Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Keisya hanya bisa terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. Bahkan ia sampai menertawakan dirinya sendiri. Sepertinya ia memang sudah benar-benar kehilangan akal.
Malam itu persediaan mi instan di rumahnya sudah benar-benar habis. Tidak ada lagi pilihan selain keluar mencari makan. Dengan langkah santai ia menyusuri jalan tanpa tujuan yang jelas, sampai akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah taman yang dipenuhi deretan pedagang kaki lima.
Lampu-lampu kecil menghiasi setiap gerobak, aroma makanan bercampur dengan harum minuman manis memenuhi udara malam, sementara suara tawa para pengunjung bersahutan di berbagai penjuru.
Mata Keisya langsung berbinar.
Baginya, tempat itu benar-benar seperti surga kecil yang selama ini tidak pernah ia sadari keberadaannya. Jaraknya bahkan tidak terlalu jauh dari rumah. Entah mengapa baru malam ini ia menemukannya.
Suasananya sangat ramai. Para pedagang sibuk melayani pembeli, anak-anak berlarian, pasangan muda berjalan sambil menikmati camilan, dan sekelompok remaja bercanda tanpa henti di bangku taman. Keramaian seperti itu terasa begitu asing bagi Keisya.
Selama ini ia terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mengurung diri. Hidupnya hanya berkutat di antara empat dinding rumah, mi instan, dan pikiran-pikiran yang tidak pernah berhenti mengganggunya. Ia bahkan tidak pernah terpikir untuk mencoba jajanan kaki lima yang ternyata memiliki begitu banyak pilihan menarik.
Kalau dipikir-pikir, ia benar-benar menyia-nyiakan banyak kesempatan.
Malam ini berbeda.
Keisya memutuskan akan mencoba semua makanan yang menarik perhatiannya. Baik jajanan yang pernah ia kenal di kehidupan sebelumnya maupun makanan-makanan baru yang belum pernah sama sekali ia cicipi.
"Oke... jangan beli makanan berat kalau begini."
Senyum lebar terlukis di wajahnya. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri tanpa henti, memperhatikan setiap gerobak dengan penuh rasa penasaran.
"Eh... yang kayak awan itu apa? Kok yang bulat-bulat lucu banget? Lah... ini warnanya kayak cat, emang bisa dimakan? Terus ini namanya apa?"
Mulutnya terus berdecak kagum.
Setiap beberapa langkah, selalu ada makanan baru yang membuatnya berhenti. Tanpa sadar kedua tangannya mulai dipenuhi kantong plastik berisi berbagai macam jajanan. Ia benar-benar sedang mengalami fase lapar mata.
Ketika melewati salah satu gerai minuman, langkahnya kembali terhenti.
Matanya terpaku pada sebuah minuman berwarna lembut yang tampak cantik di dalam gelas bening. Remaja yang baru saja membelinya terlihat menikmati minuman itu dengan wajah puas.
"Eh... ini apa? Kok cantik banget warnanya?"
Tanpa berpikir panjang, Keisya langsung menghampiri penjual.
"Kak, mau satu."
Senyumnya yang manis membuat si penjual sempat kehilangan fokus.
"E-eh... mau rasa apa?"
Keisya berpikir sejenak.
"Vanila aja, Kak."
Tak lama kemudian segelas minuman dingin sudah berpindah ke tangannya.
Ia menatap semua kantong belanjaannya sambil tertawa kecil.
"Banyak juga, ya...."
Kini yang ia butuhkan hanyalah tempat duduk. Namun baru beberapa langkah mencari bangku kosong, sebuah suara memanggilnya.
"Eh, Cil? Kok lo di sini?"
Keisya menoleh.
Wajah dua remaja itu terasa tidak asing. Butuh beberapa detik sampai akhirnya ia mengingat mereka.
Bukankah mereka orang yang menolongnya saat hampir menjadi korban copet di angkringan waktu itu?
"Cal, Cil, Cal, Cil.... Dikira gue hewan kali, ya?"
Nada ketus Keisya langsung membuat kedua remaja itu saling berpandangan bingung.
"Hah? Hewan?"
"Iya. Kancil, kan?"
Sesaat suasana menjadi hening.
Lalu....
"Hahahaha!"
Keduanya justru tertawa keras.
Keisya langsung memasang wajah sebal.
"Jangan ketawa!"
"Aduh.... Cil itu bocil, woy. Bukan kancil."
Yang satu lagi ikut menimpali sambil masih menahan tawa.
"Lagian dibanding kancil, lo lebih mirip kucing garong."
"Lagi?"
Urat di pelipis Keisya terasa berkedut.
Karna kesal, ia memilih pergi. Namun baru satu langkah, pergelangan tangannya sudah ditarik.
"Dih, bocah pundungan. Mau ke mana?"
"Mau makan." Jawabannya pendek dan datar.
"Noh, bangku pada penuh. Mending gabung sama kita aja."
Keisya menoleh.
Seluruh bangku taman hampir terisi penuh. Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya ia mengangguk pelan.
Tanpa banyak bicara ia mengikuti kedua remaja itu menuju sebuah meja panjang dari semen yang berada di sisi taman.
Di sana sudah ada dua orang lain yang sedang menunggu.
Salah satu dari mereka tampaknya adalah orang yang paling dituakan di kelompok itu. Setelah mendengar penjelasan singkat dari kedua temannya, laki-laki tersebut hanya mengangguk lalu mempersilakan Keisya duduk.
Posisinya tepat berhadapan dengan si manusia tengil yang sejak tadi memanggilnya bocil. Sementara temannya duduk di sisi meja yang lain.
"Eh, Cil. Nama lo siapa?"
Keisya langsung mendengus.
"Stop panggil gue bocil. Nama gue Keisya."
Sambil menjawab ia mulai mengeluarkan satu per satu kantong plastik dari pergelangan tangannya.
Pemandangan itu membuat empat orang di hadapannya saling berpandangan.
Entah kenapa tingkah Keisya benar-benar mengingatkan mereka pada anak kecil yang baru pertama kali diajak ke pasar malam.
Seseorang yang duduk di sisi kirinya akhirnya membuka percakapan.
"Gue Reno."
Ia menunjuk pemuda yang duduk di sebelah kanan Keisya.
"Itu Gabriel. Panggil aja Riel."
Keisya menoleh.
Riel hanya menatapnya datar tanpa ekspresi sedikit pun. Wajahnya dingin, membuat Keisya jadi sedikit canggung.
Reno kembali melanjutkan.
"Yang sebelahnya lagi itu Mikha, pacarnya.. Terus yang depan lo.. lo pasti masih inget, kan?."
Keisya mengangguk pelan lalu berkata, "Arsen.."
Setelah sesi perkenalan selesai, Bagas dan Dafa mulai mengeluarkan berbagai makanan yang mereka beli. Meja itu perlahan dipenuhi aneka jajanan. Candaan mereka kembali memenuhi suasana.
Keisya sendiri sibuk dengan kantong-kantong makanannya.
"Eh, Keisya."
Dafa memanggil sambil memperhatikan Keisya yang sedang berjuang membuka penjepit plastik salah satu bungkus makanannya.
"Umur lo berapa sih?"
Keisya bahkan tidak mengalihkan fokusnya.
"Enam belas... eh...." Keisya berhenti sejenak.
"Kayaknya tujuh belas, deh." Jawaban asal itu membuat seluruh meja mendadak sunyi.
Keempat orang tersebut saling melirik.
'Beneran bayi ternyata....'
Begitulah isi kepala mereka secara bersamaan.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu