapi dengan tanaman‑tanaman hias dan sebuah kolam kecil berair mancur di bagian tengah. Di garasi terparkir dua kendaraan: satu mobil jenis SUV berwarna hitam—milik Reza—dan satu lagi sedan berwarna perak milik kedua orangtua Aldo.
Aldo memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar, lalu mematikan mesin perlahan. Ia menoleh sepenuhnya ke arahku, menatap mataku dalam‑dalam.
“Tari, apa pun yang akan terjadi di dalam rumah nanti, ingatlah satu hal yang paling penting.”
“Apa itu, Aldo?”
“Aku sangat menyayangimu. Dan tak ada satu pun hal atau orang di dunia ini yang sanggup mengubah perasaan itu.”
Aku mengangguk pelan, berusaha membalas senyumnya meski tanganku terasa sedikit gemetar menahan gugup. “Aku pun sama… aku sangat menyayangimu, Aldo.”
Kami turun dari mobil serentak, lalu berjalan beriringan menuju pintu utama. Sepanjang jalan, tangan Aldo tetap menggenggam tanganku dengan erat—sebagai janji diam‑diam bahwa ia tidak akan melepaskanku, seberat apa pun badai yang harus kami hadapi bersama di dalam sana.
Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan sejuk, kulihat semua orang sudah berkumpul di sana.
Bu Dewi duduk di kursi utama berupa sofa beludru berwarna merah tua yang tampak mewah dan mahal. Wajahnya tampak tegang, kelopak matanya bengkak dan kemerahan—jelas terlihat bahwa beliau baru saja selesai menangis. Di sebelahnya, Pak Bambang—ayah Aldo—duduk bersandar diam dengan kedua tangan disilangkan di dada, wajahnya datar dan sulit sekali dibaca perasaannya.
Di hadapan mereka, di kursi anyaman bambu yang biasa disediakan untuk tamu, duduklah Reza. Wajahnya tampak pucat pasi, pandangannya kosong dan sayu seolah kehilangan semangat hidup. Di sebelahnya, Clarissa duduk dengan gelisah, tangannya gemetar hebat sambil terus mencengkeram tali tas selempangnya seakan itu satu‑satunya penopang yang ia miliki.
Belum ada sepatah kata pun yang terucap. Suasana di ruangan itu terasa berat, persis seperti seutas karet yang ditarik hingga batas maksimal kekuatannya—siap putus dan pecah kapan saja jika ada sedikit saja tekanan tambahan.
“Silakan duduk,” ucap Bu Dewi, suaranya terdengar serak dan berat.
Aku dan Aldo pun duduk di tempat yang tersedia—tepat di sebelah Pak Bambang, berhadapan langsung dengan Reza dan Clarissa.
Bu Dewi menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Aldo, Tari… Clarissa sudah bercerita semuanya kepada kami. Mulai dari rencana licik Reza yang memanfaatkan keadaannya, kebohongan soal kehamilan palsu yang dikaitkan padamu, hingga segala hal yang melatarbelakanginya.”
“Semuanya?” tanya Aldo memastikan, suaranya tenang namun tajam.
“Semuanya,” jawab Bu Dewi tegas. Ia lalu mengalihkan pandangannya tajam ke arah Reza. “Semua tentang rencana buruk Kakakmu itu sudah kami ketahui.”
Kalimat itu seakan mematahkan ketegaran Reza. Ia menunduk dalam, bahunya mulai bergetar.
“Aku… aku minta maaf,” ucap Reza, suaranya parau dan pecah. “Aku minta maaf padamu, Aldo… padamu juga, Tari… pada Ibu, pada Ayah… dan padamu, Clarissa. Aku sungguh menyesal.”
Ruangan itu kembali sunyi senyap. Aldo diam saja, aku pun tak berani bersuara, sementara Clarissa hanya menunduk dalam‑dalam menyembunyikan wajahnya.
“Reza…” suara berat Pak Bambang memecah keheningan, menatap tajam ke arah anak sulungnya. “Apa yang telah kamu lakukan itu sungguh tidak pantas dimaafkan begitu saja. Kamu dengan sengaja memanipulasi Clarissa, memanfaatkan kehamilannya demi keuntunganmu sendiri, bahkan berani merencanakan hal yang bisa menghancurkan masa depan adik kandungmu sendiri.”
“Aku tahu semuanya salah, Yah… aku sadar betul,” jawab Reza lirih.
“Kamu tahu itu salah, tapi kamu tetap melakukannya juga,” potong Pak Bambang dengan nada kecewa yang mendalam.
Reza tidak berani menjawab apa‑apa, hanya menundukkan kepalanya makin rendah.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku yang paling penting,” lanjut Pak Bambang. “Kenapa, Nak? Kenapa kamu sampai melakukan hal seburuk ini pada keluargamu sendiri?”
