Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11 – ANGGOTA BARU DAN HARIMAU PUTIH KECIL
Setelah semuanya menyetujui Kenzo dan Luna untuk ikut bersama mereka, rombongan Lily pun meninggalkan mall kota.
Mereka berjalan menyusuri jalanan yang kini terasa asing. Kota yang biasanya ramai oleh kendaraan dan manusia kini berubah menjadi kota mati. Hanya beberapa zombie yang terlihat berkeliaran tanpa tujuan di sepanjang jalan.
Bau asap kendaraan yang biasanya memenuhi udara telah menghilang. Sebagai gantinya, aroma busuk yang menyengat dari mayat-mayat yang membusuk memenuhi setiap sudut kota.
"Gue nggak nyangka. Padahal baru beberapa minggu lalu kota ini masih macet parah. Sekarang malah jadi kota mati. Ini benar-benar kejutan terbesar dalam hidup gue," ucap Lea lirih sambil menatap jalanan kosong di depannya.
"Begitulah hidup, Kak. Kita nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi di masa depan," jawab Lily sambil terus berjalan.
Ia lalu tersenyum tipis.
"Anggap aja hidup sekarang kayak game. Nikmati setiap prosesnya. Kalau mati berarti game over. Kalau bisa bertahan sampai akhir, berarti kita menang. Simpel, kan?"
Lea hanya menganggukkan kepala.
Namun di dalam hatinya, ia diam-diam bertekad.
Aku harus kuat.
Aku nggak mau jadi beban buat adik dan keluargaku.
Setelah berjalan cukup jauh dari mall kota, Lily tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Matanya tertuju pada sesuatu yang berada di pinggir trotoar.
"Tunggu dulu," ucapnya sambil mengangkat tangan.
Semua orang langsung berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Alex.
"Coba lihat ke sana. Kayaknya ada hewan yang belum berubah jadi mutan."
Semua orang mengikuti arah pandangan Lily.
Mereka mengernyit bingung karena belum pernah melihat hewan dengan bulu putih bercorak hitam seperti itu.
"Kalian tunggu di sini. Gue mau lihat dulu."
Lily berjalan mendekati makhluk kecil tersebut.
Saat jaraknya semakin dekat, ia berjongkok.
Makhluk itu langsung memperlihatkan taring kecilnya dan menggeram penuh kewaspadaan.
Grrrr...
"Oh? Jadi kamu anak harimau, ya?" ucap Lily sambil tersenyum.
Anak harimau itu kembali menggeram.
Melihat tubuh kecil itu tampak lemas dan kehausan, Lily mengambil sedikit air spiritual dari ruang penyimpanannya.
Saat mencium aroma air tersebut, anak harimau itu mengendus-endus dengan hati-hati, seolah memastikan tidak ada racun di dalamnya.
"Minumlah, makhluk kecil. Aku nggak akan menyakitimu."
Setelah beberapa saat ragu, akhirnya anak harimau itu mulai meminum air yang diberikan Lily.
Tak lama kemudian, kondisi tubuhnya terlihat jauh lebih baik.
Lily tersenyum puas.
Karena merasa tugasnya sudah selesai, ia pun berdiri dan hendak kembali ke kelompoknya.
Namun baru beberapa langkah berjalan...
Grrrr...
Anak harimau itu kembali menggeram.
Lily menoleh.
"Kenapa?"
Grrrr...
Anak harimau itu menatap Lily tanpa berkedip.
"Apa kamu mau ikut denganku?"
Grrrr!
Kali ini geramannya terdengar jauh lebih bersemangat.
Melihat reaksinya, Lily tertawa kecil.
"Baiklah. Mulai sekarang kamu ikut denganku."
Ia langsung mengangkat anak harimau itu ke dalam pelukannya sebelum kembali ke kelompoknya.
Lea yang melihat makhluk di pelukan adiknya langsung mengernyit.
"Lo gendong apaan tuh? Kok kayak nggak asing, ya?"
Beberapa detik kemudian matanya membelalak lebar.
"LILYYYY! ITU HARIMAU, KAN?!"
"Ya. Dia anak harimau putih. Mulai sekarang dia anggota tim kita. Namanya Tiger."
Grrrr...
Tiger langsung mengeluarkan geraman kecil seolah menyetujui perkataan Lily.
Lea memegang kepalanya frustasi.
"Astaga... adik gue benar-benar gila. Hei, Lily! Itu anak harimau, bukan anak kucing!"
Namun sebelum Lily sempat menjawab, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar.
Pada saat yang sama, suara sistem terdengar di kepala Lily.
DING!!!!!
(Terdeteksi segerombolan Zombie Tingkat 1 menuju ke arah tuan rumah. Jumlah perkiraan: 132 zombie.)
Ekspresi Lily langsung berubah serius.
Ia segera memberi tahu yang lainnya.
"Bersiap. Ada gerombolan zombie menuju ke sini. Energi mentalku menghitung ada sekitar 132 zombie."
"APA?!"
Lea langsung memucat.
"Gimana mungkin ada sebanyak itu?!"
"Tenang dulu."
Lily menatap kakaknya dengan serius.
"Lo tetap di belakang. Elemen listrik milik lo lebih cocok buat serangan jarak jauh. Sekalian lindungi Kenzo dan Luna."
Lea mengangguk pasrah.
Ia segera menarik kedua bocah kembar ke belakang.
Begitu semuanya berada di posisi aman, Lily mengeluarkan katananya.
SRING!
Sinar dingin memantul dari bilah pedang tersebut.