Perlahan Reza mengangkat wajahnya. Matanya sudah merah dan basah berlinang air mata.
“Karena aku… aku tidak sanggup menerima kenyataan itu,” ucapnya terhenyak, suaranya terdengar pilu. “Aku tidak bisa menerima bahwa Tari justru memilih Aldo, bukan aku. Aku tidak terima jika Aldo dianggap lebih baik, lebih beruntung, dan lebih hebat dariku. Aku tidak terima kenyataan bahwa aku… aku merasa gagal dalam segala hal.”
“Kamu merasa gagal karena kamu sendiri yang tidak pernah mau berubah dan memperbaiki diri!” bentak Pak Bambang, suaranya menggema memenuhi ruangan. “Kamu gagal karena terlalu angkuh untuk mengakui kesalahanmu sendiri! Kamu gagal karena kamu lebih suka menghabiskan waktumu untuk berusaha menjatuhkan orang lain, padahal seharusnya kamu berjuang membangun masa depanmu sendiri!”
Reza pun akhirnya menangis—bukan tangis pelan yang ditahan‑tahan, melainkan tangis yang meledak keluar dari lubuk hati yang paling dalam, menumpahkan segala rasa sakit, iri, dan ketidakberdayaan yang selama ini dipendamnya sendirian.
“Maaf… ampuni aku… aku minta maaf…” isaknya berulang kali tanpa daya.
Pak Bambang menghela napas panjang, berusaha meredakan emosinya. Ia lalu menoleh ke arah Clarissa yang masih gemetar ketakutan.
“Clarissa, apakah benar kamu sedang mengandung anak?” tanyanya lembut namun serius.
Clarissa mengangguk pelan, suaranya bergetar hebat saat menjawab. “Benar, Pak… usia kandunganku sekitar empat minggu. Tapi ayah dari anak ini… sama sekali bukan Aldo.”
“Melainkan Reza,” lanjut Pak Bambang menyelesaikan kalimat itu dengan nada pasti.
Clarissa kembali mengangguk tanda setuju.
Pak Bambang memejamkan matanya sejenak, seolah beban berat tiba‑tiba saja menimpa pundaknya. Kedua tangannya yang tadi bersilang di dada kini terkulai lemas di atas pangkuan.
“Reza…” panggilnya lagi, kali ini suaranya jauh lebih lembut namun tetap tegas. “Anak ini ada dalam kandungan Clarissa karena perbuatanmu sendiri. Kamu wajib bertanggung jawab—baik secara hati nurani maupun secara nafkah dan kehidupan. Kamu harus menikahi wanita itu.”
“Yah…” seru Reza terkejut namun tak berdaya.
“Tak ada kata lain selain bertanggung jawab,” potong Pak Bambang. “Kamu harus menikahinya dan menjadi ayah yang baik serta suami yang bertanggung jawab bagi anak dan istrimu kelak.”
Suasana kembali hening. Reza menatap wajah Clarissa—wanita yang dulu ia jadikan alat, namun kini menjadi bagian tak terpisahkan dari nasibnya ke depan. Clarissa pun membalas tatapannya dengan mata yang masih basah namun penuh harap.
“Aku… aku bersedia, Yah,” kata Reza akhirnya dengan suara yang parau namun mantap. “Aku bersedia bertanggung jawab atas semuanya.”
“Kamu yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Pak Bambang memastikan sekali lagi.
“Aku yakin, Yah. Ini memang kewajibanku,” jawab Reza tegas.
Pak Bambang mengangguk puas. “Bagus. Nanti kita bicarakan segala hal rinci mengenai rencana pernikahan dan persiapannya. Tapi untuk saat ini…”
Ia lalu menoleh sepenuhnya ke arah Aldo.
“Nak Aldo… Ayah minta maaf padamu.”
Aldo tampak terkejut mendengarnya. “Yah… Ayah tidak perlu—”
“Ayah perlu meminta maaf, Nak,” potong Pak Bambang lembut namun sungguh‑sungguh. “Ayah minta maaf karena tidak mampu menjagamu dan melindungimu dari segala kesulitan ini. Ayah minta maaf karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan hingga tidak sadar bahwa kakakmu perlahan hancur dan berubah menjadi begini.” Ia menatap Aldo dengan pandangan yang penuh penyesalan. “Dan yang paling penting… Ayah minta maaf karena selama ini jarang sekali mengungkapkan betapa bangganya Ayah memilikimu sebagai anak.”
Aldo menundukkan kepalanya. Di sudut matanya, mulai tampak butiran air mata yang berusaha ditahannya. Bahunya terlihat bergetar halus—tanda bahwa ia pun tak sanggup lagi menahan perasaannya.