"Mari kita sambut tamu-tamu kita."
Mata Lily perlahan berubah menjadi biru tua yang dingin.
Sementara itu, Alex mengepalkan tangannya.
Api merah menyala muncul di telapak tangannya.
Gerombolan zombie semakin mendekat.
Suara raungan mereka menggema di sepanjang jalan.
GROARRR!
GROARRR!
"Bang, kalau gue bilang serang, langsung serang. Jangan hilang fokus apa pun yang terjadi."
"Hmm."
Alex mengangguk singkat.
Lily lalu mulai menghitung mundur.
"Lima..."
"Empat..."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..."
"Nol!"
"SERANGGGG!"
BOOM!
Alex langsung melemparkan bola api raksasa ke arah gerombolan zombie.
Pada saat yang sama, Lily melesat maju seperti anak panah.
SRING!
JLEB!
BRAK!
Satu kepala zombie langsung terbang.
GROARRR!
Raungan kesakitan terdengar di mana-mana.
Dari belakang, Lea turut membantu.
Petir demi petir menyambar tubuh para zombie.
CRAAAK!
BOOM!
GROARRR!
Pertempuran berlangsung cukup sengit.
Namun kerja sama mereka sangat baik.
Lily menjadi ujung tombak yang membantai zombie dari jarak dekat.
Alex membakar kelompok zombie yang berkumpul.
Sementara Lea memberikan dukungan dari belakang menggunakan petir.
Tidak sampai setengah jam, seluruh zombie akhirnya berhasil dimusnahkan.
Mayat-mayat zombie berserakan memenuhi jalan.
Saat itulah notifikasi sistem kembali muncul.
DING!!!!!
(Selamat kepada tuan rumah karena telah menyelesaikan misi tersembunyi dan memperoleh 78 kristal zombie. Apakah tuan rumah ingin membuka paket hadiah?)
"Nanti saja."
Lily menjawab dalam hati.
Setelah memastikan tidak ada zombie yang tersisa, ia berjalan mendekati keluarganya.
"Lo semua nggak apa-apa? Kak Lea, Bang Alex, Kenzo, Luna?"
"Gue nggak apa-apa," jawab Lea pelan.
Ia lalu menatap Lily.
"Justru gue yang harusnya nanya. Lo nggak apa-apa, kan?"
Lea menundukkan kepala.
"Maaf. Gue masih takut dan jijik sama zombie. Tapi gue bakal berusaha lebih keras buat ngilangin rasa takut itu."
Lily tersenyum kecil.
"Udah. Nggak usah kepikiran. Yang penting kita semua masih hidup."
Ia lalu menoleh ke arah Tiger.
"Ayo pulang, Tiger. Kamu jalan sendiri, ya."
Grrrr...
Tiger mengangguk kecil dan berjalan di samping Lily.
Saat matahari mulai tenggelam, mereka akhirnya tiba di rumah.
"Mang Ujang! Ini Lily. Tolong bukain gerbangnya dong!"
Tak lama kemudian gerbang terbuka.
Mereka segera masuk ke area mansion.
Setelah berpamitan kepada Mang Ujang, mereka langsung menuju ke dalam rumah.
Begitu memasuki ruang keluarga, mereka melihat seluruh anggota keluarga sedang berkumpul.
Lea langsung berlari kecil menuju ibunya.
"Mommy! Hueee... badan Lea bau banget!"
Lea langsung memeluk sang ibu sambil pura-pura menangis.
"Astaga, Lea! Kenapa bisa begini, sayangku?"
Mommy Grace terkejut.
Bau tubuh putrinya memang benar-benar tidak sedap setelah seharian bertarung di luar.
"Kami tadi dikepung gerombolan zombie, Mom. Untung masih bisa kami lawan," jelas Lily.
"Huft... syukurlah."
Mommy Grace menghela napas lega.
Namun tidak lama kemudian ia menyadari keberadaan dua anak kecil yang berdiri malu-malu di belakang Lily.
"Siapa anak-anak ini, sayang?"
"Oh, mereka anak yang Lily temui di gudang staf mall. Kenzo, Luna, ayo kenalan sama Mommy."
Kedua bocah itu langsung maju dengan gugup.
"H-Halo, Tante. Aku Kenzo... dan ini adik aku, Luna."
Mommy Grace tersenyum hangat.
"Oh? Nama kalian Kenzo dan Luna?"
Keduanya mengangguk pelan.
"Kalau boleh tahu, di mana orang tua kalian?"
Mendengar pertanyaan itu, mereka langsung menundukkan kepala.
Lily pun menjelaskan.
"Ayah dan ibu mereka sudah berubah jadi zombie. Sebelum itu, ibu mereka menyuruh mereka bersembunyi agar selamat."
Mata Mommy Grace langsung dipenuhi rasa iba.
"Astaga..."
Ia kemudian berjongkok dan mengusap kepala kedua anak itu.
"Kalau begitu mulai sekarang kalian bisa panggil Tante dengan sebutan Mommy, dan yang di sana Daddy. Oke?"
Mata Kenzo dan Luna langsung berkaca-kaca.
"Baik, Mommy..."
Lily yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum.
Namun saat matanya menyapu seluruh ruangan, ia menyadari seseorang tidak ada di sana.
Athar.
Ia masih meditasi untuk menaklukkan elemen kegelapannya.
Lily menatap ke sudut ruangan
Semoga berhasil, Athar.
Jangan menyerah.
Orang tua lo masih menunggu di sini.
Lanjut nanti malam lagi ya guys see Next chapter ☺️☺️