“Yah…” suaranya bergetar saat menjawab. “Ayah sama sekali tidak perlu minta maaf. Ayah sudah berusaha melakukan yang terbaik bagi kami berdua.”
“Bagi Ayah, permintaan maaf ini tetap perlu disampaikan,” jawab Pak Bambang lembut. Ia lalu berdiri, berjalan mendekati Aldo, dan memeluk anaknya itu dengan erat dan hangat—seperti pelukan yang sudah tertunda terlalu lama.
Saat itulah Aldo menangis sejadi‑jadinya di dalam pelukan ayahnya. Selama ini aku selalu melihatnya sebagai sosok yang tenang, terkendali, kuat bagaikan benteng yang tak mudah runtuh. Namun kini, di dalam pelukan ayahnya, ia tampak kembali menjadi anak kecil yang sudah terlalu lama menahan segala kesedihan dan kesendiriannya sendirian.
“Maafkan aku ya, Yah…” isak Aldo tersedu. “Maaf kalau selama ini aku belum pernah menjadi anak yang membanggakan Ayah.”
“Kamu adalah anak yang paling baik dan paling berhati mulia, Aldo,” bisik Pak Bambang sambil terus mengusap lembut rambut anaknya. “Kamu selalu menjadi kebanggaan Ayah, hanya saja Ayah yang bodoh karena jarang sekali mengatakannya secara terang‑terangan.”
Di sudut ruangan, Bu Dewi ikut menangis haru. Clarissa menunduk diam sambil menyeka air matanya sendiri. Sedangkan Reza hanya duduk terdiam, menatap lantai tanpa berani mengangkat wajah—mungkin sedang merenungi betapa beruntungnya adiknya memiliki kasih sayang yang begitu besar, sekaligus menyadari betapa jauh ia tertinggal di belakang.
Aku hanya bisa duduk diam di sana, menggenggam tangan Aldo yang masih terasa hangat, merasakan dadaku sesak oleh luapan emosi yang berdesak‑desakan—campuran rasa haru, lega, dan bahagia melihat kebenaran akhirnya terungkap dan damai mulai terjalin kembali.
***
Kira‑kira satu jam berlalu, perlahan namun pasti segala emosi yang memuncak itu mulai mereda dan tenang kembali.
Bu Dewi mengusap sisa air matanya dengan ujung sapu tangan halus. Pak Bambang kembali duduk di tempatnya semula, meski sorot matanya masih tampak merah bekas tangisan. Aldo kembali duduk di sampingku, tangannya masih menggenggam tanganku erat—meski sedikit masih terasa bergetar tanda ia belum sepenuhnya pulih dari perasaannya.
“Reza…” panggil Bu Dewi lembut namun tegas.
Reza mengangkat wajahnya yang masih basah. “Iya, Bu?”
“Ibu sangat kecewa padamu, Nak. Sangat‑sangat kecewa dan sedih atas apa yang telah kamu perbuat,” ujar Bu Dewi menatapnya lekat. “Namun apa pun yang terjadi, kamu tetaplah anak kandung Ibu, darah daging Ibu sendiri. Dan Ibu akan tetap mencintaimu apa adanya.”
“Maafkan aku, Bu…” gumam Reza lirih.
“Namun ingatlah baik‑baik,” lanjut Bu Dewi dengan nada yang tegas, “kasih sayang kami tidak berarti kami akan membiarkanmu terus berbuat kesalahan yang sama berulang kali. Mulai hari ini kamu harus bertanggung jawab penuh atas Clarissa dan anak yang ada dalam kandungannya. Kamu harus menikahinya, kamu harus menjaganya, dan kelak kamu harus menjadi ayah yang bijaksana bagi anakmu.”
“Aku berjanji akan melakukan semuanya dengan baik, Bu. Aku janji,” jawab Reza mantap.
Bu Dewi mengangguk puas. Ia lalu berbalik menatapku dengan pandangan yang jauh lebih lembut dan bersahabat dibandingkan saat pertama kali kami bertemu dulu.
“Nak Tari…”
Aku agak terkejut dipanggil begitu. “Iya, Bu?”
Bu Dewi bangkit berdiri, berjalan mendekatiku hingga jarak kami cukup dekat, lalu berjongkok tepat di depanku agar wajah kami sejajar.
“Saya minta maaf padamu, Nak,” katanya dengan suara yang lembut namun penuh penyesalan. “Dulu saya pernah menuduhmu seenaknya tanpa bukti yang jelas. Saya pernah menyalahkanmu atas segala masalah yang menimpa anak‑anak saya, padahal saya sama sekali tidak tahu apa‑apa yang sebenarnya terjadi.” Bu Dewi menundukkan kepalanya, air matanya kembali menetes jatuh. “Maafkan kesalahan saya ya, Nak.”
“Bu Dewi…” sahutku lembut sambil segera meraih kedua tangan beliau dan menggenggamnya tulus. “Saya sama sekali tidak menyimpan rasa marah pada Ibu. Memang saya pernah merasa kecewa dan sedih saat itu, tapi rasa marah sudah lama hilang. Dan saya tidak pernah sekalipun menyalahkan Ibu atas segala hal yang terjadi.”
Bu Dewi mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang berbinar haru. “Kamu sungguh wanita yang berhati luas dan baik, Nak.”
“Saya hanya berusaha mengerti keadaan, Bu. Itu saja,” jawabku sambil tersenyum tulus.
Bu Dewi pun membalas senyumanku—senyum yang kali ini terasa begitu tulus dan damai, yang membuat seluruh ketegasan di wajahnya hilang berganti kelembutan seorang ibu. “Aldo sungguh beruntung sekali bisa mendapatkan wanita sebaik dan sebijaksana dirimu.”
“Saya juga yang merasa sangat beruntung karena dipilih dan dicintai oleh Aldo, Bu,” jawabku jujur.
Bu Dewi berdiri kembali, lalu menoleh ke arah Reza dan Clarissa. “Reza, antarlah Clarissa pulang ke rumahnya dengan selamat. Bicaralah baik‑baik dengannya, bicarakan masa depan kalian berdua dengan kepala dingin. Jangan pernah bersikap kasar atau marah‑marah lagi.”
“Siap, Bu. Aku akan lakukan seperti kata Ibu,” jawab Reza patuh.
Ia lalu berdiri, membantu Clarissa bangkit dari duduknya, dan keduanya berjalan keluar ruangan tanpa berani menatap kami satu per satu. Aku tidak tahu persis bagaimana kelanjutan hidup mereka berdua ke depannya, namun aku berharap keputusan ini menjadi awal yang baik bagi perubahan diri Reza dan kebahagiaan Clarissa serta anaknya.
Setelah kepergian mereka, hanya tersisa aku, Aldo, Bu Dewi, dan Pak Bambang di ruang tamu yang kini terasa hening namun damai.
“Tari…” panggil Bu Dewi lagi sambil menatapku ramah.
“Iya, Bu?”
“Kamu berkenan kan makan siang di sini bersama kami? Ibu sudah menyiapkan sop buntut—masakan kesukaan Aldo sejak kecil,” katanya dengan nada mengundang yang hangat.
Aku tersenyum bahagia. “Tentu saja mau, Bu. Terima kasih banyak atas kebaikannya.”
Bu Dewi tersenyum puas lalu beranjak menuju dapur untuk mempersiapkan hidangan. Pak Bambang pun berdiri, menepuk bahu Aldo dengan penuh kasih sayang.
“Nak, jagalah baik‑baik Tari. Jangan sampai ada hal buruk yang menimpanya karena kelalaianmu.”
“Aku berjanji akan menjaganya seumur hidupku, Yah. Aku berjanji,” jawab Aldo tegas.
Pak Bambang mengangguk puas lalu berjalan menuju ruang kerjanya, meninggalkan kami berdua sendirian sejenak di ruang tamu.
Aku menatap wajah Aldo lekat‑lekat. “Kamu baik‑baik saja?”
Aldo menghela napas panjang, lalu tersenyum lega—senyum yang paling lepas dan bahagia yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Aku merasa sangat lelah, sejujurnya… tapi jauh lebih banyak rasa lega yang ada di hati ini,” jawabnya lembut.
“Lega?” tanyaku penasaran.
“Ya… lega sekali,” jawabnya sambil menggenggam tanganku makin erat. “Segala rahasia, segala kebohongan, segala kesalahpahaman yang membebani hati kami sekeluarga akhirnya sudah terungkap semuanya. Tak ada lagi yang disembunyikan, tak ada lagi yang dipendam‑pendam sendirian.” Aldo menatap mataku dalam‑dalam, penuh harapan. “Dan sekarang… kita berdua bisa memulai hidup kita kembali.”
“Memulai kembali?” tanyaku sambil tersenyum.
“Ya… memulai kembali dari awal,” jawabnya mantap. “Tanpa beban masa lalu, tanpa rasa curiga, tanpa rasa bersalah. Hanya kita berdua, berjalan maju menuju masa depan yang cerah.”
Aku tersenyum bahagia sambil merapatkan diriku ke sisinya, merasa aman dan damai sepenuhnya.
“Aku sangat setuju dengan itu, Aldo. Mari kita mulai lagi… dan kali ini, kita akan melangkah berdua dengan lebih mantap dan bahagia.”